Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Ekstra part 1


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Satu minggu berada di rumah sakit, kini Wiyah di perbolehkan pulang oleh dokter. Jika kemarin Wiyah dan Fazar hanya berdua pergi ke rumah sakit, Maka berbeda dengan sekarang. Karena Fazar dan Wiyah pulang berlima, bersama dengan ketiga bayi nya. Sungguh ini adalah momen yang sangatlah dinanti oleh Fazar. Pulang bersama dengan keluarga kecilnya yang lengkap. Istrinya yang cantik dan anak-anaknya yang lucu. Ini adalah impiannya dari dulu, tapi baru sekarang tercapai.


" Kenapa Beby Faz, terlihat menggemaskan saat me**usu seperti sayang. Apalagi beby Faz dari tadi tidak melepaskanya." Ucap Fazar yang merasa sangat gemas dengan putra keduanya itu, yang dari tadi me**usuh tapi belum melepaskanya sama sekali.


" Mungkin Beby Fazran lagi haus Abbi, apalagi dari tadi Beby Fazran tidur dan baru aja bangun." Jawab Wiyah sambil mengusap-usap lembut kepala bayi itu. Ada kesenangan sendiri, yang Wiyah rasakan sekarang. Karena dia bisa men**sui anak-anaknya tanpa bantuan susu formula, karena asi yang Wiyah keluarkan begitu sangat banyak, bahkan setiap harinya dia harus mengunakan pompa asi, jika ketiga anaknya tidak ingin me**usuh.


" Haus atau lapar sih Beby Faz, sampai-sampai ngga mau lepas." Ucap Fazar sambil mencolek pipi anaknya itu mengunakan jarinya. Ada rasa gemas yang Fazar rasakan, rasanya dia ingin mencubit pipi merah itu.


Sedangkan bunda Sisi, dan ibu Widya, yang memang berada di mobil yang sama dengan mobil Fazar dan Wiyah, hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Fazar. Padahal pria itu sudah berusia dua puluh sembilan tahun, tapi sifatnya kadang kayak anak kecil jika sudah berurusan dengan anak-anaknya.


" Ya, namanya bayi, Zar, jadi jangan heran kalau mereka akan men***suh dengan waktu yang lama. Apalagi para bayi hanya bisa menerima asupan lewat ibunya." Ucap bunda Sisi." Kalau mereka lapar, mereka hanya bisa menangis. Tapi kalau mereka kenyang, mereka akan tenang seperti Beby Fazran ini, yang Masya Allah anteng benget. Berbeda saat kita mau pulang tadi. Karena sekarang dia masih kenyang. Coba kalau udah lapar, pasti nangisnya kencang benget." Ucap bunda Sisi menatap cucu pertamanya yang berada didalam gendongannya.


" Tapi beda benget ya Bun, sama Beby Faeyza yang terlihat lebih anteng. Kalaupun nangis, tidak sekencang kedua kakaknya ini." Ucap Fazar yang kembali melirik putra bungsu nya yang berada di gendongan ibu mertua nya.


" Semua bayi sama Zar, hanya saja mereka memiliki kenyamanan masing-masing. Sepertinya contohnya beby Faeyza, Yang lebih terlihat anteng daripada Beby Fazran dan Beby Fauzan. Tapi kalau Beby Faeyza sudah lapar, pasti Beby Faeyza akan nangis." Sambung Widya. Widya tersenyum, karena dia teringat dengan kedua putra kembarnya yang memiliki sifat yang sangat berbeda, padahal kedua putranya tumbuh dalam rahim yang sama.


Kini mobil yang dinaiki oleh Fazar bersama dengan keluarga kecilnya, terlihat memasuki kawasan rumah utama. Rumah utama juga sudah disulap secantik mungkin, untuk menyambut kedatangan Wiyah dan juga ketiga bayi nya. Apalagi besok adalah akikah untuk ketiga bayi itu.


" Sini biar Beby Fazran, Abi yang gendong." Ucap Fazar, sambil mengambil alih Beby Fazran. Sedangkan Beby Fauzan dan Beby Faeyza sudah turun bersama dengan bunda Sisi, dan juga ibu Widya.


Wiyah hanya menurut memberikan bayi nya kepada suaminya itu, yang langsung di gendong oleh Fazar." Masya Allah, anak Abbi anteng benget ya, sayang." Ucap Fazar sambil mencium hidung mancung tapi masih terlihat kecil itu dengan gemas, Sungguh Fazar ingin mengigitnya." Pelan-pelan sayang." Fazar membantu menurunkan istrinya mengunakan tangan yang satunya, sedangkan yang sebelahnya mengendong Beby Fazran.


" Aku bisa sendiri, Abbi."


" Kamu masih lemah sayang, biar Abbi bantu." Fazar membantu istrinya itu turun, lalu membantunya agar duduk di kursi roda yang sudah di siapkan oleh Zain.


" Terimakasih Abbi." Ucap Wiyah tersenyum.


" Sama-sama sayang." Balas Fazar mencium kening istrinya itu dengan lembut. Fazar kembali memberikan Beby Fazran ke gendongan Wiyah, saat melihat bayi kecil itu akan menangis lagi." Nangis lagi ya Beby Faz, kamu ngga mau ya pisah sama ummi." Ucap Fazar sambil terkekeh melihat Beby Fazran yang kembali tenang saat berada di gendongan ummi nya, sepertinya Beby Fazran tau seperti apa rasanya berbagai. Jadi selama kedua saudaranya masih anteng didalam gendongan kedua Oma mereka, maka Beby Fazran dengan puas berada di gendongan sang ummi.

__ADS_1


" Mungkin Beby Fazran masih ingin berlama-lama didalam gendongan Ummi nya, Abbi."


Kini keluarga bahagia itu melangkahkan kakinya masuk dalam rumah utama. Fazar yang mendorong kursi roda istrinya, sambil mengajaknya bercerita.


Pintu terbuka dengan lebar saat Zain memencet bel pintu, dan dari dalam mereka bisa melihat keluarga besar itu sudah berkumpul.


" Selamat datang Wiyah, dan Beby Triple, di rumah." Sambut orang-orang didalam dengan wajah yang penuh kebahagiaan.


Wiyah menatap suaminya, dia memberikan pertanyaan lewat matanya. Apakah suaminya yang mempersiapkan ini semua.


" Abbi tidak mempersiapkan ini semua, sayang. Tapi mereka yang menyiapkan sepesial, untuk menyambut kedatangan sayang di rumah kembali." Jawab Fazar, membuat mata Wiyah langsung berkaca-kaca, karena bahagia." Sayang nangis." Tanya Fazar berjongkok di samping istrinya.


" Ngga abbi, aku hanya terharu saja." Jawab Wiyah sambil mengusap air matanya.


" Jangan pernah menangis sayang, selain menangis kerena kebahagian."


🌼🌼🌼🌼🌼🌼


" Bukannya kamu ada di Belanda Zri, terus kenapa kamu bisa ada disini." Tanya ketiganya secara bersama.


" Kemarin aku pulang bun, kak, Abang. Soalnya aku mau bertemu dengan anak-anak keponakan ku. Masalah kuliah, aku akan mengerjakan nya lewat online, dan dua minggu lagi aku akan pulang ke Belanda." Jawab Fazri sambil mencolek pipi Beby Fauzan dan Beby Faeyza.


" Astaghfirullah Zri, kenapa kamu ngga bilang kalau kamu akan pulang ke Indonesia. Seharusnya tuh kamu ngomong dulu, biar bunda kasih tau Abang kamu, buat ngirim orang untuk menjagamu." Sepertinya bunda Sisi akan mengomel sekarang. Sedangkan Fazri hanya menundukkan kepalanya. Walaupun Fazri sudah dewasa, tapi bunda Sisi selalu menganggapnya anak laki-laki yang masih berusia sepuluh tahun. Takut kehilangan seperti beberapa tahun yang lalu membuat bunda Sisi selalu khawatir.


" Bunda tenang saja, Fazri aman. Soalnya Abidzar yang menjemputnya kemarin, dan kami pulang bareng." Sambung Abidzar yang tiba-tiba saja datang sambil membawa beberapa minuman di atas nampan. Abidzar tidak sendiri disana, tapi ada beberapa pelayan dan juga Harum. Walaupun hanya membawa dua gelas, tapi Harum sepertinya tidak mau kalah dalam penyambutan Wiyah dan juga Beby Triple." Kemarin aku kira, papi sudah kasih tau bunda, kalau kami akan kembali ke Indonesia. Tapi papi sepertinya lupa untuk memberitahukan bunda soal kedatangan kami." Ucap Abidzar melirik tuan Aslan yang duduk di sofa.


" Lah, kenapa papi." Tuan Aslan, dibikin kebingungan mendengar tuduhan putra semata wayangnya itu.


" Biar seru Pi, masa kami aja yg di marahin." Sambung Fazri yang kini tertawa bersama dengan Abidzar. Sepertinya mereka berdua telah berhasil mengerjai orang tua mereka masing-masing.


🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


" Kenapa bayi Melah, bunda." Tanya Fanesya menatap bayi didalam gendongan Windi.


" Karena bayi masih kecil, nesya." Sambung Anita yang kini sedang mengendong Beby Faeyza, sedangkan Beby Fauzan berada di kamar kedua orangtuanya. Karena tadi Beby Fauzan menangis.


" Bunda, apakah Beby nya belum bisa makan."


" Atau berjalan gitu."


" Belum Rafa, Rafi. Karena mereka masih terlalu kecil untuk melakukan itu." Jawab Widya.


" Kata kak Wiyah, kalau masih kecil. Mereka hanya minum susu saja, yah kan kak."


" Harum benar sekali, Rum. Gadis pintar."


" Rafa, jadi ngga sabar Bun. Bakalan sebesar apa mereka. Apakah nanti sebesar kami."


Windi hanya menggelengkan kepalanya karena merasa lucu dengan ucapan putranya itu. Sungguh anak-anaknya masih terlihat polos.


Sedangkan parah pria sedang mengobrol di taman belakang. Sepertinya obrolan mereka sangatlah serius.


" Aku tidak menyangka, kalau ternyata Nadila dan juga tuan Aron, sepasang anak dan ayah tiri. Tapi keduanya menghianati ibu dan istrinya hanya untuk kepuasan mereka masing-masing." Ucap tuan Aslan, membuat Fadil, Abidzar dan Fazri terkejut mendengar penjelasan tuan Aslan. Sedangkan Jidan dan Haidar hanya menyimak perbincangan tuan Aslan, karena mereka sendiri tidak tau apa-apa. Walaupun mereka pernah mendengar kasus yang didapat Fadil.


" Benarkah paman, artinya Aldrich itu adalah anak mereka."


" Bukan. Aldrich adalah anak tuan Aron dengan selingkuhannya yang lain. Karena tuan Aron sudah selingkuh sebelumnya, sebelum dia menikah dengan mamanya Nadila. Tapi saat tuan Aron mengetahui kalau mamanya Nadila, tidak bisa memiliki anak, tuan Aron mengambil anaknya itu untuk di jadikan anak angkatnya, tapi sebenarnya Aldrich adalah anak kandungnya sendiri."


" Tapi paman bagaimana bisa tuan Aron dan Nadila berselingkuh."


" Sebenarnya itu bukan kesalahan Nadila, melainkan kesalahan Aron, yang mel***hkan anak tirinya sendiri. Nadila pergi sekolah ditempat jauh untuk menghindari ayah tirinya itu, tapi tanpa sepengetahuan istrinya Aron pergi ke luar untuk bertemu dengan, Nadila. Dan Aron sering melec***nnya. Sampai mereka menjadi pasangan yang sering berhubungan gelap. Mungkin karena traumanya, Nadila menjadi wanita yang suka menjual anak-anak di bawah umur, bahkan usaha gelapnya itu semua berkat bantuan dari tuan Aron."


Ya, Fazar dan tuan Aslan sudah mencari tau cerita Nadila yang sampai berubah menjadi wanita jahat yang tidak memiliki hati. Ternyata wanita itu memiliki dendam, sampai-sampai dia melakukan cara apapun untuk merusak kebahagiaan orang lain.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2