Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 137


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama, orang suruhannya datang untuk menjemput nya.


" Selamat datang kembali di kota ini tuan Fadil." Sapa Fiki orang kepercayaan Fadil." Bagaimana keadaan anda sekarang." Tanya Fiki kembali.


Ya, pria itu tidak lain adalah Fadil. Fadil kembali lari dari rumah sakit karena merasa bosan selalu mendapatkan perawatan, padahal kata dokter Satya kalau ia sudah sepenuhnya sembuh dan hanya perlu beristirahat sebentar. Tapi paman dan bundanya begitu sangat menghawatirkan dirinya, membuat kedua orang itu melarangnya untuk keluar atau beraktivitas ringan. Ia hanya perlu beristirahat, terus dan terus. Ia juga sudah melakukan operasi itu satu bulan yang lalu, tapi mereka masih saja mengawatirkan dirinya padahal ia bisa menjaga dirinya sendiri.


" Terimakasih Fiki, kamu sudah mau datang untuk menjemput ku. Alhamdulillah, keadaan saya lebih baik dari sebelumnya." Jawab Fadil tersenyum.


" Alhamdulillah saya senang dengarnya tuan." Jawab Fiki kembali.


Fiki membantu membawa koper Fadil, lalu membawanya masuk kedalam mobil.


" Maaf tuan Fadil, anda akan pulang kemana, di rumah tuan Fazar atau rumah utama."Tanya Fiki.


Fadil yang mendengar pertanyaan dari Fiki tampak berpikir, karena dia sendiri bingung harus pulang kerumah utama atau kerumah Abang nya. Tapi jika dia pulang kerumah abang nya, pasti Abangnya itu akan mengomelinya karena lari dari rumah sakit dan kembali di kota S, tanpa memberitahukan nya terlebih dahulu.


" kita langsung pulang kerumah utama saja Fiki, tapi sebelum kerumah utama, kita singgah dulu di restoran xxx, karena aku ingin makan malam terlebih dahulu." Jawab Fadil membuat Fiki mengangguk mereka.


Fadil melihat jam tangannya yang baru jam sembilan. Artinya ia bisa bersantai sebentar barulah dia kembali ke rumah utama untuk beristirahat, setelah itu besok dia akan menemui abang dan kakak iparnya.


Saat sedang terhanyut dalam lamunan, suara ponsel Fadil berdering. Fadil segera mengambil ponselnya.


Ia bisa melihat kalau yang menelponnya itu sang bunda, melihat nomer bunda Sisi bukannya Fadil, takut tapi dia malah tersenyum.


Karena Fadil tahu, kalau bundanya pasti akan marah karena dia pergi tanpa pamit, apalagi beberapa jam yang lalu, Fadil sengaja mematikan ponsel, agar pamannya tidak melacak keberadaannya.


πŸ“±" Dil, kamu dimana." Belum Fadil mengucapakan salam, Tapi di sebarang sana malah memberikannya pertanyaan dari sang bunda dengan suara yang tampak khawatir.


" Aku berada di kota S bun." Jawab Fadil santai. Walaupun dalam hatinya Fadil merasa bersalah karena membuat sang bunda khawatir.


πŸ“±" Astaghfirullah Dil, kenapa kamu bisa sampai disana. Bukannya dokter menyuruh mu untuk beristirahat, setelah itu kamu baru bisa keluar." Omel bunda Sisi, yang heran dengan tingkah putra keduanya itu.


" Maaf bun, aku bosan berada di dalam kamar terus. Walaupun aku ngga berada di rumah sakit, tapi aku merasa bosan selalu di dalam rumah terus." Ucap Fadil memberitahukan apa yang membuat nya pergi dari kerumah dan kembali lagi di kota S." Percuma di rumah, tapi kayak berada di dalam rumah sakit. Makanya Fadil pergi." Ucap Fadil kembali.


πŸ“±" Astaghfirullah Dil, Bagaimana dengan keadaan mu jika kamu berada di sana." Ucap bunda Sisi kembali, yang merasa bingung dengan pemikiran putranya itu. Karena rasa bosannya membuat dia kabur dari rumah.


" Insyaallah keadaanku akan baik-baik saja bun, soalnya tadi sebelum aku melakukan penerbangan, aku sudah pergi ke dokter Satya untuk mengecek apakah kondisi tubuhku sudah bisa melakukan perjalanan jauh atau belum, dan Alhamdulillah bisa, karena kata dokter Satya, aku sudah sepenuhnya pulih, hanya saja butuh istirahat total gitu, tapi kalau melakukan perjalanan jauh ngga apa-apa." Jelas Fadil." Bunda ngga usah khawatir, karena disini aku baik-baik saja. Bunda tenang saja, karena aku bisa menjaga diriku." Ucap Fadil kembali.

__ADS_1


Terdengar dari sebarang sana, kalau bunda Sisi mengembuskan napasnya, karena mendengar ucapannya barusan.


πŸ“±" Baiklah kalau sudah seperti itu, bunda hanya pasrah aja. Tapi kamu harus jaga kesehatan, Jangan sampai kecapean." Ucap bunda Sisi yang pasrah apa yang putra keduanya itu lakukan. Yang penting dia bahagia, dan tidak membuat nya capek yang membuat kondisi nya memburuk. Bunda Sisi tidak akan mempermasalahkan itu.


" Terimakasih bunda." Ucap Fadil senang dengan jawaban bunda Sisi." Tapi bun, jangan beritahukan abang, kalau aku sudah berada di kota S." Ucap Fadil kembali, karena takut kalau sampai Fazar mengetahui kalau dirinya sudah berada di kota S.


πŸ“±" Iya bunda tidak akan memberitahukan kepada abangmu, asal kamu menjaga kesehatan mu, jangan sampai ngedrop." Jawab bunda Sisi.


" Oke bun, Fadil akan ingat ucapan bunda." Jawab Fadil.


πŸ“±" Kalau begitu beristirahatlah, Bunda mau istirahat juga. Assalamualaikum." Salam bunda Sisi.


" Iya bun, waalaikumsalam. Jawab Fadil setelah itu memastikan sambungan teleponnya.


" Apa tuan, lari dari rumah sakit." Tanya Fiki yang tahu seperti apa tuan nya itu.


Fadil yang mendengar pertanyaan dari Fiki hanya tersenyum." Ya, seperti itulah Fiki. Tapi aku tidak lari dari rumah sakit melainkan dari rumah." Jawab Fadil terkekeh kecil. Mungkin apa yang dia lakukan terlalu konyol, tapi ini adalah kesenangannya. Karena tidak akan ada orang yang mengetahui kesedihannya Kalau ia pergi seperti ini.


" Anda tidak pernah berubah tuan." Sambung Fiki.


" Aku tidak akan berubah Fiki, karena aku senang dengan apa yang aku lakukan sekarang." Jawab Fadil.


.


.


Fadil melangkah masuk kedalam untuk menikmati kembali kenangan dimana beberapa bulan yang lalu dia mendapatkan jawaban dari gadis yang dia sukai, tapi sayang harapannya itu seperti hilang saat dirinya sendiri yang menyuruh abangnya untuk menikahi gadis yang dia sukai.


Karena menurutnya, Wiyah adalah gadis yang tepat untuk Fazar.


" Kamu harus ikhlas Dil, karena ada gadis yang sudah Allah siapkan untuk kamu. Gadis yang sama baiknya seperti Wiyah, gadis yang sampai sekarang terukir namanya di perasaan mu yang terdalam." Batin Fadil yang benar-benar ingin melupakan kakak iparnya itu. Agar ia tidak menjadi duri dalam pernikahan abang dan kakak iparnya.


Saat Fadil sedang asyik dengan melamaun nya sambil melangkah naik keatas, tidak segajah tubuh nya menyenggol nampan seseorang, yang membuat nampan itu jatuh dan membuat piring, gelas yang berada di dalam nampan itu langsung bertabur di lantai dan pecah seketika.


" Astaghfirullah." Ucap wanita itu terkejut, membuatnya langsung berjongkok untuk mengambil serpihan piring dan gelas yang pecah.


" Maaf mbak, saya tidak sengaja." Ucap Fadil merasa bersalah ikut berjongkok memungut serpihan itu.

__ADS_1


Sedangkan para pengunjung restoran langsung melihat kearah mereka, karena para pengunjung terkejut dengan suara piring tadi yang jatuh.


" Maaf mbak, saya sungguh tidak sengaja." Ucap Fadil merasa bersalah sambil terus memungut serpihan itu.


" Tidak apa mas, saya disini yang bersalah, karena tidak terlalu memperhatikan jalan saya." Jawab wanita itu." Tidak apa mas biar saya saja." Ucap wanita itu melarang Fadil untuk membantunya memungut serpihan beling itu.


" Tidak apa mbak." Jawab Fadil yang menggakat kepalanya untuk melihat wanita didepannya, sama halnya dengan wanita itu.


" Kak Fadil."


🌺🌺🌺🌺🌺


Di kota B.


" Pak, mau beli tisunya." Tawar gadis kecil dengan pekaian kumalnya saat melewati beberapa orang yang sedang duduk di sebuah kafe.


" Tidak dek, terimakasih." Tolak pria itu kembali, membuat wajah kecil itu langsung sedih.


Gadis kecil itu kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari pembeli yang mau membeli tisu nya.


Gadis kecil itu duduk di trotoar sambil menatap mobil motor yang berlalu lalang.


" Apa aku harus kembali lagi ke rumah itu. Tapi itu tidak mungkin, karena aku takut kalau nyonya Nadila akan marah dan menghukum ku, karena berani lari darinya." Ucap gadis kecil itu kembali. Gadis kecil yang tidak lain adalah harum.


Harum yang selama beberapa Minggu ini berada di dunia luar, karena dia berhasil kabur dari rumah Nadila.


Gadis kecil itu pergi dari rumah Nadila, karena tidak sengaja melihat pagar bagian belakang yang tidak di kunci. Entah keberanian dari mana gadis kecil yang sekarang sudah berusia sembilan tahun itu berani untuk lari dari kekejamannya Nadila.


Dengan bermodalkan uang yang di berikan oleh pria yang beberapa minggu kemarin bertemu dengannya, membuat Harum menjual tisu seperti sekarang.


Gadis kecil itu tahu, kalau berada di luar itu sangatlah berbahaya, mengingat dirinya hanya gadis kecil yang tidak tahu apa-apa.


Tapi rasa beraninya membuat ia ingin keluar dari ketakutan nya. Walaupun usianya masih belia, tapi Harum sudah di paksa dewasa oleh keadaan.


Mungkin banyak orang yang akan membantu nya, Tapi trauma nya satu minggu yang lalu membuat dia takut dengan bantuan orang lain.


Karena seminggu yang lalu Harum hampir saja menjadi korban pe**cehan dari pria dewasa yang katanya ingin menolongnya, Tapi hampir saja merusaknya. Dari situ Harum, memilih tidak mau menerima bantuan orang lain dan lebih memilih seperti sekarang.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2