
" Tunggu sebentar lagi Dil, abang akan menyelesaikan semuanya." Batin Fazar menatap Fadil. Fazar mengusap tangan Fadil dengan begitu sangat lembut.
Satu bulan lebih tidak bertemu dengan Fadil buat Fazar begitu sangat merindukan adiknya itu. Walaupun Fazar pernah meninggalkan mereka selama tiga tahun. Tapi berbeda dengan sekarang, jika dulu Fadil terlihat baik-baik saja maka sekarang berbeda karena Fadil sedang tidak baik-baik saja.
Sedangkan Wiyah yang berada di rungan itu menatap Fadil. Pria yang membuatnya menikah dengan Fazar, dan pria yang ingin hadir dalam kehidupannya. Pria yang sudah menemani nya sebagai teman selama dua bulan, tapi teman itu berakhir dengan perasaan yang tidak terbalaskan. Saat ia akan menerimanya, perasaan itu sendiri yang membuatnya harus menolak, karena menyuruhnya untuk ketempat yang lain.
" Cepat sembuh kak Fadil, aku sudah memenuhi permintaan mu untuk menikah dengan abangmu, maka berjuanglah untuk sembuh. Karena mereka begitu sangat menginginkan kesembuhanmu." Batin Wiyah menatap kearah Fadil yang masih terbaring.
Wiyah tidak bisa membayangkan seperti apa sakitnya saat alat-alat rumah sakit sebanyak itu yang terpasang ditubuh kurus Fadil. Apa jauh lebih sakit, daripada ia melakukan pengobatan cairan paru-paru dulu.
" Sudahlah Zar, jangan sampai Fadil tahu kalau kamu bersedih karena nya, karena Fadil akan semakin sedih saat mengetahui kalau kamu bersedih hanya karena kondisinya. Fadil tidak suka kalau sampai keluarganya bersedih karena kondisinya sekarang." Ucap bunda Sisi mengusap punggung Fazar.
Bunda Sisi bisa merasakan bagaimana terlukanya Fazar sebagai seorang abang, walaupun wajah datarnya itu tidak memperlihatkan seperti apa sedih nya Fazar, tapi melihat tatapan Fazar membuat bunda Sisi bisa merasakan hal itu.
" Dia terlalu banyak memikirkan orang lain Bun, sampai membuatnya seperti ini." Jawab Fazar.
" Kita tahu seperti apa dia, dari dulu sampai sekarang, Fadil tidak suka menyusahkan orang lain." Sambung bunda Sisi kembali.
" Sudahlah, lebih baik kalian pulang ke apartemen untuk beristirahat." Ucap bunda Sisi mengalihkan perbincangan mereka kearah lain.
" Aku tidak ingin pulang bun, aku harus mengurus semuanya, sampai selesai." Jawab Fazar menolak permintaan bunda Sisi untuk pergi ke apartemen, karena tugas Fazar sekarang. Adalah menemui sang pendonor.
__ADS_1
" Bunda tahu, apa yang ingin kamu lakukan. Tapi hal pertama yang harus kamu lakukan sebelum melakukan tugas mu, yaitu beristirahat karena kalian baru saja melakukan perjalanan jauh." Ucap bunda Sisi." Kamu tidak lihat kalau wajah istrimu yang begitu sangat lelah. Seharusnya kamu mengantarkan nya ke apartemen terlebih dahulu untuk beristirahat setelah itu kamu bisa menyelesaikan tugas mu. Mungkin kamu tidak akan merasakan lelah tapi tidak untuk istrimu" Jelas bunda Sisi kembali sambil menoleh menatap kearah Wiyah yang hanya diam sambil mendengarkan perbincangan keduanya.
Fazar yang tadi menatap kearah Fadil, berbalik menghadap kearah Wiyah, membuat Fazar bisa melihat wajah lelah istrinya itu.
Fazar bisa melihat wajah istrinya yang tempak lelah, tapi istrinya itu sengaja menyembunyikannya karena tidak ingin mengganggunya.
" Apa aku terlalu egois terlalu memaksa nya untuk mengikutiku kemana saja walaupun aku sendiri tau kalau dia pasti lelah setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh.
Jika aku baik-baik saja, maka berbeda dengan nya." Batin Fazar menatap kearah Wiyah.
" Baiklah bun, aku akan pergi ke apartemen untuk beristirahat, setelah itu aku akan kembali lagi ke sini." Jawab Fazar setelah mengambil keputusan untuk pergi ke apartemen agar Wiyah bisa beristirahat.
Bunda Sisi yang mendengar jawaban dari Fazar tersenyum, karena putranya itu mau mengikuti permintaannya." Sepertinya Fazar sudah mau menerima kehadiran Wiyah berada di sampingnya." Batin bunda Sisi yang tahu seperti apa Fazar, yang begitu sangat membenci seorang wanita setelah kejadian tiga tahun lalu.
" Baiklah, hati-hati dijalan, jika kalian sudah sampai langsung kabari bunda." Ucap bunda Sisi sambil tersenyum menatap kearah Fazar lalu kearah Wiyah bergantian.
" Baik bun." Jawab Fazar. Fazar berdiri dari duduknya lalu menatap kearah Wiyah.
" Ayo kita pulang." Ajak Fazar menatap istrinya itu.
" Tapi kak, kita bisa beristirahat disini sambil menemani bunda." Tolak Wiyah yang tidak ingin meninggalkan bunda Sisi sendirian.
__ADS_1
" Ngga apa-apa, nak. kalian pulang saja, pasti kalian capek setelah melakukan perjalanan jauh. Besok kalian bisa kembali kesini." Jawab bunda Sisi menolak ucapan menantu nya itu.
" Tapi Bun_"
" Ayo sayang, jangan terlalu lama menolak. Lebih baik sekarang kita pulang." Ucap Fazar memotong ucapan dari Wiyah, Membuat Wiyah seketika terdiam sambil menatap suaminya itu karena Fazar mengatakan sayang ' Benarkah atau hanya candaan.
Sedangkan bunda Sisi hanya tersenyum mendengar ucapan putranya itu.
Fazar langsung menarik pelan tangan Wiyah, membantu gadis itu yang masih asyik dengan keterdiamnya untuk berdiri.
" Kami pulang bun. Assalamualaikum." Pamit Fazar sambil meraih tangan bunda Sisi lalu menciumnya. Sama halnya yang dilakukan oleh Wiyah.
" Aku pulang bun." Pamit Wiyah setelah itu melangkah keluar dari ruangan Fadil.
Didalam ruangan hanya ada bunda Sisi sendiri karena Rido sudah keluar dari tadi saat kedatangan Fazar. karena Rido tidak ingin menganggu keluarga itu saat sedang berbincang.
" Semoga Wiyah, adalah wanita yang bisa mengobati luka masalalu mu Zar." Batin bunda Sisi menatap kearah pintu yang sudah tertutup.
Kesedihannya tadi seperti berkurang setelah kedatangan Fazar dan juga Wiyah.
...----------------...
__ADS_1
Kemarin ngga sempet update, soalnya ketiduran. terus siangnya author lagi sibuk.
Insyaallah kalau ada waktu update dua kali.