Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 47


__ADS_3

" Bu Neneng, kemana kak Wiyah." Tanya Fazri yang tidak melihat keberadaan kakak iparnya itu, padahal setiap hari Minggu seperti ini pasti Wiyah berada di rumah tidak akan kemana-mana. Selain kerumah kakaknya Haidar untuk menemui ketiga anak keponakannya, itu juga bersama dengan Fazar.


Karena Fazar melarang Wiyah untuk pergi sendiri. Sepertinya contohnya minggu kemarin, Fazar meminta Wiyah untuk menunggunya karena dia akan ikut bersama dengannya.


Entahlah apa yang terjadi pada pria itu sampai meminta Wiyah agar membiarkannya ikut. Apa mungkin Fazar takut kalau Wiyah akan menceritakan, seperti apa rumah tangga yang mereka jalani.


" Non Wiyah ada di halaman belakang tuan Fazri, lagi nanam bunga." Jawab bu Neneng membuat Fazri tampak berfikir, lalu mengangguk mengerti.


" Kalau gitu, makasih bu Neneng, aku mau menemui kak Wiyah dulu." Ucap Fazri.


" Iya tuan Fazri." Jawab bu Neneng.


Fazri melangkah kearah halaman belakang dan dari jauh Fazri bisa melihat kalau Wiyah yang di bantu oleh Mbak Alia sedang menanam bunga yang belum ada kembangnya.


Fazri melangkah mendekati kakak iparnya itu, dan ia bisa melihat senyuman bahagia dari Wiyah saat menanam bunga yang memiliki duri di sisi tangkai nya itu.


" Kak Wiyah lagi tanam bunga apa." Tanya Fazar yang sudah berdiri di belakang Wiyah.


Sedangkan Wiyah yang mendengar suara dari belakang, membuat Wiyah menoleh melihat kearah belakang. Wiyah bisa melihat kalau Fazri sedang menatapnya sambil tersenyum.


Wiyah bisa melihat kalau orang yang bertanya kepadanya tadi tidak lain Fazri." Kakak lagi tanam bunga Zri." Jawab Wiyah.


" Bunga apa." Tanya Fazri melangkah mendekati Wiyah lalu berjongkok untuk melihat bunga apakah yang di tanam oleh Wiyah.


" Bunga mawar." Jawab Wiyah." Tapi kakak ngga tau, bunga mawar yang kakak beli ini mawar mera atau putih, soalnya kakak ngga nanya sama penjualannya ." Jelas Wiyah membuat Fazri mengganggu mengerti.


" Emangnya kak Wiyah beli di mana bunganya." Tanya Fazri.

__ADS_1


" Dekat dengan taman yang biasa kakak datangi." Jawab Wiyah." Sebenarnya kakak ngga ada niat buat beli bunga, Tapi karena kakak ngga sengaja lewat dekat sama toko bunga. Membuat kakak menjadi penasaran, makanya kakak lihat-lihat bunga nya yang ternyata semuanya cantik apalagi mawar putih, kakak paling suka makanya kakak beli aja. Kakak pikir kalau kakak tanama di halaman belakang pasti akan terlihat cantik.." Jelas Wiyah membuat Fazri mengangguk-anggukkan kepalanya kecil tanda kalau ia mengerti.


" Kakak suka mawar putih." Tanya Fazri membuat Wiyah mengangguk mengiyakan." Kalau gitu abang Fazar suka mawar merah." Ucap Fazri.


" Emangnya kak Fazar suka bunga juga." Tanya Wiyah yang merasa aneh kalau sampai suami dinginnya itu sampai menyukai sebuah bunga. Sedangkan Fazri yang di tanya hanya mengangguk mengiyakan.


" Iya kak, Abang paling suka dengan bunga, tapi bunga mawar aja, kalau yang lain kakak ngga terlalu suka." Jelas Fazri." Pokoknya kak Wiyah sama abang sama-sama pencinta bunga mawar. Walaupun berbeda warna, Tapi tetap memiliki makna yang sama, apalagi kedua bunga itu kalau di satukan, bukan saja maknanya tapi kedua bunga itu semakin terlihat cantik kalau di satukan." Jelas Fazri memberitahukan apa yang ada dalam pikirannya sekarang.


Fazri tidak pernah menduga kalau Wiyah dan Fazar menyukai satu bunga yang sama, hanya saja warna yang berbeda. Tapi itu menandakan kalau keduanya memiliki kecocokan.


Wiyah yang mendengar ucapan dari Fazri hanya tersenyum. Wiyah tahu kalau setiap bunga pasti memiliki makna tersendiri, sama halnya seperti pernikahan yang mengikat dua insan yang berada agar perbedaan itu bisa di lengkapi satu sama lainnya.


" Kak Wiyah." Panggil Fazri saat melihat Wiyah yang melamun.


" Iya Zri, ada apa." Tanya Wiyah saat ia baru sadar dari lamunannya.


" Baiklah, kalau gitu kita lanjutin." Jawab Wiyah.


Kini keduanya kembali melanjutkan menanam bunga mawar. Walaupun tidak banyak, mungkin ada sepuluh tanaman bunga saja tapi keduanya begitu sangat menikmati kebersamaan mereka.


Fazri yang sudah menganggap Wiyah seperti kakak perempuannya, membuat ia semakin ingin dekat dengan Wiyah, yang membuat Fazri tidak suka kalau sampai Wiyah disakiti oleh orang, termasuk abangnya itu.


Tanpa keduanya sadari, kalau Fazar yang dari tadi sudah pulang kerumah, karena pertemuannya sudah selesai, sedang menatap keduanya yang begitu sangat akrab, padahal Wiyah dan Fazri baru saja berkenalan, tapi keduanya begitu sangat dekat.


" Apa yang istimewa darinya, kenapa dia berhasil membuat Fazri yang begitu sangat dingin kepada orang lain, bisa sedekat itu. Fazri tidak menunjukkan ekspresi dinginnya, malahan Fazri begitu sangat dekat dengan Wiyah, seperti orang yang sudah berkenalan begitu sangat lama." Batin Fazar bingung sambil menatap adik bungsunya itu. Fazar merasa heran dengan sikap Fazri yang begitu sangat berbeda saat memperlakukan orang lain dengan Wiyah.


Jika dengan orang lain Fazri terlihat dingin maka berbeda dengan yang sekarang, malahan Fazri terlihat begitu sangat dekat dengan Wiyah.

__ADS_1


Karena tidak ingin berlama-lama berada di situ, Fazar kembali kedalam kamarnya.


🌺🌺🌺🌺🌺


Tidak terasa lagi berganti waktu siang yang menandakan kalau waktu makan siang sebentar lagi. Wiyah yang sudah selesai menanam tanamannya kini sudah rapi kembali dengan pekaian santainya karena Wiyah sudah membersihkan tubuhnya.


Wiyah bersiap-siap kedapur untuk memasak makan siang, tapi tidak jadi, karena mbak Fika mengatakan kalau Fazar menyuruhnya untuk pergi keruangan kerjanya.


" Kenapa tuan Fazar memanggilku keruangan kerjanya, Apa yang ingin tuan Fazar bahas." Gumam Wiyah merasa takut, kalau Fazar menyuruhnya untuk keruangan kerjanya, hanya untuk membahas rumah tangga mereka, yang biasa-biasa saja yang begitu sangat berbeda dengan rumah tangga lainnya yang terkesan baik-baik saja. Rumah tangga yang Wiyah jalani bukan seperti seorang istri yang memerhatikan suaminya melaikan seperti seorang pelayan yang memerhatikan tuannya.


" Masuk." Suruh Fazar saat mendengar suara pintu di ketuk.


Sedangkan Wiyah yang mendengar jawaban dari dalam melangkah masuk kedalam ruangan kerja suaminya itu.


Wiyah bisa kalau Fazar sedang membaca sebuah buku. Entahlah, buku apa itu Wiyah tidak terlalu memperhatikannya karena Wiyah sedang menundukkan kepalanya.


" Maaf tuan, apa ada mencari ku tadi." Tanya Wiyah sopan dengan kepala yang masih ditundukkan.


" Duduklah."


...----------------...


Maaf author baru bisa update, soalnya author lagi sibuk.


Harap bijak dalam membaca karena banyak typo yang bertebaran. Jangan lupa like komen dan vote nya biar author makin semangat buat update.


Salam manis dari author πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2