
Setelah memastikan kalau keluarga sudah pulang ke rumah utama, mengunakan mobil lain.
Kini Fazar pergi menjemput sang istri tercinta, apalagi sekarang sudah lewat waktu istrinya keluar dari kampus.
" Astaghfirullah, kenapa aku sampai lupa kalau istriku belum aku jemput. Bodoh sekali kamu Zar, harusnya kamu menjemput istrimu terlebih dahulu, barulah kamu mengurus yang lain, padahal kamu bisa menyuruh Rido atau Fiki untuk mengurus semuanya." Gumam Fazar, yang menyalahkan dirinya sendiri, karena lupa menjemput sang istri. Mungkin sekarang istrinya sedang menunggunya dengan waktu yang sangat lama.
Setelah sampai di parkiran kampus. Fazar langsung turun dari mobilnya, untuk mencari keberadaan sang istri. Fazar memutari kampus itu, untuk mencari keberadaan sang istri.
Sampai pandangannya tertuju pada sebuah taman yang berada di kampus itu. Disana terdapat tiga orang, dua orang wanita dan satu orang pria.
Fazar bisa memastikan, kalau dua gadis itu adalah istrinya dan juga sahabatnya. Tapi siapa pria yang bersama mereka.
Karena tidak mau melihat ada orang asing yang mendekati istrinya, Fazar dengan cepat melangkah mendekati Wiyah, dan dari jarak yang masih sedikit jauh Fazar bisa melihat kalau pria itu ternyata adalah Fazri adiknya.
" Fazri. Ngapain Fazri kesini." Batin Fazar bertanya-tanya, kenapa adiknya itu bisa berada di kampus istrinya, apa yang sekarang Fazri lakukan di kampus itu. Karena tidak mau penasaran, Fazar kembali melanjutkan langkahnya mendekati tiga orang itu.
" Sayang." Panggil Fazar saat sudah berada di belakang sang istri.
Wiyah menolah melihat kearah kebelakang saat mendengar suara orang yang begitu sangat ia kenal, apalagi orang itu dari tadi dia tunggu.
Sedangkan Fazri dan Yaya hanya diam saat melihat keberadaan Fazar disana, Karena mereka berdua sudah melihat kedatangan Fazar tadi, saat Fazar melangkah mendekati mereka.
" Kakak." Wiyah tersenyum saat melihat kehadiran suaminya itu.
" Maaf sayang, kakak telat jemput nya." Ucap Fazar merasa bersalah, lalu menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya, tidak lupa ia juga memberikan ciuman di kening Wiyah.
Sedangkan Yaya maupun Fazri langsung melihat kearah lain saat melihat Fazar, yang memeluk tubuh Wiyah dan mencium kening istrinya itu. Padahal disana ada mereka, yang masih sama-sama jomblo.
" Ngga apa-apa kak. Kakak ngga usah khawatir, soalnya tadi aku ditemani oleh Yaya dan Fazri disini, buat tunggu Kakak."
" Tapi kakak sudah buat sayang nunggu lama."
" Ngga apa-apa kak, yang penting sekarang kakak sudah jemput." Jawab Wiyah sambil tersenyum. Melihat senyuman tulus dari istrinya itu, membuat Fazar semakin menyesal.
Sedangkan Yaya dan Fazri yang menyaksikan kedua pasangan itu, hanya bisa diam sambil menyaksikan saja. Karena mereka bingung ingin melakukan apa sekarang.
" Beginilah nasib para jomblo, kalau sudah di hadapkan dengan orang yang sudah memiliki pasti mereka hanya bisa diam sambil menonton saja. Walaupun kepingin, tapi sama siapa. Sedangkan diriku jomblo." Batin Yaya yang merasa iri dengan pasangan didepannya itu, yang sudah membuat jiwa jomblonya berkobar, ingin seperti mereka, Tapi sayang dia tidak memiliki pasangan.
" Dasar Abang bucin, yang ngga tau tepat." Batin Fazri kesal menatap abangnya itu.
Fazar melihat kearah Yaya dan Fazri yang hanya diam sambil menatap kearah mereka.
" Terimakasih nona Yaya, karena sudah menemani istriku."
__ADS_1
" Iya kak, sama-sama, saya juga senang bisa menemani Wiyah disini." Jawab Yaya sambil tersenyum.
" Kalau tidak ada anda, mungkin istriku akan sendiri disini. Sekali lagi terimakasih."
Yaya hanya mengangguk sambil tersenyum, menanggapi ucapan terimakasih dari Fazar." Iya tuan sama-sama."
Fazar melirik kearah Fazri yang masih diam sambil menatap kearahnya." Zri." Panggil Fazar, yang membuat Fazri langsung tersadar dari keterdiamnya." Ngapain kamu disini."
" Tadi nggak sengaja lewat sekitaran sini bang, makanya langsung singgah aja. Soalnya aku tau kalau Abang pasti belum jemput kak Wiyah, karena masih sibuk disana, makanya aku berinisiatif buat jemput kak Wiyah sekaligus." Jelas Fazri." Tapi kak Wiyah ngga bisa pulang, karena Abang menyuruh kak Wiyah, buat menunggu Abang disini sampai Abang sendiri yang jemput. Makanya kak Wiyah ngga ikut pulang."
" Rencananya aku mau pulang duluan tadi, tapi ngga jadi, mengingat kak Wiyah sendirian disini. Makanya aku ikut nungguin Abang, sampai Abang jemput kak Wiyah."
Fazar menatap istrinya itu setelah mendengar cerita dari Fazri. Padahal istrinya itu bisa saja pulang bersama Fazri tanpa harus menunggunya. Tapi istrinya itu tidak melakukan itu, karena dia masih mengingat ucapannya tadi pagi, untuk menunggunya sampai dirinya sendiri yang menjemput istrinya itu.
.
.
Setelah berpamitan dengan Yaya, Fazri, Fazar dan Wiyah memutuskan untuk pulang, karena waktu sudah semakin siang. Apalagi Wiyah butuh istirahat, mengingat sekarang dia tidak sendiri lagi, tapi ada tiga nyawa yang tubuh bersama dengan istrinya.
Fazar dan Wiyah pulang berdua dengan mobil yang Fazar kendarai tadi. Sedangkan Fazri pulang bersama dengan mobil yang berbeda dengan mobil Fazar. Karena Fazri tidak mau menjadi obat nyamuk, dari kedua pasangan suami istri itu.
.
.
" Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar sayang. Karena Fadil tidak di nyatakan bersalah. Karena di kejadian itu Fadil hanya ingin menolong gadis itu, dari pria yang ingin melecehkannya."
" Alhamdulillah, aku ikut senang dengarnya kak, kalau kak Fadil tidak bersalah." Wiyah ikut bahagia mendengar kabar bahagia ini.
Melihat wajah bahagia dari istrinya, saat ia memberitahukan kalau Fadil tidak bersalah. Membuat Fazar merasa cemburu, Apalagi wajah bahagia itu, tertuju pada pria yang pernah mencintai istrinya. Walaupun istrinya mungkin tidak memiliki hati sama sekali terhadap Fadil, tapi Fadil pernah mencintai istrinya itu.
Makanya Fazar merasa cemburu saat melihat wajah bahagia Wiyah, tertuju pada pria lain. Padahal ia tau kalau Fadil mungkin sudah melupakan perasaannya, karena Fadil sudah menemukan penggantinya
" Yapun, kekanak-kanakan sekali kamu Zar, masa kamu cemburu saat melihat istrimu ikut bahagia, karena adik iparnya tidak bersalah. Seharusnya itu kamu bahagia, bukan cemburu seperti sekarang. Di perasaan istrimu tidak ada pria lain, tapi hanya ada kamu, yaitu suaminya, dan tidak akan pernah tergantikan di hati istrimu." Batin Fazar mengingatkan dirinya sendiri.
" Kak." Panggil Wiyah saat menyadari kalau Fazar hanya diam.
" Iya sayang." Tanya Fazar sekilas menoleh kearah istrinya itu, lalu kembali fokus kearah jalan.
" Siapa sih gadis yang kak Fadil selamatkan itu." Tanya Wiyah, karena Wiyah penasaran dengan gadis yang berhasil Fadil tolong dari pria bejat yang hampir saja mengitari gadis itu.
Fazar sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan istrinya itu. Fazar tau dari awal, kalau istrinya itu pasti akan menanyakan siapa gadis itu sebenarnya.
__ADS_1
" Aku kurang tau siapa gadis itu sayang, karena hanya Fadil yang mengetahuinya." Jawab Fazar." Andai kamu tau sayang, kalau gadis itu adalah sahabat mu sendiri." Batin Fazar sambil melirik istrinya itu.
Sebenarnya Fazar merasa bersalah, karena ia telah berbohong kepada istrinya itu. Tapi mau bagaimana lagi, Fazar tidak mau mengambil resiko terjadi sesuatu dengan istrinya, makanya ia sengaja menyembunyikan rahasia ini. Walaupun Fazar tau kalau istrinya itu pasti akan tau juga nanti. Tapi tidak sekarang, karena istrinya masih hamil muda.
Wiyah yang mendengar jawaban dari istrinya itu hanya menganggukkan kelapanya mengerti, padahal didalam dirinya masih tersusun rasa penasaran yang besar.
🌺🌺🌺🌺🌺
Setelah menyiksa Harum, kini Nadila meninggalkan kamarnya untuk pergi keruangan kerjanya. Nadila meninggalkan tubuh kecil itu, yang kini terbaring dilantai dingin dengan pandangan kosong, seperti tidak ada harapan untuk hidup lagi.
" Sampai kapan ya Allah, aku seperti ini." Batin Harum menatap lurus ke depan, dengan pandangan yang kosong." Apakah aku harus tetap hidup, atau pergi menyusul mama."
Harum seperti pasrah dengan kehidupannya sekarang, setelah mendapatkan pukulan yang begitu sangat brutal dari Nadila. Ia tidak memiliki jalan kehidupan lagi, karena setiap langkahnya pasti akan salah kedepannya.
Pelayan yang dari tadi menyaksikan penyiksaan yang di alami oleh Harum, hanya bisa menangis secara diam. Apalagi tubuh kecil itu, seperti terluka.
Setelah Nadila keluar dari kamarnya. Pelayan itu langsung masuk kedalam, dan membantu membangunkan tubuh kecil itu. Lalu memeluknya.
" Harum apa kamu tidak apa-apa." Tanya pelayan itu menatap mata Harum dengan rasa iba.
Seharusnya gadis kecil ini di lindungi, bukan disakiti seperti tadi. Tapi sepertinya orang-orang tidak akan perduli dengan perasaan gadis kecil ini, yang semakin hari semakin hancur. Bukan saja mentalnya yang rusak, tapi kehidupannya juga hancur.
" Aku tidak kuat lagi bi, aku ingin menyusul mama, Hiks." Ucap Harum dengan tangisannya.
" Nak Harum jangan ngomong kayak gitu. Bibi tau kalau nak Harum bisa melewatinya."
" Tapi sampai kapan bi. Apakah seumur hidup Harum akan terus seperti ini."
" Tidak nak Harum, bibi tau kalau kedepannya nak Harum memiliki kehidupan yang begitu sangat bahagia, dengan orang-orang yang menyayangi nak Harum."
" Itu tidak akan terjadi bi, karena orang tidak akan ada yang peduli dengan Harum.
" Tidak nak, itu tidak benar. Pasti tuhan telah menyiapkan sesuatu yang indah untuk nak Harum." Ucap bibi itu menyakinkan gadis kecil didalam pelukannya itu, agar gadis kecil itu tidak berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Setelah lebih tenang, bibi itu membantu bawah tubuh Harum. Lalu memasukkannya kedalam kamarnya.
Setelah sampai didalam kamarnya, bibi itu langsung membuka baju Harum, untuk memeriksa bagian yang mana saja yang luka, akibat cambukan dari nyonya nya.
Dan bibi itu begitu sangat terkejut, saat melihat punggung kecil itu yang putih itu, penuh dengan memar akibat cambukan tadi, bahkan ada yang tergores membentuk luka kecil.
Bibi itu hanya bisa menangis menatap punggung kecil, yang dipenuhi oleh banyaknya luka sayatan.
" Ya Tuhan, kirimkan lah orang baik, untuk menyelamatkan kehidupan gadis kecil yang tidak berdosa ini." Batin bibi itu.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa like komen, dan vote nya.