
Kesabaranku membawa cinta
Di sisi lain.
Tepatnya gedung pencakar langit, Di sebuah ruangan yang bertuliskan CEO. Terdapat seorang pria yang sedang menatap hamparan kota, dari atas gedung itu yang terlihat sangat menakjubkan, jika dilihat dari gendung setinggi itu.
" Dil, sampai kapan Lo diam kayak gitu." Tanya Rido menatap sahabatnya itu, yang lebih banyak diam beberapa hari ini, dan sering menghabiskan waktunya untuk berkerja dan bekerja daripada berbicara seperti biasanya, bahkan sahabatnya itu tidak pernah mengajaknya berdebat seperti biasanya." Sumpah, Lo banyak berubah Dil. Menjadi pria yang dingin sekarang, daripada yang dulu." Ucap Rido kembali, yang bisa melihat perubahan Fadil sekarang.
Sedangkan Fadil yang masih di posisi yang sama, yaitu berdiri, sambil menatap kearah luar. Tidak menanggapi ucapan sahabatnya itu. Dia hanya fokus memikirkan sesuatu yang selama beberapa hari ini selalu membuatnya gelisah.
" Dimana kamu Fin. Kenapa aku begitu sangat sulit menemukan keberadaan mu. Apakah keluargamu sengaja menyembunyikan semua informasi tentang keberadaan mu sekarang." Batin Fadil yang begitu sangat frustasi, karena dua minggu dia mencari keberadaan istrinya, tapi dia tidak menemukan titik terang sama sekali, dimana keberadaan istrinya sekarang.
Istrinya seperti sengaja disembunyikan, sampai-sampai orang suruhan Fiki tidak bisa menemukannya, dan Fadil yakin kalau yang menyembunyikan istrinya pasti bukan orang sembarangan.
" Dimana kamu Fina." Gumam Fadil mengacak rambutnya dengan acak-acakan, mengunakan kedua tangannya.
" Dil, sumpah lo berubah benget. Sepertinya Fina telah berhasil membuat Lo pusing sampai segitunya." Gumam Rido menatap sahabatnya itu. Entah kenapa sebuah senyuman tersungging di bibirnya." Jika kalian jodoh, maka Allah akan tetap mempertemukan dengan cara apapun itu."
.
.
Fadil membaca dengan teliti berkas yang Rido berikan untuknya. Lalu mendatanginya, sedangkan Rido menatap Fadil dengan kesal, karena dari tadi Fadil mengabaikannya, bahkan sahabatnya itu seperti tidak perduli dengan kehadirannya di ruangan itu. Malahan Fadil lebih perduli dengan berkas-berkas di atas meja kerjanya.
" Dil." Panggil Rido, tapi Fadil menjawab panggilannya dengan cara bergumam, yang membuat Rido semakin kesal sendiri mendengar jawaban Fadil." Dil, Lo punya telinga ngga sih, dari tadi gue panggil jawaban, hanya. Hhmm, hemm, saja. Kayak ngga ada jawaban lain. Emangnya lo burung, makanya jawabannya gitu." Ucap Rido yang sudah mulai muak dengan sikap Fadil.
Fadil yang mendengar perkataan Rido, melepaskan perkejaannya yang tadi sedang membaca laporan keuangan bulan ini, yang Haidar berikan. Lalu menatap kearah Rido dengan tatapan datar." Kalau Lo mau ngomong silakan, jika hal itu adalah hal penting. Tapi jika tidak terlalu penting, maka jangan ganggu gue, dan keluarlah dari ruangan ini." Ucap Fadil dengan datar, tapi penuh dengan penekanan dalam setiap ucapannya.
Rido yang mendengar ucapan sahabatnya itu. Membuat bulu kuduknya berdiri. Entah kenapa, Rido merasa takut dengan wajah tampan, yang tidak menunjukkan ekspresi sama sekali. Tapi Rido bisa melihat kalau Fadil sedang kesal, hanya saja ekspresinya datar sekali.
" Kenapa kayak horor kayak gini." Batin Rido, yang merasakan ruangan Fadil seperti mencekam, seperti di film horor.
Rido menetralkan ketakutannya dengan cara berdehem, membuat dirinya seolah-olah tidak takut.." Dil, kita mendapatkan undangan dari klien kita. Kalau malam ini anaknya akan bertunangan."
" Lalu."
" Klien kita mengundang kita untuk menghadiri acara pertunangan anaknya, sebagai tanda terimakasihnya, karena kita sudah mau berkerja sama dengan perusahaan nya."
." Emangnya jam berapa acara pertunangannya, apakah jauh dari sini.."
" Tidak terlalu jauh Dil, soalnya pertunangannya akan diadakan di hotel P, dan acara akan berlangsung selesai Isah." Jelas Rido.
" Ternyata tidak terlalu jauh, dari perusahaan kita. Baiklah kita akan pergi selesai Isah. Dan Lo bantu gue untuk memilih pekaian untuk gue kenakan malam ini."
" Kalau masalah itu gampang, nanti gue pilihkan." Jawab Rido antusias." Lo tenang saja, malam ini Lo akan terlihat tampan daripada pria yang akan bertunangan."
" Lo terlalu lebay."
" Gue nggak lebay Dil, tapi gue mengatakan yang sebenarnya." Jawab Rido menyakinkan sahabatnya itu.
" Terserah lo saja, yang penting Lo ngga membuat gue malu saja." Ucap Fadil, setelah itu dia melanjutkan pekerjaannya.
" Lo tenang saja Dil, karena gue akan membuat Lo mendapatkan wanita yang baik, seperti keinginan Lo malam ini."
.
.
Waktu terus berputar, Tidak terasa siang yang tadi panas, Kini berganti menjadi malam yang dingin.
__ADS_1
Seorang pria sedang menata penampilan sesempurna mungkin, Karena malam ini dia akan pergi keluar bersama dengan Rido, pergi keacara pertunangan anak kliennya.
Fadil menatap dirinya dari pantulan cermin. Dia sudah rapi dengan balutan jas berwarna Mint Green.
Dia menatap dirinya di cermin tanpa ekspresi sama sekali, yang membuat wajahnya tetap terlihat tampan walaupun mengunakan wajah datarnya, wajah itu tidak akan berubah sama sekali.
Ya, Fadil tidak akan berubah, walaupun eksepsinya tersenyum, sedih maupun datar, dia akan tetap terlihat tampan, dan setiap perubahan ekspresi wajahnya, akan tetap menjadi kekaguman setiap wanita.
Dirasa menampilkannya sudah cukup. Fadil melangkah keluar dari kamarnya untuk turun kentai bawah, mengunakan tangga, karena dia lagi malas untuk mengunakan life.
" Malam Bun, Zri." Sapa Fadil saat melihat keberadaan bunda Sisi di ruangan keluarga bersama dengan Fazri.
" Kamu mau kemana Dil, kenapa rapi." Tanya bunda Sisi heran melihat penampilan putranya yang terlihat rapi malam ini.
" Mau pergi keacara pertunangan klien Bun."
" Kamu perginya sendiri."
" Ada Rido didepan Bun."
" Baiklah, hati-hati dijalan. Ingat jangan pulang larut malam."
" Iya Bun." Setelah Fadil berpamitan Fadil melangkah meninggalkan ruangan keluarga, melangkah kearah luar.
" Bun, apakah kak Fadil ngga tau soal pertunangan kak Fina." Tanya Fazri menatap bunda Sisi. Karena Fazri merasa heran dengan Fadil yang terlihat biasa-biasa saja, padahal malam ini adalah malam pertunangan Fina.
" Bunda sengaja tidak memberitahukannya."
" Kenapa bunda tidak memberitahukannya. Apa karena bunda tidak suka dengan kak Fina."
" Tapi kak Fadil akan kecewa ke bunda, saat kak Fadil tau kalau bunda sendiri lah yang memisahkan mereka, karena bunda mengetahui soal pertunangan kak Fina."
" Itu tidak akan terjadi Zri." Ucap bunda Sisi sambil tersenyum mengusap kepala Fazri." Mungkin kak Fadil hanya marah sedikit, setelah itu dia akan bagikan kembali."
" Baiklah, karena kak Fadil sudah pergi. Bagaimana kalau kita pergi keacara pertunangan Fina."
" Tidak bun, Fazri tidak ingin ikut."
" Kenapa tidak mau ikut."
" Aku tidak mau kak Fadil sampai marah ke aku Bun, karena tidak memberitahukannya soal pertunangan kak Fina."
" Kak Fadil tidak akan marah, percaya sama bunda." Ucap bunda Sisi meyakinkan putranya itu." Tapi kalau Fazri ngga ikut, ya bunda ngga maksa. Tapi kalau sampai disana ada orang yang suka sama bunda bagaimana."
Fazri terlihat tidak suka saat bunda Sisi mengatakan itu." Baiklah Fazri memilih ikut aja Bun, daripada bunda nanti pulang bawah calon ayah tiri untuk Fazri." Ucap Fazri yang memilih ikut, daripada melihat bundanya di sukai oleh orang lain. Karena Fazri tidak suka kalau sampai ada orang lain yang menyukai sang bunda selain almarhum ayahnya.
Sedangkan bunda Sisi hanya terkekeh kecil melihat putranya itu yang memilih pasrah untuk ikut, karena Fazri takut kalau bunda Sisi akan di sukai oleh pria lain.
Walaupun usia bunda Sisi sudah kepala lima tapi bunda Sisi masih terlihat muda, bahkan orang-orang banyak yang menganggapnya berusia tiga puluh tahun keatas daripada lima puluh, makanya banyak orang yang ingin mempersunting bunda Sisi, saat meninggalnya sang suami
Kalau bunda Sisi bisa bilang sih, karena kejadian itu, ketiga putranya begitu sangat posesif padanya.
Tapi yang harus orang-orang tau, walaupun banyak orang yang menyukainya. Tapi bunda Sisi tidak akan berpaling kehati lain dan akan tetap menyimpan hatinya untuk suaminya. Bagaimanapun mereka banyak melewatkan waktu bersama, dari susah sampai senang. Bahkan bunda Sisi masih mengingat, bagaimana suaminya itu memilih untuk meninggalkan keluarganya yang kaya raya, hanya untuk bisa menikah dengannya yang hanya orang biasa.
" Lihatlah mas, putramu lebih positif lagi daripada kamu." Ucap bunda Sisi sambil terkekeh kecil.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Di rumah Fazar.
Kini suami istri sudah sedang bersiap-siap untuk pergi ke ke pertunangan Fina, sahabatnya. Sebenarnya Wiyah merasa tidak enak dengan Fadil, dan ingin memberitahukannya. Hanya saja suaminya itu melarangnya, karena takut ada keributan nanti disana.
Sungguh Wiyah bingung dengan suaminya itu, yang lebih memilih menyembunyikan pertunangan Fina, daripada memberitahukan adiknya.
" Sudah siap sayang." Tanya Fazar, menatap istrinya itu yang kini sudah rapi dan terlihat semakin cantik mengunakan gaun berwarna pink lemonade, gaun yang tadi bunda Sisi kirimkan tadi.
Lihatlah perut buncit itu yang sudah terlihat. Membuat Fazar semakin gemas sendiri.
Sedangkan Fazar, mengunakan Jas yang memiliki warna sama seperti Jas yang dikenakan oleh istrinya itu.
Jujur, sebenarnya ia tidak suka mengunakan kemeja dengan warna seperti ini. Hanya saja istrinya yang memilihkan kemeja untuknya dengan warna yang sama seperti gaun yang dikenakan oleh istrinya itu. Sedangkan ia hanya bisa pasrah mengikuti kemauan istrinya itu.
" Masya Allah, bidadariku cantik benget." Ucap Fazar mendekati istrinya lalu mencium kening dengan mesra." Kakak jadi ngga ikhlas kalau kecantikan istrinya kakak dilihat orang lain selain kakak sendiri."
" Oh jadi aku ngga boleh jalan gitu." Tanya Wiyah yang kembali memasang wajah cemberutnya.
" Bukan begitu sayang, hanya saja kakak ngga suka kalau wajah cantik ini dilihat oleh orang lain." Jelas Fazar, yang tau seperti apa istrinya itu yang begitu sangat sensitif sekarang." Pengennya didalam kamar aja, ngga usah keluar" Ucap Fazar sambil tersenyum menggoda, lalu menarik pinggang istrinya itu, membuat tubuh keduanya lebih dekat lagi.
Pandangan mereka saling bertemu satu sama lainnya, sampai pandangan Fazar tertuju pada permen yupi kesukaannya, yang membuat Fazar ingin meraih permen yupi itu. Tapi....
" Kak Wiyah." Panggil orang yang berada di luar kamar mereka, sambil mengetuk pintu.
Wiyah tersenyum senang, karena Harum telah menyelematkan nya dari aksi mesum suaminya itu.
" Sepertinya Harum sudah mencari kita, kak, lebih baik kita cepat keluar sekarang." Ucap Wiyah sambil menjauhi tubuh suaminya itu.
" Tapi sayang......" Belum juga Fazar melanjutkan ucapannya, istrinya itu sudah melangkah kearah pintu, lalu membukanya." Cek, gagal lagi." Gumam Fazar sambil mengerutu.
.
.
Wiyah menatap gadis kecil itu sambil tersenyum, karena Harum juga sudah cantik dan rapi mengunakan gaun, dengan warna yang sama seperti gaun yang dikenakan oleh Wiyah.
" Masya Allah, Harum cantik benget." Ucap Wiyah sambil tersenyum manis menatap gadis kecil itu.
" Kak Wiyah juga cantik." Ucap Harum, tersenyum malu-malu." Kak Wiyah, apakah kita jadi keacara pertunangan kak Fina."
" Tentu jadi Rum, lihatlah sekarang kita semua sudah rapi mengunakan pekaian dengan warna yang sama."
" Dan kita terlihat seperti keluarga bahagia sekarang." Sambung Fazar yang sudah berdiri di samping Wiyah." Apalagi disini ada dua bidadari." Ucap Fazar sambil tersenyum, mengusap lembut kepala Harum.
Sedangkan gadis kecil itu, merasa terharu, karena keluarga Wiyah begitu sangat menyayanginya, bahkan menganggapnya seperti keluarga sendiri.
Seperti yang Wiyah dan Fazar lakukan sekarang. Mereka menganggap harum seperti anaknya sendiri.
" Ayo sayang, Rum. kita pergi, takut telat nanti." Ucap Fazar menggenggam tangan istrinya, sedangkan Wiyah menggenggam tangan Harum.
Sedangkan sekertaris Zain yang melihat pemandangan yang membuat dia ikut tersenyum saat melihat tuanya menggandeng tangan istrinya dengan mesra, sedang Wiyah menggenggam tangan Harum. terlihat kalau tuanya itu menyayangi istrinya, dan juga anak yang akan di angkat sebagai anak mereka.
" Sungguh tuan, keluarga anda terlihat seperti keluarga yang bahagia." Batin sekertaris Zain.
__ADS_1
...----------------...