Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 230


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


" Hey belum halal, jadi jangan saling tatap-tatapan." Tegur Rido menggoda keduanya saat melihat kalau Fina maupun Fadil saling tatap-tatapan.


Sedangkan Fina dan Fadil sama-sama melihat kearah lain, karena mereka merasa malu dengan Rido serta tamu yang lain.


" Baiklah, karena kedua pasangan ini sudah berada di tempat yang sama. Bagaimana kalau kita langsungkan acara pertunangan ini." Ucap Abidzar.


" Kita akan mulai dengan acara pemasangan cincin. Setelah itu akan ada beberapa orang yang akan meramaikan acara pertunangan ini dengan beberapa ke kejutan lainnya." Ucap Rido antusias." Baiklah, mari kita mulai acaranya."


Acara dibuka, dengan keluarga Fadil yang akan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya.


Tapi disini ada yang istimewa, yaitu kedatangan tuan Aslan, yang akan menjadi pengganti ayah dari Fadil untuk menyampaikan maksud kedatangannya.


" Paman Aslan." Ucap Fadil terkejut melihat pamannya itu.


Bukan saja Fadil, tapi Fazri juga sama-sama terkejutnya seperti Fadil." Sungguh malam ini penuh dengan kejutan. Dari acara pertunangan kak Fadil yang secara tiba-tiba dibuat oleh keluarga. Sampai kedatangan paman Aslan yang penuh dengan kejutan. Sungguh keluarga di rumah sengaja membuat kejutan untuk kak Fadil." Batin Fazri.


.


.


Fadil menatap gadis yang selama beberapa hari ini membuat hatinya penuh dengan kekhawatiran, bahkan dia hampir gila karena tidak menemukan keberadaannya.


" Fina Febby Falisha. Nama seorang gadis yang berhasil membuatku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Sehingga membuat aku berani untuk mempersuntingnya sebagai wanita yang akan menemaniku seumur hidupnya."


" Dia bukan saja cantik, tapi memiliki sifat yang membuat orang-orang banyak menyukainya, termasuk aku. Aku tidak menyangka kalau dia mau menerima pinanganku, padahal masih banyak laki-laki yang lebih baik lagi dariku. Tapi dia mau menerima pria yang masih banyak kekurangan ini, sebagai pasangannya." Ucap Fadil menoleh menatap kearah Fina yang sama-sama menatap kearahnya.


" Fina Febby Falisha. Sudah siapakah kamu bersamaku. Untuk menjadi teman seperjuanganku, mengejar Ridhonya. Hingga kita dipisahkan sebagai pemenang dalam lika liku-liku kehidupan dan juga cinta." Tanya Fadil menatap manik hitam itu dengan dalam.


" Untuk yang kedua kalinya kamu bertanya seperti ini kak. Tapi malam ini jauh berbeda, karena kamu mengatakannya didepan keluargaku dan juga keluargamu." Batin Fina yang membalas tatapan mata itu." Bismillahirrahmanirrahim, insya Allah aku siap kak, Menemanimu hingga kita dipisahkan oleh maud, dan akan dikenang sebagai pemenangnya."


Semua orang langsung bertepuk tangan saat mendengar jawaban dari Fina. Terlihat kalau pasangan itu, begitu sangat tulus mengatakan perasaan mereka.


Mendengar jawaban dari Fina, membuat Fadil begitu sangat senang. Sehingga membuat senyuman itu terus mengembang. Fadil menganbil sebuah kotak cincin, yang tadi dibawakan oleh Anita. Lalu membukanya, dan bertapa terkejutnya Fadil saat melihat cincin yang pernah dia lihat di toko emas yang berada di kota B.



Padahal rencananya Fadil akan membelikan cincin itu untuk Fina, tapi saat mereka pertunangan secara resmi. Tapi malam ini, keinginannya telah terkabulkan oleh keluarganya, dengan memberikan acara pertunangan yang sangat luar biasa.


Fadil mengambil cincin itu, lalu memasangnya di tangan Fina. Semua orang yang berada di ruangan itu langsung bertepuk tangan saat melihat momen itu, rasanya mereka ikut bahagia dengan pertunangan Fadil.


" Selamat untuk kedua pasangan yang kini sudah bertunangan. Kita tinggal tunggu undangannya pernikahannya lagi." Ucap Rido kembali membuka suara. Karena dia sedang berusaha untuk menahan rasa harunya." Rasanya saya ingin bertunangan. Tapi ya kalia pasti tau kalau aku tidak ada pasangannya."

__ADS_1


Semua orang langsung tertawa mendengar ucapan Rido barusan, sehingga orang-orang yang berada di acara itu mengatakan Rido sangat cocok menjadi MC, karena dari tadi dia banyak menghibur parah tamu.


Tapi yang Rido tidak tau, kalau kelakuannya dari tadi banyak mendapatkan cibiran. Karena dari tadi seorang remaja seumuran Fazri, menatapnya tidak suka." Dasar pria tua yang tidak tau malu." Gumam Anita yang tidak suka dengan kelakuan Rido. Yang menurutnya terlalu lebay.


Entah ada apa dengan Anita. Tapi setiap dia melihat Rido, rasanya kesal sendiri, apalagi pria itu menyebutnya sebagai gadis bodoh.


.


.


Kita tinggalkan kebahagiaan yang dirasakan oleh Fadil. Kita beralih kegadis kecil yang sekarang sedang menikmati es krimnya, sehingga dia berpisah dengan Fazri.


" Dimana kak Fazri." Gumam Harum menyusuri setiap sudut ruangan dengan tatapannya. Kaki kecil itu terus melangkah mencari keberadaan Fazri, yang entah pergi kemana.


Harum tidak sengaja berpisah dengan Fazri, karena Harum lebih asyik dengan mangkuk es krim dalam tangan ketimbang lingkungan sekitarnya, sehingga membuat dia berpisah dengan Fazri yang tadi sedang diam sambil menyaksikan pertunangan kakaknya.


Saat Harum tidak melihat kearah depannya, dan lebih fokus kearah sampingnya. Tidak sengaja tubuhnya menabrak seseorang.


Tukkk


Mangkuk es krim yang tadi dia pengang langsung jatuh kelantai, karena terlepas dari tangannya.


" Yah jatuh." Mata itu langsung berkaca-kaca saat melihat es krim ditangannya sudah terhambur di lantai.


" Maaf gadis kecil, paman tidak sengaja." Pria itu langsung membungkukkan tubuhnya, untuk sejajar dengan Harum. Saat sejajar dengan tubuh gadis kecil itu, pria itu langsung terkejut saat melihat siapakah gadis kecil yang tidak sengaja bertabrakan dengannya." Kamu lagi gadis kecil." Pria itu langsung tersenyum saat melihat Harum. Karena gadis kecil yang bertabrakan dengannya barusan adalah gadis kecil yang berada di Supermarket yang berada di kota B." Kenapa kamu berada disini, bukannya kamu berada di kota B" Pria itu langsung merasakan kehangatan dalam hatinya saat menatap mata indah itu, mata yang sama. Mata yang selalu mengingatkannya dengan seseorang yang sudah dia lupakan, tapi namanya masih tetap tersusun dalam lubuk hatinya yang terdalam.


Rasanya Harum ingin memeluk papa nya itu, dan memberitahukan kalau dia adalah Putrinya. Tapi Harum tidak akan berani mengatakannya, mengingat kata-kata yang pernah dia dengar langsung dua bulan yang lalu, kalau dia tidak akan menerima anak dari rahim Mayla sang mama.


" Mama, apakah mama bisa melihat. Kalau Harum kembali bertemu dengan papa. Papa yang selalu Harum inginkan dulu." Lirih gadis didalam hati." Mama, apakah Harum bisa memanggilnya dengan panggilan papa." Karena tidak bisa menahan air matanya, membuat Harum langsung menangis. Apalagi mengingat perkataan menyakitkan yang tidak akan pernah dia lupakan.


" Maafkan om gadis kecil, om tidak sengaja menumpahkan es krim mu tadi." Ucap Ardian yang berusaha untuk menenangkan gadis kecil itu yang sedang menangis." Jangan nangis, nanti om gantikan yang baru." Ada rasa sakit saat melihat gadis kecil itu menangis. Entah kenapa, tapi Ardian seperti merasakan sesuatu pada perasaannya saat mata itu mengeluarkan air mata. Karena tidak tega, Ardian langsung memeluk tubuh kecil itu.


Degg


" Perasaan apa ini, kenapa aku merasakan kenyamanan saat memeluk tubuh kecil ini. Aku merasa, ada sesuatu yang mengikat kami." Batin Ardian yang sama-sama terdiam terpaku saat memeluk tubuh itu. Karena Ardian merasakan hal yang aneh, kalau dia seperti terikat dengan gadis kecil itu.


" Harum." Ardian langsung melepaskan pelukannya, saat mendengar seseorang memanggil gadis kecil, yang dia ingat kalau namanya adalah Harum. Ardian menoleh ke sumber suara, dan bisa melihat kalau yang memanggil gadis kecil itu adalah Fazar.


" Fazar."


" Om tampan." Harum langsung berlari mendekati Fazar, lalu memeluk Fazar penuh dengan kesedihan.


" Kenapa Harum nangis. Apakah om itu berbuat jahat ke Harum." Tanya Fazar sambil berjongkok didepan Harum.

__ADS_1


Harum yang mendengar pertanyaan Fazar hanya menggeleng. Tapi air mata itu tetap saja menetes.


" Lalu kenapa Harum nangis." tanya Fazar lembut, tapi Harum tidak menjawab, melainkan terus menangis.


Fazar menatap Ardian dengan tatapan tajamnya." Apa yang anda lakukan dengan gadis kecil ini." Tanya Fazar menyelidik.


" Saya tidak melakukan apapun dengan gadis kecil itu. Hanya saja tadi, es krim yang dia pengang tidak sengaja jatuh saat tidak sengaja bertabrakan dengan saya." Jelas Ardian." Sebejad-bejad nya saya, saya tidak akan melukai gadis kecil itu." Ucap Ardian yang kini mengubah ekspresinya menjadi datar.


" Andai kamu tau Ardian kalau gadis kecil yang kamu buat nangis ini adalah putrimu, apakah kamu tega melihatnya menangis seperti ini." Batin Fazar.


Ya, Fazar sudah mengetahui kalau Harum adalah putrinya Ardian. Kerena sebelum Harum ikut bersama mereka, Fazar sempat mencari tau apakah Ardian dan Harum adalah ayah dan anak, karena wajah mereka sangat persis hanya saja mata mereka yang berbeda.


Kalau Fazar bisa bilang sih. Harum adalah versi perempuan Ardian.


Fazar sempat terkejut saat mengetahui fakta dan kebenaran tentang harum kalau dia adalah anak Ardian. Apalagi mengingat semua informasi yang orang suruhannya katakan, kalau Ardian tidak mengetahui kehadiran gadis kecil ini. Karena sepuluh tahun yang lalu, Ardian mengusir istrinya tanpa mengetahui kalau istrinya sedang mengandung, karena kesalahpahaman yang sengaja Nadila buat.


" Jangan nangis lagi Rum, nanti om tampan gantikan es krim nya lebih banyak lagi."


" Harum tidak ingin es krim om, tapi harum mau ketemu sama kak Wiyah." Ucap gadis kecil itu di sela-sela tangisannya.


" Baiklah om antarkan ke kak Wiyah. Tapi harum jangan nangis lagi, soalnya kak Wiyah tidak suka kalau melihat Harum nangis kayak gini." Gadis kecil itu hanya mengangguk, lalu menghapus air matanya.


Setelah harum berhenti menangis. Fazar langsung mengendong tubuh kecil itu, sambil melangkah meninggalkan Ardian yang masih terdiam ditempatnya.


Ardian yang melihat Fazar mengendong Harum, ada rasa tidak ikhlas, karena dia seperti ingin mengendongnya juga. Tapi Ardian terlalu gengsi untuk mengatakannya.


.


.


Seorang pria yang mungkin berusia dua puluh empat tahun. Sedang melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung itu. Sedangkan tangannya sibuk menelfon, membuat pria itu tidak memperlihatkan sekitarnya.


" Astaghfirullah." Pria itu terkejut, saat ada orang yang menyenggol tangannya, sehingga ponsel yang tadi dia pengang langsung jatuh ketanah. Melihat ponselnya terjatuh, membuat pria itu membungkukkan tubuhnya untuk mengambil ponsel itu.


" Ya ampun, maafkan kecerobohan saya tuan yang tidak sengaja menyenggol anda tadi. Karena saya sedang terburu-buru." Ucap gadis itu, yang sama-sama membungkukkan tubuhnya untuk mengambil ponselnya itu.


Sedangkan pria itu yang mendengar suara yang seperti dia kenal, mengakat sedikit kepalanya untuk melihat siapkah gadis itu, yang memiliki suara yang sangat persis seperti suara gadis yang dia cintai. Hanya saja mereka tidak bisa bersatu, karena berbeda keyakinan dan juga kasta.


Dan betapa terkejutnya pria itu saat melihat siapakah gadis yang tadi tidak sengaja menyenggolnya." Yaya."


Sedangkan gadis yang tidak lain adalah Yaya, tampak mengerutkan keningnya saat mendengar pria itu menyebutkan namanya. Karena penasaran siapakah pria itu, Yaya mengakat kepalanya sedikit untuk melihat siapakah pria itu.


" Jabir." Yaya tidak kalah terkejutnya saat melihat pria yang selama beberapa bulan ini dia cari, ternyata berada didepannya. Pria yang sudah berhasil membuat dia jatuh cinta. Hanya saja mereka tidak bersatu karena perbedaan keyakinan dan juga kasta.

__ADS_1


Padahal yang pria itu tidak tau, kalau keluarganya tidak mempermasalahkan hubungan mereka. Bahkan keluarganya begitu sangat mendukung asal ia bahagia. Bahkan keluarganya memperbolehkannya untuk mengambil keputusan yang ia mau, asal ia tetap bahagia dengan keputusan yang dirinya ambil.


...----------------...


__ADS_2