Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 142


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


" Tapi kak, aku maunya sekarang." Jawab Wiyah dengan tatapan memelesnya. Entah kenapa, ia begitu sangat menginginkan buah mangga muda itu sampai membuat ia memaksa suaminya itu untuk mengabulkan permintaan nya." Tapi kalau ngga boleh, yang ngga apa-apa sih." Lirih Wiyah dengan wajah sedihnya saat merasakan kalau suaminya itu tidak menjawab pertanyaannya barusan. Karena Wiyah mengira kalau Fazar Tidak akan mengabulkan permintaan nya.


Sedangkan Fazar yang mendengar ucapan dari sang istri, hanya bisa menghebuskan nafasnya. Karena Fazar tidak pernah mendengar istrinya itu meminta sesuatu, sampai memaksa nya seperti ini.


Sebenarnya Fazar bingung dengan tingkah istrinya itu, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena ia senang dengan tingkah istrinya yang manja kepadanya seperti saat ini.


Hanya saja Fazar khawatir dengan kondisi Wiyah, mengingat tadi pagi istrinya itu baru saja muntah-muntah. Karena Fazar tidak mau kalau kondisi istrinya itu semakin memburuk karena membiarkan Wiyah makan mangga muda.


Melihat kalau Suaminya tidak merespon ucapan nya dan malah diam, membuat Wiyah semakin kesal." Kak Fazar memang ngga pernah peka, dengan perasaan ku." Gumam Wiyah kesal saat tidak mau mendengar respon dari suaminya itu.


Karena ia begitu sangat kesal dengan suaminya itu, membuat Wiyah langsung turun dari motor tanpa pamit terlebih dahulu.


Sedangkan Fazar yang merasakan kalau tangan yang tadi melingkar di Perutnya hilang dan bisa merasakan kalau orang di belakangnya teryata sudah turun dari motornya, langsung membuat nya tersadar dari keterdiaman nya. Fazar melihat kearah spion motornya, untuk melihat kearah belakang, yang ternyata sang istri sudah tidak ada di sana.


" Sayang." Gumam Fazar panik, saat menyadari kalau istrinya itu ternyata sudah turun dari motornya, yang membuat Fazar langsung turun dari motornya untuk memeriksa istrinya. Apakah sudah jauh berjalan atau belum.


Fazar langsung menghebuskan nafasnya lega, saat melihat istrinya itu ternyata belum terlalu jauh darinya.


" Sayang tunggu kakak." Panggil Fazar sambil melangkahkan kakinya dengan cepat, tapi yang di panggil tidak menyahut sama sekali bahakan tidak menoleh untuk melihat kearah nya.


Fazar tahu kalau istrinya itu pasti sedang ngambek, makanya dia pergi seperti sekarang tanpa menoleh kearah nya.


" Kenapa suasana hatinya mendadak berubah seperti ini." Gumam Fazar." Padahal aku hanya menolak permintaan nya demi, kondisi nya juga tapi dia malah ngambek." Gumam Fazar menggelengkan kepalanya bingung.


Sedangkan Wiyah terus melangkahkan kakinya, tanpa menoleh kebelakang untuk melihat kalau suaminya itu sedang mengikuti langkahnya.


" Memang kak Fazar pelit." Gumam Wiyah kesal sambil berjalan. Entah kenapa, perasaan nya cepat sekali berubah-ubah, kadang ia bahagia. Bahakan dia juga sedih dalam sekejap karena masalah kecil, seperti sekarang.


Fazar yang sudah berdiri di belakang istrinya itu, langsung mengengam tangan Wiyah agar istrinya itu mau berhenti berjalan lagi, karena ia begitu sangat lelah mengejar langkah istrinya itu yang lebih cepat. Sedangkan Wiyah yang merasakan tangannya seperti ada yang menggenggam nya langsung menghentikan langkahnya.


" Sayang berhati. Kakak minta maaf. Bukannya kakak mau menolak permintaanmu, Hanya saja kakak takut kalau sayang sampai sakit karena memakan mangga itu." Jelas Fazar memberitahukan apa yang dia khawatirkan tentang kondisi istrinya itu.


Wiyah yang mendengar ucapan sang suami, langsung berbalik menghadap suaminya itu." Tapi kak, aku memakan mangga itu hanya satu saja, tidak lebih dari itu." Jawab Wiyah." Tapi kalau kakak ngga mau juga ya ngga apa-apa. lebih baik kita pulang daja." Ucap Wiyah kembali dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Wiyah merasakan sakit, saat mendengar kalau suami itu kembali menolak permintaan nya. Padahal yang di maksud Fazar bukan itu.


Fazar melihat istrinya itu ingin menangis, membuat ia merasa bersalah. Karena sudah menolak permintaan istrinya itu.


Karena tidak ingin melihat istrinya menangis Fazar langsung menarik tubuh itu kedalaman pelukannya. untung saja jalan itu sedang sepi jadi tidak ada yang melihat aksi dimana Fazar memeluk istrinya itu.


" Maaf sayang, karena menolak permintaanmu. Kakak hanya takut kalau sampai sayang sakit, Makanya kakak menolak permintaan sayang tadi. Tapi kalau sayang mau dan memakan mangga nya hanya satu saja kakak setuju." Jawab Fazar membuat Wiyah mengangkat kepalanya untuk menatap kearah suaminya itu.


" Benarkah itu kak." Tanya Wiyah membuat Fazar mengangguk mengiyakan.


" Asal jangan banyak." Jawab Fazar, seketika membuat senyuman Wiyah langsung terbit saat mendengar jawaban dari Fazar kalau suaminya itu mengijinkannya untuk memakan mangga muda.


" Makasih kak. kakak memang suami yang terbaik." Ucap Wiyah senang. Wiyah melepaskan pelukan suami nya itu.


" Kalau gitu ayok kak, nanti keburu siang." Ucap Wiyah langsung menarik tangan suaminya itu untuk pergi ke kebun pohon mangga.


" Iya sayang, tapi hati-hati takut nya nanti sayang jatuh." Ucap Fazar mengingatkan membuat Wiyah langsung mengurangi kecepatan langkah nya.


" Suasana hatinya cepat sekali berubah, saat aku mengatakan iya. Padahal tadi dia hampir menangis karena aku menolak permintaan nya, tapi ini dia kembali bahagia, saat aku mengiyakan permintaannya ." Batin Fazar merasa Heran dengan tingkah istrinya itu. Tapi Fazar ikut senang karena melihat istrinya itu bahagia.


.


.


Fazar melihat-lihat kearah pohon mangga yang begitu sangat lebat buahnya. Bahkan kebun mangga itu begitu sangat subur, karena hampir semua mangga di kebun itu Alhamdulillah, berbuah semuanya.


" Selamat datang tuan Fazar, apa Anda membutuhkan sesuatu." Tanya penjaga kebun mangga itu saat melihat Fazar sudah berada di dalam kebun mangga nya.


" Oh iya pak, saya membutuhkan mangga muda, karena istrinya saya lagi kepingin." Jawab Fazar membuat bapak itu menganggukkan kepalanya tanda kalau ia mengerti.

__ADS_1


" Kalau gitu, tuan Fazar pilih saja pohon mangga yang mana yang ingin tuan Fazar ambil buah nya, kebetulan sebagian dari mangga disini belum matang." Jawab bapak itu.


Fazar berpikir menatap setiap pohon mangga itu, kebetulan berbagai macam jenis.


" Aku mau mangga yang itu kak." Tunjuk Wiyah kearah satu pohon mangga yang begitu sangat lebat buahnya. Mungkin lebih lebat dari pohon mangga lain nya.


Fazar melihat kearah istrinya itu yang menunjuk kearah pohon mangga mana yang istrinya itu pilih.


" Baiklah sayangnya, pilihan yang bagus." Ucap Fazar tersenyum, saat melihat pilihan istrinya itu.


" Pak saya minta tolong ambilkan buah mangga itu satu." Ucap Fazar melihat kearah bapak penjaga buah mangga itu.


" Baik tuan, saya akan menyuruh pekerja disini untuk mengambilkan nya " Jawab bapk itu.


" Tapi kak, saya maunya kakak yang mengambilkan nya." Sambung Wiyah menatap kearah suaminya itu. Yang membuat Fazar dan bapak itu langsung melihat kearah Wiyah saat mendengar ucapan istrinya itu.


" Kakak, sayang." Tanya Fazar sambil menunjuk dirinya sendiri, saat mendengar ucapan dari sang istri. Sedangkan Wiyah hanya mengangguk dengan polosnya.


" Iya kak, aku maunya kakak yang mengambil kan nya untukku." Jawab Wiyah.


" Tapi sayang, kakak..."


" Ngga ada penolakan kak, demi aku." Potong Wiyah, membuat Fazar langsung terdiam.


" Ya Allah ujian apakah ini." Batin Fazar, mau tidak mau Fazar mengabulkan permintaan istrinya itu untuk memanjat pohon mangga, karena Wiyah tidak mau mangga itu di petik dengan cara dijuluki.


.


.


Fazar dengan gemetaran naik di pohon mangga itu, karena Fazar sudah lama tidak berurusan dengan manjat memanjat.


" Kak, aku mau mangga yang paling ujung." Teriak Wiyah dari bawah sana sambil menunjuk buah mangga yang paling ujung, mungkin keberadaan nya paling puncak.


" Ngga mau kak, soalnya aku maunya mangga yang paling pucuk." Jawab Wiyah tidak mau mendengar penolakan suaminya itu.


Mendengar jawaban dari membuat Fazar menghebuskan nafasnya sabar.


" Ya Allah, apakah istriku ingin menguji kesabaran ku, sampai membuat ku seperti ini, karena dulu aku pernah menguji kesabaran nya." Batin Fazar. Mau tidak mau Fazar harus menaiki pohon yang lebih tinggi lagi dari sebelumnya.


.


.


Fazar menatap istrinya itu yang begitu sangat menikmati rujak mangga. Mangga yang tadi dia petik dan hampir membuatnya jatuh jika saja ia tidak berpegangan dengan betul-betul.


" Kakak mau." Tawar Wiyah sambil menunjukan buah mangga yang sudah di potong kecil-kecil bersama dengan bumbu rujak yang tadi di buat oleh ibu penjaga villa untuknya.


Fazar yang melihat mangga itu langsung membuat nya merasa ngilu, padahal ia belum memakannya." Ngga sayang. Sayang saja yang makan, aku yang lihat sayang makan sudah membuatku kenyang." Jawab Fazar lembut.


" Baiklah, kalau kakak ngga mau." Jawab Wiyah langsung memakan mangga itu tanpa rasa ngilu sama sekali setelah mendengar jawaban dari Fazar.


Tapi Fazar yang melihat istrinya itu langsung memakan mangga itu, membuat Fazar merasa ngilu, sampai-sampai wajah nya berubah menjadi ekspresi aneh.


" Apa ngga asam sayang." Tanya Fazar.


" Ngga kak, rasanya enak. Beda benget sama rujak yang aku sering beli." Jawab Wiyah jujur, karena beberapa hari ini dia lebih senang makan rujak jika sudah melihat penjual rujak.


Sedangkan Fazar hanya mengangguk mengerti, mendengar penjelasan istrinya itu.


" Kak, apakah bapak penjaga kebun pohon mangga itu mengenal kakak." Tanya Wiyah penasaran, saat mengingat kalau penjaga pohon mangga tadi mengenal suaminya.


" Iya sayang, mereka mengenalku, karena pemilik kebun itu adalah kakak." Jawab Fazar jujur.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Fazar, membuat Wiyah mengehentikan memakan rujaknya.


" Jadi kakak pemilik pohon mangga itu." Tanya Wiyah membuat Fazar mengangguk mengiyakan.


" Iya sayang, bahkan kakak juga pemilik dari sawah yang kita lewati tadi. Bukan saja itu, tapi kakak juga pemilik dari semua kebun sayur dan juga buah yang berada didesa ini." Jawab Fazar.


" Jadi hampir semua kebun buah, sayur dan sawah itu memilik kakak." Tanya Wiyah membuat Fazar mengangguk mengiyakan.


" Iya sayang." Jawab Fazar." Bukannya maksud kakak untuk sombong dengan memperlihatkan semuanya, hanya saja kakak ingin memperlihatkan yang mana saja memilik kakak. Karena kakak takut kalalu suatu saat nanti kakak ngga ada. Sayang bisa tahu yang mana saja milik kakak." Jelas Fazar yang langsung mendapatkan cubitan dari Wiyah.


" Jangan ngomong kayak gitu kak, aku ngga suka." Ucap Wiyah dengan wajah cemberutnya.


" Bukannya begitu sayang. Hanya saja Kakak takutnya seperti itu, makanya kakak ngomong kaya tadi. Karena takdir kematian seseorang, kita tidak tahu." Jawab Fazar.


" Tapi aku tidak suka kakak ngomong kayak tadi." Jawab Wiyah." Lebih baik kakak jelaskan, kenapa kakak membeli semua tanah itu tapi aku ngga pernah lihat kakak berkebun." Tanya Wiyah dengan polosnya, yang membuat Fazar langsung terkekeh kecil.


" Karena kakak membangun bisnis dari sini. Kakak hanya ingin membangunkan penghasilan dari orang-orang desa dengan berkebun seperti sekarang. Karena dengan berkebun, kami memiliki keuntungan yang sama. Kakak akan mendapatkan hasil dari kebun mereka yang bisa di jual di pasaran, sedangkan para orang desa akan mendapatkan hasil dari penjualan yang kakak beli." Jelas Fazar." Kakak membeli semua tanah disini, karena ingin membantu orang desa untuk menghasilkan uang lewat perkebunan tanpa keluar kota untuk berkerja dan kakak juga bisa mengurangi pengangguran didesa ini yang belum bekerja." Jelas Fazar kembali.


" Kakak hebat ya, bisa mengatasi semuanya." Puji Wiyah.


" Bukan kakak dek, tapi Allah SWT. Karena usaha yang kita jalani tidak akan berhasil jika tidak ada bantuan dari Allah SWT. Karena semua rezeki manusia ada di tangan nya." Jelas Fazar kembali membuat Wiyah mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sedangkan disisi lain.


Fadil dan Fina hanya saling diam saat berada didalam satu mobil yang sama. Kedua manusia itu seperti patung yang tidak bisa berbicara, bahkan keduanya hanya fokus pada pikiran mereka sendiri-sendiri.


" Apa yang harus aku katakan." Batin Fadil Menatap Fina lewat kaca spion mobil." Kenapa canggung sekali." Batin Fadil.


" Ya Allah, kenapa aku merasa canggung saat berada didalam mobil yang sama dengan nya." Batin Fina sambil sesekali melirik kearah Fadil.


Entahlah keduanya bingung ingin memulai dari mana perbincangan mereka.


" Kak Fadil."


" Fina."


Saat keduanya ingin berbicara, tapi malah berbarengan ingin mengatakan sesuatu.


" Kamu duluan."


" Kak Fadil duluan."


Keduanya semakin bingung, karena saat mereka ingin berbicara tapi malah bersamaan.


" Siapa yang duluan." Ucap keduanya kembali.


" Kamu dulu." Ucap keduanya masih bersaman.


Sedangkan Fiki yang dari tadi fokus pada jalan didepannya, di bikin senyum-senyum sendiri, karena mendengar ucapan keduanya. Ingin berbicara secara bersamaan dan itu dengan begitu sangat kompak menayangkan hal yang sama.


" Maaf tuan, nona, siapa yang akan duluan berbicara." Tanya Fiki saat berhenti di lampu merah.


Memberikan keduanya berpikir." Bagiamana kalau kamu duluan aja Fin." Ucap Fadil membiarkan fina untuk duluan bertanya.


" Ngga usah kak, kak Fadil duluan." Tolak Fina membuat Fadil menggeleng.


" Ngga Fin, biar kamu duluan." Tolak Fadil kembali. Kini keduanya kembali di perdebatkan siapa yang akan duluan untuk berbicara, padahal tadi keduanya ingin berbicara tapi tidak jadi kerena sama-sama mengatakan hal yang sama, tapi saat membiarkan kedua untuk memilih yang pertama untuk berbicara duluan, keduanya malah bingung siapakah yang akan mereka bicarakan berbicara duluan.


Sedangkan Fiki yang mendengar berdebatan keduanya hanya bisa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.


" Pasangan yang unik." Batin Fiki.

__ADS_1


__ADS_2