
Kesabaranku membawa cinta
Wiyah masuk kedalam kamar mertuanya, dan dia bisa melihat kamar itu bernuansa putih seperti kamarnya tidak seperti kamar suaminya yang hanya gelap seperti malam.
Saat masuk kedalam kamar mertuanya itu Wiyah bisa melihat, kalau ada foto besar yang tergantung di atas tempat tidur. Wiyah menatap foto itu, dan bisa melihat kalau pria muda yang hampir memiliki wajah seperti suaminya.
Ya foto yang sama seperti di ruangan tamu, hanya saja orang didalam foto itu hanya sendiri, tidak seperti di ruangan tamu yang berjumlah tiga orang.
Foto pria muda yang sedang berdiri mengunakan jas hitam, dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali, tapi tetap terlihat tampan.
" Itu foto ayahnya Fazar. Foto itu di ambil saat dia masih muda." Ucap bunda Sisi yang melihat menantunya itu sedang menatap foto mendiang suaminya.
Wiyah yang tadi menatap kearah foto mendiang ayah mertuanya, beralih melihat kearah bunda Sisi.
" Wajahnya sama seperti Fazar, bahkan sikap dan tingkah mereka sama." Jelas bunda Sisi menatap foto suaminya itu." Dia akan melakukan apapun untuk wanita yang dia cintai, agar wanita itu bahagia. Bahkan melepaskan kebahagiaannya." Ucap bunda Sisi kembali dengan lirih karena mengingat kebersamaannya dengan suaminya itu.
" Bunda, jangan sedih, karena sekarang ayah sudah bahagia disana." Ucap Wiyah menenangkan mertuanya itu yang kembali sedih seperti tadi siang. Wiyah memeluk tubuh bunda Sisi, mencoba memberikan ketenangan untuk bunda Sisi." Ayah akan sedih jika melihat bunda sedih seperti ini." Ucap Wiyah kembali. Wiyah membiarkan bunda Sisi melepaskan kesedihan yang tersimpan dalam hatinya.
Walaupun Wiyah tidak mengerti arti dari perpisahan karena kematian, Tapi Wiyah bisa merasakan, kalau kepergian orang yang paling kita sayangi itu jauh lebih sakit. Seperti Wiyah melihat perceraian kedua orang tuanya, pergi tanpa mengingatkannya.
Wiyah melepaskan pelukannya dari bunda Sisi." Sebaiknya sekarang bunda istirahat, dan bunda juga jangan banyak pikiran, karena takut kalau nanti bunda bisa sakit." Ucap Wiyah. Yang mendapatkan anggukan dari bunda Sisi.
" Kalau gitu bunda bersih-bersih dulu."
" Iya bun." Jawab Wiyah sambil tersenyum. Bunda Sisi melangkah kearah lama mandi untuk bersih-bersih terlebih dahulu, barulah mereka tidur.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼
Sedangkan kamar Fazar.
Pria yang sedang berbaring di kasurnya sambil uring-uringan karena tidak ada istrinya di sampingnya sekarang. Rasanya Fazar begitu sangat tersiksa menahan kerinduan yang begitu sangat berat kepada sang istri, Seberat perasaan Fazar melepaskan istrinya untuk tidur bersama sang bunda. Tapi Fazar tidak tahu apakah Wiyah merasakan hal yang sama sepertinya atau tidak.
" Ya Allah, kenapa malam lama sekali, rasanya aku menginginkan pagi, agar aku cepat-cepat berduaan bersama dengan istriku." Ucap Fazar menatap langit-langit kamarnya. Jika biasanya Fazar menginginkan agar malam di perpanjang, karena dia ingin menghabiskan malam nya bersama sang istri. Maka berbeda dengan malam ini, karena Fazar menginginkan pagi, karena istrinya tidak ada disampingnya malam ini.
" Semoga besok malam tidak seperti ini."
🌺🌺🌺🌺🌺
Di sisi lain.
Wanita itu melangkah kemeja kerjanya, lalu mendudukkan tubuhnya di di kursi kerjanya dengan begitu sangat angkuh. Tidak lupa wanita itu menyalahkan sebatang rokok sambil menatap kearah Harum.
" Babu, kamu tahu kesalahan apa yang kamu buat." Tanya wanita itu dengan suara dinginnya.
Sedangkan Harum yang mendengar pertanyaan dari wanita itu, langsung gemetar ketakutan, karena Harum tidak tahu kesalahan apa yang ia perbuat.
" Maaf nyonya, saya tidak tahu." Walaupun gemetaran tapi mulut kecil itu tetap menjawab, karena kalau ia tidak menjawab pasti nyonya didepannya akan menghukumnya kembali.
" Kamu mengatakan apa babu kecil." Tanya wanita itu, seolah-olah ia tidak mendengar jawaban dari Harum." Katakan yang lebih jelas, dan panggil aku dengan nyonya serta namaku." Ucap wanita itu kembali kepada gadis kecil yang sebentar lagi akan berusia sembilan tahun itu.
" Maaf nyonya Nadila, saya tidak tahu kesalahan apa yang saya perbuat." Ucap Harum mengulang jawaban nya tadi.
__ADS_1
" Bagus, babu. Kamu tidak tahu kesalahan apa yang kamu buat." Ucap wanita itu yang ternyata bernama Nadila ......" Baiklah aku akan beritahu kamu babu kecil apa kesalahan yang kamu buat." Jawab Nadila.
" Siapa yang menyuruhmu untuk keluar dari mansion ini." Tanya Nadila dengan suara yang begitu sangat besar yang membuat siapa saja akan ketakutan, wanita itu menatap kearah Harum dengan tatapan tajam." Apakah kamu berencana untuk kabur." Tanya Nadila, membuat Harum menggeleng tidak membenarkan.
" Tidak nyonya, saya tidak berniat untuk kabur dari rumah ini." Jawab Harum menggeleng.
" Berani kamu menjawab babu kecil." Ucap Nadila geregetan. Wanita itu berdiri dari duduknya, mendekati Harum.
Nadila menarik paksa rambut Harum, yang membuat kepala gadis kecil itu langsung terangkat.
Wanita itu bisa melihat tetesan air mata yang mengalir membasahi pipi gadis kecil itu, karena gadis kecil didepannya itu sedang menahan rasa sakitnya.
" Berani kamu menjawab hmm." Tanya Nadila membuat Harum menggeleng takut. Karena Harum tidak berani untuk membuka suaranya." Karena kamu sudah berani menjawab ku, aku akan memberikan hukuman untuk kamu." Ucap wanita itu kembali dengan senyuman si bibirnya. Bukan senyuman kebahagiaan, melikan senyuman jahat.
Wanita itu mendekatkan tangan yang sebelah kanan, karena tangan itu sedang memegang sebatang rokok.
" Rasakan ini." Wanita itu langsung menyimpan rokok yang masih menyala ke bibir Harum.
" Tidak nyonya, ini sangat menyakitkan. lepaskan, saya tidak akan melakukannya lagi" Ucap Harum menangis karena rasa peri di bibir mungilnya itu, harum mencoba untuk pemberontak tapi tidak bisa, karena tubuhnya yang kecil tidak akan bisa melawan tubuh wanita itu.
Sedangkan wanita hanya tertawa, sambil melihat gadis kecil itu yang tersiksa di tangannya.
" Aku akan membuat mental babu kecil ini rusak, setelah itu aku akan memperlihatkannya kepada istrimu Fazar. Aku ingin melihat seperti apa reaksi istrimu Fazar saat mengetahui kalau gadis kecil yang dia sayangi telah mengalami trauma akan kekerasan, dan aku juga ingin melihat seperti apa reaksi Ardian saat melihat, kalau anak yang baru dia ketahui ternyata memiliki gangguan jiwa, karena kesalahannya." Batin wanita itu sambil tertawa. Membayangkan betapa hancurnya Ardian dan begitu sangat terlukanya Fazar saat melihat istrinya bersedih.
...----------------...
__ADS_1