
Kesabaranku membawa cinta
Sesampainya di bandara, tepatnya di kota B. Fazri dan kedua kakaknya langsung di sambut oleh Fiki dan juga Liando yang sedang menunggu mereka.
" Selamat datang di kota B, tuan muda Fazri, tuan mud Fadil dan tuan Abidzar." Sambut Liando kepada ketiganya, yang kini sudah berada di depan mereka.
" Tidak usah memanggil kami dengan sebutan itu Liando, karena kami tidak suka dengan panggilan tadi, panggil kami seperti kamu memanggil ku di penjara kemarin." Sahut Fadil, yang tidak suka dengan panggilan sahabat abangnya itu.
" Benar yang dikatakan oleh Fadil, panggil kami dengan panggilan kamu atau nama saja, asal jangan tuan muda." Sambung Abidzar membenarkan.
Liando tersenyum mendengar ucapan kedua pria itu, walaupun mereka terlahir dari kalangan atas, tapi mereka selalu bersikap rendah hati, dan tidak menyombongkan kekuasaan mereka, terhadap kalangan seperti mereka.
" Aku hanya bercanda Dil, sebelum kita pergi menyelamatkan gadis kecil itu, agar suasana tidak terlalu tegang." Ucap Liando sambil terkekeh.
" Apakah kita bisa pergi sekarang. Bukannya kata Abang waktu kita tidak banyak, karena hanya sampai di pagi ini saja untuk menyelamatkan gadis kecil itu." Ucap Fazri, membuat beberapa Fadil dan ketiganya langsung menatap kearah Fazri.
Mereka bisa melihat raut tidak sabaran dari Fazri, yang terlihat gelisah. Bahkan Abidzar dan Fadil, melihat kegelisahan dari Fazri itu, sejak mereka berada di dalam pesawat.
" Kita bisa beristirahat sebentar Zri, sebelum kita menyelamatkan gadis kecil itu, dan kita juga harus menyusun rencana agar bisa masuk ketempat mereka."
" Kita hanya membuang waktu kak, jika kita beristirahat. Jika masalah rencana, kita bisa menyusun rencana itu selama di perjalanan nanti." Tolak Fazri, saat mendengar rencana Fadil.
Sedangkan Abidzar dan Fadil semakin dibuat diam oleh ucapan Fazri yang semakin aneh. Fazri seakan berubah dalam satu malam, menjadi orang yang tidak sabaran. Padahal Fazri tau, kalau yang mereka akan hadapi ini bukan permainan, seperti permainan peperangan sewaktu mereka masih kecil dulu, melainkan mereka akan bermain perang-perangan dalam keadaan nyata.
" Apa kamu gila Zri."
" Iya kak, aku gila saat mengetahui kalau sahabat kecilku, ternyata menjadi korban akan keegoisan orang dewasa, yang hanya mementingkan kepuasan mereka, sampai gadis kecil seperti Naila menjadi korbannya." Jawab Fazri dengan tegas menatap kedua kakaknya itu." Jika kalian ingin beristirahat silahkan, karena aku bisa pergi sendiri untuk menyelamatkan Naila." Setelah mengatakan itu, Fazri melangkah meninggalkan beberapa pria itu, yang sedang menatap kearah Fazri dengan tatapan heran.
Abidzar menoleh kearah Fadil yang sama-sama menoleh kearahnya." Sebaiknya kita susul Fazri, sebelum dia melakukan tindakan yang sangat berbahaya untuk dirinya sendiri." Ucap Fadil yang ikut melangkah mengikuti langkah Fazri. Karena Fadil mengenal seperti apa adiknya itu, yang memiliki sikap seperti Fazar. Jika Fazri sudah memiliki tekad, maka dia akan tetap melakukan tekad itu sampai selesai.
" Apa istimewanya gadis kecil itu, sampai Fazri bersusah payah untuk menolongnya." Gumam Liando di sela-sela langkahnya mengikuti langkah Fadil dan juga Abidzar.
Apakah gadis kecil itu memiliki keistimewaan tersendiri, sampai barhasil merebut simpati dari Fazar dan juga adik-adiknya.
__ADS_1
.
.
" Kita masih memiliki waktu satu jam untuk sampai ketempat mereka, dan kalian bisa beristirahat sebentar didalam mobil untuk menambah energi, sebelum sampai ke sana."
Kini ketiga pria itu sudah berada didalam mobil Liando, sedangkan Fiki menaiki mobil satunya bersama dengan anak buahnya.
" Apa kalian mau memakan sesuatu untuk mengisi perut kalian."
" Tidak Terimakasih Liando, kami tidak kepingin makan apapun, karena sekarang kami sedang tidak berselera." Jawab Fadil.
Jujur Fadil dan Abidzar masih merasa pusing, karena penerbangan tadi, apalagi kedua pria merasakan yang namanya mabuk udara. Tapi rasa pusing itu tidak sebanding dengan apa, yang Fazri lakukan. Karena rasa pusing yang di berikan oleh Fazri lebih besar daripada pesawat yang mereka naikin tadi.
Sebenarnya Fazri merasakan hal yang sama seperti kedua kakaknya itu, tapi Fazri menahannya, mengingat ada satu nyawa yang harus mereka tolong.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di sisi lain, tepatnya di sebuah vila yang terlihat sangat sepi, karena vila itu berada di tengah-tengah hutan lebat, yang berjauhan dengan kota besar.
Di sebuah ruangan. Seorang gadis kecil sedang di dandani dengan begitu sangat cantik, membuat gadis kecil itu seperti boneka barbie yang hidup. Apalagi bola mata coklat keemasannya yang sering di sebut dengan bola mata ember.
Ya, Harum memiliki bola mata yang sama seperti mama nya. Karena Harum memiliki bola mata yang langka, membuat gadis kecil itu sangat di kagumi oleh orang dewasa, karena setiap melihat bola matanya, mereka pasti akan terpukau. Apalagi bola mata gadis kecil itu sangat langkah, jika orang-orang menyebutnya.
Bahkan Harum sangat berbeda dengan gadis kecil lainnya, karena Harum terlihat sangat cantik walaupun gadis kecil itu tidak terawat sama sekali, walaupun berada di bawah terik panas matahari, tapi kulit putihnya itu tidak akan berubah menjadi kecoklatan.
Tapi gadis kecil, yang memiliki bola mata langka itu, harus menerima nasibnya sekarang, kalau dia harus jatuh di tangan yang salah.
.
.
Nadila melangkah masuki ruangan, dimana Harum sekarang berada. Nadila bisa melihat kalau gadis kecil itu sedang duduk di sisi ranjang sambil meremas ujung gaunnya.
__ADS_1
Nadila terpukau saat dia melihat dari jarak yang sedikit jauh. Melihat wajah gadis kecil itu yang terlihat sangat cantik, apalagi wajah itu duplikat dari wajah Ardian, jika Ardian menjadi seorang perempuan.
Karena hampir seluruh wajah Harum persis seperti Ardian, yang membedakannya itu hanya satu, yaitu bola mata saja, karena Harum memiliki bola mata ember seperti almarhum mamanya, sedangkan Ardian memiliki bola mata biru keabu-abuan.
Tapi keterpukau Nadila, harus hilang saat mengingat wajah Ardian yang sudah menyakiti perasaannya.
Mengingat itu membuat Nadila semakin mengepalkan tangannya, karena dia begitu sangat dendam dengan Ardian dan juga Mayla, yaitu mamanya Harum.
" Aku akan membuat babu kecil ini jauh lebih tersiksa, dari pada aku dulu." Batin Nadila, yang kembali melanjutkan langkahnya mendekati Harum.
" Berdiri babu kecil, karena klien pertama mu akan segera datang."
Harum mengangkat kepalanya, lalu bola mata itu menatap kearah Nadila." Baik_lah nyonya." Harum berdiri dari duduknya, lalu melangkah mengikuti langkah dari Nadila.
" Kamu ingat pesanku kalau, kamu akan."
" Melayaninya sampai dia melepaskan ku." Jawab Harum, yang belum mengerti arti dari kalimat yang Harum katakan tadi. Karena Harum tidak tau apa yang akan di lakukan oleh klien pertamanya itu padanya.
" Bagus babu kecil, aku suka dengan jawaban mu." Ucap Nadila sambil tertawa menatap gadis kecil didepannya.
" Setelah ini aku akan mendapatkan uang yang sangat banyak, Agar aku kembali membuka usahaku yang di tutup oleh Fazar." Gumam Nadila." Kita lihat Fazar, apa yang akan aku lakukan pada keluarga mu setelah ini. Walaupun kamu tidak terlibat dalam kasus ini dulu, karena jelas-jelas Amira tidak jadi mengirimkan bukti itu. Tapi sekarang kamu sudah mengetahui kasus ini, bahkan sudah menutup perusahan ku. Maka kamu lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan terhadap mu dan juga keluarga mu." Batin Nadila Nadila sambil tersenyum jahat. Karena menurutnya sekarang dia akan telah berhasil menghancurkan kedua pria itu lewat gadis kecil yang sekarang menjadi tawanannya.
.
.
Setelah melakukan perjalanan hampir satu jam, karena Liando melewati jalan pintas agar sampai di villa itu dengan cepat. Mengingat waktu mereka sudah tidak banyak lagi.
Dari orang yang Liando suruh untuk memata-matai Nadila, mengatakan kalau mafia itu sudah masuk kedalam villa dan di sambut langsung oleh Nadila.
.
Dari jarak yang begitu sangat jauh, karena Liando dan yang lainnya mencari jalan aman, untuk melihat orang-orang yang mengelilingi villa itu dari jarak yang jauh. Karena kalau dari jarak yang begitu sangat dekat, itu terlalu berbahaya untuk mereka.
__ADS_1
Fazri bisa melihat kalau setiap sudut dari villa besar itu, terdapat banyak orang suruhan Nadila dan juga mafia itu. Membuat Fazri berpikir untuk bisa masuk kedalam.
...----------------...