Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 84


__ADS_3

Fazar menyetir mobil untuk kembali di apartemen, bersama dengan Wiyah dan juga bunda Sisi.


Ya Fazar menyuruh bunda Sisi untuk beristirahat karena di rumah sakit sudah ada Zain dan juga Rido yang akan menjaga Fadil. Disana juga ada dokter Faris yang akan memantu kondisi Fadil, sampai mereka mendengar keputusan dari seseorang, apakah mau menjadi pendonor untuk Fadil atau dia kembali menolak lagi.


" Bunda, bunda tenang saja, kalau Fadil akan baik-baik saja, karena disana ada Rido, Zain dan juga Faris. Jika ada masalah, mereka akan mengabari kita." Ucap Fazar menenangkan bunda Sisi, menyakitkan kalau semuanya pasti baik-baik saja.


" Bunda percaya Zar, kalau Fadil pasti akan baik-baik saja, karena ada mereka disana. Tapi bunda merasa khawatir dengan kondisi Fadil. Bunda takut, kalau sampai terjadi sesuatu kepada Fadil. Tapi bunda tidak berada di samping Fadil." Ucap bunda Sisi memberitahukan apa yang dia khawatirkan.


" Bunda tenang, tidak akan terjadi sesuatu kepada Fadil.." Jelas Fazar kembali membuat bunda Sisi hanya mengangguk walaupun dalam hatinya masih merasa khawatir.


Wiyah yang berada disebelah bunda Sisi bisa mendengar kekhawatiran bunda Sisi. Dengan lembut Wiyah meraih tangan bunda Sisi lalu memegang tangan mertuanya untuk memberikannya ketenangan.


Sedangkan bunda Sisi yang menyadari tangannya di genggam oleh seseorang menolah kesamping nya. Dia bisa melihat kalau menantu nya itu yang sedang menatap kearahnya.


" Bunda jangan khawatir, kak Fadil adalah pria yang kuat, kak Fadil bisa melawan penyakitnya." Ucap Wiyah mencoba menenangkan bunda Sisi.


Mendengar ucapan bunda Sisi membuat bunda Sisi tersenyum. Lalu membalas memegang tangan Wiyah.


" Makasih sayang, kamu sudah menenangkan kekhawatiran bunda." Ucap bunda Sisi lalu memeluk tubuh Wiyah.


" Bunda tidak perlu berterimakasih, karena ini juga tugas ku sebagai seorang anak." Jawab Wiyah.


Wiyah merasa begitu sangat nyaman saat dipeluk oleh bunda Sisi, karena selama berapa tahun ini ia tidak pernah di peluk oleh ibunya yang selama tiga tahun pergi tanpa kabar.


Wiyah merasa begitu sangat merindukan ibunya, tapi mau bagaimana lagi ia tidak bisa bertemu karena, ibunya tidak pernah menjenguknya. Sedangkan ayahnya, Wiyah juga tidak tahu kabar dari ayahnya, karena selama menikah Wiyah tidak pernah mendengar kabar dari ayahnya lagi.


Jika dibilang Wiyah merindukan keluarga. Ya, tentu. Karena setiap seorang anak pasti merindukan keluarganya, emangnya anak siapa yang tidak merindukan keluarganya jika berjauhan.


Fazar yang sedang menyetir hanya bisa melihat istri dan bundanya yang sedang berpelukan lewat kaca spion.


" Tunggu sebenar lagi bun, maka masalah ini akan selesai, dan Fadil akan sembuh." Batin Fazar.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺


Sesampainya di apartemen, bunda Sisi langsung di antar di kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Wiyah dan Fazar juga pergi di kamarnya.


" Jam setengah dua belas malam." Gumam Fazar menatap jam pergelangan tangannya.


" Tuan, duluan bersih-bersih setelah itu barulah aku." Suruh Wiyah sambil menatap suaminya yang sedang melepaskan Jas hitam nya.


" Apa kamu tidak ingin duluan." Tanya Fazar membuat Wiyah menggeleng kecil." Tidak tuan, biar tuan saja yang duluan, setelah itu barulah aku." Jawab Wiyah membuat Fazar mengangguk mengerti.


Fazar melangkah masuk kedalam kamar mandi sambil membawa baju tidurnya yang tadi baru saja disiapakan oleh istrinya.


Tidak lama Fazar kelauar dan terlihat lebih seger dibandingkan tadi. Setelah suaminya keluar Wiyah kembali masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah itu Wiyah kembali keluar, dengan rambut yang terurai panjang.


Wiyah meneliti seisi kamar, tapi yang Wiyah cari tidak ada." Kemana tuan Fazar." Gumam Wiyah menatap seisi kamar." Mungkin tuan Fazar sedang berada di ruangan kerjanya." Ucap Wiyah kembali.


Wiyah melangkah mendekati pintu balkon yang terbuat dari kaca, yang membuat Wiyah bisa melihat ibu kota Jakarta dengan begitu sangat jelas, apalagi apartemen Fazar berada di lantai paling atas dari gedung.


Saat Wiyah sedang berdiri menatap keluar, seseorang masuk kedalam kamar, dan Wiyah tidak menyadari sama sekali kehadiran pria itu. Pria itu terus melangkah mendekati Wiyah lalu memeluk tubuh Wiyah dari arah belakang.


Sedangkan Wiyah yang mendapatkan pelukan itu langsung terkejut, membuat Wiyah mencoba untuk memberontak, sampai suara seseorang membuat Wiyah berhenti bergerak.


" Tenanglah, ini aku Fazar suamimu. Jangan bergerak biarkan seperti ini." Suruh Fazar membuat Wiyah langsung diam, tapi Fazar bisa merasakan kalau tubuh Wiyah menegang karena gugup saat ia memeluknya.


" Jangan tegang, karena yang sedang memeluk mu adalah suamimu sendiri, coba untuk rileks." Ucap Fazar kembali mencoba membuat Wiyah untuk rileks.


Wiyah mendengarkan ucapan dari Fazar untuk rileks, mencoba menerima pelukan itu, karena Fazar suaminya. Walaupun sulit karena Wiyah tidak pernah di peluk oleh seorang pria, akhirnya Wiyah berhasil mengendalikan kegugupannya dan bisa menerima pelukan dari Fazar.


Fazar tersenyum kecil saat merasakan tubuh Wiyah yang tidak tegang seperti tadi saat ia memeluknya. Membuat Fazar semakin erat memeluk perut Wiyah yang ramping. Sedangkan dagunya sengaja Fazar simpan di atas ubun-ubun istrinya itu. Fazar mencoba mencari ketenangan dari Wiyah saat sedang memeluknya seperti saat ini.

__ADS_1


" Wiyah." Panggil Fazar.


" Iya tuan." Jawab Wiyah.


" Apakah kamu menginginkan hubungan ini berakhir." Tanya Fazar membuat Wiyah seketika terdiam." Kenapa kamu diam, apakah kamu benar-benar menginginkan hubungan ini berakhir setelah Fazar sembuh dari penyakitnya." Fazar kembali mengulang pertanyaannya.


Membuat Wiyah semakin diam, bingung mau menjawab apa.


" Apa yang harus aku jawab." Batin Wiyah bingung." Maaf tuan, aku tidak tahu ingin menjawab apa." Jelas Wiyah jujur.


" Itu artinya kamu menginginkan kalau hubungan ini harus berakhir setelah Fadil sembuh." Tanya Fazar memastikan.


" Aku tidak menginginkan hal itu tuan, karena aku hanya ingin menikah sekali untuk seumur hidup, tapi jika anda menginginkan hubungan ini selesai setelah Fadil sembuh, aku hanya bisa ikut saja tuan." Jawab Wiyah." Karena setiap hubungan harus dijalani oleh dua orang yang bisa mempertahankan hubungan tuan dalam satu atap yang sama. Bukan dua orang yang menginginkan perpisahan sedangkan yang satunya berusaha untuk bertahan, karena hubungan itu bisa saja hancur ketika yang memilih bertahan harus menyerah dan memutuskan untuk berpisah." Jelas Wiyah." Andai kata rumah tuan. Jika salah satu dari tiangnya hilang maka rumah itu bisa saja hancur karena tidak ada penyangganya.


Sama halnya dengan rumah tangga tuan. Jika salah satu dari pasangannya tidak ada yang mempertahankan hubungan mereka, karena salah satunya memilih berpisah, maka hubungan itu bisa saja hancur.


Rumah yang kehilangan tiang nya, maka berbeda dengan hati yang kehilangan perasaannya. Sama-sama hancur dengan bentuk yang berbeda." Jelas Wiyah kembali membuat Fazar seketika langsung terdiam karena merasa tertampar dengan jawaban istrinya itu. Karena selama ini Fazar yang menginginkan berpisah dengan istrinya, sedangkan istrinya mencoba mempertahankan hubungan ini.


Fazar melepaskan pelukannya, lalu membalikkan tubuh Wiyah agar Wiyah menghadap nya. Fazar menarik Wiyah lebih dekat lagi dengannya, setelah itu Fazar menaruh kedua tangannya di samping kapala Wiyah. Fazar menatap istrinya itu sama halnya dengan Wiyah yang menatap Fazar.


" Aku menginginkan kalau perkataanku waktu yang lalu jangan pernah kamu ingat lagi Wiyah, karena aku menginginkan kalau hubungan yang kita menjalani sama seperti rumah tangga yang lainnya, tidak ada kata perpisahan, karena aku juga menginginkan hubungan ini berjalan selamanya." Ucap Fazar menatap mata Wiyah begitu sangat dalam." Apa kamu mau mengulang hubungan ini dengan serius seperti hubungan yang lainnya." Tanya Fazar.


Wiyah yang mendengar ucapan dari Fazar seakan tidak percaya, kalau suaminya menginginkan hubungan ini dijalani dengan serius seperti rumah tangga yang lainnya. Benarkah ini atau hanya mimpi. Wiyah tidak percaya dengan perkataan Fazar barusan.


" Apakah kamu mau bertahan Wisyah Hanifah Putri, bersama ku." Tanya Fazar kembali membuat Wiyah mengangguk sambil menetaskan air matanya, karena begitu sangat terharu dengan ucapan Fazar. Kini rumah tangga yang Wiyah perjuangkan akhirnya Wiyah menangkan, karena Fazar mau menerimanya sebagai seorang istri.


Mendengar jawaban dari Wiyah Fazar langsung memeluk tubuh ramping istrinya itu, karena begitu sangat senang." Terimakasih karena kamu sudah bertahan." Batin Fazar sambil memeluk tubuh Wiyah. Fazar tidak menyangka kalau ia kalah karena kesabaran dari istrinya itu yang selama ini menghadapi nya dengan begitu sangat sabar.


" Kamu berhasil membuat aku bertahan." Batin nya kembali sambil tersenyum.


Mungkin hubungan mereka belum ada cinta, karena keduanya belum tahu seperti apa perasaan mereka sekarang. Tapi berjalannya waktu, pasti akan ada cinta dalam hubungan mereka.

__ADS_1


...----------------...


Kali ini author nulis nya paling banyak buat kalian, Tapi jangan lupa like komen dan vote nya, jangan lupa hadiah juga.


__ADS_2