Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 96


__ADS_3

Selesai sarapan pagi. Kini bunda Sisi dan juga Wiyah sedang duduk bersama sambil menikmati kebersamaan mereka. Sedangkan Fadil, kembali tidur setelah diberikan obat oleh dokter tadi. Mungkin karena obat itu mengandung obat tidur, makanya Fadil kembali tidur.


" Bagaimana hubungan kalian." Tanya bunda Sisi menatap menantunya itu.


Wiyah tersenyum." Alhamdulillah, hubungan kami baik bun, kak Fazar selalu baik dan perhatian kepadaku." Jawab Wiyah jujur. Karena selama seminggu ini. Dimana hari itu Fazar mengakuinya sebagai seorang istri, kini Fazar sudah sepenuhnya berubah menjadi lebih baik kepada dirinya.


Fazar selalu berlaku manis kepadanya, dan juga berkata lembut. Jika Fazar yang dulu selalu berkata ketus, membentaknya, menghinanya dan juga memasang wajah datarnya. Kini berbeda, karena Fazar menunjukkan sisi perhatiannya kepada dirinya. Kadang Wiyah sampai berpikir, kalau ia sedang bermimpi, saat melihat sikap suaminya, yang kini sepenuhnya berubah, setelah malam dimana dia mengakui Wiyah sebagai istrinya.


" Alhamdulillah, jika hubungan kalian semakin membaik. Bunda senang dengarnya." Ucap bunda Sisi yang ikut senang dengan hubungan Fazar dan Wiyah." Bunda sangat senang dengan hubungan kalian yang semakin membaik, semoga kalian bisa mendapatkan malaikat kecil yang akan mengikat hubungan kalian semakin kuat." Ucap bunda Sisi sambil menatap Wiyah.


Wiyah yang mendengar ucapan bunda Sisi. membuat dirinya, merasa gugup. Karena Wiyah tahu, apa maksud dari bunda Sisi sebenarnya.


" Maafkan aku bun, aku belum bisa memberikan apa yang bunda inginkan, karena kak Fazar masih belum menyentuh ku." Batin Wiyah membalas tatapan bunda Sisi.


" Bagiamana, apakah dia sudah hadir disini." Tanya bunda Sisi langsung memegang perut Wiyah yang tertutup baju gamisnya. Wiyah yang merasa perutnya dipegang, melihat kearah tangan mertuanya itu.


" Belum bun, tapi insyaallah dia akan hadir disana." Jawab Wiyah berusaha tersenyum.


Bunda Sisi yang mendengar jawaban Wiyah, sedikit kecewa. Tapi bunda Sisi mengingat kalau selama Wiyah dan Fazar menikah, mereka pisah kamar, yang itu artinya Fazar belum pernah menyentuh Wiyah." Aku sampai lupa kalau mereka tidak tidur bersama." Batin bunda Sisi. Bunda Sisi melepaskan tangan nya dari perut Wiyah.


" Maaf bun, aku belum bisa memberikan apa yang bunda inginkan." Ucap Wiyah merasa bersalah.


Bunda Sisi tersenyum." Tidak apa-apa sayang, kalian juga baru dua bulan menikah. Mungkin Allah masih ingin memberikan kalian waktu untuk berdua, agar kalian bisa bermesraan tanpa ada yang ganggu." Jawab bunda Sisi mengusap lembut kepala Wiyah yang tertutup oleh kerudung. Bunda Sisi merasa bersalah saat melihat wajah Wiyah yang tampak sedih karena perayaannya tadi." Kamu tidak usah sedih. Bagaimana kalau sebentar kamu temani bunda berbelanja." Ajak bunda Sisi membuat Wiyah mengangguk.


" Iya bun, boleh. Aku juga mau beli bahan-bahan dapur, yang sudah mulai habis." Jawab Wiyah setuju membuat bunda Sisi tersenyum senang.


" Assalamualaikum." Salam Fazar sambil memasuki ruangan rawat Fadil.

__ADS_1


" Waalaikumsalam." Jawab Wiyah dan bunda Sisi. Fazar melangkah mendekati bunda Sisi dan juga istrinya yang sedang duduk berdua di sofa.


Lalu Fazar mencium punggung tangan bunda Sisi, setelah itu kening Wiyah. Sedangkan Wiyah tidak merasa tegang seperti dulu saat Fazar mencium keningnya. Wiyah sudah terbiasa di cium oleh Fazar selama beberapa hari ini, Karena Fazar selalu menciumnya saat mereka selesai solat berjamaah di rumah, saat Fazar akan pergi dan sesudah Fazar pulang, Seperti saat ini.


" Zar, bunda sama istrimu akan pergi berbelanja. Bunda titip Fadil ya." Ucap bunda Sisi menatap Fazar yang sudah duduk di sofa yang satunya.


" Iya bun, nanti aku yang jagain Fadil." Jawab Fazar." Nanti bunda sama sayang di antar sama Zain ya." Ucap Fazar kembali membuat Wiyah mengangguk." Jangan lupa, kartu yang kakak kasih di pakai." Ucap Fazar mengingatkan Wiyah.


Ya Fazar sudah memberikan kartu tanpa batas untuk Wiyah, pertanda kalau Fazar sudah memberikan nafkah untuk istrinya. Karena selama mereka menikah Fazar tidak pernah memberikan nafkah untuk Wiyah, yang bernilai seperti uang.


" Iya kak nanti aku pakai." Jawab Wiyah.


" Jangan seperti dua hari yang lalu." Ucap Fazar mengingatkan dua hari yang lalu, dimana mereka berbelanja tapi istrinya itu malah mengunakan uang hasil tabungannya, padahal ia sudah memberikan kartu tanpa batas untuk istrinya itu.


" Iya kakak, aku ngerti koh." Ucap Wiyah kesal memasang wajah cemberutnya.


" Sudah Fazar, jangan berdebat sama istrimu." Ucap bunda Sisi melerai perdebatan keduanya.


" Untung sayang, kalau ngga mungkin sudah aku culik." Batin Fazar tersenyum karena merasa gemas dengan istrinya itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Bunda Sisi dan Wiyah sedang berkeliling didalam mall yang terbesar di kota Jakarta. Kedua wanita yang berbeda usia itu sedang asyik dengan perbelanjaan mereka.


" Sebaiknya bunda istirahat dulu. Pasti bunda cepek dari tadi berkeliling." Ucap Wiyah.


" Nanti aja sayang, Soalnya ada beberapa belanjaan yang harus bunda cari." Tolak bunda Sisi lembut.

__ADS_1


" Tapi bun.."


" Ngga apa-apa sayang, bunda baik-baik saja." Potong bunda Sisi menenangkan memantau nya.


" Baiklah bun." Jawab Wiyah pasrah.


Wiyah kembali mengikuti langkah bunda Sisi yang mengarah ke toko pekaian wanita.


" Bunda mau cari sesuatu. Kalau kamu tunggu disini." Ucap bunda Sisi membuat Wiyah mengangguk.


Bunda Sisi mencari sesuatu yang berguna untuk menantunya, sedangkan Wiyah hanya diam menunggu.


Tidak membutuhkan waktu lama, bunda Sisi datang, sambil membawa satu paper bag ditangannya." Ini untuk mu." Ucap bunda Sisi menyerahkan paper bag yang tadi dia pegang.


" Untuk aku bun." Tanya Wiyah bingung, membuat bunda Sisi mengangguk." Apa ini bun." Tanya Wiyah menatap bunda Sisi, beralih ke paper bag ditangannya.


" Nanti kalau sudah sampai di apartemen baru kamu buka." Jawab bunda Sisi semakin membuat Wiyah bingung. Tapi Wiyah tetap mengangguk mengerti


" Terimakasih ya bun." Ucap Wiyah yang mendapatkan senyuman dari bunda Sisi.


" Iya sayang, sama-sama." Jawab bunda Sisi tersenyum.


...----------------...


Tiga bab, lunas. seperti janji author kemarin.


Maaf soalnya author terlalu sibuk, mau update langsung tiga atau dua. Maafkan author juga, membuat cerita terlalu bertele-tele. sudah bab segini, tapi cerita author masih itu-itu aja.

__ADS_1


Buat temen-temen, makasih ya atas dukungan kalian.


Jangan lupa like komen dan vote nya biar author makin semangat buat.


__ADS_2