
Kesabaranku membawa cinta.
"Ck, siapa yang mengetahui keberadaan ku." Teriak Kevin marah sekaligus terkejut karena peluru tadi, lewat tepat di sampingnya sebelum peluru itu mengenai tangan Aldrich.
"Saya yang mengetahui keberadaan anda, tuan Kevin Arlio." Jawab seseorang dengan suara yang terdengar sangat berat, bahkan Kevin bisa merasakan. Kalau sang pemilik suara itu sedang menahan emosinya.
"Fazri, Abidzar." Lirih Fazar sambil tersenyum kecil menatap kedua adiknya yang berada didalam kegelapan. Walaupun hanya suara, tapi Fazar sangat yakin kalau pemilik suara berat itu adalah Fazri, sang adik.
Langkah kaki mengarah kearah mereka, dan Fazar bisa melihat kalau kedua adiknya sedang memegang senjata, dan mengarahkan nya kearah Aldrich dan juga Kevin. Tepat diatas kepalanya. Fazri dan Abidzar tidak datang sendiri, karena terdapat beberapa anak buahnya yang lain. Yang kini, sama-sama mengarahkan senjata mereka tepat di kepala anak buah Kevin.
"Ternyata kamu bocah ingusan!" Ucap Kevin sambil tersenyum miring menatap, Fazri yang sedang mengarahkan senjata kearahnya."Kalian memang hebat bisa menemukan ku, padahal aku sudah menyembunyikan markas ini! Bahkan markas ini terletak jauh dari jaringan. " Ucap Kevin sambil tersenyum menatap remeh kearah Fazri dan juga Abidzar.
"Dasar ular! Anda lebih berbisa dari pada ular yang berbisa sekalipun." Ucap Abidzar.
"Tentu! Kalian sangat tau itu." Ucap Kevin terkekeh, menatap kedua adik kakak itu." Aldrich, tarik kursinya!" Perintah Kevin, yang langsung mendapatkan anggukan dari Aldrich. Aldrich yang memang berada dekat dengan kursi Fazar, langsung mendorong kursi itu dengan cara menendangnya, yang membuat kursi itu jatuh, dan Fazar harus tergantung dengan tali yang masih melingkar dilehernya. Fazar meronta-ronta berusaha dilepaskan tali itu yang kini akan membunuhnya.
Door
Satu tembakan berhasil Fazri lepaskan dan mengenai tepat di kepala Aldrich, sehingga pria itu langsung terjatuh dengan berlinangan darah.
Door.
Tembakan keduanya berhasil mengenai tali yang mengikat mengikat Fazar, yang membuat tali itu langsung putus, dan Fazar jatuh kelantai berdebu.
Huhuhu
Fazar menghirup udara dengan sangat rakus, karena Fazar hampir saja meninggal tadi, jika saja Fazri tidak membantunya. Dengan tubuh lemahnya, Fazar menatap adiknya yang terlihat berbeda. Bahkan tatapan itu terlihat jauh lebih tajam dan sangat menyeramkan.
"Wooo, ternyata anda merawat iblis, Fazar! Sangat mengagumkan!" Ucap Kevin sambil terkekeh menatap Fazri yang kini membalas menatapnya, dengan tatapan tidak kalah sengitnya.
"Saya bukan iblis, tuan Kevin, tapi anda!" Jawab Fazri, kembali mengarahkan senjatanya tepat di jantung Kevin."Anda pantas mati! Tapi saya tidak ingin membunuh anda sekarang, karena saya ingin bermain-main sedikit dengan anda." Ucap Fazri tanpa rasa takut sama sekali. Karena tatapan Fazri sekarang terdapat amarah dan juga balas dendam.
"Abidzar. Get out with Big Brother, because I'm going to finish off a devil human like him!"
"Apa kamu gila Fazri! menyuruhku untuk keluar dan kamu menghadapai nya sendiri!" Bentak Abidzar yang bingung dengan pikiran adiknya itu. Padahal usianya baru saja enam belas tahun, tapi kelakukan seperti orang dewasa saja. Yang ingin menghadapi musuhnya seorang diri.
__ADS_1
"Aku bisa mengatasinya Abidzar!" Jawab Fazri tersenyum miring menatap Abidzar, yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan kebingungan.
Saat Fazri dan Abidzar sedang berbincang kecil karena Fazri menyuruh Abidzar untuk keluar. Tanpa mereka sadari, kalau Kevin mengatakan sesuatu.
"Shoot them all"
Door
Door
Door
Suara tembakan, menggema di ruangan itu. Tapi tidak hanya satu, melainkan ada banyak. Karena anak buah Kevin, telah berhasil melumpuhkan anak buah Fazar satu bersatu, saat anak buah Fazar, Fazri dan Abidzar sedang lengah. Bahkan sekarang anak buah Kevin mengarahkan senjata mereka kearah mereka bertiga.
"Brengsek." Pekik Fazri marah, menatap Kevin yang sekarang sedang tersenyum mengejek.
"Ternyata saya selalu didepan dari kalian!" Ucap Kevin tersenyum miring menatap Fazri dengan remeh."Makanya bocah, ingusan sepertimu jangan sok jagoan. Ujung-ujungnya teriak mengaku!"
"Tapi kami belum selesai Kevin! Kami hanya mengikuti permainan anda dengan sedikit permainan yang membuat anda terbang ke langit, karena anda merasa kalau anda adalah pemenangnya." Ucap Abidzar ikut tersenyum penuh arti menatap Kevin, yang terlihat sedikit kebingungan menatap kearah mereka.
"Meledek!" Ucap Fazri sambil menekan tombol kecil ditangannya.
Door
Teriakan kesakitan anak buah Kevin, saat tubuh mereka tiba-tiba saja meledakkan. Apalagi ledakan itu tidak membunuh mereka, melainkan membuat mereka terluka cukup serius, tapi tidak membuat mereka mati.
"Kalian!!"
"Hanya sedikit pertunjukkan!" Jawab Abidzar mendekati Kevin, lalu....
Buk
Satu tendangan berhasil menjatuhkan tubuh Kevin, yang tadi hanya diam karena terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Satu pukulan, karena berani melukai Abangku!" Ucap Abidzar sambil menaruh kakinya diatas perut Kevin."Saya ingin memukul anda, tapi ini bukan urusan saya! Maka dari itu, anda akan berurusan dengan orang yang tepat!" Setelah mengatakan itu, Abidzar melangkah mendekati tubuh lemah Fazar, yang seperti hampir kehilangan kesadaran. Karena darah terus saja mengalir."Bertahanlah Zar! Kita akan pergi kerumah sakit!" Ucap Abidzar menatap Fazar dengan khawatir, apalagi menatap wajah pucat itu.
__ADS_1
"Aku ngantuk Abidzar." Lirih Fazar tersenyum."Abang titip anak-anak dan juga kakak iparmu. Jaga mereka seperti apa Abang menjaga kalian."
"Jangan ngomong seperti itu Zar! Kamu akan baik-baik saja." Abidzar mencoba membawa tubuh Fazar, tapi Fazar terlalu lemah untuk berdiri membuat tubuh Fazar hampir saja jatuh. Jika tidak langsung ditolong oleh Fazri.
"Bertahanlah bang, untuk sih kembar dan kak Wiyah. Kita akan pergi kerumah sakit." Ucap Fazri membantu mambawa tubuh Fazar.
"Fazri, bagaimana dengan Kevin. Apakah kamu membiarkannya melarikan diri! Sedangkan kita sangat sulit untuk menemukannya!"
"Urusan Kevin bisa nanti kak, tapi tidak dengan keselamatan Abang yang lebih penting." Jawab Fazri memapah tubuh tinggi Abangnya itu."Cukup satu aku kehilangan saudara, tapi tidak untuk yang kesekian kalinya." Lirih Fazri, membuat Abidzar terdiam mendengarnya.
"Aku tidak tau apa yang kamu rencanakan Fazri, tapi aku yakin kalau kamu memiliki rencana lain untuk Kevin. Apapun itu, aku tau kalau kamu tidak akan melepaskan orang jahat sepertinya." Batin Abidzar. Sebenarnya Abidzar sedikit kebingungan saat melihat Fazri melepaskan Kevin, padahal mereka sangat sulit untuk menemukannya. Apalagi tadi mereka sampai kehilangan jejak Fazar dan Fazri begitu sangat sulit untuk menemukan lokasi Fazar sedang disekap.
Apalagi saat menemukan keberadaan Fazar, Fazri kah lah paling tidak sabaran ingin menghabisi Kevin. Apalagi saat benar-benar memastikan kalau penghianat atau lebih tepatnya musuh mereka, adalah Zain sekertaris dari Abangnya. Dari situ Fazri bertekad untuk menghabisi Kevin. Tapi tidak tau kenapa Fazri lah yang membiarkan nya lepas.
.
.
"Syukurlah, aku masih bisa lolos dari mereka." Gumam Kevin sambil menarik nafasnya yang ngos-ngosan, karena berlari menghindari markasnya." Ternyata mereka sudah merencanaka semua ini. Apakah mereka sudah mengetahui kalau aku adalah penjahat sebenarnya? Tapi itu tidak mungkin. Mengingat Fadil sudah meninggal ditepat dan kondisinya juga tidak akan memungkinkan untuk menceritakan kalau aku adalah musuh mereka sebenarnya." Gumam Kevin sambil terus berpikir sebenarnya apa yang terjadi.
Ya, dua hari sebelum kecelakaan Fadil. Fadil sempat memergoki Kevin sedang menelpon seseorang untuk rencana jahatnya, yaitu membunuh Fazar dan mengambil semua hartanya. Tapi saat itu Fadil ketahuan, yang membuat Kevin was-was melaksanakan rencananya, takut kalau Fadil akan memberitahukan Fazar.
Tapi saat menyadari, kalau Fadil belum memberitahukan Fazar tentang kejahatan nya, karena Fadil memilih menyelidiki nya sendiri.
Dan di hari itu juga Kevin merencanakan sesuatu untuk membunuh Fazar, sebelum rencananya benar-benar Fadil beritahukan. Tapi sepertinya rencananya jahatnya tidak berpihak ke Fazar. Karena mobil yang sengaja Kevin sebotase malah dinaiki oleh Fadil bukan Fazar, dan membuat yang kecelakaan adalah Fadil bukan Fazar.
Sebenarnya Kevin bingung. Bagaimana bisa mereka mengetahui kalau dirinya adalah penjahat sebenarnya? sedangkan Fadil yang mengetahui siapa sebenarnya ia sudah meninggal?
.
.
Fazri dan Abidzar mondar-mandir di ruangan IGD, untuk menunggu kabar dari dokter tentang kondisi Fazar sekarang. Bahkan kedua pemuda itu mengabaikan tatapan dari orang-orang yang berada di rumah sakit, yang dari tadi menatap mereka. Dari mereka masuk, sampai sekarang orang-orang masih saja memperhatikan mereka.
Mereka memang terlihat tampan, tapi bukan ketampanan mereka, yang membuat orang-orang menatap kearah mereka. melainkan pistol yang berada di pinggang Fazri.
__ADS_1
Bahkan security yang berjaga disana tidak berani mendekati keduanya dan memilih menelfon polisi.
...----------------...