Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Ekstra part 25


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Setelah merayakan kebahagiaan Wiyah, karena wisuda dengan lulusan terbaik. Bahkan Wiyah mendapatkan mendali karena prestasi nya.


Kini keluarga itu akan pergi ke rumah utama, lantaran mereka membawa mobil masing-masing. Keluarga itu memutuskan untuk pulang dengan mobil mereka, tidak lupa kedua keluarga itu membawa cucu mereka. Seperti Faeyza dan Falisha akan ikut bersama dengan bunda Sisi. Sedangkan Fauzan dan Fazran ikut bersama dengan tuan Aslan dan juga Widya.


Sedangkan Wiyah ikut dengan mobil suaminya. Wiyah tidak berdua dengan Fazar, karena di mobil itu terdapat Airin, yang sengaja ikut bersama dengan Fazar.


Airin sengaja ikut bersama dengan Wiyah dan Fazar, lantaran Airin sangat kesal dengan keusilan Fauzan dan Fazran yang sering sekali mengusili nya.


"Airin, kenapa kamu mengenakan baju itu lagi dek? Kakak kan sudah mengatakannya berkali-kali. Kalau anak perempuan ngga bagus pakai pekainan ketat, ataupun terbuka! Apalagi ini hijab nya mana?" Ucap Wiyah lembut tapi penuh penekanan dalam nada bicaranya.


Wiyah tidak senang saat melihat adik bungsunya itu mengenakan pekainan ketat, biarpun tidak terlalu terbuka. Tapi menurut Wiyah itu sangat tidak baik, apalagi adiknya seorang gadis kecil yang belum dewasa.


"Ini namanya fesyen, kak." Jawab Airin seakan tidak perduli dengan ucapan kakaknya itu.


"Fesyen? Fesyen yang mempertontonkan tubuh mu gitu, dek?!" Tanya Wiyah yang mulai kesal dengan jawaban adiknya itu."Walaupun kamu tidak bisa mengenakan baju tertutup seperti Ara. Tapi kamu bisa mengenakan pakaian yang longgar, dek. Tapi tidak dengan pekainan yang ketat seperti itu!"


"Iihh! Ara, Ara dan Ara! Kak, Airin berbeda dengan, kak Ara! Airin punya fesyen sendiri dan Airin juga bukan kak Ara yang harus mengikuti semua peraturan, seperti yang ibu mau!" Jawab Airin kesal menatap Wiyah dengan marah lewat kaca spion. Bahkan Fazar yang dari tadi diam menyimak perbincangan keduanya, bisa melihat tatapan dari adik iparnya itu, yang sepertinya tidak suka dengan teguran istrinya. Padahal maksud Wiyah baik.


"Kak, biarkan Airin ber fesyen dengan gaya Airin sendiri! Airin tidak ingin diatur!"


"Tapi dek!" Fazar langsung menggenggam tangan istrinya itu, saat istrinya akan kembali menasehati adiknya.


"Sudah sayang. Biarkan Airin bergaya dengan fesyennya sendiri. Karena anak-anak seusianya masih ingin berpenampilan seperti keinginan nya. Nanti setelah dia lebih dewasa lagi, dia akan mengerti yang mana baik dan tidak. Yang terpenting kita selalu mengingatkan nya." Ucap Fazar menenangkan istrinya itu dengan lembut.


Fazar tau kalau istrinya sangat khawatir dengan adiknya, karena takut kalau adiknya itu akan mengikuti pergaulan bebas, mengingat jaman sekarang sangatlah berbahaya untuk anak-anak seusia Airin.


Wiyah membernarkan ucapan suaminya, dan ia hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti, sambil tersenyum kecil. Walaupun sebenarnya dia khawatir dengan pergaulan adiknya itu, apalagi sampai adik-adiknya salah jalan.


"Maaf kak." Lirih Airin, tapi tidak bisa didengar oleh Wiyah dan Fazar, karena suaranya yang terdengar kecil dan juga dia berada di kursi bagaian belakang.


Hampir membutuhkan setengah jam diperjalanan, karena jalanan yang mereka lewati macet. Kini mobil Fazar, tuan Aslan dan juga bunda Sisi telah terparkir di parkiran mobil.


Mereka melangkah saling beriringan masuk kedalam rumah utama. Bahkan ketiga bocah kecil itu, selalu saja membuat mereka tersenyum karena ulah lucu ketiganya.


Pelayan rumah utama, langsung membukakan pintu saat melihat kedatangan tuan dan nyonya mereka. Dengan sopan kedua pelayan itu membungkuk hormat saat keluarga Fazar melewati mereka.


"Surprise!!!" Teriak orang-orang dalam rumah saat Wiyah dan keluarganya masuk kedalam rumah utama. Bahkan rumah utama kini sudah di hias secantik mungkin.


"Kak Haidar? kak Windi? Bukan nya mereka pulang kampung ya, Abi?" Tanya Wiyah terkejut saat melihat Haidar, Windi dan juga anak-anaknya berada di ruangan itu. Bukannya kemarin Haidar mengatakan akan pulang kampung dan tidak bisa menemani Wiyah saat acara wisuda nya nanti.

__ADS_1


"Kak idar dan kak Windi ingin memberikan kejutan untuk mu sayang. Makanya mereka sengaja memberikanmu alasan, kalau mereka tidak bisa datang agar mereka bisa memberikan mu kejutan." Jelas Fazar.


"Jadi Abi mengetahui rencana kak Idar dan kak Windi?" Tanya Wiyah menatap suaminya itu. Sedangkan Fazar hanya mengangguk mengiyakan."Iihh, Abi jahil, kenapa aku nggak di kasih tau!" Ucap Wiyah kesal sambil mencubit pinggang suaminya.


"Aauu sakit sayang. Kalau Abi cerita, yang ada bukan kejutan." Jawab Fazar tersenyum."Sayang suka nggak sama kejutannya." Bisik Fazar dengan senyuman genitnya.


"Suka Abi, Makasih."


"Tapi ada__"


"Wah bagus benget, bang. Lihat lumah Oma cantik benget." Suasana yang tadi romantis, seakan berubah saat Fazran bersuara dan mengganggu suasana romantis kedua orangtuanya itu, yang tidak tau tepat seperti sekarang.


"Iya Aran, cantik benget." Sambung Fauzan.


"Aban, tata lihat ada balon." Pekik Falisha gembira saat melihat banyak balon disana."Ade mau balon. Ayo tata, Aban tita ambil balon na." Ucap Falisha berjalan kearah balon-balon itu, sepertinya bocah perempuan itu tidak takut dengan balon-balon dihadapannya.


"Memang anak-anak yang tidak bisa diajak kompromi sedikit. Nggak bisa lihat Abi mereka berduaan sama ummi nya." Lirih Fazar kesal menatap kearah anak-anaknya.


Sedangkan para keluarga yang mendengar ucapan Fazar hanya bisa terkekeh geli, karena merasa lucu dengan ucapan Fazar barusan."Bagus begitu Zar, daripada kamu memperlihatkan kemesraan mu pada anak-anak disini, yang seharusnya tidak mereka lihat." Jawab bunda Sisi.


"Bunda kenapa malah nyalakan aku sih."


"Huus, sudah tua Zar. Nggak usah ngambek-ngambekan, kayak anak kecil." Sambung tuan Aslan yang ikut menyudutkan Fazar.


.


.


"Selamat Acil Wiyah! Akhirnya Acil Wiyah lulus dengan lulusan terbaik!" Ucap remaja berusia empat belas tahun, sambil menatap Acil mereka dengan bangga.


"Iya cil. Akhirnya perjuangan Acil selesai juga!" Sambung remaja yang satunya dan memiliki wajah hampir sama seperti remaja tadi.


"Terimakasih Rafa, Rafi. Ini semua berkat doa kalian dan juga doa keluarga, Alhamdulillah Acil berhasil lulus dengan lulusan terbaik seperti keinginan Acil dulu." Ucapan Wiyah membuat orang-orang di sana ikut tersenyum mendengar ucapannya."Alhamdulillah, Acil ngga nyangka bisa sampai di titik ini." Ucap Wiyah dengan mata berkaca-kaca karena bahagia.


"Sutt, ngga usah nangis, dek. Ini semua berkat doa dan juga usahamu. Kamu pantas mendapatkan nya." Sambung Haidar yang ikut bahagia dengan wisuda adik sepupunya itu.


"Daripada Acil sedih, mending Acil cicipi kue buatan Fanesya." Sambung remaja perempuan yang seusia dengan Airin, yang tidak lain adalah Fanesya, yang kini sudah mulai tubuh menjadi anak perempuan yang cantik."Ini Fanesya sendiri loh yang buat, cil." Ucap Fanesya yang sedang membawa nampan berisi kue.


"Iya ummi, rasanya sangat enak. Abang sampai tambah dua kali." Sambung Fauzan mengangkat kedua jempol nya.


"Kalau kak Alan tambah empat kali ummi, soalnya enak benget." Sambung Fazran dengan mulut berlepotan karena sisa-sisa kue.

__ADS_1


"Talau Ade catu aca ummi, coalna Ade tatut catit didi." Sambung Falisha.


Wiyah merasa begitu sangat bahagia dan juga sedih. Wiyah bahagia bisa berkumpul seperti ini dengan keluarganya dan bisa merayakan kebahagiaan nya. Tapi kebahagiaan Wiyah masih kurang, karena Azra tidak ada. Sedangkan adik kembarnya tidak bisa datang, karena mereka sedang mengikuti sekolah militer seperti keinginan mereka. Jika kedua saudara nya sedang ada urusan penting, tapi tidak dengan Azra yang memilih duduk di rumah. Entah kenapa, tapi Wiyah merasa adiknya sangat membencinya sampai sekarang.


Bukan saja itu, Wiyah juga merasa sedih. Karena sahabatnya tidak bisa datang. Karena mereka sudah memiliki kehidupan mereka masing-masing. Andai Fina masih hidup, pasti sahabatnya itu akan memberikan nya selamat dan ikut bahagia dengan kelulusannya. Mungkin jika Fina masih hidup, mereka akan lulus di hari yang sama.


"Ayah, aku masih merasa kesepian sampai sekarang. Walaupun saudaraku sudah berkumpul, tapi mereka seperti menjauhi ku." Lirih Wiyah dalam hatinya. Ada rasa sedih saat melihat saudara nya yang lain, hanya satu yang datang sedangkan yang lainnya tidak ada."Fin, aku merindukanmu."


"Assalamualaikum." Saat Wiyah sedang melamun, suara seseorang berhasil menyadarkan nya dari lamunannya."Maaf, aku telat datang nya. Soalnya habis mandiin Beby Ji tadi." Jelas pria itu sambil menggendong anak laki-laki, yang mungkin masih berusia satu tahun.


"Ibu kira kamu ngga datang tadi Jidan." Ya pria itu adalah Jidan. Yang datang bersama dengan anaknya yang masih berusia satu tahun.


"Maaf Bu, tadi aku kerepotan saat Beby Ji rewel." Jawab Jidan tersenyum."Selamat dek, Abang ikut bahagia, karena kamu lulus dengan lulusan terbaik." Ucap Fazar mendekati adiknya itu, lalu mengusap lembut kepala yang tertutup oleh hijab.


"Terimakasih bang. Aku senang Abang bisa datang" Ucap Wiyah tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, lantaran Jidan datang walaupun sedikit telat. Wiyah kira kakaknya itu tidak akan datang, mengingat Jidan memiliki masalah dalam hidupnya. Apalagi kehadiran Beby Ji, membuat Jidan sedikit kerepotan.


"Sini biar Beby Ji, adek yang gendong." Wiyah mengambil anak keponakannya itu. Lalu mencium pipi nya dengan gemas."Jadilah anak yang kuat ya nak, kamu bisa melewati semua ini." Ucap Wiyah membuat orang-orang di sana tersenyum. Banyak hal yang terjadi selama empat tahun terakhir, dan banyak orang tidak tau apa saja yang Jidan lewati selama ini.


"Abang punya sesuatu untuk mu." Jidan mengambil ponselnya, lalu mengotak-atik nya sebentar. Tidak membutuhkan beberapa lama, Jidan memperlihatkan sesuatu kepada Wiyah.


"Selamat kak, akhirnya kakak lulus dengan lulusan terbaik." Ucap pria diseberang sana yang sedang tersenyum.


"Maaf kami nggak bisa hadir, karena kami harus melakukan berapa tes lagi." Ucap Jaiz.


"Iya kak. Insya Allah, setelah semuanya selesai kami bakal pulang." Jawab Jami.


Wiyah begitu sangat terharu dan juga bahagia dengan pesan video adik kembarnya. Walaupun tidak bisa datang secara langsung, tapi mereka tetap mengucapkan selamat. Sama seperti Fazri dan Abidzar yang memberinya selama lewat video call, karena tidak bisa datang. Kedua adiknya malah membuatkan sebuah video.


Setelah melihat video adik-adiknya. Kini pandangan Wiyah tertuju pada keluarga nya. Wiyah mencari seseorang yang dari tadi tidak terlihat keberadaan nya di sana.


"Kenapa sayang? Apakah kamu mencari seseorang?"


"Iya Abi. Aku tidak melihat keberadaan Naila. Apakah dia belum datang?"


"Maaf ummi, aku sedikit telat." Ucap gadis berusia empat belas tahun yang baru saja datang dengan sedikit terburu-buru, karena nafasnya terlihat tidak teratur. "Assalamualaikum semua." Salam Naila, yang baru mengingat, kalau dia belum sempat mengucapkan salam tadi saat dia masuk kedalam. Gadis berhijab itu melangkah mendekati seluruh keluarganya, lalu menyalaminya satu persatu. Setelah itu dia melangkah kearah Wiyah yang sedang menggendong Beby Ji.


"Maaf ummi, aku telat. Soalnya papa lama benget." Ucap Naila sambil menyalami Wiyah." Hay, Beby Ji. Kamu juga ada disini ya." Sapa Naila ke bayi berusia satu tahun itu, yang sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa sayang. Ummi senang kalau kamu datang. Ummi kira kamu ngga bakalan datang tadi."


"Ngga lah ummi. Masa aku ngga datang di acara kelulusan ummi ku ini." Jawab Naila memeluk Wiyah dengan lembut."Apalagi ummi, sudah seperti ibu kandungku sendiri."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2