
Bunda Sisi melangkah masuk kedalam ruangan rawat Fadil, dan bisa melihat di atas tempat tidur yang terdapat pria muda yang begitu sangat bunda Sisi rindukan, yang Selama beberapa hari ini memejamkan matanya.
Bunda Sisi melangkah mendekati tempat tidur, memegang dadanya merasa begitu sangat sesak saat mendekati kasur ia melihat keadaan Fadil sekarang.
Fadil sudah membuka matanya, hanya saja dia belum bisa menggerakkan tangannya, membuat bunda Sisi hanya bisa melihat mata yang kemarin terpejam kini bergerak seperti melihat kearah sekitarnya.
" Sayang." Lirih bunda Sisi saat berada di kasur Fadil. Mata Fadil beralih melihat kearah bunda Sisi, lalu bibir itu tersenyum kecil.
Fadil ingin mengatakan sesuatu, Tapi bibirnya begitu sangat sulit dia angkat saat ingin mengatakan sesuatu.
" Jangan di paksakan, nak jika kamu tidak bisa berbicara." Ucap bunda Sisi kembali.
Bunda Sisi mencoba untuk mengendalikan dirinya, agar tidak menangis. Karena bunda Sisi tahu kalau Fadil tidak suka jika ada air matanya yang terjatuh di pipinya.
Bunda Sisi mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah ranjang Fadil.
" Bunda senang kamu bisa sadar kembali Dil." Batin bunda Sisi menatap Fadil begitu sangat dalam, seakan takut kalau Fadil akan hilang dari pandangannya.
Bunda Sisi tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menggenggam tangan Fadil yang begitu sangat kurus. Rasanya bunda Sisi ingin menangis melihat kondisi Fadil sekarang yang begitu sangat kurus dengan wajah pucatnya.
Tidak lama Fazar dan Wiyah masuk kedalam ruangan rawat Fadil. Sama seperti bunda Sisi, Fazar juga merasa begitu sangat terharu saat melihat Fadil yang kini sudah kembali sadar.
Tapi Fazar juga merasa begitu sangat sedih saat melihat kondisi Fadil sekarang, tidak seperti dulu lagi.
Fazar melangkah mendekati ranjang Fadil dengan tangan masih menggenggam tangan Wiyah. Sedangkan Fadil yang melihat kehadiran Fazar dan Wiyah hanya bisa tersenyum kecil seperti tadi saat ia melihat bunda Sisi. Karena Fadil belum bisa mengangkat mulutnya untuk mengatakan apapun.
Saat sudah berada didekat Fadil, Fazar melepaskan genggaman tangannya. Lalu membungkukkan tubuhnya untuk mencium kening adiknya itu.
" Finally you realized. Don't you ever leave us like yesterday, because I know you are a strong man." Bisik Fazar tepat di kuping Fadil.
" Keep fighting your illness, because I know you can fight it. We will always be by your side to always support you. Never feel alone, because we are here, with you. Rest assured to heal because you can." Bisik nya kembali.
( Kalau salah langsung kasih tau author ya )
Fazar berusaha untuk tidak menangis, walaupun dadanya terasah begitu sangat sesak sekarang.
Wiyah yang sedang menatap suaminya. Tahu kalau Fazar sedang berusaha untuk menahan air matanya.
__ADS_1
Wiyah mendekati Fazar lalu menggenggam lengan Fazar, Karena Wiyah berusaha untuk memberikan ketenangan untuk Fazar agar tetap kuat menghadapi semuanya.
Sedangkan Fazar yang merasakan lengannya seperti disentuh oleh seseorang menolah kearah samping, ia bisa melihat, kalau istrinya sedang tersenyum sambil menatap kearahnya.
Fazar melihat senyum itu, tahu kalau istrinya itu berusaha untuk menguatkan dirinya. Sama seperti Fazar, Wiyah juga berusaha menguatkan bunda Sisi untuk tetap kuat, karena Wiyah tahu kalau keluarganya sedang dalam kesedihan yang begitu sangat luar biasa.
" Assalamualaikum kak Fadil." Salam Wiyah sambil tersenyum. Wiyah menatap pria yang pernah hadir dalam hari-hari selama dua bulan, sebelum ia menikah dengan Fazar. Pria itu kini berubah total tidak seperti dulu saat Wiyah pertama kali bertemu dengannya.
" Kita kembali bertemu lagi kak, setelah sebulan lebih tidak bertemu." Ucap Wiyah dengan lirih." Kak Fadil harus kuat, karena kami disini selalu bersama dengan kak Fadil." Ucap Wiyah kembali.
Sedangkan bunda Sisi dan Fazar hanya mengangguk sambil tersenyum membenarkan ucapan Wiyah.
🌺🌺🌺🌺🌺
Wiyah melangkah menyusuri taman rumah sakit. Karena Wiyah ingin memberikan waktu Fazar dan bunda Sisi bersama dengan Fadil sebelum besok Fadil menjalankan operasi.
Sebenarnya Fazar tidak membolehkan Wiyah untuk pergi, tapi Wiyah beralasan untuk keluar sebentar. Mau tidak mau Fazar menyetujuinya permintaan dari Wiyah.
Wiyah melangkah mendekati bangku yang berada di taman itu, lalu duduk sendiri di bangku taman sambil menikmati suasana yang hampir mendekati siang. Karena hari ini tidak terlalu panas, membuat Wiyah ingin berlama-lama di taman itu. Wiyah merasakan ketenangan saat angin menghembus mengenai kulit.
Saat sedang menikmati angin yang mengembus mengenainya, suara ponsel membuat Wiyah membuka matanya, karena tadi Wiyah memejamkan untuk menikmati angin yang menenangkan.
" Waalaikumsalam Wiyah." Jawab diseberang sana." Wiyah, kamu dimana sekarang." Tanya orang diseberang sana.
Mendengar pertanyaan dari orang yang tidak lain adalah sahabatnya, membuat Wiyah bingung ingin menjawab apa. Karena ia sendiri belum jujur masalah pernikahan nya dengan Fazar.
" Aku sedang berada dikampung ku Fin. Emangnya kenapa kamu tanya kayak gitu, bukannya kemarin aku udah ngomong ya." Jawab Wiyah.
" Bukannya apa Wiy, aku hanya merasa curiga sama kamu." Jelas Fina.
" Curiga kenapa Fin." Tanya Wiyah bingung.
" Karena kamu keluar dari pekerjaanmu, karena itu aku curiga." jelas Fina." Emangnya kenapa sih kamu sampai keluar dari pekerjaan mu, emangnya kamu lama disana." Tanya Fina kembali yang begitu sangat penasaran dengan Wiyah. Fina merasa kalau Wiyah sedang menyembunyikan sesuatu darinya, yang ia sendiri tidak tahu.
Mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu, semakin membuat Wiyah bingung ingin menjawab apa. Karena Wiyah tidak tau, apakah ia akan lama di Jakarta atau tidak.
" Maaf Fin, aku ngga tahu juga. Soalnya aku masih ingin disini sampai urusan keluargaku selesai seperti yang aku katakan kemarin" Jelas Wiyah kembali.
__ADS_1
Ya, Wiyah beralasan kepada Fina. Kalau ia akan pergi ke kampung nya, karena ada urusan keluarga yang harus di selesaikan. Wiyah tidak mengatakan sejujurnya, karena tidak ingin membuat sahabatnya kepikiran karena nya.
" Hmmm, pantas kamu keluar dari pekerjaanmu. Tapi kalau kamu sudah berada pulang ke kota S, jangan lupa kabari ya." Ucap Fina kembali.
" Iya Fin, nanti aku kabari." Jawab Wiyah.
" Jangan lupa oleh-olehnya." Ucap Fina kembali membuat Wiyah menggeleng kecil.
" Iya nanti aku bawain."
" Kalau gitu aku mau kuliah dulu ya Fin, nanti aku telfon lagi." Ucap Fina kembali.
" Iya Fin, Hati-hati dijalan." Jawab Wiyah.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam "
Wiyah menaruh kembali ponselnya kesaku baju gamisnya, lalu Wiyah menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi taman. Wiyah menghembuskan nafasnya karena disini ia kembali berbohong kepada sahabatnya. Karena Wiyah tidak menceritakan apa yang sudah terjadi dengannya selama sebulan terakhir.
Tapi Wiyah juga belum siap bercerita, makanya dia menyembunyikan Semuanya. Jika dia sudah siap untuk bercerita maka Wiyah akan bercerita kepada sahabatnya itu.
" Maafkan aku Fin, aku sudah berbohong kepada mu." Batin Wiyah merasa bersalah.
Saat Wiyah sedang terdiam, karena sedang bingung dengan kebohongannya tadi. Seorang pria tiba-tiba saja datang lalu duduk kursi yang berada disebelahnya Wiyah.
" Maaf nona, saya numpang duduk disini." Ucap pria itu sambil menatap kearah Wiyah.
Wiyah yang menyadari pria itu mengangguk menyetujui." Iya ngga apa-apa tuan." Jawab Wiyah. Wiyah yang merasa risi dengan pria itu ingin berdiri tapi langsung di hentikan oleh pria itu.
" Maaf nona, bisakah anda tetap duduk di situ. Karena saya tidak akan melakukan apapun panda anda. Nona tidak usah khawatir, karena disini masih ada orang, jadi tidak akan ada orang yang bersangka buruk tentang kita." Jelas pria itu kembali sambil mencegah Wiyah untuk berdiri meninggalkannya.
Wiyah menatap pria yang menyuruhnya untuk duduk." Sepertinya pria itu sedang ada masalah." Batin Wiyah.
Karena merasa kasian, Wiyah kembali duduk di kursinya, tapi kursi yang berbeda dengan kursi tadi, dan juga jarak nya sedikit jauh dari pria asing itu.
" Nona, apa boleh saya menceritakan masalah yang sekarang sedang saya hadapi." Tanya pria itu membuat Wiyah mengerutkan keningnya bingung. Baru kali ini ada orang yang tidak Wiyah kenal datang ingin menceritakan masalahnya.
__ADS_1
...----------------...