
Kesabaranku membawa cinta
Wiyah yang melihat wajah khawatir suaminya itu, hanya bisa tersenyum kecil. Dia tahu kalau suaminya itu begitu sangat khawatir, jika sudah menyangkut dengan kesehatannya.
" Aku baik-baik saja kak. Mungkin karena aku kelelahan dan juga masuk angin, makanya sampai seperti tadi. Setelah di gosok dengan minyak angin, aku akan baik-baik saja." Jelas Wiyah, yang tidak ingin melihat suaminya itu terus khawatir dengan kondisinya.
" Benar, sayang kalau sayang baik-baik saja." Tanya Fazar membuat Wiyah menganggukkan kepalanya kecil." Baiklah. Kalau gitu sayang istriharah dulu, jangan pikirkan apapun. Nanti sarapan pagi nya biar kakak minta tolong sama penjaga villa ini untuk memasak." Ucap Fazar langsung menyelimuti tubuh istrinya itu, agar Wiyah bisa beristirahat.
" Tapi kakak temani sebentar." Minta Wiyah menatap suaminya itu dengan tatapan memelesnya. Membuat Fazar yang mendengar permintaan Wiyah, langsung mengerutkan keningnya bingung. Karena baru kali ini, istrinya itu memintanya, untuk menemaninya tidur.
Tapi Fazar membuang pertanyaan nya itu, karena Fazar merasa senang dengan tingkah istrinya itu yang sedikit lebih manja pagi ini.
" Iya sayang kakak akan temani kamu tidur, tapi setelah kakak meminta tolong kepada penjaga villa ini untuk memasakkan sarapan pagi. kakak juga mau ngambil air di dapur, karena air dalam botol tupperware sudah habis." Ucap Fazar sambil memperlihatkan botol tupperware yang sudah kosong.
" Boleh kak, tapi jangan lama." Jawab Wiyah, yang mendapatkan anggukan dari Fazar.
" Baiklah, istriku tersayang, kakak tidak akan lama." Jawab Fazar sambil tersenyum.
Fazar berdiri dari duduknya untuk pergi ke lantai bawah. Untuk memberitahukan kepada penjaga villa, untuk membuatkan nya sarapan pagi. Karena di villa itu tidak ada pelayan lain selain penjaga villa itu bersama dengan istrinya.
Sedangkan Wiyah merasa aneh dengan tingkah nya yang akhir-akhir ini begitu sangat manja dengan suaminya itu. Tapi dia tidak ingin mengambil pusing. Karena bisa saja itu, karena rasa cinta nya kepada sang suami.
Setelah memberitahukan apa yang dia inginkan kepada penjaga villa, sambil mengambil air minum di dapur. Fazar melangkah naik kelantai atas untuk melihat kalau istrinya itu sudah tidur atau, belum. Karena tadi dia mengatakan akan menunggu nya.
Saat membuka pintu kamarnya, Fazar bisa melihat kalau istrinya itu belum tidur dan masih di posisi yang sama, yaitu berbaring, tapi dengan mata yang terbuka.
" Sayang belum tidur." Tanya Fazar melangkah mendekati istrinya itu lalu menaruh botol tupperware di atas meja nakas. Setelah itu ia ikut naik di atas ranjang, membaringkan tubuhnya di samping sang istri.
" Belum kak, karena aku sedang menunggu kakak Agar aku bisa tidur bersama." Jawab Wiyah, lalu memeluk tubuh kekar suaminya itu saat tubuh Fazar sudah berbaring di sampingnya.
Fazar yang melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba saja memeluknya, merasa kebingungan, Tapi Fazar membuang kebingungan nya itu dengan cara, membalas pelukan istrinya.
Mungkin perubahan istrinya itu, karena ia sudah menyatakan perasaannya semalam. Pikir Fazar.
Fazar mengusap lembut kepala Wiyah. Sampai mata itu terpejam karena Wiyah sudah tertidur.
" Selamat tidur istriku." Ucap Fazar mencium keningnya istrinya itu. Lalu menarik tubuh Wiyah agar lebih dekat lagi dengannya, sedangkan tangan kekarnya memeluk tubuh kecil Wiyah, dengan begitu sangat erat." Aku sangat mencintaimu." Bisik Fazar kembali, setelah itu ia ikut tertidur. Menyusul istrinya yang kini sudah berada di dalam mimpi.
.
__ADS_1
.
Wiyah membuka matanya secara pelan-pelan, untuk menyesuaikan cahaya didalam dikamar nya. Setelah matanya terbuka. Hal pertama yang Wiyah lihat, adalah wajah tampan dari suaminya itu yang begitu sangat dekat dengannya. Bahkan Wiyah bisa merasakan pelukan dari suaminya itu yang begitu sangat erat.
Wiyah mengangkat tangannya, lalu membelai wajah suaminya itu dengan perlahan-lahan." Masyaallah, aku tidak menyangka, kalau pria tampan di hadapan ku ini ternyata suamiku." Gumam Wiyah terus menatap Fazar, dengan tangan yang membelai seluruh wajah Fazar.
Sedangkan Fazar yang memang sudah bangun dari tadi, hanya diam saja, karena dia tidak mau mengganggu istrinya itu yang sedang mengagumi ketampanan nya. Bahkan Fazar sudah mendengar gumaman Wiyah barusan.
" Apakah sayang sudah selesai mengagumi ketampanan suamimu ini." Tanya Fazar langsung membuka matanya, karena begitu sangat geli saat tangan itu membelai wajahnya.
Sedangkan Wiyah yang mendengar ucapan Fazar Bahakan sudah melihat mata Fazar yang sudah terbuka. Langsung membuat nya terkejut, dan refleks langsung menjauhkan tangan nya dari wajah Fazar.
" Kenapa berhenti sayang, bukannya kamu mengangumi ketampanan suamimu ini." Tanya Fazar sengaja menggoda istrinya itu, lalu Fazar mengambil tangan istrinya itu untuk membawanya langsung ke arah wajahnya." Bukannya sayang menyukai wajah tampan suamimu ini." Goda Fazar kembali yang membuat wajah Wiyah semakin memerah.
" Kak, ini sudah siang, kita belum sarapan pagi." Ucap Wiyah berusaha mencari alasan yang tepat untuk bisa lari dari suaminya itu.
" Kakak tahu itu sayang, tapi sayang belum jawab pertanyaan kakak. Kalau suamimu ini terlihat tampan." Jawab Fazar semakin membuat Wiyah kebingungan ingin memberikan alasan apa.
Saat Fazar ingin me**ium istrinya itu, karena merasa gemas. Tiba-tiba saja indra pendengaran nya mendengar sesuatu, yaitu suara perut istrinya.
" Maaf sayang, kakak sampai lupa kalau sayang belum sarapan. Apalagi ini sudah siang." Ucap Fazar merasa bersalah saat mendengar suara perut'istrinya itu dan mengingat kalau istrinya belum sarapan apapun, karena mereka baru saja bangun.
Sedangkan Wiyah merasa malu, karena suara perutnya sudah didengar oleh Fazar suaminya. Tapi dia juga bersyukur, karena suara perutnya, membuat ia selamat dari godaan Fazar.
" Iya sayang, maaf karena kakak telah mengabaikan sarapan pagimu dan kakak malah menggodamu." Ucap Fazar merasa bersalah.
" Iya ngga apa-apa kak." Jawab Wiyah sambil tersenyum.
Fazar bangun dari tidurnya, setelah itu ia membantu membangunkan tubuh istrinya itu.
Padahal Wiyah bisa sendiri, tapi suaminya itu malah memaksanya agar suaminya sendiri yang membangunkan tubuhnya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Setelah sarapan pagi atau makan siang, kini Wiyah dan Fazar sudah rapi dengan pekaian santai mereka.
Karena Fazar ingin membawa istrinya, mengelilingi desa dimana villa itu berdiri.
Sebenarnya Fazar tidak ingin membawa istrinya itu berkeliling, mengingat kondisi Wiyah yang kurang sehat karena baru saja tadi pagi muntah-muntah.
__ADS_1
Tapi istrinya itu malah memaksanya, membuat Fazar hanya mengangguk mengiyakan permintaan istrinya itu. Yang terpenting istrinya itu bahagia.
" Sudah siap sayang." Tanya Fazar menatap istrinya yang kini sudah rapih dengan baju gamis berwarna coklat dengan jilbab berwarna yang sama, dan istrinya juga terlihat begitu segar daripada tadi pagi.
Sedangkan Fazar mengunakan baju kaos dengan celana panjang, terlihat semakin tampan.
" Iya kak, aku sudah siap." Jawab Wiyah tersenyum senang. Membuat Fazar ikut senang dengan jawaban istrinya itu.
" Kalau gitu, ayo kita berkeliling." Ucap Fazar.
Fazar menggenggam tangan istrinya itu, sambil melangkah keluar dari kamar mereka untuk turun kelantai bawah.
.
.
Suami istri itu, menikmati suasana desa dimana villa itu di bangun mengunakan sepeda motor. Karena kata Fazar, mengunakan sepeda motor itu lebih asyik kalau menikmati suasana desa.
" Bagiamana sayang, apa sayang senang dengan susana desa ini." Tanya Fazar Sambel melirik istrinya lewat kaca spion.
" Ini sangat mengasyikkan kak, aku suka suasana desa ini yang masih asri." Jawab Wiyah.
Fazar yang mendengar jawaban dari istrinya itu, ikut merasakan kebahagiaan dari istrinya itu.
Wiyah begitu sangat menikmati pemandangan di desa itu, karena melihat banyaknya hamparan sawah dan lain sebaginya.
Sampai Wiyah melewati sebuah kebun pohon mangga yang begitu sangat lebat, yang membuat Wiyah menginginkan buah mangga itu.
" Kak, berhenti sebentar." Ucap Wiyah membuat Fazar langsung menghentikan laju motor nya.
" Iya kenapa sayang." Tanya Fazar menoleh kearah istrinya.
" Kak, aku menginginkan buah mangga itu apa boleh." Tanya Wiyah sambil menunjuk kearah kebun pohon mangga.
" Boleh sayang, tapi tidak sekarang karena mangga di sini belum sepenuhnya matang semua, karena masih mangkal. Pasti orang-orang di desa belum memanen nya." Jelas Fazar.
" Tapi kak, aku ngga kepingin yang Menteng melaikan yang mangkal dan maunya sekarang." Jawab Wiyah membuat Fazar langsung mengerutkan keningnya bingung, karena permintaan istrinya itu." Boleh ya kak." Ucap Wiyah memohon. Dan Fazar bisa melihat wajah memohon dari istrinya itu lewat kaca spion.
" Tapi sayang, kakak takut nanti kamu sakit perut, apalagi tadi pagi kamu baru saja muntah-muntah." Ucap Fazar berusaha menolak permintaan istrinya itu, mengingat kondisi istrinya tadi pagi.
__ADS_1
" Tapi kak, aku maunya sekarang."
...----------------...