Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 217


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Mata Harum langsung berkaca-kaca saat melihat, kalau kejutan yang Wiyah berikan ternyata kedua sahabatnya, yang selama berbulan-bulan dia rindukan.


" Rafa, Rafi." Tangis Harum kembali pecah saat melihat kedua sahabatnya itu. Kaki itu melangkah mendekati Rafa dan Rafi. Lalu Harum memeluk keduanya secara bersamaan." Aku merindukan kalian berdua."


Sama halnya yang di rasakan Harum, Rafa dan Rafi juga merasakan hal yang sama, mereka berdua merasa begitu sangat terharu, karena mereka bisa kembali bertemu dengan sahabat mereka lagi.


Sangking senangnya, keduanya membalas pelukan dari Harum, dengan mata yang berkaca-kaca, karena keduanya juga sangat merindukan Harum.


" Kamu juga merindukanmu Rum." Jawab keduanya bersamaan.


" Jangan pergi lagi Rum, karena kami sedih kalau nggak ada kamu disekolah." Lirih Rafi.


" Iya Rum, Jangan pergi lagi. Soalnya kalau ngga ada kamu di sekolah rasanya sepi benget, bahkan kami juga tidak bisa pergi ketaman karena tidak ada kamu disana." Sambung Rafa.


Sedangkan para orang dewasa yang melihat pemandangan sangat mengharukan ini, hanya bisa tersenyum, Karena ketiga bocil itu berhasil membuat mereka meneteskan air mata karena terharu.


Fazar, Fadil dan Fazri yang berada di tempat yang sedikit jauh dari Wiyah, Fina, dan Harum masih bisa melihat pemandangan mengharukan itu, hanya bisa tersenyum sama seperti orang-orang yang berada di ruangan itu.


Fazar sampai berpikir kalau hanya istrinya lah yang merasa sedih saat gadis kecil itu pergi, ternyata pikirannya salah, karena kedua bocil itu juga merasakannya.


" Ternyata gadis kecil ini begitu sangat disayangi di kelurga kak Haidar." Batin Fazar.


" Akhirnya ketiga sahabat itu bertemu juga." Fazri dan Fazar sama-sama menoleh kearah Fadil saat mendengar ucapan pria itu.


" Emangnya mereka sahabat kak." Tanya Fazri, membuat Fazar mengangguk mengiyakan.


" Tentu mereka sahabat Zri, bahkan 2R satu sekolah dengan Harum, dan 2R juga sering menemui Harum di taman saat dulu dia masih jualan."


"Tapi aku tidak bertemu dengan mereka, saat aku pergi menemui Harum disekolah atau di taman."


" Bagaimana mau ketemu Zri, kalau kamu saja hanya fokus pada Harum, tidak ke yang lain, jadi bagaimana kamu bisa melihat mereka. Walaupun kamu melihat mereka juga, kamu tidak akan perduli, karena kamu tidak mengenalnya."


" Benar juga ya, walaupun aku melihat mereka, aku tidak akan perduli karena aku tidak mengenal keduanya." Batin Fazri yang membenarkan ucapan kakaknya itu.


" Nah sekarang kamu malah bingung sendiri Zri, makanya jangan terlalu fokus satu arah saja, tapi kearah yang lain juga biar tau." Sambung Fazar, yang merasa gemas dengan wajah kebingungan Fazri." Padahal kamu sudah lama ya kenal dengan Harum, tapi sahabat-sahabat saja kamu tidak tau."

__ADS_1


" Bagaimana mau tau bang, orang Naila tidak menceritakan siapa saja sahabatnya."


" Lalu kamu harus menunggu dia cerita dulu baru kamu tau siapa saja sahabatnya."


" Tidak juga sih bang."


" Nah tuh kamu tau, kalau kamu ternyata masih bisa bertanya."


Fazar tidak habis pikir dengan pemikiran adiknya itu, yang katanya sudah lama bersahabat dengan Harum, Tapi Fazri sendiri tidak tau siapa saja sahabat gadis kecil itu.


" Kenapa sih mereka lama banget berpelukan." Ucap Fazri yang merasakan keanehan pada dirinya saat melihat ketiga bocil itu masih saja berpelukan.


Fazar dan Fadil ikut menoleh kearah Fazri saat mendengar ucapan adik mereka itu." Kenapa cemburu sama 2R, makanya kembali kecil lagi biar bisa berpelukan seperti mereka." Ucap Fadil menggoda adiknya itu.


" Apa sih kak, ngga jelas banget sih kalau ngomong." Jawab Fazri kesal menatap kearah Fadil." Kalau boleh sih kak, aku mau jadi kecil lagi, biar bisa dekat sama Harum." Batin Fazri, yang ternyata mengharapka ucapan Fadil menjadi kenyataan.


" Cie cemburu." Bukannya berhenti, Fadil malah tambah menggoda adiknya itu.


" Ihh, bisa diam ngga sih kak. Kalau kakak ngga bisa diam aku akan laporkan ke abang kalau kak Fadil, sudah memiliki ist__" Fazri langsung menutup mulutnya, saat akan membuka rahasia Fadil, yang tidak sengaja di dengar tadi kalau Fadil sudah menikah." Mulut mu Zri tidak bisa dijaga." Batin Fazri mengerutu pada dirinya sendiri, karena tidak bisa menjaga mulutnya saat dia sendang kesal seperti ini, karena dia hampir saja membongkar rahasia kakaknya itu, sebelum Fadil menceritakannya kepada keluarga mereka.


Sedangkan Fadil jadi tegang sendiri saat mendengar kalimat yang sengaja Fazri hentikan tadi." Apakah Fazri sudah tau kalau aku sudah menikah." Batin Fadil penasaran sambil menatap adiknya itu.


" Hihihi, maksud Fazri itu bang, emangnya kak Fadil sudah memiliki insting yang kuat, sampai ngomong gitu." Ucap Fazri meralat ucapannya tadi." Untung kamu pinter Zri, kalau ngga mungkin habislah kak Fadil hari ini juga." Batin Fazri bernafas lega karena kebohongannya tadi.


" Ada-ada saja kamu Zri, Abang kira apa." Ucap Fazar yang seperti percaya dengan perkataan adiknya itu, maka lain dalam hatinya." Tidak mungkin Fazri ingin mengatakan insting, pasti hal yang lain. Seperti istri. Tapi mana mungkin itu, pasti hal yang lain, tapi apa." Batin Fazar sambil menebak-nebak.


" Kakak tidak yakin dengan jawaban mu Zri. Aku tau Zri, kalau kamu pasti sudah mendengar obrolan kami didalam mobil tadi, dan sudah mengetahui rahasiaku. Hanya saja kamu ingin menutupinya sampai aku sendiri yang mengatakannya." Batin Fadil menatap adiknya itu.


🌺🌺🌺🌺🌺


Setelah drama mengharukan tadi, Kini keluarga Haidar, dan juga bunda Sisi sedang duduk di ruangan keluarga, karena mereka menyambut kedatangan Harum di rumah itu.


Sebenarnya ayah Jambri dan juga Haidar berada di rumah itu, hanya saja mereka berada di tempat yang berbeda, mengingat Harum takut dengan orang asing.


Walaupun Harum mengenal siapa Haidar. tapi, karena trauma gadis kecil itu membuat Harum takut saat melihat Haidar.


Sungguh Haidar merasa sedih saat melihat sahabat anak-anak seperti itu, yang memiliki gangguan mental karena ulah orang-orang jahat.

__ADS_1


" Siapa namamu, sayang." Tanya bunda Sisi menatap gadis kecil dan cantik di depannya itu, yang kini duduk di tengah-tengah Rafa dan Rafi.


Terlihat gadis kecil itu seperti takut dengan bunda Sisi makanya dia menundukkan kepalanya.


" Jangan takut gadis manis, nenek ngga jahat koh." Bunda Sisi tidak marah saat gadis kecil itu mengacuhkannya, karena bunda Sisi sudah mengetahui truma Harum dari Fazar.


Karena sebelum mereka kembali ke kota S, Fazar menceritakan cerita sebenarnya, dan meminta bunda Sisi untuk mau menerima Harum di keluarga mereka.


Bunda Sisi yang mendengar cerita tragis yang dialami oleh Harum, ikut merasa iba dan sedih, karena di usianya masih kecil, Harum sudah mendapatkan siksaan begitu sangat keras hingga mental nya terganggu. Sungguh bunda Sisi sangat kasihan pada gadis kecil itu.


Saat Fazar memberitahukan kalau dia akan membawa gadis kecil itu pulang kerumahnya, dan akan menjadi bagian dari keluarganya. Dengan senang hati, tanpa marah sekalipun, bunda Sisi menerima kedatangan Harum di rumahnya.


Sedangkan Harum yang mendengar suara lembut dari wanita paruh baya didepannya, perlahan-lahan mengakat kepalanya, lalu menatap bunda Sisi yang sedang tersenyum.


" Namaa, aku Harum nyonya." Karena kebiasaan di rumah Nadila, membuat Harum memangil bunda Sisi dengan panggilan nyonya, karena Harum takut, kalau sampai dia memanggil bunda Sisi dengan panggilan nenek, maka bunda Sisi akan menghukumnya, Harum tidak mau itu. Karena takut dengan bunda Sisi, membuat tubuh Harum langsung gemetar karena ketakutan, dan bunda Sisi bisa melihat tubuh itu gemetar saat menjawab pertanyaan tadi.


" Kenapa panggil nyonya sayang, panggil nenek, dengan panggilan nenek, jangan nyonya." Ucap bunda Sisi yang merasa sedih saat mendengar panggilan gadis kecil itu untuknya." Ternyata kekerasan yang dia dapatkan membuat gadis kecil ini, selalu takut dengan orang-orang asing seperti ku." Batin bunda Sisi.


Sedangkan Wiyah melihat tubuh gadis kecil itu gemetar karena takut, membuat hatinya ikut terluka, karena diusianya seperti ini Harum harus merasakan ketakutan yang begitu sangat luar biasa, sampai-sampai dia memanggil mertuanya saja dengan panggilan nyonya." Sejahat itukah wanita yang bernama Nadila, hingga membuat mental gadis kecil ini rusak di usianya masih sekecil ini." Batin Wiyah merasa geram dengan wanita yang sudah menyakiti Harum.


🌺🌺🌺🌺🌺


Setelah berpamitan kepada keluarganya kalau Fadil akan mengantarkan Fina pulang. Kini suami istri itu berada didalam mobil yang sama, dan yang menjadi supirnya adalah Rido.


" Kenapa sih lo menyuruh gue menjadi supir Lo, padahal lo bisa menyuruh Fiki atau supir lain." Gerutu Rido menatap Fadil tajam lewat spion mobil." Padahal Lo tau kalau ini bukan jam kerja gue."


" Fokus didepan Do, jangan lihatin gue kayak gitu." Jawab Fadil membalas menatap sahabatnya itu dengan tajam." Kerja itu yang ikhlas, jangan kebanyakan ngeluhnya di pecat baru tau."


" Pecat aja, orang yang kasih gaji gue Abang Fazar bukan Lo." Jawab Rido sewot." Tapi Lo malah jadiin gue supir. Kan aneh Ridho Rafqi Rahmadi di jadiin supir."


" Lo sendiri yang salah Rido. Ayah lo memiliki perusahaan sendiri, tapi Lo malah mau kerja sama kami, padahal Lo bisa nerusin perusahaan Lo Do, bukannya kerja sama kami, kasihan ayah lo harus bekerja tanpa bantuan anaknya."


Ya, ayah Rido memiliki perusahaan sendiri, walaupun tidak sebesar perusahan Fazar, tapi perusahaan ayahnya Rido memiliki cabang dalam negri maupun luar negeri.


Tapi anehnya, Rido malah tidak mau menjadi penerus perusahaan ayahnya itu, dan malah menjadi sekretaris untuk Fadil dan juga mata-mata dari Fazar untuk mengawasi Fadil.


" Karena gue belum siap mau memimpin perusahaan gue sendiri, makanya gue kerja sama lo, dan gue juga masih mau menikmati kebebasan ini, sampai gue cepek sendiri. Dan saat gue cepek, dijamin gue akan memimpin perusahaan gue sendiri Dil." Jawab Rido." Ayah gue juga tidak memaksa gue untuk memimpin perusahaan, asal gue bahagia di sini."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2