Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Ekstra part 12


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Hari terus berganti, tidak terasa sudah seminggu berpulangnya Fadil dan Fina. Keluarga yang ditinggalkan juga sudah mulai ikhlas menerima kepergian keduanya. Hanya saja mereka belum sepenuhnya terbiasa dengan hari-hari berikutnya, tanpa kehadiran Fina maupun Fadil.


Kini rumah utama, terasa lebih ceria dari seminggu yang lalu. Karena keluarga itu sedang berkumpul. Tuan Aslan, Widya, adik-adik Wiyah. Rafa, Rafi, Fanesya, Haidar Windi, Harum. Serta Wiyah dan juga ketiga anaknya. Bukan itu saja di situ juga ada Beby Falisha yang, sedang berada pangkuan Wiyah dan sekarang sedang menyusu dengan tenangnya. Bayi kecil itu memejamkan matanya karena dia lebih anteng, hari-hari sebelumnya. Karena beby Falisha selalu rewel. Mungkin bayi kecil itu sedang mencari keberadaan kedua orang tuannya atau merindukannya.


Sedangkan Fazar, Abidzar dan Fazri. Tidak ikut berkumpul, karena ketiganya ada urusan. Entah urusan apa yang mereka kerjakan, tapi seminggu ini, setelah Fadil dan Fina dimakamkan. Mereka seperti melakukan sesuatu. Apalagi saat para polisi menyatakan kalau kecelakaan Fadil seperti sengaja sabotase oleh orang. Karena rem nya dan beberapa hal yang penting didalam mobil itu sengaja dirusak oleh seseorang. Polisi juga sedang menuntaskan kasus kecelakaan Fadil. Hanya saja sangat sulit, karena semua bukti seperti sengaja dihapus oleh seseorang. Makanya polisi sampai bingung. Siapakah pelaku sebenarnya?


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Zain, apa agenda saya hari ini?"


"Hari anda akan melakukan rapat dengan perusahaan xx, di restoran world tuan, jam 2 siang tuan" Jawab Zain sambil membacakan jadwal Fazar hari ini.


"Sampaikan kepada perusahaan Xx, kalau saya mau memajukan waktu rapatnya, karena saya ada urusan lain, Zain."


"Baik tuan, saya akan menyampaikan kepada perusahaan Xx, kalau anda memajukan waktu rapat." Jawab Zain."Kalau begitu, permisi tuan." Fazar menanggapi ucapan sekertarisnya dengan anggukan kecil.


Setelah kepergian sekertaris nya. Fazar menatap bingkai foto keluarga nya, yang berukuran besar. Foto keluarga itu diambil saat pernikahan tuan Aslan dan juga Widya. Terlihat disana, kalau keluarganya masih lengkap, bersama dengan senyuman manis mereka.


"Sebentar lagi Dil, Fina. Abang akan membalaskan kematian kalian." Batin Fazar menatap foto adik dan juga adik iparnya.


.


.


Mobil yang dinaiki oleh Fazar dan Zain melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, melewati jalan yang lumayan sepi. Jalan itu bahkan tidak dilewati oleh orang sama sekali.


"Apa benar ini jalan nya Zain?"


"Benar tuan, ini jalan nya." Jawab Zain sambil mengikuti GPS di mobil nya, yang menunjukkan jalan ke restoran, tempat mereka melakukan rapat.


"Sepertinya jalan ini tidak terdapat jaringan sama sekali." Gumam Fazar saat menyadari, kalau ponselnya bahkan ipad-nya tidak ada jaringan sama sekali. Mungkin pengaruh jalan yang mereka lewati, adalah jalan sepi.


Saat Zain sedang menjalankan mobilnya. Tiba-tiba saja dari arah berlawanan, ada dua mobil melaju kencang kearah mereka dan menutupi jalan mereka dengan badan mobil itu.


Strttt


Dengan cepat Zain menghentikan laju kendaraan, untuk mencegah kecelakaan terjadi.

__ADS_1


"Ada apa Zain? Siapa mereka, dan kenapa mereka menghentikan kita?" Tanya Fazar kebingungan.


"Saya kurang tau tuan. Saya akan memeriksanya." Zain membuka pintu mobilnya. Melangkah mendekati kedua mobil itu. Sedangkan Fazar hanya memerhatikan sekertaris nya itu dari dalam mobil.


Saat kepergian Zain. Tiba-tiba saja mobil itu mengeluarkan asap, yang entah berasal dari mana.


Uhuk...uhuk


Fazar terbatuk-batuk karena asap itu, Fazar juga sudah berusaha membuka pintu mobilnya. Tapi pintu mobilnya tidak terbuka sama sekali, karena terkunci. Sampai akhirnya Fazar, pingsan karena kehabisan oksigen.


"Kamu terjebak Fazar." Gumam seorang pria dari luar mobil, sambil tersenyum jahat."Selamat, kamu jatuh dalam permainan ku Muhammad Yusuf Al Fazar. Lihatlah, bagaimana aku membunuhmu sekarang."


.


.


"Astaghfirullah." Wiyah terkejut, saat pisau yang dia pegang terkena tangannya.


"Kak Wiyah." Harum yang memang berada dikamar sih kembar, karena gadis itu sedang menemani adik-adiknya tidur. Harus di buat terkejut, saat mendengar pekikan pelan sang bunda."Yaampun kak berdarah." Ucap gadis berusia sepuluh tahun itu khawatir. Lalu mencari kontak P3K untuk mengobati tangannya Wiyah.


"Ngga apa-apa, Harum. Ini hanya luka kecil." Tolak Wiyah saat melihat anak angkatnya itu sedang mencari kotak P3K.


"Buahnya disimpan dulu." Harum mengeser buah naga, yang sudah setengah potong itu. Tapi harus terhenti, karena tangan Wiyah yang luka."Kak, lain kali hati-hati. Kan jadi luka!" Omel gadis itu, sambil membersihkan luka ditangan Wiyah."Maaf, sakit ya kak." Ucap Harum berhenti mengobati tangan Wiyah, saat mendengar ringgisan kecil yang Harum dengar.


"Ngga apa-apa Harum. Sakit sedikit." Jawab Wiyah tersenyum menatap tulus anak angkatnya itu. Harum kembali melanjutkan membersihkan luka dengan perlahan-lahan, saat mendengar jawaban Wiyah.


"Aku tidak menyangka, kalau gadis kecil yang satu tahun ini telah kami angkat menjadi anak angkat kami. Kini sudah mulai tumbuh dewasa." Batin Wiyah menatap Harum, yang semakin hari semakin cantik. Bahkan gadis yang dulu terlihat pendek kini semakin tinggi. Wiyah tidak pernah melihat wajah sedih seperti dulu, karena wajah ayu itu selalu tersenyum karena bahagia.


"Sudah selesai." Ucap Harum, yang sudah selesai mengobati tangan Wiyah, dan tangan itu juga sudah di plester.


"Makasih ya Harum." Ucap Wiyah tulus menatap anak angkatnya itu.


"Sama-sama kak Wiyah." Jawab Harum sambil mencium tangan Wiyah dengan lembut. Walaupun Wiyah dan Fazar sudah menjadi orang tua angkatnya, bahkan memberikan kasih sayang penuh, seperti anaknya sendiri. Tapi Harum tidak memanggil mereka dengan panggilan mama dan papa. Karena Harum masih kesulitan untuk memanggil mereka dengan panggilan itu. Wiyah dan juga Fazar, tidak memaksakan Harum untuk memanggil mereka dengan panggilan semestinya. Yang terpenting itu adalah, melihat Harum selalu sehat dan bahagia di rumah mereka.


"Terimakasih kak Wiyah, karena kakak sudah menjaga, dan menyayangi ku seperti anak sendiri. Maaf Harum belum bisa membalas semuanya." Lirih Harum menatap Wiyah dengan sedih.


"Sstt, jangan pernah berterimakasih Harum, karena apa yang kak Wiyah dan om tampan berikan, itu semua bukti kasih sayang kami kepadamu, Rum. Karena kak Wiyah dan om tampan benar-benar menganggap Harum sebagai anak pertama kami. Jadi jangan pernah berterimakasih." Ucap Wiyah mengusap lembut punggung putri angkatnya itu."Ingat, Harum tidak sendiri disini, karena kami semua akan menyaingi dan menjaga Harum." Harum hanya mengangguk sambil menangis, lalu memeluk tubuh Wiyah dengan penuh kasih sayang.


Wiyah yang mendapatkan pelukan dari Harum. Langsung membalas pelukan itu."Andai Azra tidak berubah, mungkin aku bisa memeluknya seperti ini." Batin Wiyah yang merasa sangat sedih, mengingat adik kesayangannya itu telah berubah. Jika dulu adiknya Azra begitu sangat menyayangi nya, maka berbeda dengan sekarang, Yang begitu sangat membencinya. Azra sekarang sangat tidak perduli dengannya, bahkan tidak pernah menyebut namanya dengan panggilan kak Wiyah. Entah apa yang membuat gadis itu berubah? tapi Wiyah yakin. Kalau ada sesuatu yang membuat Azra berubah.

__ADS_1


.


.


Ditempat lain.


Ruangan yang gelap, dan aromanya sangat menyengat di hidung. Terdapat pria yang sedang teringat, dengan dikeadaan di paksa berdiri dengan kursi dibawahnya. Bukan saja itu, terdapat tali dilehernya. Andai kursi itu jatuh, maka pria itu akan mati tergantung.


"Siapa kalian." Tanya pria itu dengan datar, dan juga tatapan tajam, menatap seorang pria, yang hanya terlihat samar-samar dengan cahaya lampu seadanya. Bahkan pria itu tidak bisa melihat wajahnya.


"Good, kamu tidak ingat dengan saya tuan?" Ucap pria itu sambil terkekeh."Aku lupa, kalau anda tidak pernah bertemu dengan saya."


"Siapa kamu, jangan macam-macam."


"A child, whom you destroyed his family. Sir."


"Family." Beo Fazar, mencoba mengingat siapa kelurga yang pernah dia hancurkan." Aldrich Ainsley."


"Very clever. Ada begitu sangat hafal nama saya tuan." Ucap pria itu sambil menunjukkan dirinya dari kegelapan itu, untuk memperlihatkan siapa dirinya."Ternyata anda tidak kalah tampan dari adik anda yang sudah mati itu tuan." Ucap pria itu tersenyum sinis."Bagaimana hadiah dari saya tuan. Bukannya sangat bagus bukan."


Ya, pria itu adalah Aldrich Ainsley. Pria yang menyimpan dendam terhadap Fazar dan Fadil. Bahkan Aldrich lah dalang dari kematian Fadil.


"Biadab." Caci Fazar tanpa takut sama sekali.


" Ya!! saya memang biadab!! Karena saya tidak suka keluarga saya dihancurkan!!" Ucap pria itu yang sudah terpancing oleh emosi nya."Apa anda tau tuan Fazar?!! Kalau saya begitu sangat menyayangi keluarga kecil saya!! Tapi karena mu dan adik kesayangan mu, saya harus melihat keluarga saya yang berantakan!!" Ucap Aldrich meninggikan suaranya menatap benci kearah Fazar.


"Tapi kelurgamu tidak baik-baik saja, karena ayah dan kakak tirimu berselingkuh." Jawab Fazar dengan suara yang tidak kalah tingginya.


"Saya tau itu tuan Fazar! Tapi saya sengaja membiarkannya! agar kelurga kami baik-baik saja! Tapi karena ulah kalian! kelurga saya harus berantakan! Ayah saya yang masuk kedalam penjara, kakak masuk rumah sakit jiwa. Sedangkan mama pergi entah kemana tanpa melihat ku." Lirih pemuda itu."Apa anda tau tuan?! Itu semua karena siapa? Karena anda." Ucap Aldrich kembali, menatap Fazar dengan kebencian."Tapi anda tenang saja tuan, saya akan memberikan anda hukuman yang bagus." Ucapannya kembali sambil tersenyum sinis. Aldrich memanggil anak buahnya."Aku ingin melihatnya menderita, siksa dia." Suruh Aldrich yang mendapatkan anggukan dari orang suruhannya itu.


Pria bertubuh besar itu mendekatinya, lalu menarik kursi di kaki nya.


"Apa yang kamu lakukan? lepaskan!!" Teriak Fazar kesakitan. Saat kursi penyangga itu ditarik, yang membuat dia tergantung kesakitan. Fazar berusaha untuk memberontak, tapi tangannya diingat dibelakang."Tol_ng." Lirih Fazar hampir kehilangan kesadaran, apalagi nafasnya akan benar-benar menghilang.


"Pasang kembali kursinya." Pria tubuh besar itu menurut lalu memasangkan kembali kursi di kaki Fazar, yang membuat tubuh itu kembali tegap tidak bergantung seperti tadi.


"Uhuk...Huuhuu." Fazar sampai terbatuk-batuk saat udara kembali masuk kedalam roga hidung dan mulutnya. Rasa sakit tadi seakan hilang.


"Bagaimana? Apakah masih kurang?" Ucap Aldrich sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2