
Kesabaranku membawa cinta
Di sebuah rumah besar, yang telah berkumpul orang-orang yang akan pergi melayat. Kini Jambri sudah di bawah di rumah Fazar, dan sebentar lagi Jambri akan dimakamkan.
Parah keluarga banyak yang datang, dan akan pergi mengantarkan kepergian Jambri ketempat peristirahatan terakhirnya.
Mereka begitu terkejut dan sedih saat melihat kondisi Jambri, yang ternyata selama ini menyembunyikan penyakitnya. Lihatlah, kepala tanpa rambut itu menjadikan bukti seganas apa penyakit yang diderita oleh Jambri, bukan hanya rambut melainkan tubuh yang kurus tanpa isi itu. Orang-orang tau setiap orang yang terkena penyakit kanker belum tentu akan selamat, dan mungkin yang selamat dari penyakit mematikan itu hanya sedikit.
Keluarga besar, dan anak-anak Jambri juga sudah berada disana, satu persatu mereka mencium ayah mereka, untuk yang terakhir kalinya. Airin dan Azra yang masih belum percaya dengan kepergian ayah mereka, hanya bisa diam sambil menatap tubuh tanpa nyawa itu. Bukan hanya Airin dan Azra, melainkan Jaiz, Jami, Jidan dan juga Widya. Mereka hanya menatap tubuh yang kini telah terbungkus dengan kain putih yang bersih.
" Apakah semua keluarga dari almarhum sudah berkumpul." Tanya ustadz menatap semua orang di sana." Jika sudah berkumpul, kita akan mengantarkan almarhum pak Jambri ketempat peristirahatan terakhirnya. Kita doakan semoga almarhum diterima disisi Allah, dan amal ibadahnya diterima. Untuk keluarga almarhum pak Jambri, semoga diberikan kesabaran atas kepergian almarhum." Ucap ustadz itu, lalu membaca doa sebelum mereka membawa tubuh itu pergi.
Sedangkan Wiyah yang berada didalam gendongan Fazar hanya bisa menatap ayahnya yang di masukkan ke dalam keranda, yang akan menjadi kendaraan terakhir untuk ayahnya.
" Ya Allah, ikhlaskan hati ini, untuk menerima kepergian ayah hamba ya Allah." Batin Wiyah menatap keranda sang ayah.
πΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Awan mendung, dan rintik-rintikan air hujan mengantarkan kepergian ayah Jambri ke rumahnya yang baru. Suara gemuruh langit dan juga tangisan dari kelurga Jambri, membuat suasana siang ini semakin terasa begitu sangat menyedihkan. Di sebuah pemakaman, khusus untuk keluarga Fazar kini orang-orang berkumpul untuk mengantarkan kepergian ayah Jambri.
Jidan, Haidar dan juga Fazar ikut turun tangan turun di liang lahat itu, lalu membantu ayah Jambri untuk tidur ditempat tidurnya yang baru.
Jidan mengadzankan ayahnya untuk yang terakhir kalinya. Suara adzan yang berat itu terdengar, sampai ditelinga orang-orang yang berada diatas. Setelah mengadzankan ayahnya. Kini Fazar, Haidar dan Jidan naik kembali di atas. Lalu menutupi liang lahat itu mengunakan tanah, menutupi tubuh Jambri didalamnya, sampai tidak terlihat sama sekali.
Sedangkan keluarga yang ditinggalkan Hanya bisa menangis menatap tanah merah yang berhamburan banyak bunga-bunga di atasnya. Nama juga sudah tertulis disebuah nisan kayu.
Jambri Akbar Taufik. Seorang pria paruh baya yang berhasil mendidik anaknya menjadi anak-anak yang baik. Laki-laki yang sabar menghadapi masa lalunya, sampai dia sendiri lah yang merasa lelah, sehingga Allah memanggil nya, agar dia bisa beristirahat. Meninggalkan dunia ini yang penuh dengan tipu muslihat.
" Yang sabar Jidan, saya tau kalau kamu bisa melewati semua ini. Ikhlaskan ayah mu, agar dia tenang disana" Ucap Fadil sambil menepuk pundak Jidan.
Jidan hanya tersenyum kecil, tanpa berniat untuk menjawab sama sekali. Karena suaranya seakan hilang bersama dengan tubuh Ayah nya. Kini Fadil beralih ke Haidar. Fadil tau, kalau Haidar sama terguncangnya seperti Wiyah, Jidan dan juga adik-adik mereka.
__ADS_1
" Yang sabar kak Haidar. Allah tau kalau kakak bisa melewati semua ini." Ucap Fadil sambil memeluk tubuh Haidar.
" Terimakasih Fadil. Kakak akan berusaha untuk menerima kepergian paman." Ucap Haidar sambil tersenyum kecil.
Kita beralih kearah Fina dan juga Yaya, yang dari tadi memeluk tubuh sahabatnya itu. Fina tau kalau Wiyah sangat terguncang dengan kepergian sang ayah. Fina terus menguatkan Wiyah agar bisa sabar menerima semua ini. Apalagi Wiyah hanya diam saja sambil menatap gundukan tanah di depan mereka.
Sedangkan Widya, dari tadi memeluk kedua putrinya yang terus menangis tanpa henti, Windi yang berada disebelahnya terus menguatkan Tante nya itu, karena Windi tau seperti apa rapuh nya Widya sekarang.
" Istirahat yang tenang disana ayah. Aku tau sekarang ayah tidak merasakan sakit lagi seperti di dunia ini, karena disana ayah sudah tenang dan rasa sakit ayah juga sudah hilang. Ayah tenang saja, jangan khawatir dengan Adik-adik disini, karena aku aka menjaga dan mendidik mereka seperti ayah mendidik ku dulu. Tidurlah yang nyenyak ayah, sampai kita dipertemukan di surganya Allah nanti." Batin Wiyah. Ya, Wiyah sudah ikhlas melepaskan ayahnya. Karena Wiyah sadar jika di dunia ayahnya selalu merasakan sakit. Apalagi penyakitnya, pasti selalu menyiksa ayahnya.
Yaya beralih menatap kearah Jidan, yang tampak menyedihkan hari ini. Lihatlah, wajah itu hanya diam seperti tidak bernyawa sama sekali." Kasian sekali kamu Jidan. Tapi aku selalu berdoa kepada tuhan, agar tuhan selalu memberikan mu kesabaran, dan keikhlasan untuk melepaskan mendiang ayah mu. Maaf aku tidak bisa memelukmu saat kamu sedang bersedih seperti sekarang. Karena aku tau kalau kamu tidak ingin disentuh oleh ku." Batin Yaya yang terus menatap Jidan dengan tatapan sedih. Rasanya dia ingin memeluk tubuh itu, tapi dia ingat kalau Jidan tidak ingin mengenalnya lagi.
πππππ
Hari terus berganti. Tidak terasa hampir dua bulan sudah berpulang nya Ayah Jambri. Kini keluarga Wiyah sudah mulai menerima kepergian ayah mereka. Keluarga itu sudah bisa menjalani hari-hari mereka kembali seperti biasa, walaupun tidak ada kehadiran ayah Jambri disana.
Azra, Airin, Jami dan Jaiz sudah pindah di kota S, untuk melanjutkan sekolah mereka. Karena Fazar yang akan membiayai semua kebutuhan adik-adik istrinya. Sedangkan Widya, sepertinya akan membuka hati kembali.( Ayo tebak, siapakah yang akan menjadi ayah sambung untuk Wiyah dan juga adik-adiknya.
Sedangkan tuan Aslan dan Abidzar. Mereka memutuskan untuk menetap di Indonesia, dan akan menatap di kota S. Tapi tidak di rumah Fazar, melainkan tuan Aslan telah membeli mansion baru. Kalau masalah perusahaannya, mungkin Abidzar yang akan bulak balik ke Turki nanti.
Untuk yang menunggu jodoh untuk Abidzar, seperti kita sabar dulu ya. Soalnya Abidzar masih mau menata hatinya untuk sendiri. Karena Fadil sudah menikah, jadi tidak ada orang yang akan mengajaknya berdebat.
Bagaimana dengan Fazri. Dia sudah pergi ke belanda untuk melanjutkan sekolahnya. Apalagi dia menjadi mahasiswa terfavorit disana, karena Fazri ternyata sangatlah pintar sama seperti kedua kakaknya, dan juga kedua orang tuanya.
Memang betul ya, kata pepatah, kalau buah tuh nggak pernah jau kalau jatuh dari pohonnya.
Baiklah kita beralih ketempat lain.
Kini Fadil sedang berdiri didepan pintu kamar mandi sambil menunggu istrinya yang belum keluar juga dari dalam kamar mandi. Karena sepuluh menit yang lalu, Fina masuk kedalam kamar, tapi sampai sekarang istrinya itu belum keluar juga.
" Istriku, apakah kamu sudah selesai atau belum." Tanya Fadil khawatir." Istriku apakah kamu baik-baik saja." Belum juga Fadil mengetuk pintu kamar mandi, istrinya itu sudah membukakan nya pintu, dan dia bisa melihat kalau istrinya itu tampak segar sekarang.
__ADS_1
" Apakah kamu baik-baik saja istriku. Karena dari tadi kamu berada didalam kamar mandi. Apakah kamu masih merasa mual seperti pagi kemarin." Tanya Fadil menatap istrinya itu dengan khawatir.
Ya, selama beberapa hari ini, Fina selalu mual-mual setiap pagi nya. Makanya Fadil merasa sangat khawatir saat istrinya itu mengunci pintu kamar mandi seperti tadi.
" Alhamdulillah aku baik-baik saja suamiku." Jawab Fina sambil tersenyum manis." Tapi aku punya kejutan untuk suamiku ini." Fadil terlihat mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban istrinya itu.
" Kejutan apa istriku. Jangan buat aku penasaran."
" Ulurkan kedua tangan mu suamiku, lalu pejamkan matamu. Jangan mengintip." Fadil hanya menurut, lalu dia memejamkan matanya seperti yang istrinya suruh tadi.
Fina yang melihat suaminya memejamkan matanya, mengambil benda dari saku piyamanya, lalu menaruh nya di tangan Fadil." Sekarang buka matamu suamiku." Ucap Fina. Fadil membuka matanya, dan dia bisa melihat beda kecil berbentuk persegi panjang ditangannya.
" Apa ini istriku, kenapa bentuk nya seperti termometer." Tanya Fadil bingung menatap benda yang berbentuk seperti termometer." Apakah kamu sakit istriku, jika kamu sakit kenapa kamu ngga bilang dari tadi." Seketika Fadil berubah menjadi panik.
" Suamiku, aku tidak sakit, dan benda itu bukan termometer tapi tespek." Jelas Fina menghentikan kepanikan Fadil.
" Tespek." Gumam Fadil sambil berpikir mengingat nama yang istrinya sebutkan tadi. Sampai." Istriku kamu hamil." Tanya Fadil saat dia menyadari, apa kegunaan tespek itu. Fadil menatap istrinya itu untuk mendengarkan jawabannya. Sedangkan Fina hanya mengangguk mengiyakan." Benarkah istriku."
" Iya suamiku, aku hamil. Disini tubuh buah cinta kita." Jawab Fina sambil memegang perut nya yang masih rata.
" Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." Fadil langsung bersujud syukur setelah mendapatkan kabar baik ini." Alhamdulillah akhirnya aku akan menjadi seorang ayah." Ucap Fadil berdiri dari posisinya, lalu mengakat tubuh Fina dan membawanya ketepat tidur." Terimakasih istriku, ini adalah hadiah yang terindah yang pernah aku dapatkan." Ucap Fadil begitu sangat bahagia sampai-sampai dia menetaskan air matanya sangking bahagia.
Sedangkan Fina hanya tersenyum, lalu mengusap mata suaminya itu. Sebenarnya dia tidak sadar akan kondisinya sekarang. Walaupun beberapa hari ini Fina selalu mual di pagi hari. Tapi Fina belum menyadari itu.
Tapi kemarin saat pulang kuliah bersama dengan Wiyah, Fina menceritakan kondisi nya kepada sahabatnya itu. Dan Wiyah menyarankan nya, untuk membeli tespek, karena Wiyah curiga kalau Fina sedang mengandung sekarang. Sebenarnya Fina tidak yakin, tapi Wiyah membujuknya, sampai akhirnya dia mencoba untuk membeli tespek di apotek, dan tadi pagi dia melakukan tes dan Alhamdulillah positif.
" Sehat-sehat didalam perut bunda, terimakasih sudah hadir di tengah-tengah keluarga kecil kami." Ucap Fadil sambil menciumi perut istrinya itu.
Fadil berencana nanti siang, dia akan membawa istrinya ke rumah sakit. Untuk mengecek kondisi istrinya dan juga kandungannya.
...----------------...
__ADS_1