
Kesabaranku membawa cinta
Air mata Harum langsung mentes saat mendengar ucapan yang Wiyah berikan, karena Harum begitu sangat terharu dengan ucapan wanita didepannya itu.
" Kenapa Harum nangis." Tanya Wiyah sambil berdiri dari duduknya, lalu menangkup wajah Harum, menatap gadis kecil itu dengan dalam." Apakah kak Wiyah salah mengatakan sesuatu."
" Tidak kak, Harum hanya merasa terharu dengan ucapan kak Wiyah." Jawab Harum." Karena kak Wiyah adalah orang pertama yang menyayangi Harum setelah mama meninggal."
" Sekarang bukan hanya kak Wiyah yang menyayangi Harum setelah mama Harum meninggal. Tapi disini ada banyak orang yang akan menyayangi Harum seperti kak Wiyah." Wiyah langsung memeluk tubuh kecil itu, yang kini sedang menangis didalam pelukannya. Wiyah bisa merasakan apa yang sekarang Harum rasakan, karena empat tahun yang lalu dia hampir berada di posisi yang sama seperti Harum. Tapi dengan cerita yang berbeda.
Jika empat tahun yang lalu, dimana kedua orang tuanya berpisah, Wiyah berpikir kalau tidak akan ada yang menyayangi nya. Tapi pikirannya itu salah, karena ada keluarga Haidar yang selalu memberikannya kasih sayang penuh.
Tapi berbeda dengan Harum. Setelah mama nya meninggal Harum langsung di jual oleh tantenya ke wanita itu, dan Harum selalu mendapatkan penyiksaan yang membuat mental nya harus terganggu, karena wanita yang dia kenal sebagai mantan tunangan suaminya. Karena Wiyah belum mengetahui cerita lainnya, siapa sebenarnya mantan tunangan suaminya itu.
Jadi Harum belum pernah merasakan kasih sayang lagi setelah mamanya meninggal. Sungguh malang nasib gadis kecil di pelukannya itu. Tidak pernah mendapatkan peran ayah dalam pertumbuhannya, sampai usianya yang masih anak-anak dia harus mendapatkan penyiksaan yang begitu sangat luar biasa sakitnya. Mungkin jika ia berada di posisi Harum, maka Wiyah tidak akan sanggup.
.
.
Setelah Harum lebih tenang, dan tidak menangis lagi seperti tadi. Wiyah juga sudah meminumkan Harum obat agar Harum cepat sembuh, kini Harum bersiap untuk beristirahat, karena besok mereka akan pulang ke kota S.
" Kak Wiyah, apakah besok kita akan kembali ke kota S." Tanya Harum menatap Wiyah, yang sekarang sedang berbaring di atas ranjang yang sama dengan Harum, dengan posisi miring, sedangkan tangannya menepuk-nepuk bahu Harum agar Harum tertidur. Kebetulan ranjang rumah sakit itu luas jadi bisa muat untuk dua orang, apalagi tubuh Harum yang kecil.
" Iya, kita akan kembali ke kota S, dan Harum akan bertemu kembali dengan 2R, dan juga Fanesya."
" Benarkah itu kak Wiyah, apakah mereka menungguku. Lalu kita akan pulang dengan siapa saja, apakah dengan kak Fazri dan kak Fina, atau masih ada yang lain."
" Sepertinya sifat cerewet gadis kecil ini sudah mulai kembali lagi." Batin Wiyah sambil tersenyum, saat Harum memberondong pertanyaan kepadanya." Kak Wiyah jadi bingung ingin menjawab yang mana-mana dulu ya, soalnya Harum langsung memberikan banyak pertanyaan kepada kak Wiyah, seperti wartawan saja." Lirih Wiyah memasang wajah sedihnya.
" Maaf kak Wiyah, bukan maksud Harum seperti itu."
" Ngga apa-apa Rum, kak Wiyah hanya bercanda. Kakak senang kalau Harum kembali seperti dulu lagi. Banyak bertanya seperti ini, maka kak Wiyah akan tetap menjawab nya satu persatu." Jelas Wiyah saat melihat wajah bersalah gadis kecil itu, padahal tadi ia hanya bercanda, makanya berkata seperti tadi.
" Rafa, Rafi, dan Fanesya selalu menunggumu Harum selama Harum pergi dari kota S, bahkan mereka selalu menanyakan keberadaan Harum selama ini. Pasti mereka akan senang sekali melihat Harum kembali lagi ke kota S." Jelas Wiyah." Dan kita bukan saja pulang bersama dengan kak Fazri dan kak Fina, tapi masih ada yang lainnya. Yaitu kak Fadil, dan juga suaminya kak Wiyah."
Harum terlihat mengerutkan keningnya, saat mendengar kalau Wiyah sudah memiliki suami. Harum berpikir kalau suaminya Wiyah adalah Fadil." Apakah ada suaminya kak Wiyah, dan kak Wiyah ternyata sudah menikah dengan kak Fadil. Tapi kapan kak Wiyah menikah lalu kenapa Harum tidak di undang." Tanya Harum dengan polosnya, karena Harum belum sepenuhnya mengerti.
" Tidak Harum kak Wiyah tidak menikah dengan kak Fadil, melainkan dengan orang lain, yaitu abangnya kak Fadil." Jelas Wiyah mencoba menjelaskan, dengan siapa ia menikah.
__ADS_1
" Harum jadi tidak mengerti kak Wiyah." Otak gadis kecil itu jadi bingung dengan penjelasan wanita disampingnya itu.
Sedangkan Wiyah hanya tersenyum." Kak Wiyah tidak menikah dengan kak Fadil Rum, melainkan dengan abangnya kak Fadil, yaitu Abangnya kak Fadil dan juga Fazri. Dan kak Wiyah menikah beberapa bulan yang lalu dengan abangnya kak Fadil. Kak Wiyah tidak memberitahukan Harum, karena Harum tidak berada di kota S saat itu." Jelas Wiyah.
Harum terlihat terkejut, saat mendengarkan cerita dari Wiyah, kalau ternyata Fazri dan Fadil adalah saudara, dan Wiyah juga tidak menikah dengan Fadil." Jadi kak Fadil dan kak Fazri itu saudara ya kak." Tanya Harum dengan wajah terkejutnya.
" Iya Rum, mereka adalah saudara. Apakah Harum keget mendengarnya."
" Iya kak Wiyah, Harum keget mendengar kebenaran ini." Jawab Harum menganggukkan kepalanya kecil." Pasti suaminya kak Wiyah dan kak Fadil, tidak suka dengan Harum karena Harum takut sama mereka, padahal kak Fadil maupun suaminya kak Wiyah adalah orang baik." Lirih Harum sedih, karena dia sudah mengetahui ketakutannya saat melihat orang asing masuk kedalam ruangannya Harum akan ketakutan luar biasa, bahkan Fazri sendiri ikut Harum takuti karena berpikir kalau orang itu adalah suruhan dari Nadila.
" Mereka tidak marah dengan Harum, karena mereka tau kondisi Harum sekarang. Agar Harum cepat sembuh, Harum harus banyak-banyak mengikuti terapi dari dokter Melisenda, biar Harum cepat sembuh dan kembali seperti dulu lagi." Harum hanya mengangguk mendengar ucapan dari Wiyah.
" Iya kak, Wiyah akan selalu mengikuti terapi dari dokter Melisenda, biar Harum cepat sembuh kayak dulu lagi." Ucap Harum dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
" Sudah Harum jangan nangis lagi, soalnya kak Wiyah punya kabar lain."
" Apa itu kak Wiyah." Tanya Harum antusias.
" Kalau sebentar lagi Harum akan memiliki teman baru, karena kak Wiyah sedang hamil sekarang." Jawab Wiyah sambil tersenyum.
" Benarkah itu kak Wiyah, Harum akan memiliki teman baru lagi." Wiyah hanya mengangguk.
Harum dan Wiyah menyudahi obrolan mereka, dan kini Wiyah kembali menidurkan Harum seperti ia menidurkan anaknya saja.
" Alhamdulillah ya Allah, wajah cerianya kembali hadir lagi di wajah cantik ini, semoga dengan terapi yang kamu dapatkan, bisa membuat kamu sembuh kembali Rum." Batin Wiyah sambil menatap Harum yang sudah terlelap dalam tidurnya. Gadis kecil itu terlihat begitu sangat damai saat ia tidur seperti saat ini." Kak Wiyah menyayangi mu."
Tanpa Wiyah sadari, kalau dari tadi suaminya itu melihat dan mendengarkan obrolan kedua orang itu, dari pintu.
Ya Fazar begitu sangat menikmati, melihat peran istrinya yang berubah menjadi seorang ibu sekarang selama gadis kecil itu berada disampingnya. Bahkan istrinya itu sampai mengabaikannya, karena gadis kecil itu melarang istrinya untuk keluar.
" Aku jadi merindukanmu sayang, selama beberapa hari." Batin Fazar menatap punggung istrinya itu yang kebetulan membelakangi pintu.
" Permisi tuan Fazar." Fazar langsung terkejut saat mendengar suara seseorang yang berada di belakangnya, Membuat Fazar langsung berbalik melihat kearah belakang.
" Astaghfirullah anda mengejutkan ku dokter Melisenda." Ucap Fazar sambil mengusap dadanya karena terkejut.
" Maaf tuan Fazar, saya mengejutkan anda. saya hanya ingin bertanya kenapa anda berdiri didepan pintu seperti tadi."
" Oh itu saya hanya ingin melihat istrinya saya yang sedang mengajak gadis kecil itu mengobrol." Jelas Fazar membuat dokter itu mengangguk-angguk kepalanya kecil." Kalau dokter, mau ngapain kesini."
__ADS_1
" Oh, saya. Saya hanya ingin memeriksa kondisi Harum sebelum dia keluar besok, Apalagi Harum akan kembali ke kota S." Jelas dokter Melisenda." Dan saya juga menerima tawaran anda untuk tetap menjadi dokter psikolog untuk Harum, karena saya akan di pindah tugaskan ke rumah sakit yang berada di kota S."
Jelas dokter Melisenda kembali, sambil menjelaskan kenapa ia datang ke ruangan Harum. Bukan hanya untuk memeriksa kondisi gadis kecil itu, tapi dokter Melisenda juga ingin menerima tawaran dari Fazar untuk tetap menjadi dokter psikolog untuk Harum, kerena kebetulan dokter Melisenda juga di pindah tugaskan ke kota S.
Mendengar jawaban dari dokter Melisenda membuat Fazar tersenyum senang." Saya senang dengan jawaban anda dok, pasti istri saya akan senang mendengar kalau dokter menerima tawaran saya."
Ya, Wiyah lah orang yang menyarankan Fazar untuk menetapkan dokter Melisenda sebagai dokter psikolog untuk Harum, karena Wiyah bisa melihat kalau Harum begitu sangat nyaman dengan dokter Melisenda.
" Sampaikan kepada nona Wiyah, kalau saya begitu sangat senang, karena nona Wiyah memilih saya sebagai dokter psikolog tetap untuk Harum."
" Saya akan menyampaikannya itu kepada istri saya." Jawab Fazar.
Tanpa mereka sadari, kalau perbincangan keduanya di lihat oleh Wiyah. Karena tadi Wiyah mendengar pintu yang tertutup, sedikit keras, membuat Wiyah penasaran, lalu ia bangun untuk mengeceknya, siapkah yang datang.
Dan saat Wiyah membuka pintu, ia bisa melihat kalau suaminya itu sedang mengobrol dengan dokter Melisenda. Kelihatannya keduanya terlihat dekat.
Ehmmm
Suara deheman membuat dokter Melisenda dan Fazar menolah kearah kesamping dan mereka bisa melihat Wiyah disana.
" Sayang." Fazar tampak terkejut melihat istrinya itu. Fazar takut kalau istrinya itu akan salah paham saat melihat dirinya sedang mengobrol bersama dengan dokter Melisenda, membuat Fazar langsung melangkah mendekati istrinya itu.
" Sayang, apa Harum sudah tidur." Tanya Fazar yang sekarang sudah berdiri di samping istrinya itu, lalu tangannya merangkul pinggangnya.
" Sudah kak." Jawab Wiyah singkat.
" Astaga, seperti istriku marah saat melihatku sedang mengobrol bersama dengan dokter Melisenda." Batin Fazar mulai panik.
" Nona Wiyah, saya kesini untuk memeriksa kondisi Harum, sebelum besok dia pulang. Dan saya juga ingin menerima tawaran anda kemarin." Jelas dokter Melisenda, yang tidak ingin ada kesalahpahaman dalam rumah tangga Fazar. Apalagi dokter Melisenda bisa melihat raut wajah Wiyah, kalau Wiyah sedang cemburu." Tapi, karena Harum sudah tidur, saya akan memeriksanya besok."
" Iya Dok, terimakasih sudah menerima tawaran saya. Harum pasti senang mengetahui kalau dokter akan tetap menjadi dokter psikolog untuknya." Ucap Wiyah sambil tersenyum.
Dokter Melisenda hanya membalas dengan senyuman." Iya nona, kalau begitu saya ijin permisi, soalnya ada pasien lain yang harus saya periksa nona."
" Silahkan Dok, terimakasih sudah menerima tawaran saya."
Setelah mendengar jawaban dari Wiyah Diokter Melisenda langsung melangkah meninggalkan Wiyah dan Fazar. Karena ia tidak mau ikut-ikutan, apalagi kalau sudah bumil cemburu. Karena dokter Melisenda tau kalau kecemburuan wanita yang sedang hamil itu lebih besar dari biasanya.
" Syukurlah aku masih bisa selamat dari tatapan bumil yang satu itu." Batin dokter Melisenda.
__ADS_1
...----------------...