
Kesabaranku membawa cinta
Fadil tampak mengerutkan keningnya, saat mendengar ucapan abangnya itu." Apa maksudnya bang." Tanya Fadil yang belum mengerti.
Fazar tersenyum, saat melihat wajah kebingungan adiknya itu." Jika kamu mencintainya, maka katakanlah. Takutnya ada orang lain yang duluan merebutnya nya darimu. Abang tau kalau kamu pasti menyukai sahabat dari istriku bukan." Untung saja Fina dan Wiyah tidak mendengar ucapan Fazar, karena mereka sedang asyik mengobrol. Sampai mereka melupakan orang didepannya, Fazar juga sedikit memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh istrinya yang berada dibelakangnya. Jadi apa yang dikatakan oleh Fazar tidak terdengar sampai di telinga Fina maupun Wiyah.
" Abang tau." Tanya Fadil terkejut, karena tidak percaya kalau abangnya itu mengetahui kalau ia menyukai gadis yang sekarang berada dibelakang mereka.
" Tentu Abang tau, makanya Abang bertanya, karena Abang mendukung mu."
Walaupun terkejut, Tapi Fadil tetap senang dengan jawaban Fazar, karena abangnya itu ternyata mendukung perasaannya terhadap Fina.
" Makanya cepat-cepat lamar dia, agar kamu bisa secepatnya menikah."
" Nanti bang, setelah semuanya selesai dan aku mendapatkan waktu yang tepat, maka aku akan melamarnya bang, tapi tidak dengan sekarang."
" Abang akan selalu mendukung keputusan mu Dil, asal jangan terlalu lama untuk mencari waktu yang tepat, dan kamu juga tidak boleh memberikan kepastian untuk anak orang."
" Iya bang aku mengerti, dan Fadil akan selalu ingat pesan Abang."
🌿🌿🌿🌿🌿
Sesampainya di rumah sakit, Fazar, Wiyah, Fadil dan Fina melangkah kearah ruangan Harum.
" Jalannya pelan-pelan sayang, ingat ada dede di perutmu." Ucap Fazar mengingatkan istrinya itu, karena Wiyah jalan terlalu cepat.
Sedangkan Wiyah yang mendengar teguran suaminya itu, memelankan sedikit langkahnya, tapi ia tetap melangkah menyusuri setiap lorong rumah sakit.
Fazar yang melihat tingkah istrinya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya." Segitu sayangnya kamu sama gadis kecil itu, sampai jalan pun kamu tidak sabaran sayang." Batin Fazar.
Sedangkan di luar ruangan Harum.
Fazri dan Abidzar masih tetap di ruangan itu. Sesekali mereka melakukan kegiatan mereka. Seperti Abidzar, yang mengerjakan pekerjaannya. Kerena kebetulan sekertarisnya mengirimkannya beberapa fail yang harus dia baca dan dia kerjakan.
" Lama banget sih kak Fadil." Abidzar yang sedang fokus dengan laptop di pangkuannya, menoleh kearah Fazri, saat mendengar gumaman sepupunya itu.
" Sabar, mungkin masih dijalan."
" Tapi lama banget kak, ini sudah hampir dua jam, tapi kak Fadil tidak ada tanda-tanda untuk datang. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan kak Fadil." Ucap Fazri yang mulai khawatir, membayangkan kalau sampai terjadi sesuatu dengan Fadil sekarang.
" Hus, jangan ngomong sembarangan. Fadil pasti baik-baik saja, mungkin sekarang dia lagi ada di jalan." Ucap Abidzar, yang kini kembali fokus dengan perkejaan nya itu. Karena Abidzar heran dengan pikiran buruk adik sepupunya itu.
Saat Fazri sedang bosan menunggu, karena Abidzar sedang fokus pada pekerjaannya. Pandangan Fazri tidak sengaja tertuju pada keluarganya, yang baru saja datang.
" Kak Wiyah, bang Fazar." Gumamnya saat melihat kedatangan Fazar dan Wiyah. Fazri juga langsung berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan keluarganya itu," Ternyata ada kak Fadil juga. Lalu siapa perempuan disebelahnya." Gumam Fazri kembali, saat melihat kehadiran Fadil disana, bersama dengan Fazar dan Wiyah yang baru saja datang, sedangkan Fadil dan Fina berada di bagian belakang Wiyah dan Fazar." Oh, kak Fina. Aku kira siapa. Tapi kenapa kak Fadil terlihat begitu dekat dengan kak Fina." Gumam Fazri saat melihat dengan jelas, kalau ternyata perempuan itu adalah Fina. Tapi Fazri sedikit bingung saat melihat Fina dan Fadil terlihat dekat.
" Zri, Abidzar, bagaimana dengan kondisi Harum." Wiyah langsung melontarkan pertanyaan, saat ia sudah berada didepan Fazri dan Abidzar.
Sedangkan Abidzar yang sedang fokus dengan kerjaannya, langsung melepaskan kegiatannya itu, saat mendengar suara Wiyah. Abidzar mengangkat kepalanya, dan dia bisa melihat, kalau ada Fazar, dan Wiyah disana.
" Fazar, Wiyah." Abidzar menutup laptopnya, lalu berdiri dari duduknya.
__ADS_1
" Kenapa kak Wiyah berada disini, aku kira cuman Abang Fazar tadi."
" Kakak kesini mau melihat keadaan Harum Zri, kamu tentu tau kalau kakak begitu sangat dekat dengan gadis kecil yang kamu juga mengenalnya."
Ya, Wiyah sudah mengetahui kalau Fazri mengenal Harum, bahkan Fazri dan Harum berteman baik. Sebenarnya Wiyah terkejut dan tidak percaya kalau Fazri pergi ke kota B untuk menyelamatkan gadis kecil itu. Tapi setelah mendengar cerita dari Fazar kalau ternyata Fazri juga mengenal Harum, bahkan bersahabat dengan baik, dari situ Wiyah tau kalau ternyata Fazri begitu sangat dekat dengan gadis kecil itu.
Pantas dulu Harum sering bercerita kalau dia memiliki teman laki-laki yang begitu sangat baik kepada gadis kecil itu, ternyata anak laki-laki itu adalah Fazri.
" Kakak sudah tau kalau Naila dirawat disini."
" Iya, kakak sudah tau Zri. Karena kak Fazar sudah menceritakan semuanya."
" Maaf kak, aku tidak memberitahukan kakak masalah Harum saat itu."
" Sebenarnya kakak merasa kecewa kepada kalian semua yang berada disini, karena menyembunyikan hal ini terhadap kakak, tapi kakak sadar kalau kalian menyembunyikan hal ini semua, mengingat kondisi kakak yang sedang tidak baik." Jelas Wiyah sambil menatap keluarganya itu." Tapi, kakak tidak suka adanya kebohongan, kalau sudah menyangkut keluarga kakak termasuk sahabat kakak sendiri." Wiyah menatap sahabatnya dan juga Fadil secara bergantian, walaupun Fazar sudah menceritakan semuanya. Tapi ia masih menunggu penjelasan dari sahabatnya itu.
Fazri dan Abidzar merasa sedih saat mendengar kalau ternyata Wiyah kecewa kepada mereka atau apa yang mereka sembunyikan. Termasuk Fina dan Fadil yang bisa merasakan kekecewaan dari mata Wiyah.
" Zri, kamu belum jawab pertanyaan kakak, bagaimana kondisi Harum sekarang."
" Harum masih koma kak, kata dokter tidak ada perkembangan dari Harum, kalau Harum akan bangun dari tidurnya." Jelas Fazri, merasa sedih mengingat perkataan dokter tentang kondisi Harum." Kata dokter. Jika satu bulan lagi Harum tidak sadar dari koma nya, maka dokter terpaksa mencabut semua alat yang membantu kehidupannya, dan memberikan Harum untuk pergi kak."
" Astaghfirullah Harum." Wiyah merasa sesak di dadanya saat mendengar penjelasan Fazri barusan, tapi Wiyah berusaha mengontrol rasa sedihnya, mengingat dia sedang mengandung.
Wiyah tidak menyangka kalau gadis kecil itu akan mengalami hal seperti ini." Kenapa, ada orang yang begitu sangat tega menyakitimu Rum." Batin Wiyah merasa sedih, jika ia membayangkan seberapa jahatnya orang itu menyiksa gadis kecil itu.
" Apakah aku bisa masuk kedalam ruangan Harum untuk melihatnya kak." Tanya Wiyah menoleh kearah Fazar.
" Tapi, Aku ingin menemui Harum sekarang."
" Baiklah, ayo kita bertemu dengan dokter dulu, untuk meminta ijin." Wiyah hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya itu.
Wiyah mengajak Fina, untuk ikut menemui Harum. Sedangkan Fadil, Fazri dan Abidzar tidak ikut, karena ketiganya akan tetap disitu, membiarkan Wiyah bertemu dengan Harum.
" Semoga dengan kehadiran Wiyah dan Fina bisa membuat Harum sadar dari tidurnya." Gumam Fadil menatap punggung ketiganya yang sudah pergi menjauh.
" Kak, kami minta penjelasan soal tadi." Ucap Fazri menatap Fadil dengan tatapan dinginnya.
" Penjelasan apa." Tanya Fadil tidak mengerti, dengan maksud Fazri yang ingin meminta penjelasan kepada dirinya. Apalagi Fadil merasa seram melihat tatapan dingin itu.
" Memang Dil, kamu terlalu pelupa. Apa karena umurmu sudah tua makanya kamu lupakan sesuatu." Ucap Abidzar yang merasa jengkel dengan tingkah Fadil.
" Enek benar lo bilang gue sudah tua, gue masih muda ya, Gue memang lupa, Makanya gue nanya. Emangnya kalian minta penjelasan apa sih."
" Kenapa kak Wiyah bisa berada disini, dan kenapa dia bisa tau semuanya."
" Apa Wiyah juga sudah mengetahui soal kasus lo." Sambung Abidzar. Walaupun tadi Wiyah tidak mengatakan kasus Fadil, tapi Abidzar bisa melihat, dari cara Wiyah menatap kearah Fadil dan gadis itu secara bergantian membuat Abidzar yakin kalau Wiyah sudah mengetahui kasus Fadil.
Fadil mulai mengerti, apa yang Fazri dan Abidzar itu maksud. Lalu ia menceritakan, dimana tadi Fazar menelfonnya, dan memberitahukannya, kalau mereka ada di kota B untuk menjenguk Harum, bahkan Wiyah dan Fina juga ikut, karena mereka sudah mengetahui sebenarnya.
" Kak Fazar sudah menceritakan semuanya kepada istrinya. Tapi kalau kasusku, aku tidak tau Wiyah sudah tau atau tidak, itu aku tidak tau."
__ADS_1
Fadil tentu tau apa arti dari tatapan Wiyah tadi, yang mengisyaratkan kalau dia sudah mengetahui kasusnya. Tapi Fadil tidak tau apa benar atau tidak, tapi firasatnya mengatakan kalau Wiyah sudah mengetahui sebenernya.
" Nanti kita minta penjelasan dari Fazar."
" Benar kak Abidzar, lebih baik kita tanyakan langsung ke Abang. Kenapa kak Wiyah bisa mengetahui kasus ini, dan apakah kak Wiyah juga sudah mengetahui kasus kak Fadil."
" Kamu benar Zri, sebaiknya kita tanyakan hal itu." Ucap keduanya membenarkan ucapan dari Fazri barusan.
Lama terdiam, kini kedua pria itu kembali menatap kearah Fadil.
" Apakah karena gadis tadi Dil, kamu sampai terburu-buru pergi."
" Apa maksudmu Abidzar." Tanya Fadil tidak mengerti.
" Tidak usah berbohong kak, kami sudah tau kalau kak Fadil terburu-buru tadi karena ingin menemui kak Fina bukan." Jawab Fazri." Kami tau kalau kak Fadil sedang mencoba untuk mendekati kak Fina." Fazri tersenyum, sambil menaikkan satu alisnya, karena Fazri sedang menggoda kakaknya itu.
" Pantas terburu-buru banget, ternyata ada yang ingin di temui toh." Sambung Abidzar yang ikut menggoda Fadil.
" Khmmz, cie yang sebentar lagi ngga jomblo."
" Apa sih, kalian berdua ngga jelas benget. Lebih baik aku ikut nyusul mereka." Fadil cepat-cepat melangkah meninggalkan keduanya, karena merasa malu saat mendengar godaan Fazri dan Abidzar.
" Cie yang Meu ketemu calon istri." Fadil mengehentikan langkahnya sebentar, lalu berbalik untuk menatap Fazri dengan tatapan tajam. Setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya. Sedangkan Abidzar dan Fazri hanya terkekeh melihat tatapan Fadil barusan.
🌿🌿🌿🌿🌿
Fazar, Wiyah dan Fina melangkah masuk kedalam ruangan Harum.
Wiyah bisa mendengar suara alat yang terpasang di tubuh gadis kecil itu, Bahkan alat pendeteksi jantung terus berbunyi memecahkan keheningan dalam ruangan itu.
Rasa sedih saat melihat gadis kecil itu terbaring dengan alat-alat yang menempel di tubuhnya.
Gadis kecil yang selama berbulan-bulan menghilang tanpa ada kabar, kini berada di depannya. Dengan tubuh yang jauh berbeda dengan beberapa bulan yang lalu. Tubuh itu jauh lebih kecil daripada pertemuannya waktu itu.
" Tenang sayang, kontrol kesedihan mu, jangan sampai mempengaruhi anak-anak kita." Ucap Fazar yang berdiri disebelah Wiyah. Fazar mencoba untuk membuat istrinya itu tetap mengontrol kesedihannya agar tidak berlebihan.
Sedangkan Wiyah hanya mengangguk mengiyakan, lalu ia duduk disebelah Harum. Wiyah menggenggam tangan kecil itu, tangan kecil yang begitu sangat ia rindukan.
Wiyah tau kalau Harum bukalah siapa-siapa untuknya, tapi gadis kecil itu sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, setelah kepergian keempat adiknya. Karena rasa rindunya saat itu, sedikit terobati saat bertemu dengan Harum.
" Harum, kak Wiyah dan kak Fina datang untuk bertemu dengan mu. Apakah Harum ngga rindu sama kakak, bukannya Harum sudah pergi begitu sangat lama, bahkan Harum ngga kasih tau ke kak Wiyah, kalau Harum pergi."
" Rum jangan tidur seperti ini, kak Wiyah mau lihat kamu bangun seperti dulu lagi. Kakak mohon bangunlah, karena kak Wiyah begitu sangat merindukanmu." Air mata yang tadi dia tahan akhirnya tumpah juga, saat ia mengingat perkataan dokter kalau Harum tidak ada harapan untuk bangun lagi." Kak Wiyah berjanji, setelah kamu bangun. Maka tidak akan ada lagi orang jahat yang menyakitimu."
Fazar dan Fina sama-sama bisa merasakan kesedihan yang Wiyah rasakan sekarang. Walaupun Harum bukalah adiknya, tapi Wiyah begitu sangat menyayangi gadis kecil itu. Sangking sayangnya, Wiyah sampai menyekolahkan gadis kecil itu dengan uang hasil kerja nya sendiri.
Fazar mendekati istrinya itu, lalu memeluknya. Fazar mencoba untuk menenangkan istrinya itu yang sedang menangis sekarang.
Tapi yang tidak mereka sadari adalah, kalau jari tangan gadis kecil itu mulai bergerak.
...----------------...
__ADS_1