Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 167


__ADS_3

Bunda Sisi yang sedang duduk sofa yang berada di dalam kamarnya tiba-tiba saja di buat kaget, saat mendengar vas bunga disebelahnya tiba-tiba saja jatuh. Tanpa di sentuh sama sekali.


" Astaghfirullah." Bunda Sisi mengusap dadanya, karena kaget.


Bunda Sisi melihat kearah vas bunga yang tiba-tiba saja jatuh sendiri. Bunda Sisi merasa bingung saat melihat vas itu. Tanpa adanya angin atau tersenggol, vas itu jatuh sendiri.


Wanita paruh baya itu berdiri dari duduknya, lalu membungkuk untuk membersihkan pecahan vas itu. Sampai.


" Astaghfirullah." Jari bunda Sisi tidak sengaja tertusuk pecahan vas. Yang membuat darah segar langsung mengalir keluar dari jari tangannya.


Jantung bunda Sisi juga berdetak kencang. Saat mengingat kalau ketiga putranya sedang berada di luar. Entah kenapa perasaan bunda Sisi merasa khawatir.


Filing sebagai seorang ibu mengatakan kalau salah satu dari mereka sedang tidak baik-baik saja.


" Ya Allah, lindungilah ketiga putra hamba, dari marah bahaya yang sedang mengincar mereka."


🍁🍁🍁🍁🍁


" Fazri awasss." Abidzar langsung berlari mendekati Fazri saat menyadari kalau satu mobil berwarna hitam yang berada di ujung jalan sana sedang melaju kencang kearah Fazri. Padahal jalan itu sedikit ramai.


Abidzar dengan cepat langsung menarik adik sepupunya itu agar menghindar dari mobil yang sengaja ingin menabrak Fazri.


Tubuh Fazri yang tertarik, merasa oleng dan tidak sengaja tersenggol kaca spion mobil yang sudah melaju kencang menjauhi mereka.


" Aaaaa." Teriak Fazri kesakitan saat tangan kanannya seperti bunyi, tepat dimana tersenggol kaca spion mobil yang melaju kencang tadi.


Kedua pria itu langsung terjatuh di atas aspal akibat tarikan dari Abidzar tadi yang secara kencang dan tiba-tiba.


Sedangkan orang-orang dan pengandara lain langsung menghentikan kendaraan mereka, saat melihat Abidzar dan Fazri jatuh di tersungkur di atas aspal. Untung saja keduanya baik-baik saja, walaupun sedikit luka lecet lengan Abidzar.


Orang-orang yang melihat mereka langsung membantu Abidzar dan Fazri untuk berdiri. Terlihat dari mata Fazri yang terlihat menahan kesakitannya.


" Zri, kamu baik-baik saja." Tanya Abidzar khawatir menatap adiknya itu.


" Aku baik-baik saja kak, hanya saja lenganku terasah begitu sangat sakit, karena tersenggol oleh kaca spion mobil tadi kak."


Abidzar yang mendengar jawaban Fazri langsung mengepalkan tangannya, karena merasa kalau mobil tadi sengaja ingin menabrak adiknya. Abidzar masih mengingat seberapa kencang nya mobil tadi.


Padahal hanya tersenggol kaca spion saja sudah membuat Fazri kesakitan. Apalagi mobil tadi langsung menghantam tubuh Fazri. Mungkin tubuh Fazri bisa saja terluka.


" Kita langsung kerumah sakit, untuk mengecek apakah tangan mu baik-baik saja atau tidak."


" Tapi kak, bagaimana dengan kue putu labunya, bukannya kita belum membelikan pesanan untuk kak Wiyah."


Disaat seperti ini, Fazri masih memikirkan pesanan kakak iparnya. Padahal kondisi Fadil sedang tidak baik-baik saja.


Segitu sayangnya Fazri kepada Wiyah.


" Disaat seperti sekarang, kamu masih memikirkan hal itu."


" Karena kak Wiyah kepengen kak. Aku tidak mau mengecewakannya. Maka sebelum kita pergi kerumah sakit, kita harus pergi membeli pesanan kak Wiyah terlebih dahulu."


" Baiklah terserah kamu. Setelah itu kita langsung pergi kerumah sakit."


" Iya kak. Setelah kita membeli nya kita langsung pergi kerumah sakit." Jawab Fazri setuju.


Dengan terpaksa Abidzar mengikuti permintaan Fazri untuk membelikan pesanan Wiyah, walaupun tangan Fazri yang terasa sakit.

__ADS_1


Setelah membelikan pesanan Fazri. Abidzar bersama dengan orang suruhan Fazar langsung pergi kerumah sakit untuk mengantarkan Fazri. Mereka ingin mengecek kalau lengan Fazri baik-baik saja.


Sedangkan orang suruhan Fazar yang selalu mengawasi adiknya dari jarak jauh, kini sedang mengerjakan tugasnya untuk menangkap pelaku yang menabrak Fazri.


Dari kecurigaan orang suruhan Fazar, kalau mobil tadi sengaja ingin menabrak Fazri. Karena melihat seberapa kencangnya mobil itu melaju, padahal jalan masih terlalu ramai.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Maaf nyonya rencana kami untuk membunuh mereka gagal." Lapor orang yang tadi hampir menabrak Fazri.


" Apakah kalian gagal." Pekik wanita itu yang begitu sangat marah mendengar laporan dari orang suruhannya. Kalau mereka gagal membunuh Fazri. Padahal mereka hanya menabraknya saja." Bagaimana mereka bisa lolos."


" Karena pria yang satunya berhasil menyelamatkannya nyonya." Jawab mereka kembali.


" Tidak berguna membasmi satu hama saja kalian tidak becus. Seharusnya kalian menabrak keduanya saja, agar keduanya bisa mati."


" Kami tidak tau kalau pria berada disana nyonya, karena kami hanya melihat satu orang saja yang ingin menyebarang jalan, makanya kami berniat untuk membasmi pria itu dulu barulah yang satunya."


Mendengar jawaban dari orang suruhannya, semakin membuat emosi wanita itu memuncak." Kalian benar-benar b*doh, tidak becus dalam mengerjakan tugas kalian."


Wanita yang tidak lain adalah Nadila langsung mematikan sambungan teleponnya, karena merasa sangat marah saat mendengar kalau rencananya gagal.


" Siallll" Ponsel yang tadi di pegang hancur menjadi beberapa kepingan saat Nadila melemparkan nya dengan sangat keras diding.


" Aku akan menghancurkan keluarga mu Fazar, termasuk adik dan bunda mu yang sudah menghinaku kemarin."


Ya, Nadila menyuruh orang untuk membunuh Fazri dan Abidzar, karena merasa begitu sangat marah saat dirinya di permalukan di muka umum.


" Tunggu kehancuran keluarga mu Fazar."


🍁🍁🍁🍁🍁


Untung saja tidak patah tadi ya.


Lengan Fazri yang cedera harus di perban mengunakan elastis medicrepe, untuk mengurangi pembengkakan di lengannya dan juga mengurangi rasa sakitnya. Fazri juga harus mengunakan Arm Sling untuk penyangga lengan kanannya. Untuk menunjang bahu, tangan, otot, tulang punggung dan ligamen dari cedera di lengan Fazri.


" Apa masih terasa sakit Zri." Tanya Abidzar sambil menatap lengan Fazri, karena mereka baru saja selesai memeriksakan kondisi Fazri. Dan akan kembali pulang ke rumah utama.


" Sakitnya sih nggak kak. cuman aku merasa kesulitan saja." Jawab Fazri Jujur, karena ia merasa tidak leluasa saat memgerakan tangan nya.


" Bersabarlah. Kata dokter delapan minggu lagi tangan mu bisa normal kembali."


" Lama benget kak, itu sekitar dua bulanan. Aku mana betah gendong bayi terus kayak gini, apalagi bulan depan aku harus mengikuti tes sebelum masuk universitas di luar negeri kak, soalnya aku mau kuliah di luar negeri." Jelas Fazri.


Ya rencananya Fazri akan berkuliah di luar negeri, tepatnya di belanda. Karena Fazri berhasil lulus dengan nilai yang sempurna, dan dia juga barhasil mendapatkan beasiswa Tapi sebelum dia pergi ke belanda, Fazri harus mendapatkan beberapa tes. Barulah dia dinyatakan lulus.


" Sebaiknya kamu tunda dulu, sebelum lengan kamu sepenuhnya sembuh." Saran Abidzar." Kalau masalah kamu ngga nyaman sama gendongan itu. Kamu bisa mengganggap nya seperti bayi. Jadi berpikir lah kalau itu adalah anak keponakan mu dan kamu sedang belajar menjadi paman yang baik hati." Abidzar langsung terkekeh, karena ucapannya tadi.


" Ya ampun kak, bukannya di kasih solusi, malah di ledekin." Fazri kesal dengan ucapan Abidzar.


" Udah ngga usah ngambek, lebih baik sekarang kita pulang, pasti Wiyah udah nunggu pesanan nya dari tadi."


🍁🍁🍁🍁🍁


Fazri harus kembali menunggu Abidzar, Karena Abidzar harus kembali kedalam, untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan di ruangan dokter.


" Kak Abidzar seperti orang tua saja. Masih muda tapi udah pikun." Gumam Fazri yang masih berdiri di posisi nya. Fazri tidak habis pikir dengan Abidzar yang selalu pelupa walaupun itu adalah hal kecil.

__ADS_1


Karena bosan menunggu, Fazri memutuskan untuk kembali duluan didalam mobil. Fazri juga sudah mengabari Abidzar.


Saat Fazri berada ke parkiran rumah sakit. tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada seseorang yang begitu sangat dia kenal. Mungkin sudah beberapa bulan ini dia tidak bertemu dengan orang itu, karena hilangnya kotak. Fazri juga sudah mencari keberadaan orang itu, tapi tidak menemukan keberadaan orang itu.


Karena penasaran apakah dia orang yang Fazri cari atau bukan. Fazri melangkah mendekatinya.


" Naila."


Orang yang Fadil panggil berbalik menghadap kearah Fazri, saat mendengar namanya di panggil.


" Kak Fazri." Gadis kecil itu langsung terkejut saat melihat pemuda berdiri dihadapannya. Pemuda yang selalu menamainya dulu sebelum dia pindah keluar kota untuk ikut dengan orang tuanya. Gadis kecil yang tidak lain adalah Naila Harum Syah.


" Kak Fazri kenapa ada disini."


" Seharusnya kakak yang tanya sama kamu, kenapa kamu ada disini. Kenapa kamu menghilang selama berbulan-bulan tanpa adanya kabar." Bukan nya menjawab pertanyaan Harum, Fazri malah bertanya.


Karena beberapa bulan ini Fazri selalu mencari keberadaan Harum, bahkan Fazri juga begitu sangat menghawatirkan keadaan Harum saat gadis kecil itu menghilang. Karena Fazri tau seberapa kerasnya kehidupan gadis kecil itu.


Kalian pasti akan bertanya-tanya, ada hubungan apakah Harum dan Fazri.


Fazri dan Harum memiliki hubungan yang begitu sangat dekat, yaitu sahabat. Bahkan Fazri juga sudah mengetahui kesulitan sahabat kecilnya itu dan selalu menolong nya dengan hal kecil. Karena Fazri tau kalau Harum tidak mau di bantu oleh orang lain, makanya dia membantu Harum dengan cara lain.


Fazri mengenal Harum selama empat tahun, dimana dia pertama kali sampai di kota B. Karena gadis kecil itu, orang pertama menjadi sahabat nya waktu itu sebelum dia mendapatkan teman sebanyak sekarang.


Bahkan Harum juga yang memberikan nya saran, saat itu agar keluarga bisa berkumpul bersama, dan hubungan mereka membaik.


" Kenapa diam Naila, kenapa kamu pergi ngga ngomong sama kakak." Tanya Fazri kembali sambil memegang satu bahu Harum.


" Maaf kak, waktu itu."


Naila menceritakan dimana dia pergi bersama dengan ibu nya dan dimana ibu nya meninggal di kota B.


Tapi Harum tidak menceritakan kesedihan dalam hidupnya. Kalau dia ternyata sudah di jual oleh tante nya dan dijadikan budak di sebuah mansion besar yang seperti istana hanya saja menyeramkan. Harum sengaja tidak menceritakannya kesedihannya, agar Fazri tidak khawatir padanya.


" Inalillahi.. Astaghfirullah Naila, Tante sudah meninggal." Tanya Fazri tidak percaya. Karena gadis kecil dihadapannya, ternyata sudah menjadi yatim piatu sekarang." Lalu kamu tinggalnya sama siapa sekarang Naila."


" Iya kak, mama sudah meninggal, dan aku tinggal bareng keluarga mama yang sangat menyayangiku." Jawab Harum." Atau lebih tepatnya, menyiksaku kak. Maaf aku berbohong kepada kakak." Batin Harum lirih.


" Mendengar jawaban dari harum membuat Fazri bisa bernafas lega. Karena Harum ternyata ada yang sudah menjaganya." Alhamdulillah kakak senang dengarnya Naila." Ucap Fazri tersenyum senang. Sedangkan Naila hanya tersenyum terpaksa menutupi ketakutan nya bahkan rasa sakitnya selama ini.


" Lalu kamu tinggal dimana, dan kenapa bisa berada disini."


" Aku tinggal di kota B kak, aku kesini hanya ingin menjenguk kakak sepupuku yang sakit." Jawab Harum bohong.


" Hmm, padahal kakak ingin menemui keluarga mu. Tapi sepertinya tidak bisa karena kakak harus pulang. Nanti kakak minta tolong sampaikan salam ku untuk keluarga mu."


" Ngga apa-apa kak, nanti aku sampaikan." Jawab Harum." Lalu kakak kenapa bisa ada disini."


" Tadi aku habis jatuh Naila, terus lengan ku keselahhuh."


" Yapun kak, semoga lengan kakak cepat sembuh."


" Iya Naila, aminn makasih buat doa nya."


Setelah pertemuan Fazri dan Harum bertemu dan melakukan beberapa obrolan, kini Harum harus masuk kedalam untuk menemui tuan Aron. Karena disuruh oleh Nadila.


Sedangkan Fazri hanya menatap kepergian gadis kecil, yang sudah melangkah begitu sangat jauh darinya.

__ADS_1


" Aku senang Naila, karena kamu sekarang bahagia dengan kehidupan mu.


...----------------...


__ADS_2