
Setelah dari rumah sakit, kini Fazar dan Wiyah akan pergi ke apartemen, karena bunda Sisi yang menyuruh keduanya pergi ke apartemen untuk beristirahat.
Karena bunda Sisi tahu kalau putra dan menantunya itu pasti kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Apalagi melihat wajah Wiyah yang begitu terlihat lelah membuat bunda Sisi yakin kalau menantu nya itu butuh istirahat.
Didalam apartemen, Wiyah kembali di suguhkan dengan rungan yang begitu sangat mewah tidak kalah dengan apartemen yang berada di Jepang.
" Atar barang-barang mu didalam kamar ku." Suruh Fazar membuat Wiyah mengerutkan keningnya bingung. Kenapa harus begitu, bukanya Fazar tidak suka kalau sampai mereka satu kamar. Tapi ini Fazar sendiri yang memintanya untuk pergi ke kamarnya.
" Aku hanya tidak ingin bunda sampai tahu seperti apa hubungan yang kita jalani selama sebulan terakhir, makanya aku menyuruhmu untuk pergi ke kamarku." Ucap Fazar yang seperti tahu apa yang sedang Wiyah pikirkan.
Wiyah yang mendengar ucapan dari Fazar hanya terdiam, karena Wiyah mengira kalau Fazar masih ingin menyembunyikan seperti apa rumah tangga yang mereka jalani selama ini. Yang terkesan seperti kebohongan.
" Baik tuan." Jawab Wiyah.
" Kamarku berada di lantai atas dan pintu kamarku juga tidak dikunci, kamu bisa masuk tanpa memintaku untuk membukakannya. Apa kamu mengerti." Tanya Fazar kembali membuat Wiyah mengangguk.
__ADS_1
" Baik tuan, aku mengerti. Kalau gitu aku naik ke lantai atas, Permisi." Ucap Wiyah melangkah meninggalkan Fazar sambil menarik kopernya untuk naik ke lantai atas melewati tangga. Walaupun sedikit kesulitan, Tapi Wiyah tetap berusaha untuk menarik kopernya.
" Ya Allah beginikah rasanya memiliki suami serasa sendiri. Walaupun dia ada tapi seakan tidak ada, karena enggan untuk membantuku." Batin Wiyah merasa kesulitan untuk menarik kopernya menaiki anak tangga satu persatu sambil menarik kopernya yang terasa begitu berat, mungkin isi dalam koper nya begitu banyak, Padahal kemarin Wiyah hanya mengisi nya sedikit saja.
Sedangkan Fazar. Pria itu hanya diam sambil menatap kearah Wiyah. Memperhatikan apa yang sedang istrinya itu lakukan, tanpa berniat untuk membantunya. Sebenarnya dalam hati kecil Fazar. Fazar ingin membantu istrinya itu. Tapi Fazar terlalu gengsi untuk melakukannya.
Fazar teringat apa yang tadi dia katakan kepada Wiyah. Mengingat perkataan nya tadi membuat Fazar merasa bersalah, karena dengan terang-terangan, kalau ia masih menolak kehadiran Wiyah sampai sekarang.
Tapi yang sebenarnya, perkataan Fazar tadi hanya ingin menyuruh istrinya itu, agar Wiyah naik kekamar nya. Fazar tidak bermaksud untuk menolaknya kembali seperti kemarin.
🌺🌺🌺🌺🌺
Wiyah membuka pintu kamar Fazar dengan perlahan-lahan. Saat pintu terbuka Wiyah diperlihatkan seperti apa kamar suaminya itu.
" Apa tujuan Fazar begitu sangat menyukai hitam, sampai semua kamar yang berhubungan dengannya Pasti berwarna hitam seperti ini, dan kamar yang lainnya." Gumam Wiyah sambil menatap kamar suaminya itu yang berwarna hitam keabu-abuan, sama seperti kamar Fazar yang berada di kota S dan juga di Jepang.
__ADS_1
Wiyah tidak mau memikirkan masalah kamar karena hal pertama yang Wiyah ingin lakukan, yaitu mandi. Karena dari tadi Wiyah merasa gerah dan ingin segera mandi setelah sampai di tempat tujuan.
Wiyah masuk ke dalam kamar Fazar sambil menarik kopernya, lalu meneliti kamar suaminya itu, yang begitu sangat luas. Dan seperti kamar Fazar yang lain. Fazar memiliki ruangan khusus untuk pekaian nya yang super mewah.
Wiyah membuka ruangan khusus untuk pekaian Fazar. Wiyah bisa melihat pekaian suaminya itu yang tergantung, dan tersusun rapi didalamnya.
"Seberapa kaya sih tuan Fazar, sampai pekaian nya sebanyak ini. Tidak dirumah, di Jepang. Tuan Fazar pasti memiliki sejuta pekaian mewah yang lengkap dalam setiap setelan." Gumam Wiyah kembali. Wiyah bisa melihat kalau harga pekaian suaminya itu bukan harga murah melaikan harga yang begitu sangat mahal, terlihat dari kainnya yang lembut, dan dari mana pekaian itu di produksi.
Wiyah belum sepenuhnya mengetahui siapa Fazar sebenarnya, karena dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Sampai artikel yang membahas suaminya saja dia tidak membacanya.
...----------------...
Maaf ya dikit teman-teman, soalnya tadi author ngga sempet buat nulis.
Terus nulisnya juga sudah kemalaman.
__ADS_1