
Kesabaranku membawa cinta.
" Bagaimana dengan kondisi mereka dokter." Tanya papa Ali menatap kearah dokter yang kini wajahnya terlihat serius menatap kearah mereka semuanya.
" Mohon maafkan kami pak. Tapi kamu tidak bisa menyelamatkan pasien atas nama Fina Febby Falisha. Karena pasien sudah meninggal, saat di bawah kerumah sakit, karena benturan didada sebelah kirinya yang begitu sangat parah, membuat pasien mengalami luka dalam di bagian jantung, dan juga benturan dikepalanya yang membuat pendarahan hebat dan pasien kehabisan darah sebelum sampai di rumah sakit. Sedangkan pasien atas nama Fadil kondisinya sangat buruk. Karena kedua pasien mendapatkan luka yang sama. Tadi pasien sempat dinyatakan meninggal, tapi pasien kembali lagi dan sekarang sedang kritis. Tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk bertahan, karena luka yang pasien." Jelas dokter itu dengan wajah serius menatap papa Ali.
Degg
" Ini tidak benarkan dokter?!" Papa Ali menarik kemeja dokter itu. Karena dia tidak percaya dengan kabar yang dia dengar. Kalau putri kesayangannya telah tiada, sedangkan menantunya sedang kritis." Dokter jangan bercanda, atas nama putri dan juga menantu saya!!" Bentak papa Ali menatap dokter dengan tajam.
Sedangkan parah keluarga sudah menangis. Termasuk mama Afifah langsung jatuh pingsan, saat mendengar kabar duka ini, mama Afifah begitu sangat syok dengan kabar duka yang dokter berikan untuk mereka. Tubuh mama Afifah langsung di tangkap oleh Yusuf.
" Ini tidak benarkan mas!" Bukan saja mama Afifah yang ayok atas kabar, meninggalnya Fina sedangkan Fadil sedang kritis. Tapi Cyra, serta bunda Sisi, Wiyah dan juga Anita. Bahkan Cyra sampai tidak bisa menopang berat tubuhnya karena menangis. Tapi untungnya, suaminya Anga dengan sigap membawa tubuh istrinya untuk duduk, dan menjadikan bahunya sebagai sandaran.
" Sayang, bunda!" Fazar yang melihat bunda dan istrinya yang sama-sama menangis dengan tubuh yang sudah duduk di kursi tunggu. Fazar yang melihat kedua orang yang begitu sangat dia sayangi, begitu sangat terpukul atas kabar ini. Membuat Fazar bingung ingin menenangkan siapa.
Padahal disini, bukan saja mereka yang merasa terpukul tapi dirinya juga, merasakan hal yang sama. Karena adiknya sedang kritis didalam sana. Fazar tidak tau, apakah adiknya akan selamat atau tidak.
" Abi. Ini tidak benar kan?... hiksss.... Fina tidak benar-benar pergi kan?" Tanya Wiyah disela-sela tangisannya." Ini tidak benarkan Abi... Fina dan kak Fadil hanya bercanda.... Hiks... mereka tidak benar-benar pergi." Tangis Wiyah, bahkan Wiyah tidak bisa mengendalikan dirinya.
" Zar, menantu dan putra bunda tidak benar-benar pergi kan....hikss....Bunda tau kalau Fina dan Fadil sedang bercanda...hikss...tadi katanya mereka akan pergi sebentar.... ini tidak benarkan?" Fazar yang tidak bisa menahan air matanya, langsung memeluk istrinya dan juga bunda Sisi, karena Fazar sama-sama terpukul atas kabar mengejutkan ini. Walaupun Fazar tidak bisa mengatakannya. Tapi sakit saat melihat sebagian dari keluarganya harus pergi dengan cara yang begitu sangat mengejutkannya. Apalagi adik kesayangannya sedang kritis didalam.
" Ya Allah, cobaan apalagi ini? Kenapa begitu sangat menyakitkan!" Batin Fazar, yang hanya bisa menangis dengan diam." Jika engkau hanya ingin menguji keimanan, kami maka kuatkan lah kami ya Rab untuk melewati semuanya."
Sedangkan pemuda tadi, hanya menatap kelurga yang menangis didepan ruangan IGD. Tangis pilu parah keluarga korban kecelakaan tadi, membuat pemuda itu semakin merasa bersalah. Karena pemuda itu berpikir. Kalau kematian, wanita bernama Fina itu pasti ulahnya.
__ADS_1
" Apa yang kamu lakukan Ilham, kamu baru saja membunuh orang!" Batin pemuda itu yang menyalakan dirinya. Padahal belum tentu kecelakaan ini karena ulahnya.
Saat orang-orang sedang bersedih karena kabar duka ini. Mereka tidak menyadari, kalau ada bayi kecil ditengah-tengah mereka. Bahkan bayi kecil itu hanya diam, sambil menatap Wiyah yang sedang menangis sekarang. Bayi satu bulan yang belum mengerti apa-apa itu, tidak tau kalau sekarang bunda nya sudah berpulang, sedangkan kondisi Ayahnya sedang buruk sekarang.
" Dokter!! katakan kalau yang anda katakan tidak benar!!" Papa Ali masih saja membentak dokter itu. Bahkan tidak ada yang menahannya sekarang untuk melampiaskan kesedihannya. Bagaimana tidak ada yang menahan papa Ali, kalau mereka saja terpukul atas kabar ini.
Sampai Haidar dan Rido, datang bersama dengan beberapa polisi. Haidar dan juga Rido tanpa kebingungan, melihat para keluarga menangis. Sedangkan papa Ali masih memegang kemaja dokter, yang hanya diam tidak bergerak.
" Sebenarnya apa yang terjadi?"
" Saya juga tidak tau pak Haidar." Jawab Rido sama-sama kebingungan." Sebaiknya kita bantu dokter itu pak Idar. Karena saya melihat, kalau pak Ali ingin memukulnya." Haidar dan juga Rido bergegas melangkah mendekati papa Ali, lalu membantu melepaskan cengkraman papa Ali di kemeja dokter itu.
" Ada apa pak Ali, kenapa bapak ingin memukul dokter?." Papa Ali hanya diam tidak menjawab, membuat Haidar dan Rido semakin kebingungan. Apalagi menatap sekeliling mereka yang menangis." Pak Ali, ada apa sebenarnya?" Tanya Rido dan Haidar, saat melihat papa Ali menangis dan tubuh rapuh itu terduduk di lantai rumah sakit yang begitu sangat dingin. Bahkan sekarang papa Ali menangis. Sepertinya papa Ali sudah mulai percaya dengan perkataan dokter barusan. Kalau ingin bukanlah kebohongan.
" Dokter sebenarnya apa yang telah terjadi?" Tanya Rido menatap dokter dokter itu dengan tatapan kebingungan. Sedangkan dokter itu hanya menghembuskan nafasnya dengan berat lalu menceritakan, sebenarnya. Apa yang sudah terjadi.
" Dil, apalagi ini? Kenapa kamu selalu membuat khawatir." Lirih Rido mendudukan tubuhnya disebelah Anita yang sama-sama sedang menangis." Apalagi ini Dil? Kenapa kamu selalu membuat kami menangis?" Lirih Rido, yang ikut menangis, karena Rido sudah tidak bisa menahan air matanya. Bagaimanapun Rido. Dia tetap manusia biasa, yang tidak akan bisa menahan kesedihannya, saat mendengar kabar ini. Apalagi sahabatnya kembali kritis, setelah setahun yang lalu sadar. Jika dulu sahabatnya kritis karena penyakit yang dia derita, tapi tidak dengan yang ini.
Sedangkan Haidar, Sama kagetnya. Tapi berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak menangis. Karena dia melihat, kalau semua keluarganya terlihat terpukul sekarang.
" Ya Allah, jika engkau memiliki rencana dibalik cobaan ini. Maka kuatkan lah kami untuk menerima semuanya, agar tidak mengeluh." Batin Haidar menatap seluruh orang-orang disana.
Saat dokter sedang menatap iba pada keluarga besar itu, dari ruangan IGD. Keluar seorang dokter wanita." Dokter." Mendengar panggilan dari dokter wanita itu, membuat orang-orang disana. Langsung melihat kearah dokter dan juga dokter wanita itu yang sedang membicarakan sesuatu yang mereka tidak mengerti. Setelah itu dokter dan wanita itu masuk kedalam ruangan IGD kembali, dengan wajah cemas.
Semuanya menatap ruangan IGD yang tertutup dengan perasaan cemas. Bagaimanapun, mereka belum mendengar bagaimana dengan kondisi Fadil sekarang.
__ADS_1
Tangis tadi, kini berubah menjadi doa-doa yang mereka kirimkan untuk Fadil. Semoga ayah satu anak itu bisa sadar dari kritisnya. Bagaimanapun Beby Falisha masih membutuhkan orangtuanya, walaupun salah satu dari mereka sudah tiada.
Lima menit menunggu. Dokter kembali keluar." Bagaimana dokter, dengan kondisi pasien?" Tanya mereka tidak sabaran menatap kearah dokter. Bagaimanapun mereka begitu sangat menantikan kalau Fadil baik-baik saja.
" Pasien baru saja melewati masa kritisnya. Hanya saja kondisinya sangat memperhatikan." Jawab dokter itu dengan serius." Dan pasien meminta untuk bertemu dengan keluarganya. Yaitu, Bunda nya, tuan Fazar, nona Wiyah dan juga anaknya. Pasien juga mengatakan, kalau dia ingin bertemu dengan pemuda yang membawanya tadi. Serta polisi." Semua orang tampak mengerutkan keningnya, saat mendengar ucapan Fadil. Termasuk pemuda itu.
Tapi, karena itu permintaan dari Fadil. Mereka tidak banyak tanya, dan memutuskan untuk bertemu dengan Fadil.
" Sayang, bunda...."
" Aku tidak kenapa-kenapa Abi." Jawab Wiyah. Walaupun jujur dirinya susah untuk berdiri dari duduknya. Karena tubuhnya begitu sangat lemah sekarang." Kamu harus kuat Wiyah." Batin Wiyah menguatkan dirinya. Tapi air matanya masih saja menetes, mengingat sahabat masa kecilnya sudah berpulang." Astaghfirullah, ya Allah kuatkan lah hati ini untuk menerima kepergian sahabat hamba, walaupun ini terasa begitu sangat sakit." Lirih Wiyah menghapus air matanya, lalu pandangannya tertuju pada bayi kecil digendongnya." Doakan ayah yah, Beby Falisha. Agar ayah baik-baik saja." Lirih Wiyah yang masih bisa didengar oleh orang-orang disana. Yang membuat mereka semakin menangis. Apalagi mereka baru mengingat, kalau bayi berusia satu bulan itu ternyata berada disana. Tapi mereka dengan tega mengabaikannya.
Fazar hanya mencium kening istrinya bergantian ke bunda Sisi. Lalu ketiganya melangkah masuk kedalam ruangan IGD dengan perasaan kacau. Termasuk pemuda itu.
.
Didalam ruangan IGD, mereka bisa melihat kalau ada dua Brankar disana. Yang satunya sudah tertutup oleh kain, dan para suster juga sedang melepaskan beberapa alat pada tubuh itu.
" Fina?" Lirih Wiyah dan bunda Sisi menatap Brankar itu, dengan air mata yang terus mengalir dengan derasnya, membuat bayi digendong Wiyah bisa merasakan setiap tetesan air mata yang berjatuhan.
" Sayang, bunda. Jangan menangis. Ingat Fadil tidak boleh tau kabar duka ini." Lirih Fazar berbisik di kuping keduanya. Sedangkan Wiyah dan bunda Sisi, hanya mengangguk dan menghapus jejak air mata mereka yang masih saja mengalir.
" Ba_ng." Lirih Fadil dengan suara lemah nya sambil tersenyum kecil saat melihat keluarganya disana.
Sedangkan mereka hanya bisa menatap Brankar, yang terdapat tubuh, yang kini terpasang beberapa alat untuk membantu hidup pria itu. Tapi dibalik masker oksigennya, dia masih bisa tersenyum. Mengatakan kalau dia baik-baik saja.
__ADS_1
...----------------...