Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 162


__ADS_3

Setelah kepergian Fazar dan sekretaris nya. Fina kembali masuk kedalam kamarnya, sambil membawa kertas ditangan nya yang tadi di berikan oleh Zain. Fina duduk di kasur nya, lalu membaca kertas itu.


" Aldrich Ainsley." Nama yang tadi sempat Fina curigai, karena Fina pernah melihat Agus memakai nama itu dan terpasang jelas di kartu namanya.


Fina tidak curiga, karena dia mengira kalau kartu nama Agus bisa saja tertukar dengan yang lain.


Agus atau lebih tepatnya Aldrich Ainsley.


Pria berusia dua puluh satu tahun. Anak semata wayang dari pengusaha Aron Albern.


Aldrich sudah beberapa kali di laporkan, karena kasus pelecehan. Tapi karena kurangnya bukti dari pelapor membuat laporan mereka tidak ditidak lanjuti, karena kekurangannya bukti. Aldrich sudah beberapa kali terkena kasus yang sama hanya saja dia tidak bisa di tangkap karena kurangnya bukti.


Seakan tidak percaya dengan apa yang di baca, Fina kembali mencari di internet, apakah yang dia baca itu memang benar atau tidak.


Sampai muncul beberapa gambar yang membuktikan kalau Agus ternyata Aldrich Ainsley, anak dari pengusaha Aron Albern. Nama yang benar-benar tertulis di kertas yang tadi di berikan oleh Zain.


" Aku tidak menyangka kalau ternyata Agus itu adalah Aldrich, dan dia juga pria yang tidak baik, seperti yang dikatakan oleh Fadil waktu itu."


Fina masih belum percaya dengan apa yang tadi dia baca, tapi setelah melihat gambar di ponselnya. Fina baru percaya kalau Agus itu pria yang tidak baik, Seperti yang dikatakan, oleh Fadil waktu itu.


Dan Fina baru menyadari kalau Aldrich sengaja menyamarkan namanya sebagai Agus, agar dia bisa mendapatkan korban selanjutnya.


" Terimakasih ya Allah, sudah mengirimkan orang baik seperti kak Fadil."


🌺🌺🌺🌺🌺


Perlahan-lahan mata Wiyah terbuka, dan hal yang pertama ia lihat, adalah kamar suaminya yang berada di rumah utama.


Rasanya Wiyah malas sekali untuk bangun, apalagi membuka matanya. Tapi bunyi dalam perut nya memaksa nya untuk bangun.


Wiyah bangun dalam baringnya, untuk melihat sudah jam berapa sekarang.


Dari jam dinding yang terpasang dikamar itu menunjukkan pukul setengah sepuluh.


" Astaghfirullah, aku bangun kesiangan. Pasti kak Fazar sudah berangkat berkerja, dan aku tidak menyiapkan perlengkapannya, apalagi hari ini kak Fazar mau pergi keluar kota selama tiga hari."


Wiyah merasa bersalah, karena ia telah mengabaikan suaminya, hanya karena ia terlalu malas untuk bangun pagi ini.


Ya, Wiyah sudah mengetahui kalau Fazar akan pergi ke luar kota hari ini. Karena sebelum Fazar meminta ijin kepada sang bunda dan paman Aslan. Semalam Fazar sudah berpamitan duluan kepada Wiyah, dan menceritakan apa tujuannya pergi keluar kota.


" Aku begitu sangat malas sampai suamiku sendiri aku abaikan." Lirih Wiyah sedih.

__ADS_1


Saat Wiyah sedang bersedih, karena merasa bersalah. Pintu kamarnya di di buka oleh seseorang, tapi Wiyah tidak menyadarinya.


" Sudah bangun nak." Tanya bunda Sisi sambil melangkah kearah kasur yang terdapat Wiyah sedang duduk di sana.


Wiyah yang mendengar suara mertuanya menoleh kearah pintu dan Wiyah bisa melihat kalau mertuanya sedang melangkah kearahnya sambil membawa nampan yang berisi makanan. Tidak lupa senyum yang selalu terukir disana.


" Bunda."


" Jangan berdiri, Karena bunda mau kesitu." Cegah bunda Sisi saat melihat Wiyah ingin berdiri dari duduknya.


Sedangkan Wiyah hanya menurut dengan perasaannya tidak enak.


" Aku bukan saja mengabaikan suamiku, tapi mertuaku juga. Aku seperti menantu dan istri yang tidak baik." Batin Wiyah sedih. Rasanya Wiyah ingin menangis, Karena merasa bersalah kepada keluarganya.


Entah apa yang terjadi pada dirinya sebenarnya, sampai membuat ia sensitif seperti sekarang.


" Baru bangun sayang." Tanya bunda Sisi yang sudah duduk disebelah Wiyah dan nampan yang tadi dia bawa sudah di simpan di atas meja kecil yang berada disebelah tempat tidur.


" Maaf Bun, aku bukan istri yang baik dan juga bukan menantu yang baik untuk keluarga ini. Disaat orang-orang sudah bangun, aku malah tidur sampai siang, dan mengabaikan keluarga ini." Lirih Wiyah sedih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Bunda Sisi yang mendengar ucapan menantunya itu tersenyum." Udah jangan nangis, bunda tau ini karena hormon kehamilan. Pasti janin dalam kandungan mu sedang ingin bermalas-malasan pagi ini." Ucap bunda Sisi sambil membawa Wiyah dalam pelukannya. Bunda Sisi tau, menantunya pasti memiliki suasana hati yang cepat sekali berubah-ubah karena efek kehamilannya.


" Tapi Bun, aku sudah mengabaikan suamiku bahkan__."


Wiyah melepaskan pelukannya lalu menatap kearah bunda Sisi dengan dalam." Bunda ngga marah."


" Ngga, bunda ngga marah. Karena bunda pernah berada di posisi kamu nak, malahan bunda tiga kali mengalami nya. Makanya Bunda mengerti akan kondisimu sekarang."


Mendengar jawaban dari bunda Sisi semakin membuat mata Wiyah berkaca-kaca, karena terharu." Terimakasih bunda, Karena sudah mengerti ku."


" Sudah jangan nangis lagi, Sebaiknya sekarang kamu sarapan dulu, karena ini sudah siang."


" Iya bunda." Jawab Wiyah mengangguk mengiyakan.


🌺🌺🌺🌺🌺


Setelah sarapan pagi dan bersiap-siap kini Wiyah akan pergi kerumah sakit, bersama dengan bunda Sisi, Abidzar dan juga Fazri.


Sebenarnya bunda Sisi melarang kedua nya untuk ikut. Hanya saja Fazri memaksa untuk ikut. Sampai-sampai pemuda itu merengek agar di ikutkan.


Sampai bunda Sisi pusing dengan rengekan Fazri, dengan terpaksa mengikutkan nya.

__ADS_1


Sedangkan Abidzar. Pria itu hanya akan ikut-ikutan saja, Karena Abidzar hanya ingin jalan-jalan sebentar.


.


.


Di rumah sakit.


Wiyah menatap antrian yang lumayan ramai. Terlihat disana, ada beberapa ibu-ibu yang memiliki perut buncit dan juga ada yang belum. Mungkin ada yang baru hamil muda seperti Wiyah.


" Banyak benget orang yang antri. Apalagi ibu-ibu yang memiliki perut buncit. Apakah nanti perut kak Wiyah akan seperti ibu-ibu itu Bun, yang memiliki perut besar seperti balon." Tanya Fazri, yang membuat Bunda Sisi dan Abidzar sama-sama menoleh kearah Fazri saat mendengar ucapan pemuda itu. Sedangkan Wiyah hanya tersenyum, karena merasa lucu dengan pertanyaan Fazri.


" Pertanyaan aku ngga salah kan Bun." Tanya Fazri kembali, yang menyadari tatapan dari bunda Sisi dan juga Abidzar.


" Ngga salah, hanya saja penyebutannya yang salah." Jawab Abidzar." Untungnya kamu nggak di tatap sama para ibu-ibu hamil, karena mengatakan kalau perut mereka besar seperti balon."


" Emangnya salah ya."


" Salah Fazri." Jawab bunda Sisi berusaha untuk sabar. Inilah alasan nya bunda Sisi tidak mau membawa Fazri yang suka sekali bertanya.


.


.


Karena Fazar sudah membuat janji dengan dokter kandungan. Bunda Sisi dan juga Wiyah tidak perlu berlama-lama untuk mengantri, karena nama Wiyah sudah di panggil setelah kedatangan mereka tadi.


Wiyah yang ditemani oleh bunda Sisi masuk kedalam ruangan pemeriksaan.


Sedangkan Fazri dan Abidzar menunggu di luar.


" Apa keluhan nya nona Wisyah." Tanya dokter wanita itu dengan ramah.


Wiyah yang gugup menjelaskan apa saja keluhannya beberapa hari ini.


" Dari gejalanya, nona Wisyah benar-benar sedang mengandung. Untuk lebih jelasnya lagi biar kita periksa dengan USG." Dokter berdiri dari duduknya, melangkah kearah tempat tidur pemeriksaan pasien.


Dengan di bantu oleh suster, Wiyah perlahan-lahan membaringkan tubuhnya. Setelah itu suster mengangkat pakaian yang Wiyah pakai, sampai di atas pusar.


Pipi Wiyah seketika memerah karena malu saat merasakan perutnya terlihat.


Suster mengoleskan jel di perut Wiyah. Setelah itu dokter mengarahkan sebuah alat di atas perut Wiyah, untuk mengetahui apakah ada janin dalam rahim atau tidak.

__ADS_1


" Masya Allah."


__ADS_2