
Kesabaranku membawa cinta
Saat Wiyah dan Fazar memasuki mall yang terbesar di kota Jakarta, Para pengunjung satu persatu menatap kearah keduanya saat melihat kehadiran Wiyah dan Fazar di sana. Apalagi kearah Fazar yang sedang mengandeng tangan seorang gadis berhijab.
Orang yang melihat Fazar tentu mengenal siapakah Fazar sebenarnya, jadi tidak heran jika keduanya mendapatkan tatapan dari para pengunjung lainnya.
Apalagi para pengunjung bertanya-tanya siapakah gadis yang sekarang Fazar gandeng tangannya begitu sangat mesra. Apakah gadis itu pacar atau tunangan Fazar. Pertanyaan itu selalu pengunjung tanyakan pada diri mereka sendiri. Tapi mereka tidak berpikir kalau gadis yang Fazar sekarang Fazar gandeng tangannya itu adalah istrinya, Karena para pengunjung tidak sampai berpikir di situ.
" Kak, kenapa mereka menatap kearah kita." Tanya Wiyah saat merasakan tatapan dari para pengunjung mall.
" Ngga usah di lihatin sayang, anggap mereka sedang mengerjakan urusan mereka sendiri." Jawab Fazar mencoba mengalihkan tatapan istrinya itu dari para pengunjung yang sedang menatap kearah mereka. Wiyah yang mendengar jawaban dari Fazar membuat dirinya hanya mengangguk mengerti.
Sebelum Fazar dan Wiyah masuk kedalam bioskop untuk nonton. Fazar harus mengantri untuk membeli tiket. Padahal Fazar bisa saja mengosongkan bioskop, untuk nonton berdua saja bersama dengan kekasih halalnya itu, agar tidak mengantri membeli tiket seperti saat ini. Tapi Fazar tidak melakukan hal itu, Karena Fazar menginginkan kencan bersama dengan kekasih halalnya itu dengan hasil usahanya sendiri, tanpa campur tangan kekuasaannya. Fazar hanya ingin kencan pertama mereka begitu sangat romantis malam ini, tampak campur tangan kekuasaan apapun.
Setelah membeli tiket, Fazar melangkah mendekati istrinya yang sedang duduk karena sedang menunggunya." Maaf sayang, lama nunggunya, soalnya tadi banyak yang ngantri beli tiket." Ucap Fazar merasa bersalah karena membuat istrinya itu lama menunggu, hanya karena ia lama membeli sebuah tiket.
" Ngga apa-apa kak." Jawab Wiyah." Kakak udah dapat tiketnya." Tanya Wiyah membuat Fazar mengangguk lalu memperlihatkan dua tiket kepada istrinya itu.
" Tentu sayang, kakak dapat tiketnya. Tapi kita dapat kursinya bagian belakang." Jelas Fazar.
" Ngga apa-apa kak, mau di depan nontonnya atau di belakang sama aja, yang penting kita bisa nonton." Jawab Wiyah membuat Fazar tersenyum karena senang dengan jawaban yang diberikan istrinya itu. Tidak sia-sia dia mengantri kalau mendapatkan jawaban yang membuat Fazar senang.
Fazar mengeluarkan tangannya, kembali mengandeng tangan Wiyah, untuk masuk kedalam bioskop bersama pengunjung yang lainnya.
" Sebelum masuk kedalam, sayang mau beli popcorn ngga." Tanya Fazar menatap istrinya.
" Boleh kak, sekalian sama air putih "Jawab Wiyah membuat Fazar mengangguk mengerti.
Fazar dan Wiyah memutuskan untuk membeli beberapa popcorn dan sebotol air minum sebelum keduanya masuk kedalam bioskop.
.
.
Wiyah begitu sangat menikmati film yang sekarang dia nonton, sampai membuat dia begitu sangat serius menonton film yang sekarang sedang terputar di layar yang begitu sangat besar itu.
Jika dulu Wiyah nonton bersama dengan para sahabatnya maka berbeda dengan malam ini, Karena Wiyah nonton bersama kekasih halalnya.
Sedangkan Fazar tidak fokus pada film yang sedang berputar di layar besar itu. Melaikan dia fokus di wajah istrinya itu yang tampak cantik saat terdiam, karena fokus dengan tontonan nya.
__ADS_1
Karena Fazar berpikir kalau film di depan tidak semenarik istrinya sekarang.
Fazar mendekatkan tangannya ke tangan istrinya lalu menggenggamnya dengan erat.
Wiyah yang merasakan tangannya seperti di genggam menoleh kearah samping, menatap suaminya itu yang sedang menatap kearahnya sambil tersenyum.
Ya Allah, kenapa suaminya itu semakin terlihat begitu sangat tampan saat sedang tersenyum seperti sekarang. Pikir Wiyah saat melihat senyuman suaminya itu.
" Cantik dan manis." Ucap Fazar tapi tidak di dengar oleh Wiyah karena suara dari film yang sekarang sedang berputar.
Sedangkan Wiyah hanya mengerutkan keningnya bingung saat melihat suaminya itu sedang mengatakan sesuatu tapi ia tidak bisa mendengarnya.
Karena bingung, tapi tidak bisa bertanya karena suara dari film, membuat Wiyah memutuskan untuk diam, nanti kalau mereka sudah keluar Wiyah akan menanyakan apa tadi suaminya itu mengatakan sesuatu.
Wiyah kembali menatap kedepan untuk kembali menonton film yang sekarang masih berputar. Sedangkan Fazar yang tadi menatap kearah istrinya kini ikut melihat kedepan untuk ikut menonton film yang sekarang masih berputar. Padahal Fazar berpikir kalau istrinya lebih menarik ketimbang film di depan.
Tangan Fazar juga masih menggenggam tangan Wiyah tanpa melepaskannya sama sekali.
💮💮💮💮💮
Sedangkan disisi lain.
" Dasar pembohong. Padahal tadi katanya. Tidak usah berterimakasih atau meminta maaf, karena gue hanya ingin menolong saja, atas rasa kemanusiaan." Ucap Fadil menirukan ucapan Abizard tadi. Sedangkan Abizard yang mendengar perkataan dari Fadil hanya bisa menggerutu dalam hati.
" Begini amat punya sepupu kayaknya dia, beda benget sama Fazar." Batin Abizard menatap kearah Fadil yang sedang menatapnya.
Ya Abizard masih berada di ruangan Fadil, karena dia begitu sangat betah saat berkumpul bersama dengan Fadil dan juga bunda Sisi yang begitu sangat menyayanginya seperti anak sendiri. Abizard merasa kalau dia seperti mendapatkan sosok seorang ibu dari bunda Sisi dan juga sosok saudara dari Fadil.
Abizard ingin sekali mengganggap bunda Sisi seperti ibunya, tapi Abizard takut kalau bunda Sisi tidak akan mau, mengingat seperti apa jahatnya dulu papi nya kepada bunda Sisi. Walaupun Abizard tidak tahu, tapi mendengar curhatan dari papinya membuat Abizard bisa merasakan kalau papi nya dulu pasti begitu sangat kejam kepada bunda Sisi.
" Ya memang faktanya kaya gitu." Jawab Abizard cuek.
" Dasar ya lo, berani sekali menjawab." Ucap Fadil mendadak geregetan kepada sepupunya itu. Rasanya ia pengen memukul Abizard jika saja dia bisa bangun dari tempat tidurnya.
Fadil merasa kesal, karena Abizard terus mendapatkan jawaban dari semua ucapannya yang membuat Fadil kesal. Tapi Fadil juga senang, karena sepupunya itu bisa berkumpul bersama dengan mereka.
Sedangkan bunda Sisi yang berada di sofa bisa mendengar perdebatan keduanya. Bunda Sisi hanya bisa geleng-geleng melihat keduanya. Padahal dari tadi, keduanya hanya memperdebatkan hal itu.
" Lihatlah mas, sekarang mereka sudah bertemu seperti keinginanmu dulu. Aku akan menerima Abizard selayaknya seorang anak dan berjanji akan memberikannya kasih sayang seorang ibu, kasih sayang yang belum pernah dia rasakan selama ini." Batin bunda Sisi menatap Abizard.
__ADS_1
Bunda Sisi berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Abizard dan Fadil yang masih mengobrol di hal yang lain, walaupun keduanya seperti berdebat.
" Abizard." Panggil bunda Sisi dengan lembut saat mendekati Abizard.
Abizard yang di panggil, menoleh samping menatap kearah bunda Sisi.
" Iya tan, ada apa." Tanya Abizard.
" Maaf nak Abizard, karena sekarang sudah malam sebaiknya kamu istirahat dulu, mengingat kondisi kamu yang belum sepenuhnya pulih. Setelah itu besok kamu bisa kembali kesini jika kamu mau." Ucap bunda Sisi, bukan maksud bunda Sisi untuk mengusir Abizard. Hanya saja bunda Sisi mengingat kondisi Abizard sekarang yang belum sepenuhnya sembuh.
Sedangkan Abizard hanya mengangguk mengerti, Karena Abizard baru sadar kalau ia sudah begitu sangat lama berada di ruangan Fadil.
" Iya tan, aku juga sampai lupa buat kembali ke ruangan ku, karena terlalu asyik ngobrol sama tante dan juga Fadil, soalnya di ruanganku terlalu membosankan." Ucap Abizard mengingat kalau dirinya sampai lupa waktu saat bercerita dengan bunda Sisi. Abizard merasa kalau sekarang dirinya sedang bercerita dengan sang bunda.
" Iya ngga apa-apa nak, nanti besok kamu bisa kesini lagi kalau kamu bosan di ruangan mu. Biar Fadil ada temannya untuk mengobrol." Sahut bunda Sisi." Tapi sekarang nak Abizard istirahat terlebih dahulu." Ucap bunda Sisi mendapatkan anggukan dari Abizard.
" Oke tan, kalau gitu aku pergi dulu ya tan." Pamit Abizard.
" Iya nak Abizard." Jawab bunda Sisi.
Abizard memanggil sekertaris Ardi untuk membantunya pergi keruangan nya. Karena sekertarisnya itu dengan setia menunggunya di luar.
" Makasih ya tan, sudah mau mendengar obrolanku." Ucap Abizard sebelum kursi rodanya kembali di dorong keluar.
" Iya sama-sama zard, bunda juga senang kalau kamu mau mengobrol bersama kami disini." Jawab bunda Sisi sambil tersenyum, karena bunda Sisi juga merasa senang bisa mengobrol bersama dengan Abizard.
Setelah berpamitan kepada bunda Sisi dan juga Fadil, Abizard kembali kedalam ruangannya. Yang membuat ruangan itu kembali sunyi karena mereka hanya berdua.
" Bun, kenapa Wiyah dan Abang belum datang." Tanya Fadil saat menyadari kalau abang dan kakak iparnya belum datang ke ruangan nya.
" Mungkin sekarang Wiyah sedang mengerjakan tugas kuliahnya Dil, soalnya Wiyah kuliah nya lewat online dan abangmu Fazar sedang menemaninya." Jelas bunda Sisi membuat Fadil mengangguk mengerti.
Entah kenapa, hati Fadil merasa sakit saat mendengar kalau Wiyah dan Fazar sedang berdua sekarang. membayangkan itu membuat Fadil merasakan rasa cemburu.
" Ada apa denganku ya Allah." Batin Fadil.
...----------------...
Jangan lupa like komen dan vote nya biar author makin semangat buat update.
__ADS_1