
Kesabaranku membawa cinta
Abizard meninggalkan ruangan rawat VVIP nya untuk berjalan jalan sebentar. Walaupun dia duduk di kursi roda, tapi Abizard tetap senang karena dia bisa menghirup udara segar.
Sesampainya di taman, Abizard menatap ke sekelilingnya yang terdapat banyak orang-orang disana yang sedang bersantai menikmati taman yang memang berada di rumah sakit.
Pandangan Abizard tertuju pada keluarga kecil yang sedang menemani putranya. Yang sama sepertinya, karena berada di atas kursi roda, sedangkan di sisi kanan dan kirinya terdapat kedua orang tuanya yang sedang mengajaknya mengobrol sambil bercanda bersama.
" Andai aku memiliki orang tua yang lengkap seperti anak itu." Batin Abizard menatap kearah keluarga kecil itu yang masih lengkap, tapi tidak sepertinya, yang sudah kehilangan satu orang tuanya sejak dia baru dilahirkan di dunia ini.
Walaupun Abizard memiliki seorang ayah, tapi Abizard juga ingin merasakan kasih sayang seorang ibu yang belum pernah Abizard rasakan dalam hidupnya sampai sekarang.
Abizard menginginkan seorang ibu yang tulus menyayanginya seperti anaknya sendiri walaupun dia bukanlah ibunya.
Abizard hanya terdiam sambil menatap kearah anak kecil itu, sampai keluarga kecil itu pergi dari tempat itu untuk kembali kedalam. Tapi Abizard masih tetap di tempatnya, Sedangkan sekertaris dengan setia menemani Abizard.
" Saya ingin kembali kedalam ruanganku." Perintah Abizard yang mendapatkan anggukan dari sekertaris Ardi.
" Baik tuan." Jawab sekertaris Ardi. Sekertaris Ardi kembali mendorong kursi roda Abizard untuk kembali keruangan nya.
" Rdi, apa kamu tahu diaman ruangan rawat Fadil." Tanya Abizard.
" Tentu tuan, saya mengetahuinya, karena ruangan tuan dan juga tuan Fadil tidak terlalu jauh, karena bersebelahan." Jawab sekertaris Ardi menjelaskan.
" Apa kamu bisa mengantarkan ku keruangan rawat Fadil, Karena aku ingin kesana."
" Tentu tuan, aku akan mengantarmu kesana." Jawab sekertaris Ardi dengan senang hati mengantarkan tuannya itu.
.
.
Sesampainya didepan ruangan rawat Fadil, sekertaris Ardi membukakan pintu ruangan rawat Fadil, sambil mendorong kursi roda Abizard untuk masuk kedalam.
" Assalamualaikum." Salam keduanya saat memasuki ruangan rawat Fadil.
" Waalaikumsalam." Jawab bunda Sisi dan Fadil bersamaan, menoleh kearah pintu.
__ADS_1
" Abizard." Lirih bunda Sisi dengan suara kecilnya saat melihat Abizard berada di ruangan itu.
" Maaf aku mengganggu kalian." Ucap Abizard merasa tidak enak, karena menggangu kebersamaan seorang ibu dan anaknya yang sedang mengobrol.
" Tidak nak, kamu tidak menganggu." Sahut bunda Sisi cepat sambil tersenyum kearah Abizard.
Bunda Sisi menghampiri, Abizard." Kenapa kamu kesini nak, bukannya kondisi mu belum sepenuhnya pulih." Tanya bunda Sisi mengabil alih kursi roda Abizard, untuk membantu mendorongnya, sedangkan Ardi dengan senang hati memberikan kursi roda Abizard kepada bunda Sisi. Karena sekertaris Ardi tahu kalau bunda Sisi ingin membiarkan Fadil dan Abizard saling mengenal.
Sekertaris Ardi, ijin keluar dengan cara memberikan isyarat kepada bunda Sisi, dan bunda Sisi mengangguk mengiyakan, untuk membiarkan Ardi keluar.
" Aku baik-baik saja tan." Jawab Abizard." Apa aku tidak boleh kesini, sampai tante bertanya seperti itu" Tanya Abizard membuat bunda Sisi menggeleng.
" Bukan seperti itu yang tante maksud. Tante hanya takut kalau terjadi sesuatu dengan kesehatan mu jika kamu tidak beristirahat. Makanya tante bertanya." Jelas bunda Sisi.
" Aku sudah tidak apa-apa tan, ini juga hanya luka bekas operasi, setelah mendapatkan pengobatan luka ini akan sembuh." Sahut Abizard." Aku juga begitu sangat bosan jika berada di ruangan itu terus, makanya aku keluar." Ucap Abizard kembali, memberitahukan apa yang dia rasakan, ketika berada di ruangan putih itu.
Sedangkan bunda Sisi hanya bisa diam tidak menjawab, saat mendengar jawaban dari Abizard. Bunda Sisi tahu, kalau Abizard tidak akan mau di atur kehidupannya.
" Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Tapi kamu juga harus tetap menjaga kesehatan mu." Ucap bunda Sisi mengingatkan yang membuat Abizard mengangguk mengerti.
Sesampainya didepan ranjang Fadil. Bunda Sisi mengehentikan mendorong kursi roda Abizard.
" Iya Tan aku mengerti." Jawab Abizard. Setelah mendapatkan jawaban dari Abizard, bunda Sisi melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Kini didalam ruangan itu hanya terdapat Abizard dan juga Fadil yang hanya diam tanpa bersuara sama sekali.
" Bagaimana kabar mu." Ucap keduanya saling bersamaan, menanyakan kabar satu sama lainnya.
" Kamu dulu." Ucap Abizard mempersilakan Fadil duluan untuk berbicara.
" Tidak, kamu duluan." Tolak Fadil.
" Biar kamu duluan, soalnya kamu kakak disini." Sahut Abizard.
" Jika aku kakak, artinya kamu harus memanggilku kakak dong." Canda Fadil sambil terkekeh, membuat Abizard memutar matanya malas.
" Jijik gue manggil lo kakak." Sahut Abizard membuang mukanya lalu bertika seperti orang yang mau muntah.
__ADS_1
" Lebih baik lo duluan yang ngomong." Suruh Abizard menatap Fadil.
Entahlah, apa yang terjadi kepada Abizard dan Fadil. Padahal mereka baru saja bertemu, tapi sudah bertingkah seperti orang yang sudah lama saling kenal. Apa mungkin itu pengaruh, ikatan tali persaudaraan mereka sebagai seorang sepupu.
Sedangkan Fadil yang mendengar ucapan dari Abizard hanya mengangguk mengerti. Kalau ia duluan ya berbicara.
" Bagiamana keadaan lo sekarang setelah selesai operasi transplantasi sumsum tulang untuk gue." Tanya Fadil menatap kearah Abizard.
" Sepertinya yang lo lihat, kalau gue baik-baik saja." Abizard membuka kedua tangannya, untuk memperlihatkan kepada Fadil kalau dia baik-baik saja." Walaupun sedikit nyeri saat di bawah tidur." Ucap Abizard kembali membuat Fadil terkekeh.
" Terimakasih lo sudah mau menjadi pendonor untuk gue." Ucap Fadil begitu sangat serius menatap adik sepupu yang baru hari ini Fadil bertemu." Jika tidak ada lo mungkin gue sudah tidak bisa melihat keindahan dunia ini lagi. Dan maaf telah menyusahkan lo." Ucap Fadil kembali dengan begitu sangat tulus berterimakasih kepada saudara sepupunya itu.
Sedangkan Abizard hanya dia mendengar kata ' maaf ' yang keluar dari mulut Fadil, merasa tidak pantas untuk mendengar kata maaf itu.
Seharusnya itu dia yang meminta maaf atas apa yang yang papi nya dulu lakukan kepada keluarga Fadil, Sampai membuat bunda Sisi dan kedua anaknya hampir celaka karena rencana yang papi nya buat, untuk memisahkan kedua orang tua Fadil dulu.
Ya Abizard sudah mengetahui cerita sebenarnya sebelum mereka bertemu. Karena Abizard tidak sengaja mendengar curhatan papi nya dengan foto almarhumah ibunya yang sedang menceritakan penyesalan nya kepada adiknya, karena ingin memisahkan adik dengan istrinya.
Abizard yang mendengar curhatan ayah nya merasa begitu sangat kecewa dan marah, dengan sang papi. Sampai membuat Abizard ingin bertemu dengan pamannya yang selama ini papi nya rahasiakan dirinya.
Sampai Abizard mendapatkan informasi siapakah pamannya itu sebenarnya. Dari situ timbul rasa sayang, yang membuat Abizard ingin bertemu dengan paman nya itu.
Tapi tidak pernah tercapai. Karena papi nya sudah mengetahui apa yang Abizard rencanakan. Yang membuat tuan Aslan memberikan perjanjian untuk Abizard agar Abizard tidak akan pernah berhubungan dengan pamannya yaitu Aldevaro.
Sedangkan Abizard hanya mengikuti kemauan papi nya itu, lalu berjanji kalau dia tidak akan pernah ikut campur dengan urusan keluarga pamannya dan berjanji tidak akan pernah bertemu dengan pamannya itu
Sampai mereka di pertemukan di rumah sakit ini, karena kondisi Fadil.
" Tidak usah berterimakasih atau meminta maaf, karena gue hanya ingin menolong saja, karena rasa kemanusiaan." Jawab Abizard beralasan. Membuat Fadil tersenyum mendengar jawaban yang Abizard berikan.
Fadil tahu kalau Abizard hanya beralasan, padahal nyatanya kalau dia sudah di ancam oleh Fazar.
" Lo tenang saja, abang sudah menepati janjinya untuk bertemu dengan paman Aslan." Sambung Fadil membuat Abizard langsung menatap Fadil tidak percaya.
" Jadi Fazar sudah menemui papi." Tanya Abizard tidak percaya, sampai membuat alasannya tadi seketika dia lupakan.
" Ya, Abang sudah bertemu dengan paman sejak siang tadi.." Jawab Fadil.
__ADS_1
...----------------...