
Setelah melakukan perjalanan hampir berjam-jam lamanya, Wiyah dan Fazar akhirnya sampai di bandara Soekarno-Hatta.
Wiyah yang mabuk akan perjalanan jauh, merasakan kepalanya terasa begitu sangat pusing. Apalagi mereka hampir berjam-jam lamanya berada di atas udara.
Fazar yang melihat Wiyah merasa khawatir, karena Fazar tahu kalau istrinya itu pasti merasakan kelelahan setelah perjalanan jauh yang mereka tempuh.
" kamu baik-baik saja." Tanya Fazar menatap Wiyah yang sedang memejamkan matanya.
" Iya tuan, aku baik-baik saja. Cuman, kepalaku terasa pusing karena mabuk perjalanan." Jawab Wiyah." Setelah istirahat sebentar, insyaallah aga mendingan." Ucap Wiyah kembali lalu membuka matanya menatap kearah Fazar.
" Jika kamu masih merasa pusing, kita bisa istirahat sebentar di sini." Ucap Fazar membuat Wiyah menggeleng.
" Tidak usah tuan, nanti aku istirahat didalam mobil saja." Jawab Wiyah sambil tersenyum kecil.
" Baiklah jika itu yang kamu inginkan." Ucap Fazar.
Saat Wiyah sedang berdiri dari duduknya, Wiyah merasakan pusing, dan hampir saja jatuh jika Fazar tidak langsung menangkap tubuhnya.
" Jangan di paksain jika kamu tidak sanggup untuk berjalan." Ucap Fazar menatap istrinya itu, dan Tanpa aba-aba Fazar langsung mengendong tubuh Wiyah yang membuat Wiyah terkejut karena Fazar.
" Tuan." Pekik Wiyah terkejut langsung melingkarkan tangannya di lehernya Fazar." Tuan kenapa anda menggendong ku, aku bisa jalan sendiri." Tanya menatap suaminya itu.
" Kamu tidak bisa berjalan sendiri. Tadi saja kamu hampir saja jatuh jika aku tidak menangkapmu. Maka diamlah jangan protes kalau aku menggendongmu daripada aku tinggalkan kamu disini." Jawab Fazar." Kamu harus tetap diam, jika tidak, aku akan menjatuhkan mu." Ancam Fazar membuat Wiyah mengangguk mengerti.
" Baik tuan." Ucap Wiyah menurut.
__ADS_1
Fazar mengendong tubuh ramping Wiyah. Fazar tidak merasakan berat sama sekali, karena menurut Fazar berat badan Wiyah itu seperti mengangkat satu karung beras. Tidak ada bobot sama sekali
Sedangkan Wiyah merasakan debaran jantungnya kembali saat Wiyah berada didalam gendongan Fazar. Wiyah bisa merasakan tubuh Fazar yang begitu sangat berotot dari segi lengan sampai dada bidang yang terasa begitu sangat keras.
" Kenapa jantung ini selalu berdegup sangat kencang, saat aku berdekatan dengan tuan Fazar.." Gumam Wiyah. Wiyah tidak berani menatap wajah suami dinginnya itu saat sedang seperti ini. Karena menurut Wiyah Fazar semakin terlihat tampan saat wajah Fazar berada di jarak yang sangat dekat.
.
.
Saat Fazar melewati orang-orang, semua mata orang-orang yang berada di bandara tertuju kearah Fazar yang sedang mengendong Wiyah. Mereka menatap Fazar dengan tatapan kagum, karena pesona Fazar.
Ada juga orang yang menganggap Fazar adalah pria begitu sangat romantis, karena sedang mengendong kekasihnya. Orang-orang itu tidak berpikir kalau yang Fazar gendong itu istrinya bukanlah kekasihnya seperti dalam pikiran mereka
" Tuan, aku mau turun." Cicit Wiyah yang masih bisa didengar oleh Fazar.
" Kenapa kamu harus turun, bukannya seperti ini lebih baik." Tanya Fazar.
" Karena aku begitu sangat malu, saat mereka menatap ku." Jawab Wiyah dengan suara kecilnya.
" Untuk apa malu, bukannya yang mengendong mu bukanlah orang lain. Karena Aku suamimu dan kamu istri ku, jadi pantaskan kalau aku melakukan hal ini" Ucap Fazar kembali membuat Wiyah langsung terdiam.
Walaupun Wiyah begitu sangat bingung dengan sikap Fazar yang begitu sangat berubah akhir-akhir ini, yang membuat Wiyah selalu bertanya-tanya apakah Fazar benar-benar berubah atau Fazar hanya tidak ingin kalau sampai mertuanya mengetahui seperti apa hubungan mereka selama satu bulan terakhir.
Tapi perubahan Fazar juga membuat Wiyah begitu sangat senang, dan begitu sangat bersyukur kalau Fazar sedikit demi sedikit mulai menerimanya. Wiyah juga sudah bisa menerima Fazar jika berada didekatnya. Wiyah tidak merasa takut seperti dulu, jika mereka bertemu. Malahan sekarang Wiyah semakin nyaman jika bersama dengan Fazar apalagi perlakuan lembutnya.
__ADS_1
Fazar melangkah masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan untung kedatangannya.
Zain membukakan pintu mobil untuk Fazar dan Wiyah, mempersilakan tuan dan nyonya nya itu untuk masuk.
Fazar mendudukkan tubuhnya Wiyah lalu ia duduk disebelah istrinya itu." istirahatlah, jika nanti kita sudah sampai di rumah sakit aku akan membangunkan mu." Ucap Fazar membuat Wiyah mengangguk mengerti.
Ya, Fazar dan Wiyah akan pergi kerumah sakit tempat dimana Fadil dirawat. Karena Fazar begitu sangat merindukan adiknya itu, selama sebulan lebih mereka berpisah.
" Pak langsung kerumah sakit." Ucap Fazar.
" Baik tuan." Jawab supir itu.
Saat mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Fazar menetap keluar mobil.
Ingatannya tertuju tiga tahun yang lalu, dimana ia dan juga keluarganya memutuskan untuk pindah ke kota S, karena masalalunya.
Keluarga memutuskan untuk pindah mengikuti Fazar, karena mereka sama-sama terlukanya seperti Fazar saat tiga tahun yang lalu.
" Kota yang pernah aku tinggalkan dengan masalalu yang menyakitkan. Tapi kini aku harus kembali lagi ke kota ini. Jika dulu aku pergi sendiri. Maka berbeda dengan sekarang, karena aku kembali bersama dengan seseorang." Batin Fazar sambil menatap kearah Wiyah yang kini sudah kembali memejamkan matanya.
...----------------...
Maaf teman-teman author baru bisa update, soalnya author lagi sibuk di acara keluarga.
Makasih buat teman-teman sudah mau mendukung author
__ADS_1