
Kesabaranku membawa cinta
" Kamu bisa lihat kan Zri, kalau tempat ini jauh lebih berbahaya, ketika kita pergi tanpa ada rencana yang matang sama sekali." Ucap Fadil menatap kearah Fazri.
Karena tidak memiliki strategi yang begitu sangat mantang, membuat mereka berpikir keras, agar bisa masuk kedalam dan melawan para anak buah mafia Derk Belck yang memiliki jumlah yang begitu sangat banyak, bahkan jumlah anak buah Fiki dan Liando kalah jumlah dari anak buah mafia Derk Belck.
" Kita tidak perlu menyusun strategi lagi kak, untuk melawan mereka, karena strategi itu sudah ada, dan aku sudah merencanakan strategi itu sebelum kita kesini."
" Kalau kak Fadil dan kak Abidzar mau, kita bisa mengunakan strategi ini. Tapi kalau kalian tidak mau, kalian bisa menyusun rencana lain, agar kalian bisa masuk kedalam." Liando, Fiki, Abidzar, dan Fadil, semakin di buat melongo oleh ucapan Fazri.
Kalau ternyata pemuda berusia enam belas tahun itu, sudah memiliki rencana untuk masuk kedalam. Padahal mereka belum berhasil menyusun rencana yang tepat untuk masuk kedalam, mengingat musuh mereka, bukalah musuh sembarangan.
" Apakah strategi mu bisa menjamin, kalau orang-orang itu tidak akan mengetahui kita, kalau kita berhasil masuk kedalam." Tanya Liando memastikan.
Walaupun dia adalah seorang polisi, bahkan ahli dalam menyusun strategi untuk menangkap musuh. Tapi, tidak tau kenapa Liando harus kehilangan keahliannya itu, ketika berhadapan dengan mafia Derk Belck.
Sebenarnya Liando tidak mau berurusan dengan mafia yang terkenal akan kekejamannya itu, apalagi kalau sampai strateginya ternyata gagal, dan akan berakibat pada ketiga adik dari sahabatnya Fazar. Tapi dia sudah berjanji kepada Fazar akan membantu sahabatnya itu, apapun yang terjadi. Karena dirinya seperti ini, itu semua berkat Fazar.
" Aku bisa menjaminnya kak Liando"
" Baiklah, kami akan mengikuti strategi mu, tapi kamu harus memberitahukan apa yang harus kami lakukan disini."
Fazri tersenyum, kalau strategi yang tidak sengaja dia atur, bisa di gunakan dalam misi penyelamatan Naila. Sampai membuat Fazri begitu sangat senang mendengarnya.
Fazri mulai memberitahukan apa saja strategi itu, kepada kedua kakaknya, Liando, Fiki dan juga anak buahnya yang lainnya.
Mereka yang mendengar strategi, yang dibuat oleh Fazri semakin dibuat terkejut, karena strategi yang di buat oleh Fazri, sangatlah rapi, untuk masuk kedalam dalam.
Mendengar strategi yang di buat oleh Fazri, membuat mereka begitu tidak menyangka, kalau pemuda berusia enam tahun itu, ternyata begitu sangat pintar dalam hal seperti ini.
Liando bertanya-tanya, apakah adik kedua Fazar itu, masuk dalam sekolah kemiliteran, sampai di usianya seperti sekarang dia sudah pintar menyusun strategi.
Sedangkan Fadil hanya menatap adiknya itu, karena dia masih begitu sangat bingung dengan pemikiran adiknya itu. Bagaimana bisa Fazri, menyusun rencana seperti ini. Rencana yang begitu sangat bagus.
" Sebelum kita masuk kedalam, kalian harus memakai ini, agar mereka tidak mengenali wajah kita." Fazri mengeluarkan sebuah topeng hitam, yang berjumlah begitu sangat banyak.
Mereka yang melihat topeng itu semakin di buat bingung. Mereka tidak tau, kalau tas yang di bawah oleh Fazri, ternyata berisi ratusan topeng yang sama.
" Topeng ini berguna, untuk menyembunyikan identitas kita, selama kita berada didalam. Mereka tidak akan tau siapa kita, selama kita mengunakan topeng ini." Jelas Fazri, membuat mereka semuanya mengangguk mengerti.
Mereka mengambil satu persatu topeng itu, lalu mengenakannya.
Karena Fadil, yang pintar dalam internet, di tugaskan untuk tetap didalam mobil bersama dengan beberapa anak buah Liando dan Fiki. Karena mereka bertugas untuk memberantas cctv yang berada didalam villa itu, agar bisa memberitahukan dimana saja letak anak buah Nadila dan juga mafia itu.
__ADS_1
Sedangkan Fazri, dan Abidzar akan masuk kedalam bersama dengan yang lainnya.
Sebenarnya Fadil melarang mereka. Tapi dengan keyakinan yang penuh, Fazri berusaha menyakinkan kakaknya itu, yang membuat Fadil mengijinkannya
🍁🍁🍁🍁🍁
Didalam ruangan yang begitu sangat mewah. Seorang gadis kecil yang kini sedang berusaha untuk lepas dari pria yang memiliki tubuh yang jauh lebih besar darinya, mungkin tiga kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhnya. Yang kini sedang mengukung tubuh kecil itu, agar gadis kecil itu tidak meronta-ronta melawannya.
" Diam lah gadis kecil, aku sudah membeli mu, Jadi jangan bergerak untuk melawan." Bentak pria itu, menatap kearah Harum dengan tajam agar membuat gadis kecil itu ketakutan.
" Lepaskan saya tuan, jangan lakukan itu." Mata itu terus menetaskan air agar pria didepannya itu mau melepaskannya. Apalagi Harum, tau apa yang akan di lakukan oleh pria dewasa itu padanya. Saat melihat tubuh polosnya.
Mungkin Harum hanyalah gadis kecil, yang tidak mengerti apa-apa. Tapi dia sering melihat dengan jelas, hal yang seperti itu, saat Nadila menghukumnya ketika dia berbuat kesalahan.
Karena itulah, gadis kecil itu paham apa yang akan dilakukan oleh pria dewasa yang sekarang sedang mengukung nya.
" Jangan harap aku akan melepaskan mu gadis kecil, apalagi aku sudah menantikan hak ini sejak lama. Menikmati gadis kecil yang memiliki bola mata ember seperti mu." Ucap pria itu sambil tersenyum. Pria itu kembali melanjutkan aksinya walaupun teriakan ketakutan gadis kecil itu begitu sangat menyedihkan di Indra pendengarannya, tapi tidak membuat hati pria itu iba sama sekali, bahkan dengan sangat nikmat menikmati tubuh kecil itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dengan tubuh, yang hampir memiliki luka di beberapa bagian. Dua orang pria yang memakai topeng yang sama, di tambah dengan satu seorang wanita, melangkah cepat pergi ke ruangan yang dari tadi mereka cari, dengan melewati beberapa rintangan agar bisa ke ruangan itu.
" Cepat dobrak pintu itu." Abidzar dan Fazri yang mendengar perintah wanita itu, hanya mengangguk lalu melakukan perintahnya.
Dengan langkah cepat ketiganya langsung masuk kedalam, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat di atas tempat tidur, tubuh besar itu sedang mencekik leher gadis kecil yang mereka cari.
" Berengsek."
" Dasar pria tua ped ofil."
Dengan penuh amarah, kedua pria itupun langsung melangkah mendekati pria itu
Dengan penuh amarah, Abidzar langsung menendang pria itu, yang membuatnya langsung jatuh kelantai.
Sedangkan Fazri yang melihat tubuh kecil itu, tidak terbungkus apapun dengan sigap langsung menutupi tubuh kecil itu.
" Nai, bangunlah,, Kak Fazri berada disini untuk menyelamatkan Naila." Fazri berusaha untuk membangunkan Harum yang kini tidak sadarkan diri." Nai." Fazri berusaha membangunkan gadis kecil itu, tapi Harum sama sekali tidak membuka matanya.
Fazri semakin di buat marah dan sedih, saat melihat kedua pipi itu terlihat merah, bahkan terlihat jelas kalau gadis kecil itu baru saja mendapatkan tamparan.
" Sadarlah."
Sedangkan pria itu menatap pria didepannya, yang sudah menggagalkan kegiatannya.
__ADS_1
" Siapa kalian. Berani sekali, kalian masuk kesini dan menggangu kegiatan ku." Pekik pria itu marah menatap kearah Abidzar bergantian kearah Fazri yang sekarang sedang membangunkan Harum yang sedang pingsan.
" Kamu tidak perlu tau siapa mereka Jack. karena kamu hanya berurusan dengan ku, bukan mereka." Jawab wanita itu sambil mendekati pria yang masih betah duduk di lantai sambil menatap mereka dengan tajam.
Wanita itu membuka topengnya. Yang membuat pria itupun langsung terkejut." Kamu."
" Ya, aku kesini untuk menghapuskan manusia bia dab yang tidak punya hati seperti mu." Jawab Wanita itu, lalu melangkah mendekati pria itu." Aku tidak habis pikir, kalau kamu bukan saja penjahat wanita, melainkan seorang pedofil yang menyukai gadis kecil yang tidak bersalah." Setelah mengatakan itu, wanita itu langsung menendang wajah pria didepannya.
Bakkkk
Ahhhh.
Teriak kesakitan pria itu, saat merasakan sakit di hidung mancungnya. Terlihat kalau hidung itu langsung mengeluarkan darah segar.
" Itu baru permulaan, ada yang lebih menyakitkan lagi menunggu mu." Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari tas yang berada di pinggangnya, lalu mengeluarkan sebuah suntikan. Neraka menunggumu pria bren gsek, biadab seperti mu."
Wanita itu menyuntikan sesuatu, langsung ke leher pria itu. Tidak membutuhkan beberapa lama, pria itu langsung jatuh pingsan karena efek dari obat yang wanita itu berikan
" Kenapa kamu duluan membunuhnya, aku ingin memberikannya pelajaran, sampai dia mati di tangan ku sendiri."
" Jangan mengotori tanganmu anak muda, karena itulah biar aku yang menghancurkan pria ini." Jawab pria itu." Sebaiknya, kalian bawah gadis kecil itu, kerumah sakit, karena dia kondisinya tidak baik."
Abidzar dan Fazri langsung menatap kearah Harum, saat melihat kondisi Harum yang mengenaskan. Mereka sampai melupakan kondisi Harum sekarang, karena ingin mengganjar pria didepan mereka itu.
" Maaf Nai, aku sampai melupakan mu." Fazri yang ingin menggendong tubuh kecil itu, tapi di tahan oleh Abidzar.
" Sebaiknya biar aku saja yang menggendong nya Fazri, karena tangan mu belum benar-benar pulih, aku takut kalau tangan mu itu akan semakin bengkak."
" Tapi kak ___"
" Untuk kali ini, jangan membantah omongan ku." Potong Abidzar.
Dengan perasaan terpaksa, Fazri melihat tubuh kecil itu langsung di gendong oleh Abidzar.
Saat tubuh kecil itu gendong, pandangan Fazri tertuju pada noda darah yang begitu sangat banyak di atas kasur.
Deg.
" Tidak, aku yakin dia belum melakukannya." Batin Fazri. Entah kenapa pikirkan buruk itu, tiba-tiba saja hadir di kepalanya, tapi Fazri menepisnya jauh-jauh, karena dia berusaha untuk berpikir positif.
Fazri mengikuti langkah Abidzar, meningkatkan wanita itu yang masih berada didalam.
" Ya Allah semoga apa yang aku takutkan tidak benar-benar terjadi. Jika itu benar-benar terjadi, aku akan merasa bersalah padamu nai, karena gagal kembali untuk menyelamatkan mu." Gumam Fazri di sela-sela langkahnya.
__ADS_1
...----------------...