
Satu jam melakukan perjalanan untuk sampai di rumah sakit dimana Fadil dirawat. Akhirnya Fazar bersama dengan Wiyah sampai di rumah sakit yang mereka tuju.
Fazar menatap istrinya yang masih setia tidur bersandar di bahunya, karena Fazar sengaja memindahkan posisi Wiyah agar lebih tenang saat Wiyah sedang tidur.
Sebenarnya Fazar tidak tega membawa Wiyah untuk ikut kerumah sakit bersamanya, karena Fazar akan mengantarkan Wiyah ke apartemen nya terlebih dahulu, barulah ia akan menemuinya Fadil. Tapi Wiyah sendiri yang memaksa untuk ikut.
Wiyah mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan bunda Sisi, dan juga ingin melihat bagaimana dengan kondisi Fadil sekarang.
" Ternyata kamu begitu senang untuk tidur saat dalam perjalanan jauh seperti ini. Padahal tadi di pesawat kamu lebih banyak memejamkan mata ketimbang bangun." Gumam Fazar merasa heran dengan istrinya itu yang begitu sangat suka tidur saat dalam perjalanan jauh." Sepertinya aku harus memanggilmu siput karena kamu lebih senang tidur." Ucap Fazar dengan senyumannya
" Wiyah bangun kita sudah sampai di rumah sakit." Ucap Fazar membangunkan Wiyah yang masih setia dengan tidurnya.
" Wiyah bangun." Fazar mencolek pipi tembem Wiyah mencoba untuk membangunkan istrinya itu.
Sedangkan Wiyah yang merasa terusik karena pipi nya seperti ada yang sentuh membuka matanya perlahan-lahan, dsn hal pertama yang Wiyah lihat adalah isi mobil dalam mobil. Wiyah yang belum benar-benar sadar belum menyadari kalau mereka sudah sampai di rumah sakit.
__ADS_1
" Kamu sudah bangun." Tanya Fazar membuat Wiyah yang tadi menatap kearah lain menolah menatap kearah Fazar, dan Wiyah bisa melihat wajah suaminya itu.
" Apa kamu sudah bangun atau belum." Tanya Fazar mengulang pertanyaannya kembali.
Wiyah yang sadar akan pertanyaan Fazar langsung menjauhkan sedikit tubuhnya dari Fazar karena Wiyah sadar kalau ia terlalu dekat dengan suaminya itu.
" Apa kita sudah sampai di rumah sakit tuan." Wiyah tidak menjawab pertanyaannya dari Fazar malahan ia bertanya balik kepada Fazar karena sekarang Wiyah merasa begitu sangat gugup.
" Iya kita sudah sampai." Jawab Fazar." Apa kamu mau ikut masuk kedalam atau tunggu didalam mobil." Tanya Fazar balik.
" Hmm, aku ikut masuk kedalam aja tuan, aku tidak mau sendiri di parkiran rumah sakit." Jawab Wiyah dengan cepat.
" Tidak." Jawab Wiyah singkat." Kalau gitu ayo kita masuk kedalam tuan, jika tidak nanti malah kelamaan." Ucap Wiyah mengalihkan pembicaraan mereka tadi.
" Aku sampai melupakan hal itu." Jawab Fazar.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺
Wiyah, Fazar dan Zain melangkah melewati satu persatu rungan yang lumayan mewah. untuk pergi keruangan rawat Fadil, karena Fazar sendiri yang memasangkan rungan khusus untuk Fadil saat di rawat, agar adiknya itu tetap merasa nyaman walaupun dia berada di rumah sakit.
Sesampainya di depan pintu ruangan rawat Fadil. Fazar menatap sekertarisnya itu memintanya untuk menunggu di luar, karena Fazar ingin berbicara bertiga bersama dengan bunda, dan juga Istrinya.
Wiyah dan Fazar masuk kedalam ruangan rawat Fadil. Saat keduanya masuk, Fazar dan Wiyah sudah di sambut oleh suara bisingnya suara alat alat rumah sakit yang membantu kehidupan Fadil.
Fazar bisa melihat kalau ada dua orang di sana. Yang sedang duduk di kursi, dan Fazar masih bisa mendengar sebuah setiap lantunan ayat-ayat Alquran yang membuat ruangan itu sedikit lebih tenang.
Fazar beralih menatap kearah kasur yang terdapat seseorang yang sedang terbaring lemah dengan tubuh yang sudah di penuhi oleh alat-alat rumah sakit. Fazar yang melihat itu hampir saja menetaskan air matanya, tapi berusaha untuk Fazar tahan karena ia tidak boleh terlihat lemah sekarang.
Sedangkan Wiyah sama sedihnya sama seperti Fazar saat melihat kondisi Fadil
" Bunda."
__ADS_1
...----------------...
Sebentar lagi kita akan memasuki konflik ringan.