
Disisi lain. Tepatnya di kantor polisi.
Fadil sedang bersiap-siap, karena hari ini adalah hari persidangan untuknya.
" Jangan gugup Fadil, semuanya pasti akan selesai dan kamu tidak dinyatakan bersalah didalam kasus ini." Ucap Liando menyemangati Fadil, yang dari tadi banyak diam.
Fadil menatap Liando." Aku tidak gugup Liando, karena aku yakin aku tidak bersalah dalam permasalahan ini. Tapi yang sekarang aku pikirkan, bagaimana Aldrich dan tuan Aron akan hancur hari ini. Karena aku yakin, kalau abang akan melakukan sesuatu untuk membuat hukum berkerja, dan menangkap yang bersalah sebenarnya." Jelas Fadil.
" Fazar tidak akan diam, jika sudah menyangkut pautkan keluarganya. Ya seperti hari ini, dia akan melakukan apapun untuk menjatuhkan musuhnya. Entah apa yang sekarang dia rencanakan."
" Mungkin saja akan ada kejutan di pengadilan nanti."
" Kamu benar sekali Fadil, mungkin di pengadilan nanti akan ada kejutan besar untuk tuan Aron."
Setelah keduanya berbincang-bincang sedikit. Kini Fadil di bawah oleh polisi lain, untuk pergi kekantor pengadilan bersama dengan Liando.
" Entah apa yang sekarang Abang rencanakan dalam persidangan nanti. Tapi aku yakin, kalau tuan Aron dan Aldrich, tidak akan menang dalam persidangan ini. Seperti Aldrich memenangkan kasusnya yang kemarin." Batin Fadil tersenyum.
.
.
Fina duduk di kasur, sambil menetralkan perasaannya, karena dari tadi malam Fina tidak tenang. Ia takut untuk menghadapi Aldrich kembali setelah kejadian kemarin, dimana ia hampir di per**sa.
" Jangan takut Fin, karena orang seperti Aldrich tidak pantas untuk ditakuti. Kamu harus berani untuk melawan orang seperti Aldrich." Gumam Fina menyakinkan dirinya." Orang seperti Aldrich, sangat pantas untuk masuk kedalam jeruji besi. Untuk mempertanggung jawabkan kejahatan yang selama ini dia perbuat."
Setelah menyakinkan dirinya. Fina berdiri dari duduknya, lalu melangkah keluar.
" Mau kemana Fin. Bukannya kemarin kamu bilang, kalau kamu kuliah online untuk beberapa hari. Soalnya dosen yang mengajar di kelas mu, lagi pergi ke luar kota." Tanya mama Fina, saat melihat Fina yang sudah tampil cantik mengunakan gamis berwarna hitam dan juga jilbab segiempat empat yang berwarna pink Salem.
" Aku ngga pergi kuliah ma, aku cuman mau keluar sebentar. Soalnya aku mau ketemu sama teman, ma." Ucap Fina beralasan, karena ia belum memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Apa yang sudah terjadi kepada dirinya beberapa hari yang lalu. Fina sengaja menyembunyikan kejadian itu, Karena ia tidak mau membuat kedua orang tuanya kepikiran karena dirinya.
" Hmm, mama kira kamu mau kemana." Ucap mama Fina mengangguk-anggukan kepalanya, tanda kalau mama Fina mengerti mendengar penjelasan dari putri keduanya itu.
" Kalau gitu, aku pergi ya ma."
" Iya Fin, hati-hati."
Fina mencium punggung tangan mamanya. Setelah itu ia melangkah keluar.
Saat Fina melangkah keluar dari rumahnya, tiba-tiba saja, adiknya Anita sdatang menghampirinya. Kebetulan gadis itu tidak sekolah hari ini, karena Anita sedang libur.
" Kak, didepan ada orang yang mencari kakak."
Fina mengerutkan keningnya, saat mendengar ucapan dari adiknya itu." Siapa nit, orang yang cari kakak."
" Ngga tau juga kak. Mending kakak temui aja orangnya, mungkin saja penting."
" Siapa orang yang ingin menemuiku. Apa orang itu orang suruhan dari ayah nya Aldrich." Batin Fina, berpikir siapa oran yang mencarinya.
" Kenapa diam kak." Tanya Anita sambil melambaikan tangannya di depan wajah Fina.
Fina tersadar dari lamunannya, saat melihat Anita melambaikan tangannya didepan wajahnya.
" Hmmm ngga ada nit." Jawab Fina." Kalau gitu kakak temui dulu orang yang tadi mencari kakak tadi, sekalian kakak mau kerumah temannya kakak."
" Iya kak. Hati-hati."
" Iya nit." Setelah berpamitan kepada adiknya Anita. Fina melangkah kearah luar, untuk bertemu dengan orang yang mencarinya tadi.
Saat Fina sudah berada di samping mobil orang itu. Fina bisa melihat, kalau ada seorang pria muda yang sedang bersandar di mobil.
" Assalamualaikum, Selamat pagi tuan. Apa anda mencari saya tadi." Sapa Fina sopan.
" Eh, mbak Fina. Selamat pagi juga." Jawab pria itu sambil tersenyum.
Fina tampak mengerutkan keningnya, saat mendengar namanya disebut. Ternyata pria itu mengenalnya.
" Saya orang suruhan Fazar, mbak." Ucap pria itu saat melihat kebingungan di wajah Fina. Pria itu tau, kalau Fina pasti bertanya-tanya siapa dirinya, dan kenapa dia bisa mengetahui namanya." Perkenalkan, nama saya, Rido." Ucap pria itu mengenalkan dirinya. Yang ternyata adalah Rido.
Fina mengangguk-anggukan kepalanya, saat mendengar nama pria itu.
" Mbak tidak perlu takut kepada saya. Karena saya datang kesini, langsung di perintahkan oleh tuan Fazar untuk menjemput anda, dan mengantarkan mbak di kantor pengadilan. Tuan Fazar juga meminta anda untuk menunggunya sebentar, karena tuan Fazar sedang mengantarkan istrinya ke kampus." Jelas Zain.
" Hmmm, Aku mengerti tuan. Tapi, seharusnya tuan Fazar tidak perlu repot-repot melakukan ini, karena saya bisa pergi sendiri ke sana."
" Tidak apa-apa mbak Fina. Tuan Fazar hanya takut terjadi sesuatu pada anda, apalagi tuan Aron sampai sekarang sedang mencari anda." Jawab Rido.
" Begitu sangat baik anda tuan Fazar, sampai mau melindungi saya hanya, karena anda tidak ingin terjadi sesuatu dengan saya." Batin Fina.
" Terimakasih tuan Zain. Saya jadi bingung ingin membalasnya mengunakan apa atas kebaikan dari tuan Fazar dan tuan."
__ADS_1
" Aku ataupun tuan Fazar tidak menginginkan balasan mbak. Karena kami seharusnya berterimakasih kepada mbak, karena sudah mau menjadi saksi untuk Fadil, di pengadilan nanti."
" Tidak seperti itu tuan, saya hanya merasa tidak pantas di perlakukan seperti ini."
" Jangan berkata seperti itu mbak, karena anda sangat pantas di perlakukan seperti ini. Apalagi anda adalah orang baik." Jawab Rido tersenyum." Kalau gitu mari mbak, takut kita terlambat nanti."
" Eh, iya. Mari."
Rido masuk kedalam mobilnya. Lalu di susul oleh Fina yang duduk di belakang.
Rido tidak protes melihat Fina yang duduk di belakang. Karena dia tau, seperti apa gadis yang duduk di belakangnya itu.
Rido menjalankan mobilnya, setelah melihat Fina sudah duduk dengan nyaman.
" Maaf mbak. Mbak sama Fadil sudah berteman berapa lama." Tanya Rido membuka suara didalam keheningan dalam mobil itu, karena Fina hanya diam dari tadi.
" Sudah lumayan lama tuan."
" Jangan di panggil tuan, mbak. Aku merasa itu terlalu tua. Lebih baik mbak panggil saya Rido aja. Atau kalau Mbak mau, mbak bisa panggil saya dengan panggilan sayang." Canda Rido, agar mobil itu tidak terlalu hening." Jangan di anggap serius mbak, tadi saya hanya bercanda."
" Iya tuan tidak apa-apa."
" Kenapa masih di panggil tuan. Panggil aja Rido."
" Tapi tuan, tidak baik kalau orang yang lebih tua dari kita, di panggil nama aja. Bagaimana kalau saya panggil tuan dengan panggilan kak Rido."
" Boleh juga mbak. Panggilan yang bagus. Mungkin suatu saat nanti mbak bisa panggil saya dengan panggilan suamiku." Rido terkekeh, saat mengatakan hal itu.
" Kak Rido bisa saja." Jawab Fina tersenyum." Kalau gitu kak Rido, juga jangan panggil saya mbak. Tapi panggil saja dengan aja."
" Oke, kalau gitu. Saya bisa memanggil mbak dengan panggilan istriku Fina, bagaimana mbak." Canda Rido kembali." Jangan marah Fin, aku cuman bercanda Fin."
Sedangkan Fina hanya mengangguk, saat mendengar Rido meminta maaf.
" Fin, apa kamu juga sahabat dari kak Wiyah."
" Iya kak, Wiyah adalah sahabat saya dari saya masih kecil."
" Kalian ternyata dekat banget ya."
" Iya kak, Alhamdulillah kami dekat banget, mungkin sudah seperti saudara sendiri."
Rido hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan dari Fina.
🌾🌾🌾🌾🌾
Setelah sarapan pagi bersama dengan keluarga Haidar, dan juga mertuanya. Kini Fazar mengantarkan istrinya pergi ke kampus.
" Sayang, mau makan sesuatu." Tanya Fazar yang sesekali melirik kearah istrinya, karena sekarang dia sedang menyetir.
" Ngga ada kak."
" Apa anak-anak Abi ngga kepingin makan sesuatu, seperti beberapa hari yang lalu pas Abi lagi keluar negeri."
Tanya Fazar sambil mengusap perut istrinya mengunakan tangan yang satunya, sedangkan tangan yang sebelahnya sedang memegang setir.
Fazar merasa cemburu, karena selama ia pergi keluar negeri. Istrinya itu sering sekali mengidam, dan kedua adiknya yang selalu mencarikan keinginan istrinya itu. Karena ia masih berada di luar negeri.
Tapi disaat dia sudah kembali, istrinya itu malah tidak mengidam sesuatu, bahkan tidak menyuruhnya untuk mencari hal-hal yang unik. Padahal dia menantikan momen-momen mengidam nya sang istri ini.
" Mungkin mereka lagi ngga kepingin apa-apa kak, karena mereka tau kalau Abi nya sedang ada urusan penting." Jelas Wiyah mengusap lembut tangan suaminya itu." Nanti, kalau mereka kepingin apa-apa lagi. Aku kasih tau kakak."
Wiyah tau, kalau suaminya itu merasa cemburu dengan kedua adiknya. Apalagi selama dia pergi keluar negeri, adiknya lah yang selalu meladeni ngidamnya seperti kemarin. Sampai-sampai tangan Fazri keseleo karena jatuh.
Wiyah tau, kalau suaminya itu, menginginkan dirinya mengidam aneh-aneh lagi dan suaminya itu yang akan mencarikannya langsung untuknya.
" Mungkin seperti itu sayang. Dek, nanti kalau kalau kalian kepingin sesuatu, jangan minta ke yang lain ya. Tapi minta nya langsung ke Abi.
" Iya Abi." Jawab Wiyah sambil menyerupai suara anak kecil.
Sedangkan Fazar hanya tersenyum, mendengar ucapan sang istri.
Tidak berselang lama mobil Fazar sudah berada didepan kampus sang istri.
" Mau kakak antar sampai didalam sayang." Tanya Fazar sambil menatap istrinya itu.
" Ngga usah kak, sampai disini aja. Nanti kakak malah telat lagi, kalau antar aku sampai kedalaman."
" Baiklah sayang. Tapi kalau nanti sayang ada yang cari, biarpun itu orang kenalan sayang. Sayang jangan temui ya, takutnya mereka orang jahat. Sayang tetap di kampus sampai kakak yang jemput."
" Iya kak, aku akan ingat pesan kakak."
__ADS_1
" Bagus, istri yang pintar."
" Kalau gitu, aku masuk ya kak." Wiyah meraih tangan suaminya, lalu menciumnya. Sedangkan Fazar mencium kening istrinya bergantian di kedua pipinya.
" Hati-hati sayang, ingat jangan sampai kelelahan."
Wiyah hanya mengangguk mengiyakan, setelah itu ia turun dari mobilnya suaminya.
Setelah melihat mobil pergi meninggalkan kampusnya. Wiyah melangkah masuk kedalam.
" Wiyah." Siapa teman Wiyah, sambil melangkah kearah Wiyah.
" Hay, Yaya."
" Baru datang."
" Iya Yaya. Baru aja."
" Pasti di antar sama suaminya. Cie yang ngga jomblo lagi." Bisik Yaya sambil menggoda sahabatnya itu.
" Sst, nanti didengar sama yang lain." Ucap Wiyah. Bukan maksud Wiyah ingin menyembunyikan pernikahannya, hanya saja Wiyah tidak ingin suaminya marah jika ia duluan mengakui kalau dirinya sudah menikah kepada orang-orang. makanya Wiyah masih menyembunyikan identitas aslinya, sampai suaminya sendiri yang memberitahukan kepada orang-orang kalau mereka sudah menikah.
" Biar aja, biar mereka dengar kalau kamu sebenarnya sudah menikah. Biar mereka tidak mengatakan kamu yang tidak-tidak."
" Biarkan saja Yaya. Mereka mengatakan seperti itu. Jika mereka cepek mengatakan nya terus, pasti mereka akan diam."
" Tapi Wiyah, apakah kamu tidak capek mendengar mereka mengatakan itu-itu saja.
" Insya allah tidak Yaya." Jawab Wiyah tersenyum." Daripada kita membahas mereka terus, lebih baik kita masuk kedalam, takut nanti kita telat.
" Iya Wiyah."
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Sesampainya didepan kantor pengadilan. Fazar segera memarkirkan mobilnya. Setelah itu ia turun.
Didepan parkiran, Fazar bisa melihat kalau sekertarisnya Zain, ternyata sudah menunggunya.
" Ini semua bukti, yang kami dapatkan dari tuan Aron, tuan. Kalau tuan Aron sudah merekayasa bukti kejahatan Fadil, di kejadian kemarin."
" Berani sekali pria tua itu, merekayasa bukti. Agar adikku di nyatakan bersalah." Geram Fazar.
" Tuan Aron juga, banyak merekayasa bukti lain tuan."
" Apa itu."
" Tuan Aron membuat, tuan Fadil dan nona Fina seakan-akan memiliki hubungan terlarang tuan. Ini foto dan videonya."
Fazar menonton video itu. Langsung membuang wajahnya, saat melihat video menjijikkan itu." Berani sekali pria itu. Merusak nama baik adikku dengan merekayasa bukti itu. Tunggu permainanku tuan Aron, aku yang akan membuat anda di permalukan di pengadilan nanti."
.
.
Fazar masuk kedalam kantor pengadilan. Dan disana ia bisa melihat, kalau Fina dan Rido sudah menunggu disana.
" Maaf, aku sudah membuat kalian menunggu saya terlalu lama."
" Tidak apa bang, kami baru aja datang tadi. Iya kan Fin."
" Iya kak Fazar. Kami baru aja datang tadi."
" Syukurlah. Kalau gitu ayo masuk, pasti mereka sudah menunggu kita."
Mereka berempat memutuskan untuk masuk kedalam, tapi mereka tidak sengaja berpapasan dengan tuan Aron dan juga Nadila.
" Aku akan membuat adikmu tidak akan keluar dari penjara Fazar." Ucap tuan Aron sambil tersenyum bangga.
" Silahkan tuan Aron, saya tidak akan takut." Jawab Fazar tersenyum miring." Kita tunggu saja didalam nanti, siapakah yang sebenarnya penjahat dan siapa bukan."
Fina yang mendengar ucapan dari Fazar, seketika menjadi takut sendiri. Ternyata Fazar yang dingin dan baik. Ternyata memiliki suara yang menyeramkan saat berdekatan dengan musuhnya.
Fina beralih menatap kearah tuan Aron." Ternyata pria ini, adalah ayah dari Aldrich." Batin Fina yang bisa melihat dengan seperti apa rupa dari tuan Aron seven.
" Tuan Aron. Saya sampai melupakan sesuatu." Ucap Fazar menatap kearah Nadila yang hanya tersenyum kecut." Tolong pakaikan pakaian yang layak untuk kekasih anda, karena kekasih anda terlihat seperti orang yang tidak mengunakan pakaian sama sekali."
Nadila langsung mengepalkan tangannya, saat mendengar hinaan dari Fazar.
" Berani sekali." Sebelum Nadila mengomel, Fazar dan yang lainnya sudah pergi meninggalkan Nadila dan tuan Aron yang hanya bisa mengepalkan tangannya.
...----------------...
__ADS_1
Maaf author baru bisa update, soalnya author lagi ngga enak badan beberapa hari ini.