Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 59


__ADS_3

Selesai mengadakan pertemuan, dengan para investor, Fazar keluar dari ruangan rapat, dan menyerahkan semuanya kepada Zain, karena Fazar ingin kembali ke apartemen untuk mengecek istrinya, yang Fazar tinggalkan di apartemen sendirian. Padahal kata Zain, kalau Wiyah baik-baik saja, dan aman didalam apartemen.


Tapi Fazar ingin memastikan sendiri bagaimana keadaan istrinya itu langsung, mengingat kalau ini di negeri orang. Jangan sampai istrinya itu keluar dari apartemen sendirian, sedangkan Wiyah belum mengenal kota Tokyo, karena baru kali ini Wiyah berada di kota itu. Itupun karena Fazar yang membawanya.


Fazar tidak mau kalau dia sampai di Indonesia, bunda Sisi akan menayangkan soal menantunya yang tidak ikut dengannya, karena Wiyah hilang di Jepang. Membayangkan itu membuat Fazar menggelengkan kepalanya kecil, karena pikirannya menjadi aneh, menurut Fazar.


" Aku akan pulang ke apartemen Zain. Aku serahkan semua masalah ini kepada mu." Ucap Fazar membuat Zain mengangguk mengerti.


" Baik tuan." Jawab Zain.


Setelah Zain memberikan kunci mobil kepada Fazar, karena pria itu akan menyetir sendiri ke apartemen. Fazar meninggalkan Zain untuk segera kembali ke apartemen.


Saat Fazar melewati karyawannya, semua yang berada di kantor itu menunduk hormat saat Fazar melewati mereka.


Fazar menjalankan mobilnya untuk pergi, ke apartemen, Jarak kantor dan juga apartemen tidak terlalu jauh, mungkin dua puluh menit Fazar akan sampai.


Setelah memarkirkan mobilnya, Fazar melangkah masuk kedalam lobby dan masuk kedalam lift memencet tombol pintu lift untuk naik lantai atas.


Sesampainya didepan apartemennya


Fazar tidak langsung memencet bel pintu, karena Fazar sendiri tahu, kata sandi pintu, untuk masuk kedalam, jadi Fazar tidak perlu repot-repot untuk memencet bel pintu, karena pintunya bisa Fazar buka tanpa bantuan orang untuk membukanya.

__ADS_1


Saat Fazar memasuk kedalam, Fazar sudah di sambut dengan aroma masakan yang membuat perutnya langsung kelaparan.


" Apakah dia sedang masak." Gumam Fazar saat mencium aroma masakan, yang begitu sangat harum sampai menusuk ke Indra penciumannya.


" Gadis itu, tahu saja kalau aku akan pulang. Padahal aku tidak mengatakan apapun padanya." Batin Fazar. Fazar melangkah kearah meja makan.


Saat sudah berada di depan meja makan. Fazar bisa melihat sup ayam dan juga ayam goreng sebagai pelengkapnya sudah berada di atas meja.


Membuat Fazar ingin cepat-cepat menikmati makanan di hadapannya itu.


Sedangkan Wiyah, belum menyadari kehadiran Fazar di sana, karena gadis itu sedang berada di dapur sambil membawa nasi putih yang berada di atas piring untuk di simpan di atas meja.


Saat Wiyah melangkah mengarah ke meja makan, Wiyah harus di bikin terkejut saat melihat kehadiran Fazar yang sudah berada di sana.


Sedangkan Fazar sama terkejutnya seperti Wiyah saat melihat kehadiran istrinya itu. Bukan kehadiran istrinya itu yang membuat Fazar terkejut melaikan penampilan Wiyah yang berbeda. Bagaimana tidak berbeda, kalau penampilan istrinya itu hanya mengenakan baju kaos kebesaran berlengan panjang, dan juga celana kain yang sedikit logar dibandingkan tubuh kecil membuat baju itu terlihat kebesaran di tubuh Wiyah. Fazar beralih melihat ke kepala istrinya yang tidak tertutup kain seperti sebelumnya membuat rambut panjang yang tersangul itu terlihat.


Jika Fazar bisa mengakuinya, kalau penampilan istrinya itu begitu sangat cantik walaupun dengan baju kebesaran yang ditambah dengan kepala yang tidak tertutup kain membuat rambut hitam itu terlihat.


Sedangkan Wiyah yang sadar akan tatapan Fazar, baru menyadari kalau dia tidak memakai Jilbabnya, dengan gerakan cepat Wiyah menyimpan piring nasi yang tadi dia bawah di atas meja, saat Wiyah ingin mencari penutup kepalanya, Fazar mengehentikan langkahnya.


" Biarlah seperti itu, karena kita hanya berdua disini, tidak ada orang lain, selain kita. Kita juga suami istri jadi tidak apa kalau kamu tidak memakai jilbabmu." Ucap Fazar membuat Wiyah berbalik menghadap suaminya itu.

__ADS_1


Wiyah masih belum percaya dengan perkataan Fazar barusan. Yang mengatakan kalau mereka.' suami istri '. Wiyah belum pernah mendengar perkataan itu keluar dari mulut Fazar. Tapi hari ini Fazar mengatakannya.


Sedangkan Fazar sadar dengan apa yang dia ucapkan menggerutuki kebodohannya, karena mengatakan hal yang seharusnya dia tidak katakan. Tapi perkataan tadi, keluar begitu saja tanpa Fazar sadari mulutnya.


" Duduklah, jangan hanya berdiri, karena nanti makanannya akan dingin." Ucap Fazar memecahkan suasana yang tadi hening karena ucapannya. Fazar mengingatkan Wiyah saat melihat kalau Wiyah sedang diam sambil menatapnya.


" Eee, maaf tuan." Ucap Wiyah yang sadar dari keterdiamnya." Maaf tuan, apakah anda sudah lema berada disini." Tanya Wiyah yang kembali melangkah kearah meja makan. Wiyah tidak jadi mengambil jilbabnya setelah. Wiyah mendengar ucapan dari Fazar barusan.


" Tidak, aku baru saja berada disini tadi." Jawab Fazar sambil duduk di kursi. Mendengar jawaban dari Fazar membuat Wiyah mengerti.


" Maaf tuan, karena tuan baru saja dari luar, lebih baik tuan bersih-bersih terlebih dahulu." Ucap Wiyah, yang tidak bermaksud untuk menyuruh Fazar, melaikan Wiyah hanya ingin mengingatkan Fazar, untuk bersih-bersih terlebih dahulu barulah mereka melakukan makan siang mereka.


Sedangkan Fazar yang mendengar ucapan Wiyah tidak marah, karena dia sendiri baru mengingat kalau dirinya baru saja dari luar. Fazar kembali berdiri dari duduknya melangkah kearah belakang untuk bersih-bersih terlebih dahulu, barulah ia melakukan makan siangnya.


Selesai bersih-bersih Fazar kembali duduk di depan meja makan. Wiyah yang melihat suaminya yang sudah kembali duduk, dengan cetakan mengambilkan makanan untuk Fazar.


" Ya Allah semoga hubungan kami bisa normal seperti suami istri lainnya." Batin Wiyah yang masih mengingat ucapan Fazar barusan. Wiyah hanya bisa berdoa setiap dalam sholatnya, agar hubungan mereka bisa normal, dan Fazar bisa menganggapnya ada sebagai istrinya.


" Apa kamu tidak makan." Tanya Fazar menatap Wiyah yang hanya diam, tanpa memakan makanannya.


" Ee, ini aku mau makan tuan." Jawab Wiyah, lalu segera memakan makanannya. Kini kedua makan dengan tenang, tapi pikiran mereka tetap kearah lain, karena mereka sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2