
Kesabaranku membawa cinta
Mendengar ucapan Rido, semakin membuat Anita kesel sendiri. Pasalnya, dia harus menjadi asisten pribadi Rido selam satu tahun. Sebenarnya Anita tidak mau, tapi Rido mengancamnya mengunakan videonya, dimana dirinya memukul Rido waktu itu.
" Dasar om-om suka cari kesempatan." Bantin Anita mendengus kesel.
" Jangan mengerutu dalam hati, aku masih bisa mendengarnya." Ucap Rido yang seperti tau, kalau Anita sedang mengerutu.
" Siap juga yang mengerutu. Kepedean benget sih, jadi om-om." Jawab Anita.
" Sudahlah, lupakan itu. Sekarang kamu bantu aku untuk menyiapkan beberapa hal penting untuk acara ini."
" Baiklah, apa yang kita akan lakukan." Rido mulai menjelaskan dan Anita hanya mendengarkannya dengan malas.
" Dicatat baik-baik, aku tidak suka kalau sampai ada yang salah ataupun ketinggalan."
" Iyaa, aku sudah mencatatnya dengan baik koh, ngga bakalan ada yang salah ataupun ketinggalan." Jawab Anita ketus.
" Cak, gadis bodoh kayak kamu, pasti bisa melakukan kesalahan." Ucap Rido sambil melangkah meninggalkan Anita.
" Apa... Astaga, om-om itu membuat kepalaku terasa pusing. Rasanya aku ingin melempar nya keluar dari rumah ini." Ucap Anita kesal. Walaupun marah bercampur kesal dengan Rido, tapi Anita tetap menuruti perintah pria itu dengan mengikuti langkahnya.
.
.
Setelah akad, dan melakukan sungkeman kepada orang tua mereka masing-masing. Kini Fina dan Fadil sedang berdiri sambil menerima tamu yang datang di acara mereka. Walaupun nanti baru acara resepsi, tapi tamu yang datang di acara akad itu tetaplah banyak, karena kebanyakan yang datang adalah keluarga Fina. Sedangkan Wiyah dan Fazar.
Mereka ada urusan keluarga sebentar makanya mereka meninggalkan tempat itu. Tapi kalau sudah selesai maka mereka akan kembali bergabung di acara itu kembali.
" Selamat atas pernikahan mu Dil. Aku ngga nyangka kalau kamu akan sampai di momen ini." Ucap dokter Faris sambil memeluk mantan pasien nya itu.
__ADS_1
" Terimakasih Ris. Karena kamu sudah menyempatkan waktu untuk datang di pernikahan ku, padahal tugas mu sebagai dokter sangatlah banyak." Ucap Fadil sambil tersenyum." Terimakasih Ris, karena selama empat tahun kamu membantuku untuk tetap berjuang melawan penyakiku."
" Jangan pernah berterimakasih kepada ku Dil. Karena Allah yang telah mengatur semuanya. Kami sebagai dokter hanya mencoba untuk membantu menyembuhkan orang-orang yang sakit, dan selebihnya kami menyerahkan nya kepada yang diatas." Jawab Faris tersenyum lalu menepuk bahu Fadil." Aku doakan semoga pernikahan kalian selalu sakinah mawadah warahmah, dan cepat-cepat mendapatkan momongan, biar Tante Sisi dapat cucu dari kamu lagi."
Fadil hanya tersenyum mendengar ucapan dokter Faris. Karena dia sendiri tidak sabar untuk hal itu." Aminn, makasih doanya, Ris. Insyaallah satu bulan lagi langsung ada, soalnya nanti malam baru mau Otw." Ucap Fadil sambil terkekeh, sedangkan Fina menatap Fadil dengan tatapan tidak percaya kalau Fadil mengatakan hal itu depan orang. Untung hanya ada dokter Faris, kalau ngga mungkin ucapan amburadul suaminya itu akan didengar oleh orang-orang. Karena Fadil mengatakannya dengan suara yang lumayan nyaring.
Faris ikut terkekeh mendengar ucapan Fadil. Walaupun dia belum menikah tapi dia tau apa yang dimaksud oleh mantan pasien nya itu. Bagaimanapun dia pria dewasa, dan dia tentu tau apa itu malam pertama.
" Kalau gitu semoga berhasil." Ucap Faris sambil terkekeh kecil. Setelah mengucapkan selamat kepada kedua pengantin itu, dokter Faris melangkah meninggalkan pengantin baru itu.
" Beb, kenapa natap nya gitu amat. Aku kan jadi takut." Ucap Fadil bergedik ngeri melihat tatapan istrinya itu, yang terlihat menyeramkan.
" Kamu menyebalkan kak, masa ngomong gitu sama orang tanpa tau malu. Aku sendiri yang mendengarnya merasa malu." Jawab Fina.
" Tapi Beb, bukannya kenyataan memang gitu. Dedek bayi baru mau Otw." Ucap Fadil memasang wajah tampan rasa bersalahnya.
" Astaghfirullah. Pokoknya kalau sampai kakak ngomongnya yang aneh lagi. Kakak tidur diluar." Ancam Fina.
" Astaghfirullah Beb, belum juga malam pertama masa aku di suruh tidur di luar. Emangnya kamu ngga rindu sama suami ini. Apalagi kita pisah selama tiga minggu."
" Iya beb, aku ngerti. Janji deh ngga bakalan ngulangin lagi. Asalkan jangan di suruh tidur di luar." Jawab Fadil menurut." Ya ampun, baru juga nikah. Tapi aku kayak suami takut istri." Batin Fadil menatap istrinya yang kini kembali tersenyum saat melihat ada tamu yang datang menemui mereka.
Banyak yang memberikan selamat dan juga mendoakan pernikahan mereka untuk tetap langgeng sampai tuan nanti hingga maud yang memisahkan keduanya.
Kita ketempat ruangan lain. Tempatnya dimana Jambri, Jidan, Winda dan juga Haidar berkumpul bersama dengan Wiyah dan Fazar disana. Karena ada hal yang akan mereka bahas.
Keluarga itu sedang duduk di sebuah ruangan yang cukup luas. Mungkin ruangan itu bisa disebut dengan ruangan rapat, yang memang berada di rumah utama.
" Ayah. Apa yang terjadi, dan apa yang aku lewatkan." Tanya Wiyah menatap keluarganya yang hanya diam mendengar pertanyaannya." Kak, apakah kakak juga mengetahui sesuatu yang aku tidak tau." Tanya Wiyah, menatap kearah suaminya yang hanya diam tidak menjawab apa yang dia tanyakan.
Wiyah memejamkan matanya saat rasa pusing terasa di kepalanya. Apalagi dari tadi dia bingung, dengan apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
" Sayang." Fazar memegang tangan istrinya itu. Tapi dengan lembut Wiyah menepisnya. Sepertinya istrinya itu benar-benar sedang marah sekarang." Sayang, sekarang sayang istirahat dulu. Masalah ini nanti baru kita bahas."
" Aku tidak apa-apa kak. Aku juga tidak ingin menunggu lama membahas masalah ini, karena aku ingin mendengarnya langsung sekarang."
" Tapi sayang bagaimana dengan kesehatan mu. Kakak takut sayang akan sakit kalau terlalu memikirkan ini."
" Aku tidak apa-apa kak, aku baik-baik saja." Jawab Wiyah lembut tapi terdengar tegas dalam kalimatnya yang membuat Fazar langsung diam tanpa mengucapkan satu katapun.
Kini Wiyah beralih menatap kearah ayahnya, yang hanya diam sambil menundukkan kepalanya." Beberapa bulan yang lalu, ayah mengatakan kalau aku bukanlah anak ayah. Tapi kenapa tadi ayah yang menjadi wali nikahku. Bukannya ayah tidak boleh melakukan itu, karena aku adalah anak selingkuhan ibu." Tanya Wiyah. Sebenarnya Wiyah begitu sangat senang saat mendengar ayahnya menjadi wali nikah nya. Hanya saja Wiyah mengingat sesuatu, yang membuat rasa senangnya seperti hilang.
Wiyah mengingat perkataan ayah nya beberapa bulan yang lalu, kalau dirinya tidak bisa mengambil nama ayahnya, karena dia bukanlah anak dari Jambri melainkan anak selingkuhan ibunya.
Mendengar ucapan putrinya, seketika membuat Jambri meneteskan air matanya. Rasanya ada penyesalan dalam hatinya, karena baru mengetahui kebenaran ini. Padahal selama empat tahun dia mengabaikan putrinya.
" Karena ayah berhak nak." Lirih Jambri sambil terisak." Apalagi ayah adalah ayah kandungmu." Wiyah terkejut mendengar ucapan ayahnya itu.
" Apa maksud ayah."
" Ternyata selama empat tahun ini ayah telah salah paham nak, hanya karena TES DNA itu. Tes DNA empat tahun yang lalu salah nak."
" Masih ingat empat tahun yang lalu, dimana kamu memeriksa darah." Wiyah hanya diam tidak menjawab. Tapi bukan karena dia lupa, hanya saja dia tidak mau menjawab pertanyaan ayahnya itu, karena masih mau mendengar cerita selanjutnya." Hari itu ayah melakukan beberapa tes, termasuk tes DNA. Tapi setelah hasil tes itu keluar, ayah begitu sangat terkejut. Karena dalam tes itu tertulis negatif yang berarti kalau kamu bukanlah anak ayah. Hari itu ayah begitu sangat terkejut. Bahkan tidak percaya dengan hasil tesnya. Tapi dalam tes nya memang tertulis seperti itu. Rasanya ayah ingin marah, dan melampiaskan kekecewaan ayah, karena telah di bohongi selama lima belas tahun. Kalau putri kesayangan ayah ternyata bukanlah anak kandung ayah, melainkan anak orang lain."
" Hati ayah yang mana yang tidak hancur nak, saat mengetahui fakta kalau anaknya ternyata bukanlah anaknya." Ucap Jambri sambil terisak karena kembali teringat akan kejadian empat tahun yang lalu. Dimana rumah tangganya belum hancur, Hanya karena kesalahpahaman yang baru dia ketahui tadi pagi.
Sungguh Jambri sangat menyesal mengingat itu, dan Jambri ingin mengulang waktu jika bisa. Mengulang empat tahun yang lalu, dimana dia memilih bercerai seperti kemauan istrinya.
Jika dia bisa mengulang waktu. Maka Jambri akan mengulang tes DNA itu untuk memastikan apakah hasil yang dia dapatkan memang benar atau salah. Mungkin mereka tidak akan bercerai, dan anak-anaknya akan tetap berkumpul sampai sekarang.
Sungguh Wiyah yang mendengar cerita ayahnya sangat terkejut. Kalau ternyata ayahnya selama ini telah salah paham karena tes DNA itu, Sungguh Wiyah tidak percaya, tapi itu adalah kebenarannya.
Tapi yang Wiyah pertanyakan, bagaimana ayahnya bisa tau sedangkan mereka belum melakukan tes DNA kembali.
__ADS_1
...----------------...
...----------------...