Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 107


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Setelah bertemu dengan pamannya untuk membahas masalah yang pernah orang tua mereka hadapi, selama bertahun-tahun. Kini Fazar memutuskan untuk kembali ke apartemen setelah tadi dia menjemput istrinya.


Didalam mobil. Fazar hanya diam karena masih teringat dimana paman nya menangis, karena menyesali semua perbuatannya selama bertahun-tahun. Sampai ayahnya meninggal, tapi paman nya masih belum menerima pernikahan antara sang bunda dan juga ayahnya, padahal kejadian itu hampir bertahun-tahun lamanya.


Fazar masih mengingat bagaimana paman nya itu memintanya untuk mempertemukan nya dengan sang bunda.


" Fazar, tolong antarkan paman kepada bunda mu. Paman ingin meminta maaf langsung kepada bunda mu atas apa yang paman lakukan selama ini. Karena paman tidak bisa menerima bunda mu, bahkan paman sendiri selalu berusaha untuk menghancurkan pernikahan mereka." Minta tuan Aslan memohon.


Tapi Fazar menolaknya. Bukan maksud Fazar menolak permintaan tuan Aslan untuk bertemu dengan bunda Sisi.


Tapi Fazar akan membawa paman nya itu besok, mengingat kondisi paman nya sekarang yang sedikit terguncang karena perasaan bersalahnya kepada sang bunda. Karena itu membuat Fazar melarang pamannya itu untuk bertemu dengan bunda Sisi. Insyaallah besok Fazar akan mempertemukan bunda Sisi dan juga tuan Aslan.


Sedangkan Wiyah yang duduk di sebelah suaminya itu, merasa heran saat melihat kalau dari tadi Fazar hanya diam sambil memikirkan sesuatu.


" Kak." Panggil Wiyah sambil memegang lengan Fazar dengan lembut. Fazar yang sedang melamun, tersadar dari lamunannya saat merasakan lengannya di sentuh, yang membuat Fazar menoleh kearah sampingnya.


" Iya sayang, ada apa." Tanya Fazar sambil menatap istrinya itu.


" Ngga ada apa-apa kak, tadi aku lihat kalau kakak hanya diam aja, makanya aku panggil." Jawab Wiyah juju, membuat Fazar mengangguk kecil, tanda kalau dia mengerti." Kakak mikirin apa sih." Tanya Wiyah.


" Ngga mikirin apa-apa sayang." Jawab Fazar, lalu menarik istrinya dengan pelan untuk lebih dekat dengannya.


" Kak." Pekik Wiyah terkejut saat Fazar berhasil menarik tubuhnya untuk duduk lebih dekat lagi dengan suaminya itu.


" Kenapa sayang." Tanya Fazar mengusap lembut kepala Wiyah yang tertutup oleh hijab, lalu memeluk tubuh istrinya dari samping.


" Kak, lepas malu sama tuan Zain didepan." Cicit Wiyah berbisik sambil melirik kearah Zain yang sedang menyetir didepan. Wiyah berusaha untuk bergeser sedikit dari Fazar, karena Wiyah merasa tidak enak dengan Zain. Tapi Wiyah tidak bisa bergeser, karena suaminya itu sudah sangat erat memeluk tubuhnya dari samping.


" Ngga apa-apa sayang, Zain ngga lihat juga koh." Jawab Fazar sambil berbisik.


" Tapi kak..."


" Ssss, biarkan seperti ini." Potong Fazar membuat Wiyah langsung terdiam, walaupun dia merasa tidak enak dengan Zain yang sedang menyetir didepan.


Fazar tidak memperdulikan apa yang akan Zain pikirkan sekarang, Karena Fazar merasa begitu sangat bahagia sekarang, Karena masalah keluarga akhirnya selesai.

__ADS_1


Hampir bertahun-tahun ayah dan pamannya memutuskan tali persaudaraan mereka, karena ayahnya lebih memilih sang bunda ketimbang Keluarganya, yang membuat tali persaudaraan itu putus.


Tapi kali ini tali itu akan bersambung kembali, karena tuan Aslan sudah mau menerima bunda Sisi, walaupun ayah Aldevaro sudah tidak ada lagi di sisi mereka.


" Ayah. Aku tahu, pasti sekarang ayah begitu bahagia setelah melihat harapan ayah sudah tercapai, karena sekarang paman sudah mau menerima kami dan juga bunda. Paman telah mengakui kehadiran kami yah, seperti keinginan ayah dulu sebelum meninggal." Batin Fazar begitu sangat senang, karena keinginan ayah nya telah terkabulkan.


🍂🍂🍂🍂🍂


Sesampainya di apartemen, Wiyah dan Fazar melaksanakan shalat Zhuhur, karena tadi keduanya belum sempat untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai muslim di rumah sakit, karena itu Fazar dan Wiyah baru sempet shalat di apartemen.


Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai muslim, kini Wiyah kembali di sibukkan dengan tugas kuliahnya. Sedangkan Fazar hanya menatap istrinya itu, yang sedang fokus dengan tugas kuliahnya.


Fazar hanya memainkan ponselnya sambil duduk di atas kasur, karena hari ini, Fazar tidak memiliki pekerjaan apapun.


Fazar berencana untuk menghabiskan waktu berdua bersama sang istri didalam apartemen. Tapi istrinya itu malah sibuk dengan tugas kuliahnya.


Rasanya Fazar ingin kembali menerkam istrinya itu jika mereka sedang berdua seperti ini, tapi sepertinya rencananya tidak bisa saat melihat kegiatan istrinya yang sedang fokus dengan kuliah walaupun lewat online.


Fazar bisa melihat istrinya yang tampak cantik mengunakan hijab berwarna hitam.


Fazar turun dari kasur melangkah mendekati istrinya." Sayang." Panggil Fazar mendekati istrinya yang masih fokus dengan tugasnya.


" Apa masih lama zoom nya sayang." Tanya Fazar menatap istrinya itu.


" Alhamdulillah sudah selesai kak, tinggal ngerjakan tugas dari dosen, setelah itu selesai." Jawab Wiyah sambil tersenyum, lalu menutup laptopnya.


Fazar yang mendengar jawaban istrinya itu, langsung tersenyum, lalu duduk di Sofa di samping istrinya.


" Sayang." Panggil Fazar membuat Wiyah kembali menoleh kearah suaminya itu.


" Kenapa kak, apa kakak perlu sesuatu." Tanya Wiyah sambil menatap suaminya itu.


" Iya, aku perlu sesuatu." Jawab Fazar.


" Apa itu kak, apa kakak perlu air putih." Tanya Wiyah membuat Fazar mengangguk. Wiyah berdiri dari duduknya untuk mengambil air di dapur, karena tadi dia lupa untuk mengisisi tempat air minum.


Selesai mengisi tempat air minum, Wiyah memberikan segelas air minum untuk Fazar.

__ADS_1


" Makasih sayang." Ucap Fazar yang mendapatkan senyuman dari Wiyah.


" Iya kak, sama-sama." Jawab Wiyah. Saat Wiyah akan kembali melangkah kearah nakas untuk menyimpan tempat air minum. Fazar langsung menarik pinggang Wiyah untuk duduk di pangkuannya, Wiyah yang di tarik secara tiba-tiba tidak bisa mengendalikan dirinya, dia kehilangan keseimbangan karena Fazar menariknya secara tiba-tiba, membuat tubuh Wiyah langsung jatuh di atas pangkuan Fazar.


Fazar mengambil tempat air minum yang masihdi pegang oleh Wiyah lalu menyimpannya di atas meja didepan mereka.


Fazar memeluk tubuh Wiyah dengan begitu sangat erat, sedangkan kepalanya bersembunyi di ceruk leher jenjang sang istri, Karena sekarang Wiyah sudah tidak mengenakan hijabnya lagi yang membuat leher jenjang nya terlihat. Apalagi rambut Wiyah yang tersanggul membuat leher jenjangnya terekspor, membuat Wiyah terlihat begitu sangat seksi di mata Fazar.


Sedangkan Wiyah hanya diam saat ia merasakan hembusan nafas dari suaminya itu menghembus mengenai lehernya yang tidak tertutup apapun.


" Sayang." Panggil Fazar." Iya kak." Jawab Wiyah.


" Apa yang semalam masih sakit." Tanya Fazar membuat Wiyah mengerutkan keningnya bingung, karena Wiyah belum mengerti arah pembicaraan suaminya itu


" Apa yang masih sakit kak." Tanya Wiyah dengan polosnya yang membuat Fazar menjadi gemas sendiri. Fazar lupa kalau istrinya itu masih terlalu polos mengenai hal itu, mengingat umurnya yang masih terlalu muda, yaitu delapan belas dan baru jalan sembilan belas tahun.


" Yang kakak maksud itu....." Bisik Fazar memberitahukan apa yang dia maksud tadi, Yang membuat pipi Wiyah langsung memerah saat mendengar bisikan dari suami itu." Apa masih sakit." Tanya Fazar kembali dengan lembut sambil menatap mata istrinya yang kini sedang menatap kearahnya.


Sebenarnya Wiyah masih merasa sedikit nyeri, tapi melihat kalau suaminya itu menginginkan nya kembali membuat Wiyah tidak tega untuk menolaknya dengan. beralasan kalau masih terasa sakit


" Ngga sakit kak, cuman aga nyeri dikit." Jawab Wiyah jujur." Tapi kalau kakak menginginkannya, ya....." Ucap Wiyah kembali, yang membuat senyum Fazar langsung mengembang sempurna karena mendengar jawaban dari istrinya itu.


" Tapi bolehkah sayang." Tanya Fazar ingin memastikan istrinya itu, kalau istrinya sendiri mau untuk melayaninya dengan keinginannya sendiri tanpa paksaan sama sekali.


Sedangkan Wiyah hanya mengangguk malu-malu mendengar pertanyaan suaminya itu, tanda kalau ia mengiyakan.


" Makasih sayang." Ucap Fazar lalau mencium kening istrinya itu, karena begitu sangat senang dengan jawaban sang istri.


Sedangkan Wiyah hanya mengangguk dengan malu-malu, tanda kalau Wiyah mengiyakan.


Fazar yang mendapatkan lampu hijau, langsung mengendong tubuh Wiyah lalu membawanya ke kasur, untuk memulai kembali yang seperti semalam. Tapi berbeda dengan yang semalam, karena kali ini Fazar melakukannya saat di siang hari.


Dan ya, kembali terjadi pertempuran seperti semalam, tapi berbeda dengan kali ini, karena mereka melakukan nya saat di siang hari.


.


.

__ADS_1


Author ngga tahu apa-apa, soalnya tadi kak Fazar nyuruh author buat cuci piring di dapur.


...----------------...


__ADS_2