Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 225


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


" Sayang." Panggil Fazar, saat tidak melihat istrinya didalam kamar." Sayyanggg." Panggil Fazar kembali untuk yang kedua kalinya. Tapi yang dia panggil tidak menyahut sama sekali.


Karena tidak melihat keberadaan istrinya, membuat Fazar khawatir, takut kalau sampai terjadi sesuatu dengan istrinya.


Saat akan melangkah keluar. Pintu sudah duluan dibuka, dan yang membukanya adalah wanita yang tadi dia khawatirkan.


Fazar tersenyum saat melihat kedatangan istrinya, yang terlihat cantik mengunakan gamis berwarna dark pink, tidak lupa hijab panjang berwarna hitam. Yang menutupi tubuh dari atas kepala sampai di bawah tangannya. Walaupun perut itu sudah tertutup oleh hijabnya, tapi perutnya masih saja terlihat, karena semakin hari semakin membesar.


" Sayang dari mana sih." Tanya Fazar melangkah mendekati istrinya itu.


" Tadi habis bantu Harum ganti baju kak, soalnya hari ini kita mau pergi kerumah sakit untuk periksa kandungan." Jawab Wiyah.


" Tapi kenapa sayang nggak bilang, kakak tadi cariin loh. Kakak takut terjadi sesuatu sama sayang, dan juga anak-anak kita." Ucap Fazar, sambil merangkul pinggang istrinya.


" Kan cuman turun kebawah kak, ngga kemana-mana."


" Tapi berbahaya sayang. Lain kali kalau mau turun kebawah ngomong dulu sama Kakak atau Bu Neneng, mba Alia dan mba Fika. Jangan turun sendirian."


Wiyah menghembuskan nafasnya, merasa kalau suaminya itu terlalu protektif padanya dan juga kandungannya. Bagaimana tidak, setiap dia turun naik tangga, pasti suaminya itu, menyuruh orang untuk membantunya. Padahal dia masih bisa melakukannya sendiri.


" Kak, aku kan bisa melakukannya sendiri."


" Tapi sayang, berbahaya kalau sayang sendiri. Apalagi perut sayang semakin terlihat membesar." Bagaimana Fazar tidak khawatir melihat istrinya turun dan naik tangga sendiri. Kalau perutnya semakin hari semakin membesar. Apalagi kandungannya istrinya berbeda dengan kandungan lainnya, karena istrinya membawa tiga nyawa sekaligus.


Karena itulah Fazar merasa khawatir saat melihat tubuh itu turun sendiri mengunakan tangga.


" Kenapa sih kak, terlalu protektif benget, aku kan cuman turun naik tangga. Emangnya aku ngga bisa melakukannya sendiri, sampai terus di awasi oleh orang." Ucap Wiyah kesal menatap suaminya itu dengan sinis. Karena kesal Wiyah melepaskan tangan Fazar yang tadi melingkar di pinggangnya, lalu melangkah meninggalkan Fazar yang masih berdiri di posisinya.


Sungguh Wiyah kesal dengan suaminya itu, walaupun dia tau kalau Fazar melakukan ini untuknya. Tapi Wiyah tidak suka kalau suaminya terlalu protektif, walaupun itu hanya hal yang kecil.


Sedangkan Fazar yang melihat kepergian istrinya, tau kalau suasana hati istrinya itu pasti sedang berubah, akibat ucapannya barusan." Memang suasana hatinya Bumil suka sekali berubah-ubah." Gumam Fazar sambil tersenyum kecil melihat istrinya itu sudah duduk di meja rias. Karena tidak ingin membuat istrinya semakin kesal.

__ADS_1


Fazar melangkah mendekati istrinya itu, untuk membujuknya." Sayang marah." Tanya Fazar menatap istrinya lewat kaca yang berada di meja rias, Fazar bisa melihat kalau wajah istrinya sekarang sedang cemberut.


" Ngga usah Tanya-tanya." Jawab Wiyah ketus.


Bukannya takut, Fazar malah terkekeh mendengar nada ketus itu keluar dari mulut sang istri, apalagi wajah yang terlihat lucu kalau sedang kesal." Masya Allah, sayang makin cantik deh, kalau lagi kesel kayak gini." Ucap Fazar tersenyum, sambil melingkarkan kedua tangannya, di leher istrinya itu, lalu menaruh dagunya di atas kepala sang istri.


" Kakak memang menyebalkan. Istrinya lagi kesal bukannya di bujuk. Tapi Kakak malah senyum-senyum sambil di puji-puji." Ucap Wiyah, yang semakin kesal dengan suaminya itu." Lepas, ngga usah peluk-peluk." Ketus Wiyah yang mencoba untuk melepaskan tangan suaminya itu yang memeluk nya dari belakang.


Bukannya melepaskan Fazar semakin memeluk istrinya itu." Maaf sayang. Bidadari ku, istriku dan juga ibu dari anak-anakku. Maafkan suamimu ini yang terlalu over protektif. Tapi percayalah, suamimu melakukan ini semua untuk keselamatan kalian berempat." Ucap Fazar mengeluarkan jurus merayunya." Jangan ngambek-ngambek lagi sayang, soalnya kakak sering ngga tahan, pengen cium tuh bi**r kalau lagi cemberut kayak gini."


Wiyah yang mendengar kata-kata suaminya itu, hanya bisa tersenyum malu-malu, ternyata suaminya itu pintar juga merayu.


" Cemberut aja cantik, apalagi kalau senyum kayak gini. Masya Allah, semakin terlihat cantik. Rasanya pengen bawah kekasur." Ucap Fazar kembali dengan wajah genitnya." Auu, sakit sayang. Kenapa di cubit." Aduh Fazar saat merasakan tangan di cubit oleh istrinya. Padahal Fazar tidak merasakan sakit, hanya saja dia pura-pura kesakitan, karena lucu melihat wajah istrinya, yang tadi cemberut berubah menjadi malu-malu karena ucapannya berusan.


" Tuh, rasain. Siapa suruh m*sum banget." Jawab Wiyah dengan melototi Fazar. Bukannya takut, Fazar malah mencium ubun-ubun istrinya, karena gemas.


" Sayang jangan godain kakak lagi, entar kita nggak jadi kerumah sakit, karena kakak akan memberikan sayang hukuman."


" Siapa yang godain kakak. Orang kakak sendiri yang kelewat banget mesumnya." Ucap Wiyah yang cepat-cepat melepaskan tangan suaminya itu, lalu berdiri dari duduknya." Jangan macam-macam kak. Entar aku nginep di rumah bunda." Acam Wiyah.


.


.


Setelah drama pagi tadi, kini Fazar dan Wiyah turun kelantai bawah. Untuk menemui Harum yang sudah lama menunggu mereka dari tadi.


Fazar merangkul pinggang istrinya dengan mesra, sambil menuntun istrinya turun kelantai bawah. Padahal istrinya itu bisa melakukannya sendiri.


Sungguh Fazar begitu sangat over protektif terhadap istrinya itu.


Di ruangan keluarga terdapat Fazri dan juga Harum. Yang sedang bercerita bersama. Terlihat kalau keduanya begitu sangat menikmati obrolan mereka, sampai-sampai tidak menyadari kehadiran pasangan suami istri, yang melangkah mendekat kearah mereka.


" Zri udah lama datangnya." Tanya Wiyah.

__ADS_1


Harum dan Fazri menghentikan obrolan mereka, lalu menoleh kearah Fazar dan Wiyah, saat mendengar pertanyaan kakak iparnya.


" Dari tadi kak." Jawab Fazri." Kak, ini ada baju titipan bunda, untuk kak Wiyah, Abang dan Harum. Katanya sih untuk pergi ke acara pertunangannya kak Fina." Ucap Fazri kembali sambil menyerahkan paper bag, kepada Fazar.


Sebenarnya Fazri tidak suka, saat keluarganya akan pergi menghadiri acara pertunangan Fina. Apalagi keluarga Fina sudah menolak kakaknya, bahkan menyakitinya. Hanya karena Fadil menolak untuk melepaskan Fina.


Padahal jelas-jelas disini, Fina masih sah menjadi istrinya Fadil. Tapi keluarganya Fina, begitu sangatlah egois, sampai mereka tidak memikirkan perasaan anak mereka, yang penting Fina bisa bertunangan dengan pilihan mereka.


" Terimakasih Zri, maaf merepotkan mu." Ucap Wiyah." Padahal tadi kami berencana akan pergi kerumah utama untuk mengambil pekaian ini, setelah memeriksa kandungan kakak. Tapi melihat pekaiannya sudah kamu yang bawah ya, jadi ngga jadi deh."


" Kalau kakak mau kerumah utama ngga apa-apa kak. Tapi bunda lagi ngga ada di rumah. Soalnya lagi keluar. Kata bunda sih lagi ada urusan dan nanti malam bunda baru pulang."


" Emangnya bunda keman Zri." Sambung Fazar.


" Aku kurang tau juga sih bang. Nanti Abang telfon aja bunda, sekarang bunda ada dimana." Jawab Fazar." Tapi setahuku sih bang, biasanya bunda pergi pengajian, selain itu nggak ada tempat lain lagi selain pergi ke mall, cek butik atau pergi ke restoran."


Ya, Fazri tentu tau kegiatan sang bunda, karena biasanya bundanya itu akan pergi ke tempat-tempat itu untuk menghilangkan kebosanannya selama anak-anak pergi melakukan aktivitas mereka masing-masing.


" Benar juga Zri, pasti bunda tidak akan pergi kemana-mana selain keempat tempat itu." Ucap Fazar membenarkan.


" Kak, aku juga boleh ikut. Soalnya aku pengen lihat anak-anak keponakanku." Ucap Fazri, yang mengingat kalau Abang dan kakak iparnya itu mau pergi mengecek kandungan.


" Emangnya kamu nggak ada urusan lagi Zri. Bukannya bulan depan kamu pergi ke Belanda untuk kuliah." Tanya Fazar yang ingat, kalau adiknya itu mendapatkan beasiswa kuliah di Belanda, berkat kepintarannya.


" Alhamdulillah semuanya sudah selesai kak, mungkin aku tinggal urus beberapa surat keberangkatanku ke Belanda."


" Kakak ngga nyaka ya, ternyata Fazri mau pergi kuliah aja, Itupun di negeri orang, pasti orang rumah rindu semua sama kamu Zri." Sambung Wiyah yang ikut senang dengan kebahagiaan adik iparnya itu, yang akan menuntun ilmu di negara orang." Kakak doakan, semoga apa yang kamu urus, selesai semuanya dan tidak ada hambatan sama sekali." Doa Wiyah.


" Aminn kak. Terimakasih doa terbaiknya." Ucap Fazri tersenyum. Karena dia semakin bersemangat setelah mendengar doa kakak iparnya itu.


Tapi tanpa Fazri sadari kalau perbincangan mereka tadi, didengar oleh gadis kecil yang masih setia dalam posisi duduknya itu.


" Apakah kak Fazri akan pergi jauh, dan akan jarang kembali ke sini." Lirih gadis itu sedih mendengar sahabatnya akan pergi jauh darinya." Nanti kalau kak Fazri pergi, pasti aku tidak akan ada merindukan kakak."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2