Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 233


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Bunda Sisi dan tuan Aslan melangkah masuk di restoran, lalu keduanya mencari sekelilingnya untuk mencari orang yang menelfon bunda Sisi semalam.


" Mas, dimana mereka."


" Mas, kurang tau juga Sintia." Jawab tuan Aslan yang sedang mencari di disetiap sudut ruangan untuk menceri keberadaan orang yang sudah membuat janji dengan mereka di restoran itu.


Sampai pandangan tuan Aslan tertuju kearah meja di bagian pojok, dekat dengan jendela." Sintia sepertinya itu mereka." Ucap tuan Aslan sambil melihat kearah meja, yang terdapat dua orang disana. Wanita paruh baya dan juga pria paruh baya. Sepertinya mereka adalah suami istri.


Tuan Aslan dan juga bunda Sisi melangkah mendekati kedua orang itu." Assalamualaikum. Maaf kami membuat kalian menunggu lama." Ucap bunda Sisi dengan ramah, saat melihat kalau dua orang itu benar-benar orang yang mereka cari tadi.


Kedua pasangan paruh baya itu ingin berdiri, tapi bunda Sisi memberikan isyarat agar mereka tidak berdiri." Tidak apa nyonya, kami juga baru saja tiba disini." Jawab wanita paruh baya itu sambil tersenyum.


Bunda Sisi dan tuan Aslan ikut duduk di kursi yang sudah ada." Maaf pak Alli, dan Bu Afifah. Ada apa ya, kami di panggil kesini." Tanya bunda Sisi menatap kedua pasangan paruh baya itu, yang tidak lain adalah papa dan mama Fina.


" Begini nyonya, Sintia. Kedatangan kami kesini ingin menyampaikan sesuatu." Ucap papa Fina sambil menatap tuan Aslan dan bunda Sisi dengan serius.


" Apa itu pak Alli." Tanya tuan Aslan.


" Maaf nyonya, tuan. Kalau kami menolak lamaran anda satu minggu yang lalu." Jelas papa Alli dengan hati-hati, karena dia takut kalau kedua orang penting didepannya itu akan marah mendengar ucapannya.


" Ada alasan apa anda menolak lamaran kami pak Alli, bukannya satu minggu yang lalu, anda menerima lamaran kami."


" Maaf tuan, kami memiliki alasan, karena itulah aku menolak lamaran anda tuan."


" Jelaskan alasan anda menolak lamaran kami. Saya ingin mendengarnya."


Terlihat kalau papa Fina terlihat ragu, tapi sedetik kemudian tuan Aslan mendengar helaan nafas." Karena putri kami sudah menikah dengan orang lain, yaitu orang yang dia cintai, kemarin malam, tuan. Maka dari itu kami menolak lamaran ini." Jelas papa Fina sambil menundukkan kepalanya." Sekali lagi keluarga kami meminta maaf sebesar-besarnya tuan, karena penolakan ini.


Bunda Sisi dan tuan Aslan saling menatap, lalu tersenyum mendengar ucapan papa Fina.


" Maaf pak Alli, saya ingin menanyakan sesuatu kepada anda." Ucap bunda Sisi." Jika putri anda menikah dengan orang lain, kenapa kalian tidak menolaknya saja, dengan cara menerima lamaran kami untuk putri anda pak Alli." Tanya bunda Sisi hati-hati. Karena bunda Sisi ingin mendengar alasan, kenapa orang tua Fina menolak lamaran mereka.


Bukannya semalam mereka sudah mendengar dari cerita Fadil, kalau keluarga Fina menolak pernikahan Fina dan juga Fadil, karena orang tua Fina lebih memilih menerima lamaran mereka. Tapi kenapa sekarang mereka mendengar jawaban lain dari papa Fina.


" Karena saya tidak ingin melihat putri kami terluka nyonya karena keegoisan kami yang tetap menyuruhnya untuk menerima lamaran keluarga nyonya, padahal jelas-jelas putri kami tidak mengenal bahkan tidak mencintai putra anda. Jujur sebenarnya saya kecewa dengan putri saya, karena menikah secara diam-diam. Tapi kami tidak bisa melakukan apa-apa, karena itu adalah kemauan putri kami, apapun yang terjadi kami akan tetap menerima siapa suami putri kami sekarang." Jelas pak Alli dengan raut wajah yang begitu sangat serius, Tapi masih terlihat kalau ada kesedihan disana.


" Maaf pak Alli, bagaimana kalau kalian tidak mengenal pria itu."

__ADS_1


" Apapun pilihan putri saya tuan, saya yakin kalau itu adalah yang terbaik. Karena putri saya sudah dewasa untuk menentukan pilihannya." Jawaban yang pak Alli berikan, membuat bunda Sisi dan juga tuan Aslan.


Ternyata Fadil tidak salah memilih calon istri, atau lebih tepatnya istrinya, karena keluarga dari Fina begitu sangat bijak dalam mengambil keputusan. Apalagi untuk kebahagiaan anak mereka. Padahal baru dadi malam mereka mendengar cerita Fadil, dan hampir menganggap salah apa yang dilakukan oleh keluarga Fina. Tapi pagi ini mereka telah membenarkannya, saat mendengar ucapan bijak dari pak Alli.


Mungkin keluarga Fina salah, karena memukul Fadil semalam. Tapi semua itu punya alasan. Karena mereka pasti syok saat mengetahui kalau putri mereka menikah secara tiba-tiba.


Orang tua yang mana sih, yang tidak marah saat melihat putri mereka menikah secara tiba-tiba, dan mereka tidak tau asal-usul pria yang dia nikahi.


" Tuan Alli, apakah anda tau siapa pria yang menikah dengan putri anda." Tanya tuan Aslan.


" Saya tidak tau tuan, karena selama ini saya tau kalau putri saya tidak akan berteman dengan pria manapun selain sepupunya."


" Tapi kalau saya mengatakan kalau pria yang putri anda nikahi adalah anak keponakan saya, apakah anda akan percaya." Pak Alli dan Bu Afifah, hanya diam mendengar pertanyaan tuan Aslan.


Mereka berpikir, bagaimana bisa putri mereka bisa berkenalan dengan orang penting seperti mereka.


" Pak Alli, Bu Afifah. Kalau pria yang menikah dengan putri anda semalam adalah anak saya." Pak Alli dan Bu Afifah terkejut mendengar ucapan bunda Sisi." Dan kami datang melamar putri anda satu minggu yang lalu. Itu semua untuk pria yang kini sudah sah menjadi suami putri anda. Yaitu anak kedua saya."


Mendengar penjelasan dari bunda Sisi, membuat pak Alli dan Bu Afifah, begitu sangat terkejut. Mereka tidak percaya dengan penjelasan bunda Sisi. Tapi bunda Sisi juga tidak akan bohong bukan.


" Lalu pria yang datang kemarin bersama dengan tuan dan nyonya."


Sungguh takdir kedua pasangan itu sangat indah, padahal baru satu minggu mereka datang melamar. Tapi tiba-tiba saja kedua pasangan itu langsung di ikat dalam pernikahan.


Flashback off


" Jika sudah seperti itu. Kenapa paman dan bunda tidak memberitahukanku, kalau ternyata pernikahan kami di restui oleh mertuaku. Dan kalian juga dengan tega membuat Fina seakan-akan disembunyikan oleh keluarganya."


" Bunda tau ngga, aku begitu sangat tersiksa beberapa hari ini bunda, saat mencari keberadaan istriku tapi tidak ditemukan sama sekali. Bahkan aku mengarahkan anak buah ku agar bisa menemukannya, tapi tidak bisa." Ucap Fadil menatap keluarganya dan juga keluarga Fina secara berganti.


Jujur sebenarnya Fadil kecewa dengan apa yang keluarganya lakukan, tapi Fadil senang karena dia bisa melewatinya, dan sekarang bisa menemukan gadis yang dia cintai.


Ya, setelah selesai acara pertunangan, kini keluarga Fina maupun keluarga Fazar sedang duduk di ruangan yang begitu sangat besar. Sehingga orang-orang sebanyak mereka masih muat.


Bukan saja keluarga Fazar, dan Fina. Melainkan keluarga Haidar juga berada disana. Termasuk Jambri dan juga Jidan, yang tidak diperbolehkan untuk pulang oleh Wiyah malam ini, karena Wiyah masih ingin melepaskan rindu ke abangnya itu.


Masalah Ardian, kalian tenang saja. Karena Ardian tidak akan marah karena Fazar sudah mengamankannya ditempat yang aman. Kalaupun dia marah, pasti tidak akan bisa.


" Karena kami ingin melihat sebesar apa perasaanmu terhadap Fina. Apakah hanya sekedar pelarian atau memang benar-benar tulus." Ucap Fazar.

__ADS_1


" Bunda dan paman, sengaja melakukan ini agar kami bisa mengetahui seperti apa perasaanmu. Apakah akan berpaling atau tidak selama Fina menghilang dalam hidupmu. Tapi selama dua minggu, kami sadar kalau kamu benar-benar tulus mencintai Fina."


Bunda Sisi mulai menceritakan, rencana yang di buat oleh Fazar dan tuan Aslan, yang ingin memberikan kejutan kepada Fadil. Bahkan dalam rencana mereka keluarga Fina disuruh untuk menjauhi Fadil. Membuat kalau mereka benar-benar tidak menerima Fadil dalam keluarga mereka.


Karena tidak ingin Fina dan Anita tidak curiga, dengan rencana mereka keluarganya sengaja menjauhkan, dan mengurung Fina, selama dua minggu ini, agar Fina merasa kalau keluarganya benar-benar menolak pernikahan nya dengan Fadil, bahkan membuat pertunangan malam ini seolah-olah di paksakan.


Sungguh Fazar menciptakan derama yang panjang selama dua minggu ini, dari kedua pasangan itu. Bahkan Fazar menyuruh Rido untuk masuk mengerjai Fadil. Membuat dirinya seolah-olah tidak tau apa-apa.


Sedangkan di bagian keluarga Fina, Yusuf kaka Fina serta Cyra dan kakak ipar Fina ikut serta.


" Kalian begitu sangat jahat." Ucap Fadil yang terlihat kesal.


" Kalian mengerjai kami." Sambung Fina yang tidak kalah kesalnya.


" Tapi senang kan, kalau sudah bisa bersatu." Sambung Rido.


" Tinggal malam pertamanya lagi." Tuan Aslan mengagaa mendengar ucapan putranya itu. Sungguh otak Abidzar telah di kotori oleh Rido, padahal mereka baru akrab selama satu minggu ini, karena keduanya ditugaskan untuk mengatur acara serta mengawasi Fadil. Takut Fadil melakukan hal yang aneh-aneh.


" Kenapa sih, papi, Zar. Kalian tidak memberitahukan ku kalau mereka sudah menikah. Padahal kalau kalian memberitahukan soal pernikahan mereka, mungkin aku akan menambah mengerjai mereka sebagai orang ketiga. Biar seru gitu." Fadil yang mendengar ucapan Abidzar, mengambil bantal sofa lalu melemparkannya kearah Abidzar.


" Kalau sampai kamu melakukan itu, maka malam ini adalah malam Yasin namu, bukan malam pertunangan ku." Ucap Fadil memasang wajah galaknya.


Sedangkan orang-orang yang berada di ruangan itu hanya tertawa mendengar ucapan Fadil.


" Dil. Aku dan sekeluarga, meminta maaf atas kejadian dua minggu yang lalu, dimana aku memukulmu." Fadil tersenyum mendengar ucapan kakak iparnya itu.


" Tidak usah minta maaf kakak ipar. Karena aku sadar apa yang terjadi malam itu salah. Karena aku tau, kalau seorang kakak pasti akan marah saat mendengar fakta adiknya sudah menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya. Kalau aku berada di posisi kakak ipar, mungkin aku akan melakukan hal yang sama." Jelas Fadil."


" Apakah kamu sudah memaafkan ku Fadil."


" Disini kita sama-sama bersalah kakak ipar, jadi lupakan semuanya." Ucap Fadil tersenyum." Apalagi sekarang kita sudah menjadi saudara. Benar nggak Beb." Ucap Fadil sambil menatap kearah Fina, dengan tatapan genit.


" Astaghfirullah, belum halal." Ucap Abidzar seperti mau pingsan mendengar ucapan Fadil.


" Kamu lupa ya, Abidzar kalau kami sudah nikah."


" Astaga, aku sampai melupakan itu."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2