Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 232


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Jidan terkejut saat melihat gadis itu, tapi rasa terkejutnya berganti menjadi rasa terharu." Iya dek, ini benar-benar bang Jabir." Jawab Jabir yang ikut melangkah mendekati adik yang dia rindukan itu. Karena selama hampir empat tahun dia tidak pernah datang untuk menemuinya.


" Bang, Adek begitu sangat merindukanmu." Wiyah langsung memeluk tubuh Abang nya itu, karena sudah sangat lama mereka tidak bertemu, tapi malam ini seperti kejutan untuk Wiyah karena mereka kembali dipertemukan.


Sedangkan Jidan membalas pelukan Wiyah, karena Jidan sama rindunya seperti adiknya itu." Abang, jahat. Kenapa selama hampir empat tahun Abang tidak datang menemui adek." Ucap Wiyah yang kini sudah menagis.


Sedangkan Jambri yang berada di sana, bisa melihat pertemuan kedua adik, kakak itu." Maafkan ayah, karena telah egois dengan memisahkan kalian." Batin Jambri dengan mata yang berkaca-kaca. Bagaimanapun Jambri ambil peran dalam perpisahan anak-anaknya.


Sedangkan tamu undangan yang tadi fokus dengan suasana acara, kini menatap kearah Wiyah dan Jidan yang sedang berpelukan.


Para tamu bertanya-tanya siapakah pria itu. Karena mereka merasa aneh saat melihat keduanya berpelukan. Apalagi tadi mereka melihat Fazar yang begitu sangat mesra bersama dengan Wiyah. Lalu kenapa ada pria lain yang berani mmeluk gadis itu. Pikir orang-orang disana.


Sedangkan keluarga Haidar dan juga keluarga Fazar sama-sama terharu dengan pertemuan adik kakak itu. Tapi tidak dengan Fazar. Walaupun Fazar sudah mengetahui kalau Jidan adalah kakak kandung Wiyah. Tapi Fazar tidak suka kalau istrinya dipeluk oleh orang lain, siapapun itu. Termasuk saudara laki-lakinya. Karena cemburu Fazar mendekati istrinya itu.


" Maaf dek, karena selama empat tahun ini Abang begitu sangat sibuk, hingga Abang tidak sempat untuk mengunjungi mu." Jawab Jidan, sambil melingkarkan pelukannya." Maafkan Abang, dek. Karena selama empat tahun Abang seperti melupakanmu." Ucap Jidan kembali sambil menatap adiknya itu dengan rasa rindunya yang selama bertahun-tahun ini tidak bertemu, bahkan memberikan komunikasi saja tidak.


" Sayang." Jidan yang tadi berpelukan dengan Wiyah, melepaskan pelukannya saat mendengar suara seseorang. Dan betapa terkejutnya Jidan saat melihat teman bisnis tuanya.


" Tuan Fazar." Ucap Jidan.


Fazar bukannya menjawab, Tapi dia malah mendekati istrinya itu. Lalu merangkul pinggangnya dengan mesra.


" Jadi istri tuan Fazar, adikku." Ucap Jidan begitu sangat terkejut. Bahkan dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Benarkah, adiknya menikah dengan tuan Fazar. Yang terkenal dengan pebisnis hebat di usianya yang masih muda. Tapi bagaimana bisa adiknya menikah dengan orang Besar. Pikir Jidan.


" Pasti kamu kebingungan Jidan. Tapi aku akan menjelaskannya didalam, karena disini kita akan menjadi tontonan orang-orang." Ucap Fazar." Sebaiknya kita masuk kedalam."


Karena Jidan masih terkejut dengan apa yang dia lihat. Jidan hanya mengangguk, lalu mengikuti Fazar, dan juga keluarga Haidar untuk pergi ke suatu ruangan.


Sedangkan masalah acara, yang akan menghandelnya, tuan Aslan, bunda Sisi dan juga Rido serta Abidzar.


" Dimana pasangan yang baru bertunangan tadi. Kenapa mereka tidak kelihatan." Tanya Abidzar tidak melihat Fadil dan Fina di manapun.


" Mungkin mereka sedang ngamar." Jawab Rido asal


" Wattt." Pekik Abidzar terkejut dengan jawaban aneh Rido barusan." Jangan ngawur lo Do. Gue yakin Fadil tidak akan melakukan itu kalau belum halal."


" Hancur kuping gue Abidzar. Lo teriak-teriak ngga jelas, kenapa ngga pakai toak aja sekalian." Ucap Rido kesal menatap Abidzar." Mereka bisa melakukan itu, karena mereka sudah nikah. Jadi sah-sah aja toh."


" Ngga usah enah-aneh deh Lo, Do. Mereka baru saja tunangan, belum menikah."


" Mereka sudah menikah........" Rido menceritakan kejadian yang pernah dia dengar waktu itu.


" Benarkah." Abidzar terlihat tidak percaya. Karena dia baru tau kalau ternyata Fadil dan Fina sudah menikah secara siri." Lalu kenapa mereka bertunangan lagi, kenapa ngga resepsi aja."

__ADS_1


" Jadi Lo belum tau." Abidzar hanya menggeleng dengan polosnya." Kalau gitu, Lo tanya aja ke bunda, bang Fazar dan paman Aslan, Kenapa mereka ngga langsung resepsi aja, dan mengadakan pertunangan sebesar ini. Karena gue tidak berhak untuk menceritakannya ke lo." Jelas Rido kembali.


" Cak, Lo memang pelit informasi, makanya pakai acara rahasia-rahasiaan. Coba cerita aja, gue kan sahabat Lo."


" Hii. Najis gue sahabatan sama lo." Ucap Rido sambil menggerakkan tubuhnya seperti orang yang sedang kegelian. Sedangkan Abidzar hanya mendengus kesal melihat sikap Rido.


" Ngga Fadil, ngga sekertarisnya. Sama aja."


Kita tinggalkan perdebatan keduanya.


Kini kita beralih kearah Zain dan Harum. Ya, Harum sudah kembali tenang berkat pelukan Wiyah tadi, dan kini gadis kecil itu kembali ceria. Walaupun ada rasa takut dalam hatinya. Harum takut, kalau dia akan kembali bertemu dengan papa nya, karena Harum yakin kalau sang papa masih di acara itu.


" Kak Fazri. Kenapa om tadi memeluk kak Wiyah." Tanya Harum dengan polosnya tapi terlihat kalau ada raut penasaran di wajahnya.


" Karena orang yang memeluk kak Wiyah tadi itu abangnya."


" Abang. Jadi om tadi itu, kakaknya kak Wiyah." Fazri hanya mengangguk mengiyakan." Lalu kenapa baru terlihat om itu kenapa selama Harum kenal kak Wiyah Harum tidak pernah melihat om itu, kak."


Fazri mengacak rambut Harum dengan gemas, karena mendengar pertanyaan gadis kecil itu." Karena om itu, terlalu sibuk. Makanya dia baru datang menemui kak Wiyah."


" Hmm, pantas Harum tidak pernah melihat om itu kak." Fazri hanya geleng-geleng mendengar ucapan gadis kecil itu.


" Hayy, gadis kecil." Sapa seorang pria yang melangkah menghampiri Harum dan Fazri yang sedang duduk berdua.


" Papa." Batin Harum yang kembali melihat Ardian


" Siapa pria ini, kenapa dia mengenal Naila." Batin Fazri, bingung saat melihat pria dewasa yang mengenal Harum.


" Kenapa Naila."


" Aku takut sama om itu kak." Lirih Harum yang masih dibelakang Fazri.


" Apakah om nya jahat sama Naila." Harum menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Ardian menghentikan langkahnya, saat melihat gadis kecil itu seperti menghindari nya dengan cara bersembunyi di belakang pemuda itu.


" Apakah dia masih marah kepadaku karena aku tidak sengaja menumpahkan es krim nya." Batin Ardian bertanya-tanya.


" Siapa anda tuan, kenapa anda mengenal adik saya."


" Perkenalkan saya Ardian. Saya mengenal adik anda saat saya berada di kota B."


" Jangan-jangan pria ini...." Tiba-tiba saja Fazri teringat dua bulan yang lalu dimana Naila hampir saja di jual waktu itu." Jangan ganggu adik saya." Ucap Fazri sambil melindungi Harum.


Melihat pemuda itu, yang seperti was-was pada nya membuat Ardian mengerutkan keningnya." Perasaan aku tidak melakukan apa-apa." Gumam Ardian bingung.


" Saya tidak melakukan apa-apa, lalu kenapa saya harus menjauhi adik anda."

__ADS_1


" Karena saya tau kalau anda....." Belum juga Fazri mengatakan kalau Ardian, pasti pria yang ingin membeli Harum. Tiba-tiba sang paman datang menghampirinya mereka.


" Zri, kamu kemana saja, bunda mencarimu dari tadi. Dia menanyakan Harum dari tadi." Tanya tuan Aslan. Tuan Aslan juga belum menyadari kehadiran Ardian disana." Zri dimana Harum, kenapa paman tidak melihatnya." Tanya tuan Aslan kembali.


" Naila ada dibelakang Fazri paman." Jawab Fazri sambil menggeserkan tubuhnya, agar Harum bisa di lihat oleh tuan Aslan.


" Kenapa putri paman, di sembunyikan Zri." Tuan Aslan meraih tangan kecil itu.


Ya, tuan Aslan sudah mengagab Harum seperti anaknya sendiri, setelah mendengar cerita dari Abidzar. Bagaimana sulitnya gadis kecil itu, yang sampai trauma karena mendapatkan siksaan dari wanita jahat yang bernama Nadila.


Sedangkan Ardian semakin bingung. Ada hubungan apakah antara pemuda ini dengan tuan Aslan, lalu kenapa dia memanggilnya dengan sebutan putrinya, bukannya tuan Aslan terkenal dengan pria yang setia dengan almarhum istrinya. Apa mungkin tuan Aslan sudah menikah. Tapi kenapa tidak ada yang tau tentang kabar pernikahannya.


" Tadi Naila ketakutan saat melihat tuan itu paman." Jawab Fazri sambil melihat kearah Ardian. Tuan Aslan mengikuti sorot mata Fazri, dan dia bisa melihat kala pebisnis yang berkerja sama dengannya ternyata berada di acara ini juga.


" Tuan Ardian. Anda berada disini juga." Tanya tuan Aslan.


" Iya tuan Aslan, saya menghadiri acara pertunangan adik dari teman bisnis saya."


" Wah, ternyata anda teman bisnis anak keponakan saya tuan Ardian." Ardian terlihat kening saat mendengar ucapan tuan Aslan." Anda pasti bingung tuan Ardian. Tapi Fazar, adalah keponakan saya, dia anak dari almarhum adik saya "


Sungguh Ardian semakin dibuat terkejut dengan jawaban tuan Aslan. Dia tidak percaya, pebisnis yang terkenal di Turki ternyata memiliki adik. Tapi kenapa orang-orang tidak mengetahui itu, dan dia juga baru tau sekarang.


" Pemuda ini, adik terakhir Fazar." Ardian melihat kearah Fazri.


" Ternyata pemuda ini adalah adiknya Fazar." Gumam Ardian menatap kearah Fazri yang hanya menatapnya dengan datar." Ternyata adik kakak memiliki sifat yang sama." Batin Ardian, saat melihat Fazri tidak tersenyum sama sekali, sama seperti Fazar." Bagaimana dengan gadis kecil itu tuan Ardian, apakah dia putri nya anda. Tapi tadi saya melihat kalau dia sempat bersama dengan Fazar." Tanya Ardian sambil menatap kearah Harum yang kini sudah bersembunyi di dalam pelukan tuan rumah.


" Kalau gadis kecil ini, adalah putri kami. putri kesayangan di rumah." Jawab tuan Aslan.


" Putri anda." Rasanya Ardian semakin bingung, jika dia putri keluarga Fazar, lalu kenapa wajah Harum tidak menyerupai tuan Aslan atupun Fazar, jika dia putri mereka. Malahan putri tuan Aslan itu malah memiliki wajah sama dengannya." Tapi tuan Aslan, saya lihat-lihat wajahnya hampir sama seperti saya." Ucap Ardian spontan." Maksud saya..."


" Tidak apa tuan Ardian, saya lihat kalau gadis kecil ini memang menyerupai anda." Ucap tuan Aslan yang baru ingat kalau wajah Harum ternyata sama dengan Ardian, saat melihat keduanya secara bergantian.


Sedangkan Fazri tampak berpikir yang sama, saat melihat wajah keduanya. Sepertinya sangat persis. Hanya saja mata Harum yang berbeda." Jangan-jangan harum dan tuan ini...."


" Zri tolong kamu antar Harum ke bunda, paman mau mengobrol bersama dengan tuan Ardian dulu."


" Iya paman, saya akan mengantarkannya." Jawab Fazri. Lalu meraih tangan itu." Naila ngantuk." Tanya Fazri saat melihat mata itu seperti senyu karena ngantuk.


" Iya kak, aku ngantuk." Jawab Harum mengiyakan.


" Kalau gitu biar kakak gendong."


" Ngga usah kak, harum masih bisa jalan sendiri."


" Ngga apa-apa Rum." Fazri berjongkok, lalu menyuruh Harum untuk naik di atas panggung. Karena harum memang sudah mengantuk. Akhirnya dia menurut, lalu naik di atas punggung Fazri.


" Paman, aku duluan masuk kedalam." Tuan Aslan hanya mengangguk.

__ADS_1


Sedangkan Ardian hanya menatap kepergian gadis kecil itu untuk yang kedua kalinya tanpa mengatakan apapun kepadanya." Sepertinya gadis kecil itu sangat marah kepadaku." Ardian merasakan tidak ikhlas saat melihat kepergiaan gadis kecil itu, tanpa berbicara sama sekali kepadanya.


...----------------...


__ADS_2