Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 110


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Selesai sholat ashar, Fazar dan Wiyah berencana untuk makan diluar, karena Fazar melarang istrinya itu untuk memasak hari ini.


" Sayang, ingin makan dimana." Tanya Fazar yang sedang fokus menyetir, tapi sesekali dia melirik kearah istrinya itu.


Mendengar pertanyaan dari suaminya membuat Wiyah tampak berpikir, karena Wiyah bingung ingin makan apa. Sampai Wiyah melihat warung di pinggir jalan yang berada didepan sana.


" Kak, kita berhenti di depan." Tunjuk Wiyah kearah warung di pinggir jalan yang Wiyah lihat tadi.


Sedangkan Fazar mengikuti dimana istrinya itu menunjuk. Sampai pandangannya tertuju pada warung pinggir jalan.


Fazar mengehentikan mobil di pinggir jalan, dekat dengan warung yang istrinya itu maksud.


" Apa sayang, yakin mau makan disini." Tanya Fazar menatap kearah luar, karena Fazar ingin memastikan istrinya itu, Kalau Wiyah benar-benar ingin makan di warung pinggir jalan.


Bukan maksud Fazar ingin menolak, tapi melihat pilihan istrinya itu membuat Fazar bingung sendiri. Bukannya setiap orang pasti akan memilih tempat yang bagus dan mewah seperti restoran atau tempat lain, bukan warung di pinggir jalan seperti pilihan istrinya itu.


" Iya kak, aku yakin mau makan disini." Jawab Wiyah meyakinkan Fazar." Emangnya kenapa kakak bertanya seperti itu, apa kakak ngga mau makan disini." Tanya Wiyah balik menatap suaminya itu.


" Ngga sayang, kakak hanya nanya aja. Kalau kakak sih ikut apa yang sayang mau." Jelas Fazar yang tidak ingin istrinya itu salah paham dengan pertanyaan nya barusan.


Sedangkan Wiyah hanya mengangguk mengerti, tanpa bertanya lagi.


Wiyah dan Fazar turun dari mobil melangkah masuk kedalam warung itu.


Fazar bisa melihat kalau warung itu tetap terlihat bersih walaupun berada di pinggir jalan seperti ini.


" Sayang mau makan apa." Tanya Fazar menatap kearah menu makanan yang sudah terpasang di sebuah spanduk.


" Aku mau sate kak." Jawab Wiyah antusias saat melihat ada sate di menu itu, senyuman Wiyah juga semakin manis saat dia sedang tersenyum seperti saat ini." Kalau minumnya, jus jeruk nipis aja kak." Ucap Wiyah kembali membuat Fazar mengangguk mengerti.

__ADS_1


" Kalau gitu sayang, tunggu bentar, kakak mau pesankan makanan sama penjualnya." Ucap Fazar membuat Wiyah mengangguk mengerti sambil tersenyum.


Wiyah mencari kursi yang kosong, sampai pandangannya tertuju pada kursi kosong yang berada di paling ujung.


Wiyah melangkah mendekati kursi itu, lalu duduk dengan tenang sambil menunggu suaminya. Tidak lama Fazar datang mendekati kursinya lalu duduk di samping istrinya itu.


" Sayang tunggu bentar, soalnya makanannya lagi di buat." Ucap Fazar.


" Iya kak." Jawab Wiyah.


Fazar menatap istrinya itu yang terdiam sambil menatap kearah luar.


" Sayang." Panggil Fazar membuat Wiyah menoleh kearahnya.


" Iya kak."


" Kakak mau nanya sesuatu sama sayang, boleh." Tanya Fazar.


" Maaf ya sayang. Dulu sayang pernah berkencan dengan laki-laki, selain jalan bersama Fadil." Tanya Fazar yang ingin mengetahui kalau istrinya itu pernah berkencan dengan seorang pria atau belum pernah sama sekali.


Mendengar pertanyaan dari suaminya membuat Wiyah tampak berpikir.


" Jangankan berkencan dengan seorang pria, pacaran aja belum kak. Temanan sama kak Fadil itu secara tidak sengaja kak, karena saat itu kak Fadil ngga sengaja lewat di genangan air yang berada di sampingku, dan tidak sengaja air dalam genangan itu terkena pekaian ku." Jawab Wiyah menatap kearah suaminya itu. Wiyah mengingat dimana dirinya dan juga Fadil bertemu saat itu, mengingat akan hal itu membuat Wiyah jadi tersenyum.


Mendengar penjelasan dari istrinya membuat Fazar mengangguk-angguk kepalanya kecil, tanda kalau ia mengerti.


" Jadi kalian bertemu secara tidak sengaja gitu." Tanya Fazar membuat Wiyah mengangguk." Tapi kenapa sampai Fadil bisa datang melamar sayang, sedangkan kalian baru saja berteman." Tanya Fazar ingin tahu karena rasa penasarannya.


Fazar mengingat perkataan Fadil saat itu, kalau Fadil dan Wiyah baru saja berteman tapi Fadil sudah berani melamar istrinya itu, karena jatuh cinta lewat pandangan pertama.


" Aku juga ngga tau kak, soalnya saat itu kak Fadil datang kerumah secara tiba-tiba, tanpa kasih kabar dulu ke aku, kalau kak Fadil mau kerumah." Jelas Wiyah." Aku aja kaget, pas kak Fadil datang kerumah ketemu sama kakak Indar dan kak Windi untuk nyatain perasaannya." Jelas Wiyah kembali.

__ADS_1


" Emangnya sayang, ada perasaan juga sama Fadil saat Fadil nyatain perasaannya sama sayang." Tanya Fazar. Entahlah ada apa dengan dirinya, saat mendengar cerita dari istrinya, mengenai Fadil menyatakan perasaannya secara langsung kerumah Wiyah beberapa bulan yang lalu. Fazar merasa cemburu dan begitu sangat tidak rela jika istrinya itu memiliki rasa kepada Fadil mengingat sekarang mereka sudah menikah.


Fazar hanya takut kalau Wiyah masih memiliki perasaan untuk Fadil, dan Wiyah lebih memilih adiknya ketimbang dia, mengingat saat mereka bertemu dan menikah Fazar selalu menyakiti hati Wiyah dengan perkataannya yang begitu sangat kasar.


Membayangkan itu membuat Fazar takut akan kehilangan istrinya itu. Fazar begitu sangat cemburu jika istrinya lebih memilih yang lain daripada dirinya.


" Kalau masalah perasaan aku ngga tahu kak, soalnya perasaanku saat itu kepada kak Fadil tidak ada, atau lebih tepatnya aku mengganggap kak Fadil seperti teman saja tidak lebih dari itu." Jelas Wiyah.


" Jika kamu tidak memiliki perasaan untuk Fadil kenapa kamu malah menerimanya." Tanya Fazar bingung saat mendengar penjelasan dari istrinya itu.


Mendengar pertanyaan dari Fazar membuat Wiyah bingung ingin menjawab apa, Karena dirinya sendiri tidak tahu dengan perasaannya saat itu yang menyuruhnya untuk menerima lamaran Fadil saat itu. Karena Wiyah berfikir, kalau ia akan berusaha untuk membuka hatinya untuk Fadil, mengingat pria itu begitu sangat baik kepadanya.


" Kenapa diam sayang." Tanya Fazar lembut sambil menatap istrinya itu yang hanya diam menatap kearahnya.


Wiyah yang mendengar pertanyaan suaminya tersadar dari lamunannya, membuat Wiyah menatap lekat-lekat pria yang sudah halal untuk ia tatap selama apapun yang ia inginkan.


Wiyah berpikir untuk berkata jujur dan tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari suaminya itu, karena apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu antara ia dan Fadil, Fazar harus tahu, Agar nanti suaminya itu tidak akan salah paham lagi kepadanya seperti berapa bulan yang lalu.


" Ngga apa-apa kak." Jawab Wiyah tersenyum. Wiyah masih menatap suaminya itu, karena akan kembali menjawab pertanyaan dari Fazar yang belum ia jawab tadi." Aku tidak tahu ada apa dengan perasaanku kak, yang menyuruhku untuk menerima kak Fadil saat itu. Karena saat itu aku sendiri bingung ingin menolak atau menerima, Sedangkan kak Fadil begitu sangat baik kepadaku. Saat itu aku terus berpikir. sampai hati kecilku mendapatkan jawaban untuk menerima lamaran kak Fadil dan mencoba untuk membuka hati untuk kak Fadil." Jelas Wiyah." Saat itu aku bingung berada di posisi itu kak, karena aku diberikan pilihan yang begitu sangat sulit untuk aku jawab, karena menyangkut kehidupanku kak." Jelas Wiyah kembali yang menatap wajah suaminya itu.


Entah apa yang Fazar pikirkan tentang dirinya nanti, yang terkesan egois.


" Jadi kerena itu sayang menerima lamaran Fadil saat itu, walaupun sayang tidak memiliki perasaan untuk Fadil." Tanya Fazar membuat Wiyah mengangguk." Kenapa sayang memaksakan perasaan sayang kepada orang yang sayang tidak cintai, walaupun sayang tahu itu akan sangat sulit." Tanya Fazar.


" Kerena aku sudah berjanji kepada diriku sendiri kak, kalau tidak akan mencintai seorang pria manapun selain suamiku nanti. Aku tidak ingin memberikan hatiku untuk orang lain selain orang yang sudah halal untuk aku cintai dan mencintaiku."


...----------------...


Maaf baru bisa upload, soalnya author lagi ngga enak badan.


Tetap dukung karya author.

__ADS_1


__ADS_2