
Fazar menarik pergelangan tangan Wiyah dengan kasar sambil melangkah keluar.
Sedangkan Wiyah berusaha untuk menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, menutupi rasa sakitnya dari orang-orang yang sedang menatap kearah mereka. Wiyah berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa sakit kepada orang-orang, karena Wiyah tidak ingin melihat suaminya mendapatkan hujatan dari rekan bisnisnya nanti.
Fazar membawa Wiyah sampai keluar, dan sekarang Wiyah bersama dengan Fazar sudah berada di luar.
" Tu_an sakit, tol_ong lepaskan." Ucap Wiyah meminta agar Fazar melepaskan pergelangan tangannya yang kini sudah sangat sakit. Karena mereka sudah berada di perkirakan mobil yang membuat Wiyah baru berani untuk membuka suaranya.
" Tuan-"
" KAMU BISA DIAM TIDAK" bentak Fazar membuat Wiyah langsung terdiam karena takut dengan bentakan keras dari Fazar. Padahal tadi Wiyah meminta Fazar untuk melepas pergelangan tangannya, hanya saja Fazar sudah memotong ucapannya.
Tidak lama, Zain datang dengan langkah tergesa-gesa saat melihat tuan sudah keluar dari acara itu.
" Zain, aku minta kunci mobil, aku akan membawanya sendiri." Minta Fazar saat melihat Zain sudah berada di depannya.
Zain mengambil kunci yang Fazar minta tadi disaku celananya. Lalu memberikannya kepada Fazar.
" Kamu bisa pulang bersama dengan bodyguard lainnya, karena aku ingin menyetir sendiri." Ucap Fazar
" Baik tuan."
Fazar kembali menarik tangan Wiyah yang masih dia genggam dengan begitu sangat kuat, lalu menarik paksa Wiyah untuk masuk kedalam mobil secara paksa. Setelah itu Fazar memastikan kalau Wiyah sudah berada didalam, Fazar memutari mobil untuk masuk kedalam mobil, tepatnya didepan kemudi.
Tanpa mengatakan apapun, Fazar langsung tancap gas. Meninggalkan kedung itu dengan kecepatan tinggi.
Fazar memilih jalur yang lumayan sepi tidak terlalu ramai dengan kendaraan, agar Fazar bisa dengan sesuka hati mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi
" Tuan." Lirih Wiyah ketakutan saat merasakan kalau mobil yang sekarang Fazar jalankan, melaju kencang dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Sedangkan Fazar hanya diam tidak menjawab atau memperdulikan ucapan Wiyah yang ketakutan.
Karena Fazar masih merasa begitu sangat kesal saat dia mengingat Wiyah berada di pelukan Thoriq.
" Tuan, aku mohon berhenti. Aku takut." Tangis Wiyah akhirnya pecah karena Wiyah begitu sangat takut saat merasakan mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi yang membuat mereka hampir terbang.
" Sedangkan Fazar yang mendengar tangisan Wiyah mulai mengurangi kecepatan mobilnya. Dan hal itu membuat Wiyah bisa bernafas dengan lega.
Wiyah menghapus sisa-sisa air matanya lalu mengatur nafasnya yang tampak sesak karena ketakutan.
" Apa kejadian tadi sengaja kamu lakukan." Tanya Fazar. Kini kendaraan mereka melaju di atas kecepatan rata-rata.
Mendengar pertanyaan dari Fazar membuat Wiyah menggeleng tidak membenarkan tuduhan dari suaminya itu." Tidak tuan. Kejadian tadi benar-benar tidak sengaja, dan tuan tadi hanya ingin membantuku." Jelas Wiyah berusaha untuk menjelaskan kejadian tadi agar suaminya itu tidak salah paham padanya.
" Aku tidak percaya dengan penjelasan mu." Ketus Fazar." Apa dengan cara seperti tadi kamu menjebak para pria." Tanya Fazar membuat Wiyah menggeleng tidak membenarkan.
Fazar hanya datang lalu menghinanya sebagai wanita murahan yang begitu sangat hebat menjebak para pria, hanya karena kepolosan nya, dan juga penampilannya.
Sungguh Wiyah masih belum mengerti, saat Fazar selalu menatapnya dengan tatapan kebencian, dan menghinanya sebagai wanita murahan, hanya karena kesalahpahaman itu.
" Sungguh tuan, aku tidak berbohong. Aku tidak pernah menjebak pria lain, termasuk anda." Jelas Wiyah mencoba untuk menjelaskan kejadian tadi, dan beberapa bulan yang lalu, kalau kejadian itu hanya salah paham saja.
Mendengar penjelasan dari Wiyah membuat Fazar menepikan mobilnya, lalu berhenti. Setelah mobil berhenti z Fazar menatap Wiyah dengan tatapan dinginnya.
" AKU TAHU PERMAINAN MU WISYAH HANIFAH PUTRI, KALAU KAMU YANG MEMASUKAN OBAT DALAM MINUMAN ITU, LALU MEMBERIKANNYA NYA KEPADAKU KARENA KAMU INGIN MENJEBAKU. TAPI AKU DULUAN PERGI, YANG MEMBUAT KAMU TIDAK JADI MELANJUTKAN RENCANA MU DAN KAMU PASTI MENYURUH WANITA LAIN UNTUK MENJEBAKU KARENA KAMU TIDAK BERHASIL UNTUK MENJEBAKU." Ucap Fazar penuh dengan penekanan, yang menyalahkan Wiyah atas kejadian itu.
Wiyah yang mendengar tuduhan Fazar berusaha untuk tatap mengontrol emosinya, karena Wiyah tidak ingin menjawab dengan kemarahan, yang membuat kesalahpahaman tadi dan berapa bulan yang lalu tidak akan pernah selesai, malahan akan semakin panjang.
" Tuan, untuk apa aku menjebak anda, sedangkan aku sendiri tidak mengenal anda, dan baru mengenal anda saat itu karena tidak sengaja, yaitu saat tuan sudah membantuku di taman. Dan tuan harus tahu kalau minuman__" Penjelasan Wiyah harus dipotong oleh Fazar.
__ADS_1
" Aku tidak percaya dengan ucapan mu. Kamu sama seperti wanita lain, yang selalu bisa membalikkan semua perkataan. Aku tidak percaya dengan penjelasan mu, setelah aku melihat beberapa kali kamu bersama dengan seorang pria. Bahkan malam itu, aku melihat kalau kamu berpelukan dengan seorang pria tua. Kamu begitu sangat menjijikkan." Hina Fazar kembali semakin membuat Wiyah merasa sakit hati. sehina itukah dirinya sampai di anggap murahan, tanpa mendengar cerita sebenarnya.
Dan Wiyah merasa begitu sangat bingung saat Fazar mengatakan kalau ia berpelukan dengan seorang pria paruh baya. Apakah Fazar melihatnya, malam itu saat ia sedang bersama dengan ayahnya, dan Fazar berada di taman yang sama dengan nya. Pikir Wiyah.
" Murahan tetap murahan, walaupun sudah di perlakukan dengan baik." Hina Fazar kembali, sambil menunjuk kearah Wiyah, lalu tersenyum miring karena merasa jijik dengan Wiyah.
Wiyah yang mendengar hinaan Fazar semakin membuat perasaan nya sakit, bukan saja perasaannya tapi harga dirinya sudah direndahkan oleh suaminya sendiri.
Takkk.
Suara tamparan mendarat di pipi mulus Fazar. Kita tahu kalau pelakunya bukan orang lain melainkan Wiyah sendiri, karena Wiyah sudah mulai terpancing oleh emosinya yang membuat Wiyah tanpa sengaja menampar pipi Fazar.
Sedangkan Fazar tampak terkejut dengan tamparan Wiyah, yang membuatnya langsung membulatkan matanya.
" Beraninya kamu menamparku." Ucapan Fazar harus terpotong dengan ucapan Wiyah.
" Aku tahu tuan, aku murahan seperti yang tuan katakan tadi. Tapi apa anda lupa, kalau wanita murahan ini mempunyai haraga dirinya yang harus dia jaga, seperti anda. Seharusnya anda tidak menghinaku seperti itu, jika anda tidak menemukan bukti kalau aku benar-benar wanita murahan." Ucap Wiyah dengan nada bergetar disela-sela tangisannya, karena Wiyah merasa begitu sangat sakit hati dengan perlakuan Fazar padanya yang menganggap kalau dirinya benar-benar wanita murahan, tanpa mencari tahu terlebih dahulu.
" Tuan, sebelum anda menghina seseorang, seharusnya anda mencari tahu terlebih dahulu." Ucap Wiyah kembali. Wiyah menghapus air matanya. Wiyah membuka pintu mobil, lalu turun dari mobil Fazar, tanpa mengatakan apapun. Wiyah melangkah meninggalkan mobil Fazar untuk mencari ketenangan, Tanpa memikirkan kalau ini bukan Indonesia yang bisa pergi begitu saja, tanpa bisa mengunakan bahasa asing.
Sedangkan Fazar hanya terdiam, saat mendengar ucapan Wiyah yang ada benarnya. Kenapa dia duluan menuduh tanpa mencari tahu terlebih dahulu.
Fazar yang sadar akan tidak melihat kehadiran Wiyah mengusap wajahnya kasar, Fazar tahu kalau Wiyah pasti sudah keluar dari mobilnya.
Karena merasa begitu sangat bersalah bercampur khawatir membuat Fazar turun dari mobilnya untuk menyusul keberadaan Wiyah.
Fazar merasa takut kalau sampai terjadi sesuatu ke Wiyah mengingat Wiyah baru saja menginjak kota ini, dan tidak bisa mengunakan bahasa asing.
...----------------...
__ADS_1