Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 200


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Mereka yang berada di ruangan itu begitu sangat tidak sabaran menunggu kabar baik dari dokter, kalau Harum sudah sepenuhnya sadar dari koma nya.


" Bagaimana dok, apakah gadis kecil itu sudah sadar dari koma nya."


" Ini sesuatu keajaiban tuan Fazar. Karena gadis kecil itu telah sadar dari koma nya, padahal saya sudah memeriksanya tadi, dan telah memastikan kalau tidak ada perkembangan untuk gadis kecil itu untuk sadar kembali. Tapi ini mukjizat dari Tuhan, yang membuat gadis kecil itu sadar kembali. Tuhan masih memberikan nya kesempatan untuk melihat dunia ini kembali."


Keenam orang yang berada di ruangan itu, langsung mengucapkan puji syukur atas apa yang Allah berikan untuk mereka. Kalau Allah masih memberikan kesempatan untuk mereka untuk menjaga gadis kecil itu.


" Alhamdulillah terimakasih ya Allah." Mereka semua sama-sama terharu melihat Harum yang sudah sadar dari koma nya. Akhirnya dua minggu mereka menunggu, kini gadis kecil itu telah sadar dari tidur panjangnya.


" Terimakasih dokter."


" Iya sama-sama tuan, ini sudah tugas kami sebagai seorang dokter. Jika ada apa-apa, anda bisa langsung memanggil saya tuan." Setelah memeriksa kondisi harum, dokter itu melangkah meninggalkan ruang Harum.


Memberikan ruang untuk keluarga gadis kecil itu melepaskan rindu, karena dua minggu ini Harum telah tidur begitu sangat lama.


Wiyah yang berada di sebelah tempat tidur Harum, terus menggenggam tangan itu, lalu menciumnya, yang membuat air mata itu mengalir membasahi tangan Harum.


Sedangkan Fazar, Fadil, Fazri, Abidzar, dan Fina, yang berada di ruangan itu. Tapi mereka berdiri sedikit jauh dari tempat tidur Harum, karena mereka ingin memberikan Wiyah waktu untuk melepaskan rindunya, karena mereka tau kalau Wiyah dan Harum sudah lama tidak bertemu. Pasti mereka saling merindukan bukan.


Harum belum bisa mengerkan tangannya, karena tangannya masih terasa kaku saat ini, mungkin pengaruh dia terlalu lama tidur dan alat juga masih berada di tubuhnya. Tapi mata itu tetap tertuju kearah Wiyah, dengan senyum kecil yang mengembang di bibirnya.


" Ka_k Wiy_ah." Lirih gadis kecil itu yang masih bisa didengar oleh Wiyah.


" Iya, kak Wiyah ada disini Rum. Kak Wiyah tidak akan kemana-mana."


" Jangan tinggalkan Harum lagi, karena Harum menyayangi kak Wiyah." Lirih Harum, Walaupun terbata-bata tapi Harum tetap berusaha untuk mengatakannya.


" Kak Wiyah juga, sangat menyayangi Harum. Kak janji tidak akan pernah meninggalkan Harum." Wiyah berdiri dari duduknya lalu mencium kening itu begitu sangat lama. Harum yang merasakan ciuman kasih sayang dari Wiyah mulai mengingat perkataan mama nya.


" Apakah wanita ini ma, yang akan menjadi orang yang menyayangiku seperti perkataan mama." Batin Harum yang masih menatap kearah Wiyah dengan begitu sangat dalam.


" Harum, apakah Harum ngga kangen sama kak Fina, masa kangen nya sama kak Wiyah aja." Ucap Fina sambil melangkah kearah tempat tidur itu, lalu berdiri disamping Wiyah." Kak Fina senang, karena Harum kembali sadar."


Harum tersenyum melihat Fina disana." Ternyata kak Wiyah tidak sendiri, melainkan ada kak Fina juga. Apakah disini ada Rafa, Rafi, dan ayah mereka." Batin Harum menatap kearah Fina.

__ADS_1


Harum belum menyadari kalau di ruangan itu bukan hanya Wiyah dan Fina saja, melainkan ada Fadil, orang yang dia kenal. Fazri sahabatnya, serta Abidzar pria yang tidak sengaja bertemu dengannya di rumah sakit.


Sedangkan Fazri, Fadil dan Abidzar, sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis kecil itu. Karena beberapa hari ini mereka selalu melihat mata itu selalu tertutup. Dan hari ini, mereka bisa melihat, kalau mata itu baru saja terbuka setelah dua minggu tertidur.


Sama halnya seperti ketiga pria itu yang tidak sabaran ingin bertemu dengan Harum. Fazar juga merasakan hal yang dama, karena ia penasaran ingin bertemu langsung dengan gadis yang membuat istrinya terbangun waktu itu, karena memiliki ikatan batin sangking sayangnya, padahal mereka tidak memiliki ikatan apapun.


Karena keempat pria itu sudah tidak sabar, mereka melangkah secara bersamaan mendekati tempat tidur Harum.


" Kak Wiyah ingin mengenalkan seseorang ke Harum, apakah Harum mau." Tanya Wiyah, membuat Harum hanya mengangguk mengiyakan." Nah itu orang yang ingin kak Wiyah, kenalkan ke Harum." Ucap Wiyah sambil melirik kearah suaminya dan juga ketiga adik iparnya yang kebetulan sedang melangkah kearahnya.


Harum tidak bisa melihat orang yang ingin Wiyah kenalkan kepadanya, karena sekarang posisinya sedang berbaring, tapi dia bisa mendengar suara langkah kaki itu saat melangkah kearah tempat tidurnya.


Suara sepatu itu terdengar begitu sangat banyak, mengingkatkan Harum pada anak buah Nadila, yang berjumlah sangat banyak, dan disaat kedatangan anak buah Nadila waktu itu, mereka langsung membawanya secara paksa untuk memberikannya kepada orang itu.


Rasa takut karena mengingat kejadian itu, membuat tubuh Harum langsung gemetar karena ketakutan. Apalagi saat melihat keempat pria itu sudah berada dibelakang Wiyah, membuat Harum mengira kalau kedatangan, Fazar, Fadil, Abidzar dan Fazri ingin membawanya secara paksa lalu memberikannya kepada orang menakutkan itu kembali.


Ketakutan Harum semakin menjadi saat ingatannya tertuju. Dimana dia dibawa secara paksa oleh orang suruhan Nadila, mendapatkan penyiksaan secara fisik. Melihat secara langsung dimana Nadila mempertontonkan kegiatan gilanya, bahkan dimana dia hampir di pe***osa oleh orang itu. Semua ingatan itu berputar-putar di kepalanya menjadi satu bayangan menakutkan.


" Astaghfirullahaladzim, Harum." Wiyah terkejut saat melihat tubuh Harum kejang-kejang." Kak, apa yang terjadi dengan Harum kenapa tubuhnya kejang-kejang, padahal tadi Harum baik-baik saja."


" Kakak juga ngga tau sayang, mungkin ada sesuatu yang salah." Jawab Fazar ikut panik.


" Cepat Fadil." Tegur Fazri tidak sabaran melihat Fadil yang begitu sangat lambat menurut Fazri.


Ruangan yang tadi penuh haru, kini berubah menjadi tegang, saat melihat tubuh Harum kejang-kejang, secara tiba-tiba.


" Kak bagaimana ini, apa Harum baik-baik saja." Lirih Wiyah, yang kembali menangis saat melihat tubuh Harum kejang-kejang.


" Tenang sayang, Harun pasti baik-baik saja, kita tunggu dokter yang memeriksanya." Fazar mencoba untuk menenangkan istrinya itu yang kini sedang panik, karena melihat kondisi Harum.


Tidak berselang dokter masuk kedalam ruangan itu, bersama dengan dua orang suster.


Wiyah yang melibatkan kedatangan dokter, melangkah mendekat kearah Fazar, memberikan ruang untuk dokter agar bisa memeriksa kondisi Harum sekarang.


" Maaf pak, Bu. Tolong keluar, Biar dokter memeriksa kondisi pasien sekarang."


" Tidak sus biarkan kami disini untuk melihat seperti apa kondisi Harum sekarang." Tolak Wiyah yang tidak ingin meninggalkan Harum sendirian.

__ADS_1


" Maaf Bu, biarkan dokter mengerjakan tugasnya. Ibu mohon tunggu diluar."


" Tapi sus kami tidak mau keluar, karena ingin melihat kondisi Harum." Fazri sama seperti Wiyah yang tidak ingin keluar, karena begitu sangat khawatir dengan kondisi Harum.


" Zri, dengarkan kata suster, biarkan mereka mengerjakan tugas mereka. Kita tunggu diluar."


" Tapi kak." Tanpa mendengar penolakan Fazri, Abidzar dan Fadil langsung membawa Fazri keluar secara paksa.


" Kita tunggu di luar sayang, kita percayakan kondisi Harum kepada dokter yang sekarang sedang menanganinya." Dengan lembut Fazar mengajak istrinya itu keluar dari ruangan Harum. Sedangkan Wiyah hanya menurut apa yang di katakan oleh suaminya itu.


.


.


" Ya Allah, hilangkanlah penyakit dan berikanlah Harum kesembuhan, Engkau Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain." Batin Wiyah.


" Ya Allah, ini untuk kesekian kalinya aku berdoa untuk kesembuhan Naila, Semoga Naila baik-baik saja. Aku berjanji, setelah Naila membaik, maka aku akan menjaganya, dan tidak akan membiarkan orang menyakitinya." Batin Fazri.


" Ya Allah berikanlah kesembuhan untuk gadis kecil itu. Aku tau kalau aku baru sekali bertemu dengannya dan belum sepenuhnya mengenalnya ya Allah, tapi entah kenapa ada rasa sakit saat melihatnya seperti tadi." Batin Abidzar.


" Ya Allah, hilangkanlah penyakit dan berikanlah dia kesembuhan, Engkau Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain. Hamba tau, Engkau begitu sangat menyayangi gadis kecil itu, tapi kali ini kami begitu sangat egois meminta padamu ya Rabb, untuk tidak mengambilnya dari kami, karena kami begitu sangat menyayanginya. Biarkan kami memberikannya kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan ya Allah.


Untuk kali ini jangan ambil gadis kecil itu biarkan dia bersama dengan Kami. Kami berjanji, setelah ini tidak akan ada kesedihan lagi di matanya" Batin Fazar, yang begitu sangat sedih jika mengingat kondisi Harum barusan. Apalagi melihat istrinya itu yang begitu sangat menghawatirkan kondisi Harum. Membuat Fazar merasa sedih melihat kesedihan istrinya itu.


.


.


Setelah dokter melakukan beberapa pemeriksaan, dan Harum juga sudah kembali tenang kini dokter keluar dari ruangan Harum untuk menemui keluarganya.


" Bagaimana dengan kondisi harum Sekarang dok." Tanya Fazar, saat melihat wajah dokter yang sepertinya tidak baik-baik saja


" Maaf tuan Fazar, kita bicarakan di ruangan saya. Saya akan menjelaskan kondisi pasien di ruangan saya nanti. Mari tuan Fazar."


Beberapa orang itu menatap kearah Fazar dengan bingung, kenapa dokter meminta Fazar untuk pergi keruangan nya.


" Abang titip istrinya Abang, Abang akan pergi menemui dokter dulu." Setelah mengatakan itu, Fazar melangkah mengikuti langkah dokter kearah ruangannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2