
Kesabaranku membawa cinta
Huek
Huek
Untuk kesekian kalinya Wiyah memuntahkan isi perutnya, tapi yang keluar hanya cairan bening. Setelah memuntahkan isi perutnya, tubuh Wiyah kembali lemas, dan hampir membuatnya jatuh jika saja Fazar tidak dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Karena saat Wiyah masuk kedalam kamar mandi, Fazar selalu dengan sigap menemani nya.
Karena Fazar begitu sangat khawatir melihat kondisi istrinya itu, karena selama tiga hari ini, Wiyah selalu muntah-muntah saat di pagi hari seperti sekarang. Bukan saja satu kali, melaikan dua kali. Saat subuh dan pagi hari seperti saat ini.
" Sudah sayang." Tanya Fazar, membuat Wiyah mengangguk mengiyakan.
Mendengar jawaban dari sang istrinya itu. Membuat Fazar kembali membantu Wiyah untuk membersihkan sisa-sisa muntahan nya tadi tanpa rasa jijik sama sekali, bahkan Fazar juga membantu membersihkan mulut Wiyah, setelah itu membasuh wajah istrinya itu, agar Wiyah terlihat segar.
Fazar mengendong tubuh Wiyah ala bridal style, membawanya keluar dari kamar mandi, melangkah mengarah kearah kasur, Setelah itu membaringkan tubuh istrinya itu diatas kasur dengan perlahan-lahan.
" Sayang tunggu sebentar, kakak mau ambilkan teh hangat buat sayang, biar enakan dan mual bisa berkurang." Ucap Fazar menatap istrinya itu.
" Iya kak tapi jangan lama." Jawab Wiyah.
" Iya kakak ngga akan lama koh, sayang." Jawab Fazar mengusap lembut rambut kepala Wiyah.
Setelah mendengar jawaban dari istrinya, membuat Fazar turun dari kasur untuk pergi ke lantai bawah.
.
.
Tidak membutuhkan waktu lama, Fazar kembali masuk kedalam kamar mereka sambil membawa satu cangkir teh hangat untuk istrinya.
Saat masuk kedalam kamar mereka, Fazar bisa melihat kalau di atas kasur tidak terdapat istrinya disana.
" Sayang." Panggil Fazar khawatir, saat ia tidak melihat keberadaan istrinya di atas kasur. Sampai Indra pendengarannya, mendengar kalau ada suara seseorang di kamar mandi.
Dengan perasaan khawatir, Fazar melangkah mendekati meja disampingnya, lalu menyimpan teh hangat di tangan nya.
Karena Fazar ingin memeriksa dikamar mandi, kalau istrinya itu baik-baik saja.
" Sayang." Ucap Fazar khawatir, saat tangan kekarnya berhasil menangkap tubuh Wiyah yang ingin jatuh. Jika saja ia tidak duluan masuk kedalam kamar mandi untuk mengecek kondisi istrinya itu mungkin saja tubuh istrinya itu sudah jatuh di lantai kamar mandi." Apa Sayang baik-baik saja." Tanya Fazar khawatir.
Sedangkan Wiyah hanya mengangguk mengiyakan." Iya kak, aku baik-baik saja." Jawab Wiyah.
Fazar kembali membantu istrinya itu, untuk membersihkan muntah nya tadi, setalah itu ia kembali mengendong tubuh Wiyah kearah kasur.
" Sayang minum dulu teh hangatnya, biar rasa mual berkurang." Ucap Fazar, yang mendapatkan anggukan dari Wiyah.
Fazar membantu mengubah posisi istrinya, untuk duduk di kasur sambil bersandar di sandaran kasur.
Lalu dengan pelan Fazar membantu Wiyah untuk meminum teh hangat yang tadi dia buat.
__ADS_1
" Apa, lebih enakan." Tanya Fazar.
" Iya kak, lebih enakan dan Rasa mual nya juga tidak kayak tadi." Jawab Wiyah dengan mata terpejam, karena merasa kepalanya yang seperti berputar-putar.
Fazar yang tahu kalau kepala istrinya itu pusing, membantu memijatnya kepala istrinya itu.
" Makasih kak." Ucap Wiyah sambil membuka matanya, untuk menatap suaminya itu. Yang begitu sangat sabar menghadapinya bahkan dengan begitu sangat sabar merawat nya saat dia sedang muntah-muntah seperti tadi.
" Iya sama-sama sayang, ini sudah tugas kakak sebagai suami untuk selalu membantumu dan harus bisa peka dengan kondisi mu sekarang." Jawab Fazar lembut." Hari ini kita pulang, Melihat kondisi sayang yang tidak baik-baik saja. Soalnya tiga hari ini sayang sering sekali muntah-muntah." Ucap Fazar dengan lembut sambil mengusap kepala Wiyah." Kakak ingin mengecek kondisi sayang ke dokter, kalau sayang baik-baik saja. Soalnya kakak takut, kalau sampai terjadi sesuatu ke sayang." Ucap Fazar kembali sambil menatap istrinya itu.
Fazar bisa melihat wajah pucat Wiyah yang begitu sangat pucat, makanya Fazar ingin kembali kerumahnya. Agar ia bisa mengantarkan Wiyah kerumah sakit, untuk mengecek kondisi istrinya itu. Kalau Wiyah baik-baik saja dan tidak ada penyakit berbahaya yang ingin membahayakan kesehatan istrinya itu.
" Iya kak, aku ikut saja yang mana yang terbaik menurut kakak." Jawab Wiyah, yang mengikuti apa yang suaminya itu minta. Karena apa yang Fazar lakukan itu pasti yang terbaik untuknya. Walaupun Wiyah begitu sangat betah berada di desa ini, karena masih asri dan Wiyah juga bisa menghabiskan waktu berdua bersama dengan suaminya.
Tapi mengingat kondisinya sekarang, membuat Wiyah memutuskan untuk mengikuti permintaan suaminya itu, untuk kembali ke kota, Setelah kondisinya membaik, Wiyah akan kembali lagi ke desa ini untuk menikmati waktunya bersama dengan sang suami.
" Maaf sayang, tapi setelah kakak mengetahui kalau kondisi mu baik-baik saja. Nanti kita kembali lagi kesini." Ucap Fazar yang seperti tahu apa yang Wiyah pikirkan.
" Iya ngga apa-apa kak, aku ngerti koh." Jawab tersenyum.
Melihat senyuman istrinya itu membuat Fazar ikut tersenyum, lalu Fazar mendekatkan wajahnya untuk mencium b**ir itu yang terlihat manis saat Wiyah sedang tersenyum.
" Terimakasih, karena sayang begitu sangat mengerti akan kondisimu sekarang. Sampai membuat sayang tidak bisa menolak permintaan ku sama sekali." Ucap Fazar setelah mencium b**ir Wiyah sekilas.
Wiyah yang mendapatkan ciuman dari Fazar, membuat pipi nya langsung merona bagikan stoberi yang baru saja matang. Sedangkan Fazar yang melihat pipi istrinya yang memerah, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena bingung dengan tingkah malu-malu istrinya itu.
Padahal ia sudah sering melakukannya bahkan lebih dari itu, tapi jika ia mencium istrinya seperti tadi. Pasti Wiyah akan malu seperti sekarang.
Wiyah menatap kearah suaminya itu. Saat Fazar mengatakan kalau mereka belum sarapan pagi. Entah kenapa, Wiyah menginginkan sesuatu. Tapi bingung ingin memintanya seperti apa, mengingat permintaan nya itu terlalu konyol.
" Apa yang salah dengan dirimu Wiyah." Batin Wiyah, yang menyadari kalau ada yang salah dengan dirinya.
" Kenapa diam sayang." Tanya Fazar, saat menyadari kalau istrinya itu hanya diam.
Wiyah yang ditanya, tersadar dari lamunannya. Lalu menatap suaminya itu, karena ia tidak bisa menahan permintaan nya yang terlalu aneh menurutnya.
" Kak, apa boleh aku meminta sesuatu ke kakak." Tanya Wiyah hati-hati takut kalau permintaan nya tidak akan di kabulkan.
Mendengar pertanyaan dari istrinya itu membuat Fazar tersenyum." Tentu boleh sayang, emangnya sayang mau apa." Tanya Fazar.
Dengan takut-takut Wiyah memberitahukan apa yang dia inginkan sekarang." Kak aku menginginkan sate kambing, tapi kambing nya itu yang baru saja di potong." Jawab Wiyah." Dan aku maunya kalau yang bakar sate kambing itu kakak sendiri." Ucap Wiyah kembali dengan takut. Takut kalau suaminya itu akan merah dengan permintaan nya.
Fazar yang mendengar permintaan sang istri, membuatnya langsung terkejut. Bukan karena kambing yang baru di potong langsung di jadikan sate, karena kambing di desa ini banyak. Hanya saja Fazar tidak bisa memasak, bahkan membakar sebuah sate pun Fazar tidak tahu. Bagaimana mau menerima permintaan istrinya itu.
" Maaf sayang, Kalau masalah kambing yang baru saja di potong lalu di jadikan sate, kakak masih bisa mengabulkan nya. Tapi kalau sate kakak yang bakar. Kakak tidak bisa mengabulkannya, karena kakak ngga bisa masak sayang" Jawab Fazar jujur.
Wiyah yang mendengar jawaban dari sang suami merasa kecewa, Karena permintaannya tidak bisa di kabulkan. Padahal Fazar menolaknya sambil menjelaskan kalau dia tidak bisa memasak. Tapi ini, ia malah tidak bisa mengerti, bahkan Wiyah merasa sakit saat Fazar menolak permintaan nya.
Fazar yang melihat wajah kecewa Wiyah merasa bersalah, karena tidak bisa mengabulkan permintaan istrinya itu. Terdengar mudah, tapi begitu sangat sulit untuknya.
__ADS_1
" Baiklah, tidak apa-apa kak. Aku bisa membakar nya sendiri." Jawab Wiyah, dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Ya, seperti kemarin saat Wiyah meminta mangga dan buah jeruk tapi yang asam. Tapi saat Fazar menolaknya. Pasti Wiyah akan sedih dengan waktu beberapa detik, padahal dulu Wiyah tidak seperti ini.
Tapi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, maka Wiyah akan kembali bahagia.
Melihat mata berkaca-kaca dari istrinya itu, membuat Fazar menghebuskan nafasnya sabar, mencoba untuk mengerti perasaan istrinya itu yang tiba-tiba saja aneh beberapa hari ini.
" Sss, jangan nangis sayang, kakak akan mengabulkan permintaan sayang. Asal sayang jangan nangis." Ucap Fazar yang mengiyakan permintaan istrinya itu, asal istrinya itu jangan bersedih karena penolakan nya barusan.
" Benarkah itu kak." Tanya Wiyah memastikan, yang membuat Fazar langsung mengangguk mengiyakan.
" Iya sayang." Jawab Fazar dengan lembut sambil mengusap kepala Wiyah." Tapi setelah sayang sarapan pagi. Setelah itu kita ke kadang kambing untuk mencari kambing yang bisa kita potong, lalu menjadikannya sate untuk sayang makan." Ucap Fazar kembali, yang membuat senyuman Wiyah langsung terbit begitu saja.
" Terimakasih kak." Ucap Wiyah senang lalu memeluk tubuh suaminya itu dengan erat, sedangkan Fazar hanya bisa membalas pelukan dari istrinya itu.
" Iya sama-sama sayang, yang penting sayang bahagia." Jawab Fazar tersenyum.
" Ada apa denganmu sayang, kenapa sifat mu sering sekali berubah-ubah seperti sekarang. Apakah kamu sedang...."
.
.
Setelah bersiap-siap mengunakan pekaian santai. Wiyah turun ke lantai bawah, untuk menemui suaminya yang sekarang sedang menunggunya di lantai bawah, karena Fazar sudah duluan di lantai bawah dari tadi, saat ia sedang bersiap-siap.
Saat Wiyah sedang bercermin, matanya tidak sengaja tertuju pada klender yang kebetulan berada didinding dekat dengan cermin rias.
" Bukannya lusa, kak Fazar akan berusia dua puluh sembilan tahun." Gumam Wiyah saat mengingat kalau lusa adalah hari lahir Fazar dan akan berusia dua puluh sembilan tahun.
Wiyah mengetahui hari lahir Fazar, karena saat berada di belanda Wiyah sempat membaca tanggal dan tahun lahir suaminya itu, makanya Wiyah tahu kalau lusa adalah hari Fazar yang ke dua puluh sembilan tahun.
" Aku harus membuat kejutan untuk kakak." Ucap Wiyah kembali sambil tersenyum, sambil menatap kalender didepannya.
Saat sedang melihat kalender didepannya, Wiyah teringat kalau ia belum mendapatkan tamu bulanan bulan ini dan Wiyah masih ingat kalau dia mendapatkan tamu bulanannya itu saat ia masih berada di Jakarta.
Mungkin tamu bulanan Wiyah kadang tidak teratur, tapi berbeda dengan ini. Karena ia dan Fazar sudah melakukan hubungan suami-istri jadi bisa saja kan, terlambat datang tamu bulanan nya itu bisa saja ada hal yang lain.
Wiyah mengingat beberapa hari ini dia mendapati gejala yang aneh pada dirinya, bahkan selama tiga hari ini Wiyah selalu merasakan mual dan muntah-muntah saat di pagi hari.
Walaupun tidak yakin dengan gejala-gejala mengandung, tapi yang dia rasakan sekarang. Sama persis seperti ibunya dulu saat sedang mengandung adiknya.
Karena penasaran, membuat Wiyah mengambil ponselnya, lalu mencari artikel di Internet. Tanda-tanda orang yang sedang mengandung semester awal.
Setelah membaca di internet dan menyamakan apa yang sekarang Wiyah rasakan, membuat Wiyah yakin kalau ia sedang mengandung.
Membayangkan kalau ia benar-benar mengandung, membuat mata Wiyah langsung berkaca-kaca, karena tidak percaya dengan apa yang dia baca di internet.
" Ya Allah, jika benar hamba sudah mengandung, Terimakasih, karena engkau sudah memberikan hamba amanah yang harus hamba jaga dengan sepenuh hati." Gumam Wiyah menyimpan tangannya di atas perutnya yang masih rata, karena tidak percaya, kalau ia sedang mengandung secepat ini, di saat usianya baru delapan belas tahun, dan sebentar lagi dia baru akan sembilan belas tahun.
__ADS_1
" Jika kamu benar-benar hadir di dalam rahim ummi. maka berjuanglah bersama dengan ummi, sayang. Agar kamu bisa melihat indahnya dunia ini dan bisa melihat wajah ummi dan Abbi." Gumam Wiyah menatap perutnya yang masih rata lewat kaca didepannya itu sambil mengusapnya dengan lembut, Wiyah tidak bisa membayangkan jika ia benar-benar sedang mengandung sekarang.
...----------------...