
Kesabaranku membawa cinta
Fazar, Wiyah Harum dan Fazri melangkah memasuki rumah sakit dengan bersamaan. Terlihat kalau orang-orang disana menatap kearah mereka.
Fazar merangkul pinggang istrinya dengan posesif, tanpa melepaskannya sama sekali. Orang-orang yang berada di rumah sakit itu, banyak yang membicarakan Fazar. Karena mereka banyak yang kagum dengannya, apalagi melihat Fazar yang begitu sangat menyayangi istrinya.
" Sudah tampan, sayang lagi sama istrinya." Ucap wanita menatap kearah Fazar dan Wiyah, sambil berbisik kearah wanita disampingnya.
" Benat benget, pasti istrinya begitu sangat beruntung memiliki suami, sepertinya." Sambung wanita itu yang sama-sama menatap kearah Fazar.
" Jadi pengen nikah lagi."
" Jangan ngomong aneh-aneh deh, ingat kamu sudah memiliki dua orang anak, dan sebentar lagi mau tiga." Ucap wanita itu yang mengingatkan wanita disebelahnya, Yang ternyata sedang mengandung.
" Iya, aku tau." Jawab wanita itu sambil membuang mukanya kearah lain.
Bukan saja Fazar dan Wiyah, yang menjadi pusat perhatian. Tapi Fazri dan Harum juga, ikut menjadi pusat perhatian dari orang-orang disana.
Karena remaja laki-laki itu seperti memiliki sesuatu yang menarik, makanya setiap orang yang melihatnya pasti akan menyukainya, saat melihatnya.
" Kenapa kepalanya ditundukkan." Tanya Fazri menoleh kearah Harum. Terlihat gadis kecil itu menundukkan kepalanya karena takut dengan orang-orang sekitarnya, yang sedang menatap kearah mereka." Apa Naila takut." Tanya Fazri lembut, sambil menggenggam tangan kecil itu.
Saat Fazri menggenggam tangan kecil itu, harum menoleh kearah Fazri." Iya kak, aku takut dengan tatapan mereka." Jawab Harum jujur membenarkan pertanyaan Fazri barusan.
Ya, Harum belum sepenuhnya sembuh. Karena itulah, dia akan merasa takut saat keluar seperti sekarang. Sebenarnya Harum tidak ingin keluar dari rumah, dan memilih untuk duduk di rumah saja. Tapi Wiyah meminta gadis kecil itu, untuk terbiasa dengan dunia luar. Agar ketakutannya bisa stabil, jika dia mau berkomunikasi dengan dunia luar, dan juga orang sekitarnya.
" Ngga usah takut Naila. Karena mereka bukanlah orang-orang jahat yang akan menyakiti kita. Walaupun mereka akan menyakiti kita, pasti mereka tidak akan berani, karena mereka takut sama bang Fazar." Ucap Fazri mencoba menenangkan gadis kecil disebelahnya itu.
" Emangnya kenapa orang-orang takut sama om tampan." Tanya Harum dengan polosnya, membuat Fazri tersenyum gemas.
Harum memanggil Fazar dengan panggilan om tampan, karena terikut dari 2R, yang sering sekali memanggil Fazar dengan panggilan om tampan.
" Karena bang Fazar, akan galak kalau ada orang yang akan menyakiti keluarganya."
" Benarkah itu kak." Fazri hanya mengangguk mengiyakan mendengar pertanyaan gadis kecil itu." Tapi Naila jangan takut sama Abang. Karena Abang tidak akan galak kalau dengan orang yang baik." Jelas Fazri kembali, membuat Harum menganggukkan kepalanya tanda kalau dia mengerti.
Tidak berselang lama, Fazar dan Wiyah sudah sampai didepan ruangan dokter kandungan.
" Selamat pagi nyonya, tuan. Dokter Amanda sudah menunggu nyonya dan tuan didalam." Ucap perawat itu dengan ramah, menyambut kedatangan Fazar dan Wiyah.
Wiyah tidak perlu mengantri lagi seperti wanita hamil lainnya, karena Fazar sudah mengabari dokter kandungan dari awal, kalau istrinya akan pergi memeriksa kandungan. Maka dari itu mereka akan masuk duluan dan tidak perlu mengantri lagi.
" Baik sus, kami akan masuk. Tapi saya mau berbicara dengan adik saya dulu, barulah saya masuk kedalam." Ucap Fazar, membuat perawat itu mengganggu mengerti setelah itu perawat wanita itu kembali masuk kedalam ruangan dokter kandungan.
__ADS_1
Fazar beralih menatap kearah adiknya, dan juga Harum." Kalian mau tunggu disini, atau pergi keruangan dokter Melisenda." Tanya Fazar.
Kebetulan dokter Melisenda, menjadi dokter di rumah sakit itu, jadi Harum bisa pulang balik untuk terapi, atau dokter Melisenda sendiri yang datang untuk menemui Harum langsung di rumah Fazar.
" Kami keruangan dokter Melisenda aja bang, sekalian Naila juga yang mau di terapi. Nanti kalau Abang dan kak Wiyah sudah selesai periksa kandungannya, bang Fazar dan kak Wiyah bisa nyusul di ruangan dokter Melisenda."
" Baiklah kalau gitu. Jangan lupa Harumnya di jagain."
" Itu pasti dong bang." Jawab Fazri sambil tersenyum.
" Harum sama kak Fazri pergi duluan. Nanti Kak Wiyah nyusul ke ruangannya dokter Melisenda."
" Iya kak."
" Bagus anak pintar." Ucap Wiyah sambil mengusap kepala harum yang tertutup oleh hijabnya.
.
.
Perawat wanita mengoleskan jel di perut Wiyah, setelah itu dokter wanita menempelkan sebuah alat di perut Wiyah. Karena mereka akan melakukan USG, untuk melihat perkembangan janin yang di kandung oleh Wiyah.
" Anda bisa lihat nyonya, tuan. Itu adalah gambar janin didalam kandungan istri anda tuan."
Fazar yang begitu sangat terharu melihat janin dalam kandungannya istrinya, membuat matanya sampai berkaca-kaca karena merasa terharu. Sama halnya seperti Wiyah, yang merasa terharu melihat janin dalam kandungannya yang semakin bertubuh besar.
Fazar menggenggam tangan itu dengan lembut, untuk menyalurkan kebahagiaannya sekarang Sedangkan pandangannya terus tertuju kearah Layar monitor.
" Usia janin 16 minggu, Selama 16 minggu perkembangannya, janin di dalam rahim akan mulai membentuk ekspresi wajah, dan sistem sarafnya akan tumbuh. Berat janin kira-kira mencapai 2 setengah ons, dan mungkin sesekali ibu sudah mulai merasakan gerakan janin."
" Berat janin usia 16 minggu semakin bertambah. Kini, bobot si kecil berkisar 0.09-0.11 kilogram (kg) dengan panjang 10-13 sentimeter (cm). Bentuk janin 16 minggu di dalam rahim sebesar buah alpukat.
Hamil 16 minggu mungkin mulai merasakan hilangnya gejala kehamilan awal dan muncul gerakan pertama janin. Namun, fase kehamilan ini juga membuat ibu rentan mengalami sakit kepala dan gusi bengkak. Hamil 16 minggu adalah kehamilan trimester kedua. Biasanya, tonjolan perut sudah mulai terlihat jelas. Tapi karena nyonya mengandung tiga janin sekaligus, makanya perut nyonya lebih besar dari perut ibu hamil lainnya." Jelas dokter itu kembali sambil tersenyum.
Setelah menjelaskan beberapa hal, kini perawat wanita itu menghapus jel di perut Wiyah. Setelah itu Wiyah turun dari Brankar dengan dibantu oleh Fazar.
" Untuk bunda dan kandungannya, baik-baik saja, dalam pertumbuhannya tuan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi tuan harus terus menjaga pola makan nyonya dan selalu meminum susu, dan juga vitaminnya." Jelas dokter itu kembali."
" Tapi dok, istri saya sering merasakan keram pada perutnya. Apakah itu tidak apa-apa."
" Meski umum terjadi, kram perut saat hamil tetap perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda adanya gangguan serius. Selama kehamilan, rahim akan terus berkembang sehingga menyebabkan ligamen dan otot yang menopang rahim menjadi tegang. Hal inilah yang dapat menimbulkan kram perut saat hamil muda. Terjadi kram pada ibu hamil, itu karena faktor stress atau kurang minum air putih. Cara Mengatasi Kram pada perut ibu hamil, nyonya bisa konsumsi air putih yang cukup, karena kram perut bisa menjadi tanda Bumil mengalami dehidrasi. Gerakkan tubuh atau lakukan olahraga ringan bila kram perut saat hamil terjadi akibat gas berlebih di saluran cerna, dan nyonya juga jangan sampai stres." Dokter itu kembali.
__ADS_1
Dokter kembali menjelaskan beberapa hal dari pertanyaan Fazar. Karena disini Fazar yang lebih banyak bertanya, ketimbang Wiyah, yang lebih banyak mendengarkan.
Ruangan lainnya.
Harum sedang duduk di sebuah sofa tunggal, sambil memejamkan matanya. Karena gadis kecil itu sedang melakukan terapi bersama dengan dokter Melisenda.
Sedangkan Fazri hanya menunggu, dan tidak mendengar apa yang terjadi didalam. Karena harum tidak mau kalau dia di terapi ada Fazri disana.
" Semoga saja Naila baik-baik saja." Gumam Fazri, yang merasa khawatir. Padahal dia tau kalau Harum akan baik-baik saja didalam ruangan dokter Melisenda.
Didalam ruangan dokter Melisenda.
Dokter Melisenda yang mendengar cerita dari gadis kecil, yang memiliki bola mata seperti adiknya itu merasa sedih. Karena mendengar cerita Harum yang begitu sangat menyedihkan. Padahal sudah banyak cerita yang Harum ceritakan, dengan versi yang berbeda-beda. Tapi semua kisah Harum sedih semua, walaupun dia bahagia itupun jika dia bersama dengan keluarga Fazar, dan Haidar.
" Ya Allah, begitu sangat keras kehidupan gadis kecil ini, sampai semua ketakutan yang dia alami dan ibunya alami adalah hal yang menyakitkan." Lirih dokter Melisenda sambil mengusap air matanya.
Mungkin banyak pasien yang pernah dia tangani dengan trauma yang berbeda-beda. Tapi berbeda dengan Harum. Yang memiliki cerita yang berhasil membuat dadanya sakit, bahkan menangis seperti sekarang saat mendengar ceritanya. Apalagi melihat mata indah itu menangis membuat dokter Melisenda semakin sedih. Entah kenapa, tapi dokter Melisenda merasakan sesuatu yang aneh.
.
.
" Untuk terapi hari ini kita hentikan sampai disini, nanti dua minggu lagi Harum kesini lagi." Ucap dokter Melisenda begitu sangat lembut menatap Harum sambil mengusap jilbabnya.
" Kenapa ngga satu Minggu sekali dokter Melisenda seperti kemarin." Tanya Fazri mendengar perubahan jadwal tetapi Harum, yang biasanya satu Minggu sekali, kini berubah menjadi dua minggu sekali.
" Alhamdulillah kondisi psikis harum sudah lebih baik, maka dari itu dokter memberikan waktu sedikit lama, agar Harum bisa mengontrol emosi sendiri tanpa bantuan orang lain."
" Jadi Naila akan sembuh gitu dok."
" Mungkin seperti itu tuan Fazri."
" Alhamdulillah Naila, sebentar lagi kamu akan sembuh dari trauma mu." Ucap Fazri bahagia.
" Artinya aku bisa sekolah lagi kak." Tanya Harum.
" Tentu Naila, sebentar lagi kamu akan sekolah."
" Benarkah. Asik, harum mau sekolah lagi." Ucap Harum semakin bahagia setelah mendengar jawaban dari Fazri." Aku ngga sabar mau sekolah lagi." Ucapannya dengan antusias, membuat Fazri dan dokter Melisenda yang melihat itu, ikut tersenyum.
Mereka ikut bahagia dengan kebahagiaan Harum. Bagaimanapun, gadis kecil itu butuh kebahagiaan di usianya sekarang.
...----------------...
__ADS_1