
Bunda Sisi mendudukkan tubuhnya di kursi. Karena Bunda Sisi merasa begitu sangat sedih saat mendengar penolakan pria muda tadi.
" Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang." Batin bunda Sisi sambil mengusap wajahnya kasar, karena sekarang bunda Sisi bingung ingin melakukan sesuatu.
Apakah ia harus meminta Fazar untuk datang dan menyuruh Fazar untuk turun tangan dengan masalah ini, ataukah ia harus menyelesaikan masalah ini sendiri
Memikirkan hal ini membuat kepala bunda Sisi terasa begitu sangat sakit.
Sedangkan Rido dan Faris yang dari tadi berada di situ dan mereka juga dari tadi melihat bagaimana penolakan dari pria muda itu. Sebenarnya keduanya ingin membantu, membujuk pria muda tadi. Tapi keduanya tidak bisa melakukan hal itu, karena mereka dilarang untuk ikut campur, karena bunda Sisi sendiri yang melarang keduanya, padahal mereka tadi ingin membantu bunda Sisi untuk meminta agar pria muda tadi mau menjadi pendonor untuk Fadil.
" Bagaimana caranya, agar dia mau menjadi pendonor untuk Fadil." Batin Rido yang sama-sama memikirkan cara agar pria muda tadi mau menjadi pendonor untuk Fadil.
Keduanya melangkah mendekati bunda Sisi yang sedang terdiam sambil menyadarkan kepalanya di kursi.
" Bunda, lebih baik bunda istirahat saja dulu. Aku takut kalau bunda akan sakit jika memikirkan hal ini." Ucap Rido membujuk bunda Sisi agar mau istirahat. Karena Rido takut kalau bunda Sisi sampai sakit jika terlalu memikirkan hak ini yang akan berakibat pada kesehatan bunda Sisi.
" Iya tan, Sekarang tante istirahatlah dulu, karena kesehatan bunda lebih penting. Masalah ini biarkan kami yang mengurusnya." Sambung Faris.
Bunda Sisi yang mendengar ucapan dari keduanya hanya bisa mengangguk mengiyakan. Karena sekarang bunda Sisi memerlukan istirahat untuk menenangkan pikirannya. Karena jika ia sakit, maka urusan ini tidak akan selesai.
" Faris, aku yang akan mengantarkan bunda ke apartemen." Ijin Rido.
__ADS_1
" Iya Rido, hati-hati, jika sudah sampai jangan lupa langsung kabarin. Masalah Fadil ada aku disini yang akan menjaganya." Jawab Faris.
Rido mengantarkan bunda Sisi untuk pergi ke apartemen. Agar bunda Sisi bisa istirahat.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Wiyah yang sedang menemani Fazri yang sedang belajar, membuat dirinya bosan, karena hanya diam karena hal itu membuatnya menjadi mengantuk. Karena ngantuk tidak bisa Wiyah tahan, perlahan-lahan matanya mulai menutup dan membuatnya langsung tertidur sangking ngantuk nya. Wiyah tidur dengan posisi duduk dengan wajah di atas meja sedangkan tangan yang menjadi bantalan untuk kepalanya. Karena, Fazri dan Wiyah duduk di atas lantai yang beralaskan karpet bulu-bulu yang halus.
Sedangkan Fazri belum menyadari kalau Wiyah sudah tidur, karena Fazri masih fokus dengan pelajarannya.
" Kakak, bagaim_." Fazri menghentikan ucapannya saat melihat kearah Wiyah yang sudah tidur." Ternyata kakak sudah tidur." Gumam Fazri menatap kakak iparnya itu. Karena penasaran jam berapa sekarang membuat Fazri melihat kearah jam yang berada di laptopnya.
" Pantas kakak ipar tidur, orang sekarang sudah jam setengah sebelas malam." Ucap Fazri saat melihat jam yang menunjukkan pukul sebelas malam." Tapi kalau kakak ipar tidur kayak gini terlihat lucu juga ya." Gumam Fazri saat melihat wajah Wiyah yang terlihat menggemaskan saat Wiyah sedang tidur." Bagaimana caranya aku memperbaiki tidur kakak ipar, yang terlihat seperti tidak nyaman." Gumam Fazri yang bingung ingin memperbaiki posisi tidur Wiyah yang menurut Fazri sangat tidak nyaman. Fazri ingin membangunkan Wiyah, tapi Fazri tidak mau mengganggu tidurnya.
" Abang baru pulang." Tanya Fazri menatap Fazar.
" Hmm." Jawab Fazar dengan gumaman." Kamu belum tidur." Tanya Fazar balik yang merasa heran dengan Fazri. Karena adiknya itu masih belum tidur dan masih berada di ruang tamu. Padahal sekarang sudah malam. Tapi Fazar belum menyadari kehadiran Wiyah yang berada disana karena Fazar berdiri lumayan jauh dari Fazri dan juga sofa yang menutupi pandangannya yang membuat Fazar tidak bisa melihat kalau ada Wiyah yang berada di ruangan itu selain Fazri.
" Belum bang, aku masih ngerjain tugas sekolah." Jawab Fazri membuat Fazar mengangguk mengerti.
" Kalau gitu abang duluan naik keatas. Abang mau istirahat. Jangan lupa kamu tidur, soalnya besok sekolah." Pamit Fazar yang ingin melangkah naik kelantai atas, tapi di hentikan oleh Fazri.
__ADS_1
" Bang tunggu sebentar." Cegah Fazri membuat Fazar menghentikan langkahnya.
" Iya ada apa Fazri." Tanya Fazar menatap adiknya itu.
" Bang tolong bawah kakak ipar dalam kamar, soalnya tadi kakak ipar ketiduran." Jawab Fazri membuat Fazar mengerutkan keningnya bingung karena mendengar jawaban dari Fazri yang mengatakan kalau ada Istri di situ, tapi Fazar tidak melihatnya.
" Maksudnya." Tanya Fazar bingung sambil menatap Fazri, karena Fazar masih tidak mengerti dengan ucapan Fazri barusan.
" Maksudku bang. Kakak ipar ketiduran saat tadi kakak ipar menemaniku saat mengerjakan tugas." Jelas Fazri menjelaskan kenapa ia tadi menghentikan langkah abangnya itu untuk naik kelantai keatas." Aku minta tolong sama abang buat mengangkat kakak ipar kekamar, soalnya tadi aku sudah membangunkan kakak ipar tapi sepertinya kakak ipar tidak merespon." Jelas Fazri kembali.
Fazar yang sudah mengerti ucapan Fazri melangkah kearah sofa dan Fazar bisa melihat kalau istrinya sudah tidur dengan posisi yang tidak nyaman menurut Fazar.
" Apa yang harus abang lakukan." Tanya Fazar bingung ingin melakukan apa. Sedangkan Fazri yang mendengar pertanyaan dari Fazar langsung menggelengkan kepalanya.
" Astaghfirullah bang, masa abang ngga ngerti sih. Maksud Fazri itu, abang angkat kakak ipar terus bawah kekamar, bukan di lihat gitu saja." Jelas Fazri menepuk keningnya bingung dengan Fazar. Abangnya memang pria yang tidak pernah peka, menurut Fazri.
Sedangkan Fazar mengerti akan ucapan dari Fazri, melangkah mendekati Wiyah yang masih tidur. Fazar membungkukkan tubuhnya menatap istrinya itu yang tidur begitu sangat tenangnya tanpa terusik dengan disekitarnya.
" Ternyata saat dia tidur, tidak bisa menghilangkan kecantikan alaminya." Batin Fazar saat ia sedang menatap istrinya itu.
" Bang, jangan di bangunin, tapi abang itu harus angkat kakak ipar terus bawah kekamar." Ucap Zain mengingatkan agar abangnya itu tidak menganggu Wiyah yang tidur.
__ADS_1
" Iya, abang tau." Jawab Fazar membuat Fazri tersenyum kecil." Begitu sangat menyusahkan." Ucap Fazar menatap Wiyah dengan kesal.