Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 242


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Setelah meminta maaf kepada Wiyah, kini Widya beralih kearah mantan suaminya. Widya begitu sangat bersalah saat menatap mantan suaminya itu, yang sudah sangat sabar menghadapinya di masalalu, tapi dengan tega dia meninggalkan suaminya itu saat dia berada didalam keadaan yang sulit.


" Mas, maafkan aku karena telah melukai mu empat tahun yang lalu, aku tau kalau kamu pasti sangat marah denganku karena begitu sangat egois." Lirih Widya menatap Jambri dengan tatapan bersalahnya." Maafkan aku mas, yang begitu sangat egois. Karena keegoisan ku aku sampai menyusun rencana agar mas menceraikan ku dengan cara membuat putri kita seakan-akan bukanlah putri mu, padahal sebenarnya dia adalah anak mu. Maafkan aku mas, karena keegoisan ku yang menutupi kebenaran selama empat tahun ini." Kini Widya kembali menangis karena dia mengakui kesalahannya. Sungguh Wiyah begitu sangat menyesal sekarang.


Sedangkan Jambri, Wiyah dan Jidan begitu sangat terkejut mendengar pengakuan Widya. Mereka seakan tidak percaya, tapi Widya sudah mengatakan yang sebenarnya.


Sedangkan kedua adik Wiyah sama-sama terkejut mendengar pengakuan Widya, mereka tidak percaya, kalau perpisahan empat tahun yang lalu ternyata rencana ibu mereka sendiri. Sampai-sampai mengorbankan Wiyah. Jika Jaiz dan Jami sudah mengerti masalah seperti ini, karena mereka sudah dewasa. Tapi berbeda dengan Airin dan juga Azra yang tidak mengerti dengan pembahasan orang dewasa.


Bagaimana dengan Fazar. Dia tidak terkejut sama sekali, karena Fazar sudah mendapatkan informasi itu dari pihak rumah sakit sebelumnya. Siapakah yang menerima pemberitahuan empat tahun yang lalu. Fazar sengaja diam, karena dia tidak mau membuat masalah keluarga istrinya semakin runyam hanya karena informasi yang dia dapatkan. Biarlah mereka mengetahui nya sendiri asal jangan dirinya yang memberitahukan kebenaran ini.


" Aku tidak menyangka kalau ternyata ibu sejahat ini. pantas selama empat tahun, ibu terlihat tertekan. Ternyata perpisahan ayah dan ibu, sengaja di buat oleh ibu sendiri." Batin Jaiz menatap kedua orang tuanya.


" Aku menyalahkan ayah. Tapi sebenarnya yang jahat adalah ibu kami." Batin Jami." Ya Allah maafkan hamba mu ini, yang pernah mendoakan ayah agar cepat meninggalkan, karena sudah menyakiti ibu. Tapi sebenarnya yang salah adalah ibu hamba sendiri."


Sedangkan Wiyah hanya menangis didalam pelukan suaminya, saat mendengar kebenaran ini. Rasanya Wiyah ingin marah kepada ibunya. Tapi itu tidak akan mungkin, karena dia begitu menyayangi ibunya itu.


" Mungkin dengan kata maafku tidak bisa menggantikan semuanya. Tapi Widya, aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kita di pertemuan kembali. Karena disini aku sadar, kalau aku juga egois. Bukan hanya kamu, tapi aku juga berperan penting disini." Jelas Jambri. Rasanya berat didadanya dan Jambri ingin menampar wanita didepannya itu, tapi dia sadar. Kalau kekerasan tidak akan mengembalikan semuanya." Seharusnya aku juga meminta maaf Widya, karena selam bertahun-tahun menikah. Aku tidak pernah memikirkan mu, bahkan selalu mengabaikan mu. Orang-orang melihat pernikahan kita baik-baik saja, tapi sebenarnya kita sama-sama terluka. Seharusnya kita sama-sama mencari solusi waktu itu, bukan mengikuti ego kita masing-masing." Ucap Jambri menatap mantan istrinya, karena disini dia sama-sama merasa bersalah.


" Maafkan aku Widya."


" Tidak mas, disini aku yang bersalah. Seharusnya aku yang meminta maaf. Maafkan aku mas." Balas Widya. Kini kedua pasangan mantan suami istri itu hanya menangis menyesali perbuatan mereka masing-masing." Mas, apakah kita masih bisa untuk bersama." Lirih Widya.


" Sepertinya tidak akan bisa Widya, karena sekarang kita sudah hidup dalam kehidupan kita masing-masing. Bahagialah tanpa mengenang masa lalu kita. Karena kebahagia mu sedang menantimu." Jawab Jambri. Jujur sebenarnya dia ingin kembali dengan mantan istrinya, tapi itu tidak akan mungkin karena mereka sudah sah berpisah, dan usianya juga mungkin sudah tidak lama lagi.


Widya yang mendengar jawaban mantan suaminya itu hanya bisa menangis. Padahal harapan, dia ingin memperbaiki semuanya. Tapi itu semuanya tidak akan pernah bisa.


" Ya Allah, aku sudah menyia-nyiakan kesempatan kedua waktu itu dengan cara menyakitinya kembali." Batin Widya yang hanya bisa menangis.


.

__ADS_1


.


.


" Putri-putri ayah." Jambri langsung memeluk kedua putri, yang sangat dia rindukan, karena hampir bertahun-tahun mereka berpisah." Ayah merindukan kalian, maaf ayah tidak pernah datang menemui kalian disana." Ucap Jambri memeluk kedua putrinya dengan erat.


Sedangkan Azra dan Airin membalas pelukan ayah nya itu, karena jelas-jelas mereka juga merindukan Jambri." Kami juga merindukanmu ayah. Karena sudah lama Airin tidak bertemu dengan ayah." Jawab Airin. Walaupun Airin masih kecil waktu itu saat kedua orang tuanya berpisah. Tapi Airin masih mengingat ayahnya karena ketiga kakak nya selalu memberitahukan siapa ayah mereka sebenarnya.


Airin Afifah putri mutiara, gadis kecil yang sering dianggap Arin oleh keluarganya. Kini usianya hampir tujuh tahun.


" Iya ayah, Azra juga sangat merindukan ayah. Azra berharap sudah sangat lama agar kita di pertemukan kembali, dan kita bisa berkumpul seperti dulu lagi yah." Jawab Azra sambil membalas pelukan ayahnya itu. Azra merasa kalau tubuh ayah'berbeda dengan dulu. Jika dulu ayahnya itu terlihat sedikit berisi maka berbeda dengan yang sekarang. Ayahnya itu terlihat sangat kurus.


Azra Az-zahra putri Ainun gadis kecil yang sering dipanggil Ara oleh keluarganya. Kini dia berusia sepuluh tahun.


" Ayah mengharapkan itu nak, tapi itu tidak akan mungkin, karena ayah akan pergi selamanya ketempat yang sangat jauh." Lirih Jambri sambil menciumi ubun-ubun kedua putrinya secara bergantian.


Setelah berpelukan dengan kedua putrinya, kini Jambri beralih memeluk kedua putra kembar nya, yang kini terlihat jauh lebih dewasa, padahal usianya mereka baru saja enam belas tahun. Keduanya juga memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi darinya, mungkin lebih tinggi jaaz, dan Jami daripada Jidan.


" Apakah kalian tidak merindukan ayah." Tanya Jambri menatap kedua putranya itu yang hanya dia menatap kearahnya." Ayah tau kalau kalian pasti tidak merindukan ayah, makanya kalian tidak mau memelu__" Belum selesai ucapan Jambri, kini dia merasakan kalau tubuhnya telah dipeluk oleh kedua putranya itu.


" Iya ayah, kami begitu sangat merindukan ayah. Kami senang bisa bertemu dengan ayah. Sampai-sampai kamu bingung ingin mengatakan apa." Jawab Jami yang sama-sama memeluk ayahnya itu.


Yafizan Jaaiz Raiyan yang biasa di panggil Jaaz sedangkan Yafizhan Jaami Raihan biasa di panggil Jami. Mereka adalah saudara kembar hanya saja jaaz tua beberapa menit dari Jami. Keduanya baru berusia enam belas tahun sama seperti Fazri.


Jika Jambri sedang memeluk kedua putranya. Berbeda dengan Wiyah dan Jidan yang sedang memeluk ibu mereka, karena kedua sama-sama merindukan sosok ibu mereka selama ini.


" Ibu, Wiyah begitu sangat rindu sama ibu."


" Jidan juga Bu. Sangat merindukan ibu." Sambung Jidan." Apakah ibu tidak merindukan kami."


" Ibu sangat merindukan kalian anak-anak ibu."

__ADS_1


" Tapi kenapa ibu tidak pernah datang untuk menemui kami berdua."


" Karena waktu itu, ibu dan adik-adikmu tidak ada biaya untuk datang ke kota S makanya kami tidak datang untuk berkumpul. Ibu ingin mengabari kalian waktu itu, hanya saja ponsel ibu hilang, dan semua kontak yang berhubungan kalian hilang tidak tersisa satupun."


" Jadi karena itu ibu tidak datang untuk menemui kami." Widya hanya mengangguk.


" Iya Jidan, karena alasan itulah ibu tidak pernah datang menemui kalian." Jawab Widya merasa bersalah." Maafkan ibu."


" Jangan minta maaf Bu, karena ibu tidak pernah melakukan kesalahan terhadap kami." Ucapan dari Wiyah, semakin membuat Widya lagi-lagi ingin menangis, tapi berusaha untuk dia tahan.


Saat ketiganya sedang berpelukan, ketiganya harus melepaskan pelukan mereka saat melihat kedatangan kedua gadis kecil itu. Wiyah tersenyum senang saat melihat kedua adik ke sayangnya.


" Arin, Ara." Wiyah merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum bahagia, agar adik-adiknya itu memeluknya.


Sedangkan Airin tersenyum melihat kakaknya itu, tapi berbeda dengan Azra yang hanya diam dengan wajah tanpa ekspresinya. Keduanya melangkah mendekati Wiyah. Tapi hanya Airin yang memeluk Wiyah sedangkan Azra melewati Wiyah, dan lebih memilih memeluk Jidan. Wiyah terlihat bingung. Tapi dia berpikir kalau adiknya itu pasti merindukan Abangnya.


" Ya Allah semoga keluarga kami tetap berkumpul seperti ini." Batin Wiyah.


🌺🌺🌺🌺🌺


Azan subuh berkumandang membangunkan orang yang masih tertidur didalam kamar mereka masing-masing. Walaupun mereka masih merasa kelelahan karena acara semalaman, apalagi ada kejutan untuk Wiyah.


Kini keluarga besar itu berkumpul di mushola yang berada di hotel itu. Karena mereka semua semalam tidak ada yang pulang, dan memilih menginap di hotel seperti permintaan Fazar.


Keluarga besar itu akan melakukan sholat subuh berjamaah, karena ayah Jambri yang meminta mereka, untuk sholat berjamaah.


Jidan ditunjuk sebagai imam nua sedangkan yang lainnya akan menjadi makmum nya. Sholat subuh kali ini terlihat berkesan, karena semua keluarga berkumpul dan melakukan sholat subuh secara berjamaah.


" Ayah sholat subuh nya sudah selesai." Jidan menggoyang tubuh ayahnya dengan pelan. Karena dari tadi Jambri masih berada didalam posisinya, yaitu duduk sambil bersandar di dinding padahal yang lainnya sudah pada selesai. Jidan kira kalau ayahnya itu ketiduran." Ayah...." Jidan langsung terkejut saat merasakan tubuh kaku ayahnya saat melihat tasbih yang ayahnya pengang terjatuh kelantai." Ayah bangun, ayah." Jidan memukul-mukul pipi ayah dengan pelan, saat menyadari kalau ayahnya tidak bergerak sama sekali.


" Ada apa Jidan." Tanya Fazar dan Haidar ikut khawatir saat melihat Jidan membangunkan ayah mereka dengan suara sedikit tinggi.

__ADS_1


" Ayah, kak. Ayah tidak bergerak." Fazar dan Haidar tentu terkejut. Mereka sama berjongkok mendekati tubuh Jambri, dan mereka bisa merasakan saat memegang tubuh itu terasa dingin." Bagaimana kak, apakah ayah baik-baik saja." Tanya Jidan dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Jidan takut terjadi sesuatu dengan ayahnya, Apalagi pikirkan buruk itu dari tadi menghantui pikirannya.


" Innalillahiwainnailaihirojiun, ayah sudah berpulang Jidan."


__ADS_2