
Kesabaranku membawa cinta
Wiyah bersama dengan kedua sahabatnya, kini sedang asyik duduk di ruangan keluarga sambil nonton bersama. Terlihat Wiyah yang begitu sangat bahagia, karena rasa bosannya bisa hilang, karena kedatangan kedua sahabatnya itu. Sampai-sampai wajah itu terus tersenyum. Karena kedua sahabatnya sering mengunjunginya, membuat rasa bosannya sedikit berkurang. Apalagi selama dua minggu ini Wiyah merasa sepi, karena Fazri sedang tidak berada di rumah.
Karena setiap Wiyah bosan, biasanya Fazri akan menghibur nya. Tapi berbeda dengan dua minggu ini, Fazri tidak terlihat karena dia sedang berada di kota B.
Jika Wiyah dan Yaya sedang menikmati film yang mereka nonton, maka berbeda dengan Fina yang hanya diam sambil menyaksikan saja, karena gadis itu lebih betah melamun, daripada mengikuti alur dari film yang dia tonton.
" Kenapa dua minggu terakhir kak Fadil tidak terlihat, apakah kak Fadil marah kepadaku, dan sedang menghindar dari ku. Tapi seminggu sebelumnya kak Fadil pergi, kak Fadil baik-baik saja." Batin Fina menerka-nerka. Padahal seminggu sebelum
Ya, selama dua minggu ini Fadil seakan hilang tanpa kabar sama sekali, karena Fadil tidak pernah datang menemuinya, atupun menelfonnya selama Fadil selesai dari kasusnya. Makanya Fina berpikir kalau Fadil sengaja menghindarinya, karena Fadil tidak ingin berhubungan lagi dengannya, ataupun berteman dengannya.
" Jangan pikirkan itu Fin, mungkin saja kak Fadil ada urusan penting di luar kota makanya dia tidak mengabari mu." Batin Fina, membuang jauh-jauh pikiran buruknya terhadap Fadil.
Sedangkan Yaya yang sedang menonton, menoleh, melihat kearah Fina, yang hanya diam, karena melamun.
" Fin." Panggilan Yaya, membuat Fina langsung tersadar dari lamunannya.
" Ah, iya Yaya, ada apa." Tanya Fina menoleh kearah Yaya.
" Kamu melamun Fin, makanya dari tadi diam aja."
" Ngga Yaya, aku ngga melamun."
" Terus kalau nggak melamun, kenapa kamu diam saja dari tadi." Sambung Wiyah, yang melihat kalau sahabatnya itu hanya diam tanpa berkomentar apa-apa." Apa yang sedang kamu pikirkan Fin. Kalau ada masalah kamu bisa bercerita dengan kami."
" Iya Fin, kalau ada masalah cerita aja sama kami, nanti kami bantu cari solusi."
" Betul Wiyah, Yaya. Aku sedang tidak ada masalah. Aku diam seperti tadi, karena aku sedang menikmati alur dari film itu." Jawab Fina berbohong.
Wiyah yang mendengar jawaban dari Fina, yakin kalau sahabatnya itu pasti berbohong, karena terlihat dari raut wajahnya, kalau Fina sedang memikirkan sesuatu. Apalagi Wiyah sudah mengenal seperti apa Fina sejak ia masih kecil.
" Bagaimana dengan kandungan mu Wiyah, aku lihat perutmu sudah mulai terlihat, padahal usianya masih belum empat bulan." Ucap Fina mencoba mengalihkan pertanyaan kedua sahabatnya itu, agar tidak membahas kenapa tadi ia diam sambil melamun.
Sedangkan Wiyah yang tau kalau sahabatnya itu, sedang mengalihkan perbincangan mereka, hanya menghembuskan nafasnya." Alhamdulillah mereka baik-baik saja Fin. Mungkin mereka ada tiga, makanya cepat terlihat seperti ini."
Ya, kedua sahabat Wiyah sudah mengetahui kalau Wiyah sedang mengandung bayi kembar tiga, karena Wiyah sudah menceritakan kabar bahagia itu kepada ketiga sahabatnya.
" Pantas mereka cepat sepat sekali terlihat Wiyah." Sambung Yaya." Aku jadi kepingin memegangnya. Wiyah apa boleh aku memegang perutmu, untuk merasakan kehadiran mereka." Wiyah tersenyum mendengar pertanyaan Yaya. Wiyah bisa melihat dari raut wajah gadis seumuran itu, yang begitu sangat berharap agar dirinya mengijinkan permintaannya itu.
" Tentu boleh Yaya, kalau kamu ingin memegang mereka." Mendengar jawaban dari Wiyah, membuat Yaya tersenyum senang, karena permintaannya di kabulkan oleh Wiyah. Yaya berdiri dari duduknya, untuk duduk di sebelah Wiyah, lalu Yaya membungkukkan tubuhnya sedikit agar lebih dekat dengan perut Wiyah yang sudah terlihat menonjol.
" Hay, anak keponakan aunty, apa kabar kalian didalam sana, kenalkan aku aunty kalian, aunty Yana Yakira, tapi kalian bisa memanggil aunty dengan panggilan aunty Yaya." Ucap Yaya sambil mengusap perut Wiyah yang sudah terlihat menonjol.
Sedangkan Fina dan Wiyah saling menatap satu sama lainnya, setelah melihat Yaya, yang sedang mengajak mengobrol janin dalam kandungan Wiyah. Mereka hanya tersenyum, karena mereka berdua merasa lucu.
__ADS_1
" Cepat-cepat lahir ke dunia ya, biar aunty bisa membelikan kalian main yang banyak."
" Wiyah, apakah mereka laki-laki atau perempuan." Tanya Yaya saat sudah kembali di posisi duduknya.
" Kalau masih umur segini, kita belum tau Yaya, apa kela min mereka. Karena kela min mereka akan terlihat saat usia kandungan Wiyah masuk ke lima bulan. Setelah lima bulan, maka kita bisa melihat, jenis kelamin dari ketiga janin didalam perut Wiyah. Kalau ini masih belum bisa, karena kandungan Wiyah masih belum cukup tiga bulan jadi kita belum bisa melihat kel amin mereka." Sambung Fina, merasa lucu dengan pertanyaan Yaya barusan. Terlihat kalau Yaya sedang berpikir mendengar penjelasan Fina.
" Emangnya gitu ya Wiyah." Tanya Yaya dengan polosnya. Karena Yaya belum mengerti soal kehamilan.
Wiyah dan Fina hanya menggelengkan kepalanya, mendengar pertanyaan itu." Iya Yaya, karena mereka akan terus bertumbuh sampai semua lengkap, dan saat mereka sudah sempurna, maka itu adalah waktunya mereka untuk lahir."
" Oh, gitu ya." Ucap Yaya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
" Pasti kamu ngga masuk pelajaran IPA ya, Yaya, Makanya ngga tau hal seperti ini." Tanya Fina, membuat Yaya tersenyum.
" Tebakan mu benar Fina. Karena aku malas kalau sudah pelajaran IPA, makanya sering bolos. Apalagi aku anak satu-satunya makanya aku ngga tau soal kehamilan" Jawab Yaya terkekeh.
Ya, yang dikatakan oleh Yaya benar, kalau dia anak satu-satunya di keluarganya, karena Yaya tidak memiliki adik ataupun kakak, Makanya dia terlihat begitu sangat manja.
" Pantas." Ketiga langsung terkekeh mendengar jawaban ucapan Fina, yang terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.
Setelah perbincangan mereka, kini ketiganya kembali melanjutkan tontonan mereka, yang terlihat lagi seru-serunya. Drama korea, yang membuat kaum wanita tidak bosan menontonnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
kembali kerumahnya. Fazar menyetir sendiri, karena dia lebih suka itu.
Saat Fazar melewati toko buah, Fazar menghentikan mobilnya, untuk singgah di tokoh buah itu, untuk membelikan istrinya buah. Karena Fazar begitu sangat hafal kalau istrinya itu akan makan buah setiap malam, walaupun dia sudah memakan beberapa camilan ibu hamil, Tapi itu tidak membuat istrinya kenyang.
Tapi Fazar tidak khawatir masalah itu, karena kata dokter, kalau itu semua wajar, apalagi istrinya sedang mengandung bayi kembar, makanya porsi makannya jauh lebih banyak dari pada biasanya, bahkan mereka akan lebih senang nyemil karena sering merasa lapar.
Setelah membeli beberapa buah, kini Fazar kembali menjalankan mobilnya untuk kembali kerumah.
Tapi mobil itu kembali menepi saat Fazar melewati sebuah Indomaret. karena Fazar baru ingat, kalau susu istrinya tinggal sedikit, serta camilan yang berada didalam kamar istrinya juga sudah habis. Makanya Fazar berinisiatif untuk membelikan nya langsung.
Padahal di rumahnya, terdapat beberapa pembantu yang bisa membantu membelikannya. Tapi Fazar bisa melakukan itu sendiri, karena dia ingin menjadi suami yang siaga, yang selalu tau apa saja kebutuhan istrinya.
Sungguh Fazar adalah suami yang sangat romantis.
.
.
Fazar menatap beberapa rasa susu yang berada di rak itu. Berapa susu yang memiliki merek berbeda, serta rasa yang sama. Tapi Fazar tetap mengambil merek susu sering istrinya minum, dengan rasa yang beda-beda agar istrinya itu tidak bosan dengan rasa itu saja.
" Wah, ternyata pria muda itu, adalah suami yang so sweet, ya. Coba lihat dia mencarikan susu untuk istrinya." Bisik seorang wanita kepada wanita satunya saat melihat Fazar sedang mengambil beberapa susu.
__ADS_1
" Iya. Pasti beruntung benget wanita yang sudah menikah dengannya." Ucap wanita satunya.
Sedangkan Fazar, hanya mengabaikan ucapan dari orang-orang di Indomaret itu, yang terkesan lebay, karena dari ia masuk, orang-orang terus menatapnya, sambil membicarakannya. Padahal ia hanya melakukan hal yang kecil.
" Kenapa sih, mereka membicarakan ku, apakah mereka tidak memiliki perkejaan lain." Gumam Fazar kesal, sambil melewati beberapa wanita yang terus menatapnya.
Fazar pergi di rak satunya, tepatnya di rak yang khusus untuk makan ringan. Tapi Fazar tidak tertarik dengan jajanan itu, karena ia sedang mencari makan ringan khusus untuk ibu hamil.
" Cari apa pak." Tanya wanita muda, yang sama-sama sedang mencari camilan di tempat yang sama seperti Fazar.
Fazar sekilas menoleh kearah wanita itu, lalu kembali lagi mencari jajanan untuk istrinya.
" Pak, apakah saya bisa membantu anda." Walaupun sudah di cuekin, tapi wanita itu tetap berusaha untuk bertanya. Karena dia penasaran dengan Fazar, Apalagi wanita itu menyukai sikap Fazar, karena pria itu terlihat berbeda.
Mendengar pertanyaan dari wanita itu, membuat Fazar kembali menoleh lalu menatap kearah wanita, yang berada sedikit jauh darinya.
" Anda memiliki pekerjaan nona, maka lanjutkan pekerjaan anda, jangan banyak bertanya kepada saya, apalagi saya hanyalah orang asing yang tidak mengenal anda." Setelah mengatakan itu, Fazar langsung meninggalkan wanita itu, yang terlalu banyak bertanya menurut Fazar.
" Sungguh pria yang dingin." Batin wanita itu sambil tersenyum.
.
.
Setelah mendapatkan susu dan Camilan yang Fazar cari. Kini pria itu sedang mengantri sambil membawa satu troli camilan ringan, serta susu didalam troli itu.
Setelah beberapa lama mengantri, kini giliran Fazar. Kasir yang melihat belanjaan Fazar hanya melongo menatap kearah Fazar, Tidak berangsur lama kasir itu tersenyum.
" Pantas orang-orang disini banyak menatap anda pak, ternyata anda adalah suami idaman para wanita." Ucap penjaga kasir itu tersenyum, sambil mengambil belanjaan Fazar.
Sedangkan Fazar mengerutkan keningnya bingung." Apa maksud anda mbak."
" Maksud saya pak, jarang seorang pria datang sendirian kesini, seperti anda pak, untuk mencarikan kebutuhan istrinya saat sedang mengandung. Biasanya mereka akan datang bersama dengan pasangannya untuk berbelanja, tapi berbeda dengan anda pak." Jelas penjaga kasir itu.
Fazar tampak terdiam setelah mendengar penjelasan dari penjaga kasir itu." Pantas mereka menatapku, ternyata hanya karena itu." Batin Fazar." Andai mereka tau seperti apa dulu, aku memperlakukan istriku, apakah mereka akan tetap menganggap ku sebagai suami idaman, seperti yang mereka pikirkan."
" Semua sebesar dua juta empat seratus dua puluh ribu pak." Ucap penjaga kasir itu, membuat Fazar langsung tersadar dari keterdiamnya.
Fazar mengambil kartu kreditnya untuk membayar semua belanjaannya itu.
" Ternyata pria didepan ku, bukanlah orang sembarangan. Pantas pria ini berbelanja begitu sangat banyak." Batin penjaga kasir itu sambil menatap kartu kredit berwarna hitam yang Fazar berikan.
Setelah semua belanjaan di bayar, Fazar keluar dari Indomaret itu, melangkah kearah mobilnya, sambil membawa belanjaan nya di kedua tangannya.
...----------------...
__ADS_1