
Kesabaranku membawa cinta.
Sedangkan Fina, begitu sangat terkejut saat melihat pria didepannya. Padahal tadi ia hanya memikirkan pria itu, tapi pria yang ada didalam pikiran nya tiba-tiba saja berada di depannya langsung.
" Kak Fadil, kenapa bisa ada disini." Tanya Fina, yang sampai lupa menjawab salam dari Fadil tadi, sangking terkejutnya melihat Fadil didepan kamarnya. Karena yang Fina rasakan saat ini, Sama seperti yang Fadil rasakan tadi." Maaf, maksud ku waalaikumsalam kak."
.
.
Karena tidak ingin ada fitnah di antara keduanya, apalagi keduanya berada didalam ruangan yang sama. Fina dan Fadil memutuskan turun kelantai bawah, kebetulan hotel itu terdapat kafe, dan siang ini lumayan ramai oleh pengunjung hotel itu.
Fadil melihat kearah pelayan kafe itu, yang sedang melayani tamu lainnya, lalu ia mengangkat kedua jarinya, tanda kalau ia memanggil pelayan kafe itu.
Pelayan kafe itu, tentu mengerti isyarat yang Fadil berikan kepadanya. Dengan ramah pelayan pria itu itu mendekati meja keduanya.
" Permisi tuan, nona. Tuan dan nona mau pesan apa." Ucap pelayan itu sambil memberikan buku menu di kafe itu.
Fadil tersenyum menatap kearah Fina.
" Fin, kamu pesan apa."
Fina tampak berpikir." Terserah kak Fadil aja yang mana, soalnya aku bingung mau pesan apa."
" Apakah seperti ini wanita, selalu mengatakan terserah, jika sudah bersangkutan dengan hal makanan atau hal apapun itu." Batin Fadil sambil menatap kearah Fina yang sama-sama menatap kearahnya." Mas, saya pesan. Egg Tart, sedangkan teman saya Souffle Pancake. Terus minumannya. Saya pesan Flavoured Tea, sedangkan teman saya Milk Shake."
" Baik tuan, mohon tunggu sebentar, biar kami siapakah dulu." Setelah mencatat pesanan Fadil. Pelayan itu melangkah meninggalkan meja itu, untuk menyiapkan pesan mereka.
Setelah kepergian pelayan itu, kini keduanya tampak gugup kembali.
" Bagaimana kabarmu dua minggu ini Fin." Tanya Fadil membuka obrolan.
" Alhamdulillah, lebih baik kak."
" Tapi rasa trauma mu tidak kambuh kan." Tanya Fadil memastikan.
Karena setelah kejadian dimana Fina hampir di perkosa oleh Aldrich. Fina mengalami truma. Fina kadang ketakutan, bahkan tidur saja dia tidak bisa setelah kejadian itu, Tapi truma itu sedikit mengurang karena diatasi oleh Fadil.
Ya, Setelah Fadil mengetahui truma yang di alami oleh Fina, Fadil langsung membayar psikiater, untuk membantu menghilangkan truma Fina, saat mengingat kejadian itu.
" Alhamdulillah kak, sudah ngga lagi, karena aku sering pergi ke psikiater yang kak Fadil bayar, aku sudah kembali normal dan tidak takut lagi saat mengingat kejadian itu. Aku menganggap kalau kejadian itu hanyalah mimpi, dan aku yakin kalau kejadian itu tidak akan terulang lagi." Fina sudah sepenuhnya berdamai dengan ketakutannya, setelah ia sering berkonsultasi dengan psikiater. Apalagi psikiater itu sering memberikan nya motivasi untuk tidak takut dengan ketakutannya.
" Alhamdulillah aku senang dengarnya Fin." Ucap Fadil tersenyum, yang terus saja menatap kearah Fina, tanpa beralih kearah lain. Entahlah perasaan Fadil begitu sangat tenang saat menatap wajah cantik, gadis yang sudah ia sukai.
__ADS_1
" Kalau kak Fadil, bagaimana."
" Kamu bisa lihat sekarang Fin, aku jauh lebih baik setelah memasukkan orang-orang jahat itu kedalam jeruji besi." Jawab Fadil santai." Tapi aku tidak baik saat berpisah dengan mu selama dua minggu ini." Batin Fadil.
" Kak Fadil senang kalau, Aldrich dan ayahnya Aldrich masuk penjara."
" Tentu senang Fin, apalagi orang jahat kayak mereka itu pantas mendapatkan nya. Apa jangan-jangan kamu ngga ikhlas Aldrich masuk penjara ya." Kini ekspresi Fadil berubah menjadi dingin, saat mendengar ucapan Fina barusan.
" Bukan begitu kak, aku_"
" Lupakan saja." Potong Fadil yang tidak suka, kalau Fina terus membahas pria b******* itu." Bagaimana dengan kuliah mu dua minggu ini tanpa aku, apakah ada pria lain yang sedang mendekati mu kembali setelah aku tidak bersamamu dua minggu terakhir." Jiwa penasaran Fadil kembali kambu. Padahal Fadil sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan nya sendiri, kalau gadis dihadapannya tidak pernah didekati oleh pria lain selama ia pergi. Bahkan Fadil juga tau apa saja yang Fina lakukan selama dua minggu ini. karena Fadil sengaja menyuruh orang kepercayaan Fiki untuk mengawasi Fina selama dua puluh empat jam, agar dirinya tau apa saja yang dia lakukan oleh gadis itu. Bukan tanpa alasan Fadil melakukan itu.
Ia melakukan itu, demi melindungi Fina dari orang yang ingin mencelakai nya, dan Fadil juga sedang menjaga gadis yang dia cintai nya dari mata pria yang menyukai nya, karena Fadil tidak mau apa yang dia sukai di ambil oleh orang lain. Biarlah kesalahan waktu itu saja, saat ia melepaskan gadis yang dia cintai kepada abangnya. Tapi tidak dengan sekarang, karena Fazar akan melakukan apapun, asal gadis yang dia cintai tetap bersamanya.
Mungkin orang-orang akan membicarakan Fadil gila saat mengetahui sifat Fadil itu, yang tampak aneh.
Fina tampak bingung dengan pertanyaan yang Fadil lontarkan padanya, apalagi melihat ekspresi wajah itu yang tampak seperti orang yang sedang cemburu saja." Kuliahku Alhamdulillah baik-baik saja kak." Jawab Fina." Walaupun tidak ada kak Fadil selama ini, kuliahku tetap baik-baik saja." Batin Fina.
" Tidak akan ada pria yang menyukai gadis seperti ku kak, apalagi aku gadis yang berkerja sebagai pelayan restoran."
" Jangan berkata seperti itu Fin, karena para pria banyak yang menyukai mu, hanya saja kamu tidak menyadari itu. Bahkan ada pria yang menyukaimu secara diam-diam, karena dia belum mendapatkan waktu yang tepat untuk menyatakan cinta nya itu."
Fina mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari Fadil." Emangnya kak Fadil tau dari mana kalau para pria benyak yang menyukaiku, bahkan ada yang mencintaiku secara diam-diam."
" Silahkan di nikmati tuan dan nona." Ucap pelayan itu ramah, setelah menyajikan pesanan Fadil, pelayan itu meninggalkan mereka.
" Emangnya siapa kak." Tanya Fina yang masih penasaran dengan ucapan Fadil yang terpotong tadi.
" Lupakan saja Fin, sebaiknya kita bahas yang lain." Ucap Fadil, lagi-lagi ia mengalihkan pembicaraan.
Sedangkan Fina hanya mengangguk, walaupun dia sendiri penasaran, dengan pria yang sudah menyukainya secara diam-diam.
Kini Fadil dan Fina menikmati makan mereka sambil mengobrol hal yang lain.
" Tunggu Fin, setelah aku mendapatkan waktu yang tepat maka aku akan mengungkapkan perasaanku padamu." Batin Fadil yang terus menatap wajah cantik itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah beristirahat, kini Wiyah dan Fazar memutuskan untuk pergi kerumah sakit, karena Wiyah sudah tidak sabaran bertemu dengan Harum, yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Mereka akan pergi bersama dengan Fina dan Fadil yang sudah selesai mengobrol di kafe.
Kini kedua orang itu mengunakan mobil yang sama, agar Fina ada temannya saat dia duduk di belakang. Agar dia tidak menjadi obat nyamuk, yang menyaksikan kedua pasangan halal itu.
Sedangkan mobil Fadil, ada Zain yang akan membawanya.
__ADS_1
Wiyah dan Fina duduk di kursi belakang, sedangkan Fadil duduk didepan sambil menemani Fazar yang sedang menyetir.
Sebenarnya Fazar tidak setuju kalau istrinya duduk dibelakang, dan tidak duduk di sebelahnya. Tapi dengan bujuk rayu Wiyah, akhirnya Fazar setuju.
Fazar mengijinkan istrinya itu tidak dengan gratis, melainkan ada persyaratannya, kalau nanti malam Wiyah harus mendapatkan hukuman darinya.
Hukuman apa itu. Kalian bisa tanyakan langsung kepada Fazar.
.
.
" Padahal Abang ngga kasih tau kamu Dil, kalau Abang istirahat di hotel xxx. Terus kenapa kamu tau kalau Abang ada di hotel itu."
Fadil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, saat mendengar pertanyaan dari abangnya itu." Aku sampai lupa tadi, kalau aku tidak menanyakan abang beristirahat di hotel mana." Batin Fadil yang baru ingat kalau tadi ia tidak menanyakan alamat hotel itu, melainkan ia meminta langsung kepada Zain, hotel manakah mereka beristirahat.
Fadil tidak sadar, kalau hal kecil seperti ini bisa membuat abangnya itu curiga kalau selama empat tahun ini, dia selalu memata-matai abangnya itu lewat sekertarisnya.
Padahal yang Fadil tidak tau kalau Fazar sudah mengetahuinya itu sudah sangat lama.
" Sebenarnya aku tidak tau Abang istirahat di hotel mana, karena aku lupa menanyakan hal itu ke Abang. Tapi setelah aku ingat kalau aku lupa bertanya kepada Abang, aku langsung menelfon Zain, untuk menanyakan abang ada di hotel mana. Setelah Zain memberikan alamat nya aku langsung kesini untuk menemui abng" Walaupun ada sedikit kebohongan, tapi Fadil sudah setengah nya berkata jujur.
" Tapi kenapa Abang ngga tau kalau kamu ada di hotel itu, dan sedang berada didalam kafe bersama dengan Fina. Bukannya kamu bilang, kalau kamu ke hotel ingin bertemu dengan Abang." Fazar sengaja memberikan pertanyaan menjebak kepada Fadil. Agar ia bisa tau kalau adiknya itu tidak menyembunyikan sesuatu lagi darinya.
Fadil yang mendengar pertanyaan itu semakin bingung. Tapi bukan Fadil namanya, kalau tidak bisa menjawab pertanyaan dari abangnya itu.
" Sebenarnya tadi aku ingin bertemu dengan Abang, tapi aku ingat kalau kakak ipar pasti kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh, apalagi sekarang dia lagi hamil. Makanya aku urungkan untuk bertemu dengan Abang. Tapi aku ingat kalau ada kamar Fina di samping kamarnya Abang, makanya aku langsung menemui Fina, agar aku tidak sia-sia jauh-jauh ke hotel itu. Kami memutuskan untuk berbincang di kafe, karena kami takut ada fitnah, jika ada orang yang melihat kami satu ruangan." Jelas Fadil, membuat Fazar tersenyum mendengar jawaban adiknya itu.
Fazar membenarkan jawaban Fadil, tapi ia juga menyalahkannya. Karena saat kedatangan Fadil di hotel itu, Fazar tidak sengaja melihat adiknya itu.
Karena kebetulan juga Fazar sedang berada di lobi untuk mencarikan pesanan istrinya yang tiba-tiba saja menginginkan, masakan udang saus pedas, dan itu harus dia yang masak.
Makanya Fazar turun kelantai bawah untuk pergi ke dapur yang berada di hotel itu, untuk memasakkan pesanan istrinya itu. Tapi Fazar tidak sengaja melihat Fadil yang sedang berada di resepsionis, dan Fazar juga mendengar kalau Fadil sedang mencari kamar Fina bukan kamarnya, bukan itu saja, tapi Fazar juga mendengar kalau Fadil mengaku-ngaku kalau Fina adalah istrinya.
Dari situ Fazar yakin, kalau Fadil menyukai sahabat dari istrinya itu, Tapi belum berani mengungkapkan nya.
" Abang senang Dil, karena kamu bisa move on dari istriku dengan waktu yang cepat, dan kamu kembali menyukai gadis lain selain istriku." Batin Fazar yang ikut senang dengan perubahan Fadil, yang kembali membuka hati kepada gadis lain, setelah melepaskan cintanya kepada orang lain.
Jika dulu ia begitu sangat susah move on, tapi berbeda dengan Fadil yang cepat sekali move on.
" Jangan lama-lama, memendam perasaan mu Dil, cepat katakan, sebelum ada orang yang mengambilnya."
...----------------...
__ADS_1