
Kesabaranku membawa cinta
Fina dan Fadil duduk di warung makan pinggir jalan yang berada tidak jauh dari bengkel tadi. Warung itu terlihat begitu sangat ramai saat malam hari seperti saat ini, Banyak pasangan muda maupun tua, yang sedang duduk menikmati waktu mereka.
Fadil mencari meja kosong, sampai pandangannya tertuju pada meja yang baru saja di tinggalka oleh pengunjung lainnya. Melihat ada kesempatan, membuat Fadil dengan cepat menggenggam itu, tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada sang pemilik tangan, lalu nariknya kearah meja itu.
Sedangkan Fina sangat trkejut, saat Fadil menggenggam tangannya tanpa meminta ijin terlebih dahulu, lalu menariknya kearah meja yang kosong.
Fina hanya diam, dengan perlakuan Fadil, karena ia tidak bisa protes sama sekali saat tangan itu menggenggamnya. Malahan ia dengan diam tersenyum, sambil menatap tangannya yang digenggam oleh Fadil.
Sungguh rasa cintanya membuat ia lupa, kalau apa yang di lakukan oleh Fadil itu salah, Malahan dengan hati yang senang, ia tersenyum sambil menatap genggaman tangan itu.
" Maaf, aku menggenggam tanganmu, tanpa seijin mu." Fadil langsung melepaskan genggamannya, saat ia menyadari kalau ia menggenggam tangan Fina tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
" Ngga apa-apa kak, Aku tau kalau kak Fadil hanya refleks menggenggam tanganku tadi, karena melihat ada meja yang kosong." Jawab Fina sambil tersenyum.
Fadil ikut tersenyum, mendengar jawaban gadis didepannya itu. Kalau gadis yang dia sukai tidak marah, saat ia menggenggam tangannya seperti waktu itu.
Apa karena Fina sudah mulai terbiasa dengannya, yang selalu melakukan kesalahan akibat refleks seperti tadi.
" Kamu nggak marah Fin."
" Untuk apa aku marah kak, kalau aku sendiri sudah tau seperti kak Fadil." Jawab Fina sambil terkekeh.
__ADS_1
" Kamu benar juga ya Fin." Fadil ikut terkekeh, mendengar jawaban Fina." Sebaiknya kita duduk, sebelum ada orang yang melihat, kalau meja disini kosong." Fina maupun Fadil, sama-sama duduk di kursi yang kosong itu.
Kini keduanya saling berhadapan, dengan meja yang menjadi pemisah untuk mereka.
" Kamu mau pesan apa Fina."
" Ngga usah kak, makanan tadi saja belum kita makan, Masa ini kita mau pesan makanan lagi, yang ada nanti mubazir."
" Ngga apa-apa Fin pesan aja. Bukannya kita juga belum makan malam, lebih baik kita makan saja disini, nanti makanan yang kita pesan tadi kita makan kalau sudah sampai di rumah sakit."
" Tapi kak, takut makanannya ngga di makan kalau sampai di rumah sakit, soalnya ngga orang lain di rumah sakit, karena kak Fazar dan Wiyah sudah pulang. Nanti mubazir kalau makanan kita pesan lagi kak." Bukan maksud Fina menolak, hanya saja ia tidak mau membuang-buang makanan kalau Fadil memesan lagi. Makanan yang tadi saja belum mereka makan masa ini harus pesan lagiNg, makanya Finaga menolak tawaran Fadil.
" Ngga apa-apa Fin kita pesan aja, kalau masalah makanan tadi, bisa kita kasihkan ke orang, kalau sampai di rumah sakit ngga ada yang makan makanan yang kita pesan tadi." Jelas Fadil.
Fadil kembali tersenyum karena gadis yang dia sukai ternyata menurut juga. Karena Fina tidak menolak seperti tadi. Fadil mulai memesan dua makanan yang Fina dan ia mau.
Sambil menunggu pesanan mereka, Fina maupun Fadil sama-sama berada didalam pikiran mereka masing-masing karena mereka bingung ingin membicarakan apa. Padahal tadi Fadil memiliki keinginan agar dia dan Fina bisa berdua saja, karena Fadil ingin menghabiskan waktu mengobrol berdua saja tanpa gangguan siapapun. Tapi setelah mereka berdua, mulut Fadil seakan diam karena ia bingung ingin mengatakan apa.
" Apa aku ngomong saja ya ke Fina, kalau aku menyukainya. Tapi aku takut dia akan menolakku." Batin Fadil ragu saat ingin mengatakan perasaannya, tapi disisi lain, hatinya begitu sangat mendukungnya." Ayo Dil ungkapin saja, kalau Fina menolak, ya ngga apa-apa, Kamu masih bisa melakukan hal yang lain agar Fina menyukaimu termasuk menikahinya malam ini juga." Batin Fadil kembali, yang berusaha untuk menghilangkan keraguannya. Karena Fadil akan melakukan apapun itu, asal Fina mau menerimanya, Termasuk menyeret paksa gadis yang dia sukai itu, untuk menikahinya malam ini juga, kalau sampai Fina menolaknya. Pokoknya pikiran itu selalu hadir di kepalanya.
Walaupun ini sudah malam, tapi Fadil bisa membangunkan para penghulu dan para pekerja KUA agar ia bisa menikahi Fina malam ini juga. Karena Fadil tidak ingin melihat Fina bersama dengan pria lain, jika nanti Fina menolaknya.
Sungguh Fadil akan melakukan apapun itu asal Fina mau menikah dengannya malam ini juga, jika Fina menolaknya.
__ADS_1
" Fin." Fina yang sedang melihat kesekliliinga nya langsung menoleh kearah Fadil saat mendengar kalau Fadil memanggilnya." Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi kamu harus berjanji, kalau kamu jangan kaget atupun menolaknya." Fina mengerutkan keningnya bingung mendengar permintaan pria didepannya itu. Belum juga mengatakan apapun tapi dia sudah memintanya untuk berjanji kalau ia tidak boleh menolak.
" Emangnya kenapa kak." Tanya Fina bingung.
" Pokoknya kamu janji dulu, kalau kamu tidak akan menolak ataupun kaget dengan apa yang aku katakan sebentar."
Walaupun Fina bingung, tapi ia tetap mengangguk mengiyakan permintaan Fadil." Baiklah kak, aku berjanji tidak akan keget, ataupun menolak permintaan kak Fadil." Jawab Fina menurut, padahal ia belum mengerti dengan maksud Fadil tapi ia tetap mengangguk.
Fadil tersenyum setelah mendengar jawaban Fina. Sebelum Fadil mengutarakan perasaannya, Fadil ngembuskan napasnya terlebih dahulu, untuk menghilangkan rasa gugupnya. Lalu ia menatap Fina dengan dalam, menatapnya dengan penuh cinta." Fin sebenarnya aku menyukaimu." Ucap Fadil, membuat Fina langsung terdiam sambil menatap kearah Fadil." Aku mencintaimu Fina Fabbri Falisha, aku benar-benar mencintaimu. Mungkin kamu tidak akan percaya dengan perkataanku, tapi apa yang aku katakan ini benar Fin, kalau aku mencintaimu tulus dari lubuk hatiku bukan sekedar rasa penasaranku."
Fina begitu sangat kaget mendengar ucapan Fadil, kalau ternyata pria didepannya itu mencintainya.
Apakah ini benar atau hanya mimpi saja, Karena pria yang diam-diam ia sukai sedang menyatakan perasaannya.
Apakah ia harus menjawab iya atau tidak, karena Fina masih ragu dengan pernyataan Fadil. Bukannya pria itu menyukai kakak iparnya, tapi kenapa sekarang Fadil malah mengungkapkan perasaannya kepada dirinya. Apakah Fadil sudah sepenuhnya melupakan perasaannya terhadap Wiyah, mengingat pernikahan Wiyah dan Fazar saja baru beberapa bulan.
Tapi mana mungkin Fadil cepat melupakan perasaannya itu, bukannya orang-orang yang baru saja merasakan cinta, akan sangat susah melupakan cinta pertamanya. Lalu kenapa sekarang Fadil malah menyatakan perasaannya kepada dirinya.
Sungguh semua pertanyaan itu langsung hadir didalam kepala Fina, saat Fadil menguapkan perasaannya. Padahal dulu, Fina lah orang yang begitu sangat menantikan hal ini.
" Kenapa kak Fadil mengatakan ini, dan sejak kapan kak Fadil menyimpan rasa terhadapku." Tanya Fina, yang ingin tau kenapa Fadil menyukainya.
...----------------...
__ADS_1
Maaf author baru bisa update, soalnya beberapa hari ini author lagi sibuk kerja, jadi bawaannya capek benget kalau mau nulis.