Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 181


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Fazar menatap Fadil dengan intens. Dia tidak menyangka kalau Fadil telah menyembunyikan rahasia, yang begitu sangat besar selama empat tahun ini darinya, bahkan dirinya juga tidak mengetahui rahasia itu sama sekali.


" Kenapa kamu tidak memberitahuku, kalau wanita empat tahun yang lalu, ternyata Nadila, saudara kembar dari Amira. Dan wanita yang berada di apartemen Amira empat tahun yang lalu adalah Nadila bukan Amira."


Ya, Fazar sudah tau, kalau ternyata Fadil mengetahui, kejadian empat tahun yang lalu. Dimana ia memergoki mantan tunangannya sedang bermesraan dengan pria lain.


Padahal cerita sebenarnya. Orang berada di dalam apartemen itu bukanlah Amira mantan tunangannya, melainkan saudara kembarnya yang sedang meminjam apartemen itu. Karena empat tahun yang lalu, Amira sedang keluar bersama dengan keluarganya.


Amira tidak tau, kalau saudara kembarnya akan melakukan hal senonoh di apartemennya, bahkan sampai ketahuan oleh Fazar. Bahkan kelakuan saudara kembarnya, membuat hubungan Fazar dan Amira retak karena kesalahpahaman.


Fazar begitu sangat kecewa dan marah kepada Amira saat melihat kejadian tidak senonoh itu, membuat Fazar tutup telinga, bahkan Fazar juga mengabaikan Amira yang ingin memberikan penjelasan soal apa yang di lihat Fazar waktu itu.


Disaat Amira ingin menjelaskan kesalahpahaman mereka, disitu juga Fazar dengan tegah menyakiti gadis yang paling dia cintai dengan kata-kata kasar yang seharusnya tidak dia ucapkan. Bahkan kata yang seharusnya tidak terlontar. Tapi di hari itu Fazar telah mengatakannya.


" Aku tidak menyangka Amira, kalau ternyata kamu adalah wanita m**ahan yang pernah aku kenal. Aku begitu sangat menyesal Amira, karena mencintaimu, bahkan mengira kalau kamu adalah berlian. Ternyata dugaanku salah, karena kamu hanyalah sebuah batu arang yang hitam, bahkan percikkan mu bisa membakar, walaupun hanya dengan api kecil saja. Aku begitu sangat menyesal mencintaimu Amira, menjadikan mu ratu dalam hati ku. Kalau kamu ternyata hanyalah seorang penghianat dalam cinta."


" Mulai hari ini dan seterusnya, aku tidak ingin mengenal mu lagi, dan hubungan kita selama ini kita lupakan saja, anggap saja, kita tidak pernah saling mengenal, dan rencana pernikahan kita, kita batalkan."


Fazar masih mengingat kata-kata itu sampai sekarang. Dimana dia membatalkan pernikahan mereka, padahal tinggal menghitung hari saja. Bahkan dia pergi menjauh dari Amira sahabat kecilnya itu.


Fadil menatap wajah Fazar. Fadil tau, kalau abangnya itu menyesal dengan apa yang terjadi empat tahun yang lalu.


" Kak Jia, yang memintaku untuk berjanji kepadanya, kalau aku tidak akan memberitahukan apapun, ke Abang, siapa kak Jia dan siapa Nadila sebenarnya. Karena kak Jia, tidak tidak ingin Abang mengetahui kebenaran yang sebenarnya."


" Kak Jia, hanya ingin abang bahagia menjalani kehidupan abang, tanpa teringat kejadian itu, makanya kak Jia memintaku untuk diam." Jelas Fadil jujur. Sebenarnya Fadil tidak ingin bercerita, karena dia sudah berjanji kepada Amira.


Tapi karena Fazar sudah mengetahui cerita sebenarnya, terpaksa Fadil menceritakan kenapa dia diam selama ini, soal kejadian empat tahun yang lalu.


" Seharusnya kamu menceritakan semuanya ke Abang, jika kamu mengetahui kejadian itu, dan Abang telah salah paham kepada Amira waktu itu."


" Bang, waktu itu saja kak Jia ingin menjelaskan kesalahpahaman kalian dengan baik-baik, Tapi abang sudah tidak percaya, bahkan abang juga menghina dan membatalkan pernikahan kalian.


Bagaimana dengan aku yang tidak tau jalan cerita sebenarnya, bahkan melihat saja tidak. Tapi tiba-tiba saja aku datang, mencoba untuk menjelaskan kesalahpahaman kalian. Pasti Abang tidak akan percaya dengan ceritaku, dan mungkin aku akan bernasib seperti kak Jia yang mendapatkan penghinaan yang begitu sangat luar biasa' MENYAKITKAN." Jawab Fadil. Fadil juga menekankan kata akhir agar abangnya itu tau kesalahannya dimana.


" Apa Abang tau, selama dua tahun tahun kak Jia menderita karena trauma dengan kejadian batalnya pernikahannya yang tinggal menunggu hari. Kak Jia tidak pernah membuka hati kepada siapapun, bahkan dia banyak mengurung diri sampai sakit-sakitan. Sampai satu tahun yang lalu dia harus kehilangan nyawanya, karena ingin melindungi abang dari Nadila, yang ingin ingin membunuh abang."


Mendengar ucapan dari Fadil, semakin membuat Fazar menjadi sedih dan merasa bersalah, karena kematian Amira, ternyata hanya ingin melindunginya.


Tapi kenapa Nadila ingin membunuhnya. Sedangkan ia tidak mengenal Nadila waktu itu. Pikir Fazar.


" Apa kamu juga mengetahui kematian Amira setahun yang lalu, karena dibunuh oleh Nadila dan Aron." Tanya Fazar penasaran.


" Ya, aku mengetahuinya bang, karena sebelum kak Jia dibunuh, kak Jia sempat menelepon ku, dan menceritakan kalau kak Jia sedang di kejar-kejar oleh Nadila yang ingin membunuhnya. Kak Jia juga menyuruhku untuk menelfon polisi, tapi tiba-tiba saja sambungan teleponnya terputus, dan aku harus kehilangan jejak dari kak Jia."


" Aku sudah melapor kepada polisi, tapi para polisi memintaku untuk menunggu dua puluh empat jam untuk kasus orang hilang, padahal hilangnya kak Jia bukanlah kasus orang hilang melainkan kasus pembunuhan. Dan setelah dua hari menghilang, kak Jia ditemukan meninggal di rumah sakit, karena penyakit jantung. Padahal jelas-jelas kak Jia tidak memiliki penyakit itu."


Fazar semakin mengusap wajahnya dengan kasar, ternyata selama ini adiknya selalu berkomunikasi dengan Amira, bahkan Fadil juga tau semua kejatahan Nadila, tapi kenapa dia tidak memberitahukan kepadanya.


" Apakah kamu mendapatkan informasi dari kematian Amira." Tanya Fazar yang masih penasaran dengan kematian sahabat masa kecilnya itu.


" Dalam penyelidikanku. Ternyata kak Jia memiliki bukti kejahatan Nadila, dan ingin memberikannya kepada Abang, untuk meminta tolong kepada Abang, agar mau membantunya. Mungkin disitu Nadila berencana ingin membunuh Abang, karena Nadila mengira kalau kak Jia telah memberikan bukti itu kepada Abang, Padahal sebenarnya belum."


" Lalu bukti itu dimana sekarang."

__ADS_1


" Bukti itu sudah di ambil oleh Nadila, dan Nadila sudah menghapusnya." Jelas Fadil." Makanya selama ini kasus Nadila tidak pernah terungkap."


" Tapi bang, ada satu kasus yang menyangkut pautkan Ardian Natan Ronaltan, yaitu sahabat bisnis Abang."


Fazar mengerutkan keningnya bingung saat mendengar Fadil menyebutkan nama Ardian Natan Ronaltan.


" Dia terlibat juga."


" Ya begitulah."


Fazar semakin penasaran dengan kasus Nadila yang begitu sangat banyak misterinya. Dari kasus gadis kecil itu yang tidak dia lepaskan kepada orang-orang, padahal banyak pria hidup belang yang ingin membeli gadis kecil itu, sampai kasus itu ternyata ada sangkut pautnya dengan Ardian.


Fazar semakin penasaran sebenarnya siapa gadis kecil itu, dan kenapa Ardian harus terlibat.


Saat keduanya sedang diam dan berada di dalam pikiran mereka masing-masing, pintu ruangan itu di ketuk.


Membuat Fadil dan Fazar, langsung tersadar dari lamunannya, yang membuat keduanya menoleh kearah pintu.


" Masuk." Perintah Fazar.


Pintu itu pun perlahan-lahan terbuka, dan menampilkan seorang gadis disana.


" Sayang." Ucap Fazar yang masih duduk ditempatnya.


" Ada apa sayang."


" Kata bunda, sudah waktunya untuk makan malam." Jawab Wiyah.


" Oh, beritahukan kepada bunda kalau aku akan turun menyusul ke bawah." Jawab Fazar." Sekarang kamu bisa duluan turun kebawah, nanti aku akan menyusul."


Entah kenapa, perasaan Wiyah merasa sakit saat melihat suaminya itu seperti mengabaikannya. Padahal biasanya Fazar akan berdiri dari duduknya, saat melihat kedatangannya. Bahkan Fazar akan ikut turun bersamanya turun ke lantai bawah.


Tapi berbeda dengan kali ini, karena Fazar seperti mengabaikannya. Bahkan dia tidak ikut bersamanya untuk turun ke lantai bawah.


" Astaghfirullah, apa yang kamu pikirkan Wiyah. Mungkin sekarang suamimu sedang kelelahan karena pekerjaannya, maknanya dia seperti mengabaikan mu." Batin Wiyah mencoba untuk berpikir positif.


Setelah mendengar ucapan dari Fazar, Wiyah segera keluar dari ruangan kerja suaminya itu. Sedangkan Fadil menatap abangnya itu, yang biasa-biasa saja tanpa melakukan kesalahan apapun. Padahal jelas-jelas Fazar seperti mengabaikan istrinya tadi.


" Bang, aku turun duluan." Fadil berdiri dari duduknya.


" Iya." Jawab Fazar singkat, karena Fazar sedang membaca kasus sahabatnya itu.


.


.


Setelah berkumpul dengan keluarganya di meja makan, Fazar terlihat diam. Fazar juga mengabaikan Wiyah yang berada disebelahnya. Padahal biasanya, Fazar begitu sangat perhatian jika sudah menyangkut gizi sang istri dan juga janin dalam kandungannya, tapi berbeda dengan malam ini, karena Fazar seakan cuek kepada istrinya itu.


Anggota keluarga, yang melihat sikap Fazar sama-sama bingung sendiri. Sampai-sampai mereka bertanya-tanya apa yang telah terjadi kepada Fazar.


Sedangkan Wiyah yang melihat suaminya itu seperti mengabaikannya, tidak perhatian seperti sebelumnya merasa begitu sangat sedih.


" Apa aku membuat kesalahan pada kak Fazar." Lirih Wiyah sedih.


.

__ADS_1


.


Setelah makan malam, kini Fazar kembali ke ruangan kerjanya. Lagi-lagi dia mengabaikan istrinya itu.


Wiyah yang melihat sikap Fazar yang meninggalkan nya begitu saja tanpa mengatakan apapun, semakin merasa sedih.


Padahal biasanya Fazar dengan setia menemaninya pergi kekamar mereka, menemaninya meminum vitamin, bahkan Fazar juga menemaninya sampai ia tertidur. Jika Fazar ada pekerjaan, pasti Fazar akan mengerjakannya didalam kamar.


Apa mungkin suaminya itu sudah tidak suka padanya, makanya suaminya mengabaikannya.


Tiba-tiba saja pikirkan negatif itu hadir di kepalanya. Wiyah menggelengkan kepalanya dengan, untuk menghilangkan pikiran negatifnya itu.


Wiyah yakin kalau suaminya, sedang memiliki masalah, dan Fazar sedang berpikir untuk menyelesaikan, atau Fazar sedang memiliki pekerjaan yang begitu sangat banyak, mengingat suaminya itu adalah seorang pemimpin di perusahaan besar.


Wiyah mencoba untuk berpikir positif, terhadap suaminya itu. Wiyah yakin suaminya itu hanya kelelahan, karena banyaknya pekerjaan.


.


.


Saat Wiyah sedang melangkah kearah tempat tidur, tidak sengaja Wiyah menginjak gamisnya, yang membuat tubuh Wiyah oleng, karena kehilangan ke seimbangan, lalu jatuh tersungkur di atas di atas kasur.


Wiyah jatuh tepat di atas kasur yang empuk itu, buka dilantai. Tapi Wiyah jatuh dengan posisi yang terlalu berbahaya untuk kandungannya, mengingat Wiyah jatuh dengan posisi yang menindih perutnya.


Wiyah sadar ini posisi berbahaya untuk kandungannya, dia mencoba untuk bangkit, tapi.


Ss.


Wiyah meringis, saat merasakan sakit pada perutnya. Saat ia mencoba untuk bangunkan tubuhnya untuk duduk di samping kasur.


" Ya Allah kuatkanlah janin dalam kandungan hamba, jangan ambil mereka." Doa Wiyah, saat rasa sakit itu semakin menjadi.


" K_ak Fa_zar." Lirih Wiyah mencoba untuk memanggil nama suaminya itu, tapi Wiyah ingat kalau suaminya itu tidak ada di kamar itu.


Wiyah mencoba untuk memanggil keluarganya dibawah, tapi dia lupa mengambil ponselnya yang berada di ruangan keluarga.


" Ya Allah lindungi mereka." Lirih Wiyah, yang berusaha untuk menahan rasa sakitnya itu.


Sampai dimana pintu kamar itu terbuka.


" Sayang, ada apa denganmu." Tanya bunda Sisi sambil masuk kedalam kamar. Bunda Sisi bisa melihat kalau menantunya itu sedang duduk di samping kasur.


" Bu_nda." Lirih Wiyah.


" Ada apa sayang.". Tanya bunda Sisi khawatir saat melihat wajah menantunya itu tampak pucat.


" Sela_mat mer_eka." Lirih Wiyah sambil memegang perutnya.


Bunda Sisi yang melihat Wiyah memegang perutnya, membuat bunda Sisi khawatir.


" Apa perutnya sakit sayang." Wiyah hanya mengangguk.


" Kalau gitu kita kerumah sakit." Ucap bunda Sisi lalu membantu Wiyah untuk berdiri. Sampai pandangan bunda Sisi tertuju pada gamis bagian belakang Wiyah, Yang terdapat noda darah.


" Astaghfirullah, sayang kamu pendarahan."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2