
Kesabaranku membawa cinta
Mobil melaju kencang, melewati malam yang terlihat mendung, karena para awan menutupi permukaan langit dengan awan hitam. Mungkin langit malam ini, bisa merasakan kesedihan Fadil, yang sedang sakit hati, karena penolakan dari keluarganya Fina.
" Dil, sebenarnya apa yang telah terjadi dengan kalian. Kenapa kalian bisa menikah kemarin malam." Tanya Rido menoleh kearah Fadil sebentar setelah itu dia kembali fokus melihat kearah jalan.
" Dil, jangan diam kayak gini. Disini gua butuh penjelasan." Ucap Rido kembali yang sedikit meninggikan suaranya, karena melihat Fadil yang hanya diam tanpa menjawab ucapannya sama sekali.
Tubuh Fadil terlihat seperti patung, yang hanya diam tanpa mengulurkan satu katapun, Tatapannya juga terlihat kosong menatap kearah depan.
" Dil, sepertinya Lo gila karena cinta malam ini." Gumam Rido yang merasa kasian dengan sahabatnya itu.
Walaupun Rido tidak tau, kenapa Fadil dan Fina menikah. Tapi Rido yakin kalau pernikahan mereka memang tidak sengaja. Karena Rido tau seperti apa sahabatnya itu, yang tidak akan melakukan hal macam-macam kepada anak orang, karena Fadil bukanlah pria bejad seperti itu.
Jika saja Fadil adalah pria bejad. Mungkin hari dimana dia menolong Fina, pasti Fadil akan melakukan hal buruk kepada gadis itu, Dengan cara memanfaatkan keadaannya, Apalagi Fadil menyukai Fina.
Tapi Fadil tidak melakukan hal itu, karena dia masih menghargai Fina, sebagai wanita yang dia sukai, dan sebagai wanita yang tidak boleh di rusak sebelum ada ikatan yang halal.
" Aku kasian padamu Dil, karena kebahagiaan mu, tidak sebagus kisah cintamu." Batin Rido. Bagaimana Rido tidak berpikir seperti itu. Kalau dia sendiri yang melihat seperti apa kisah cinta sahabatnya itu, yang selalu rumit. Jika dulu Fadil mengikhlaskan gadis yang dia cintai untuk menikah dengan abangnya, maka berbeda dengan kisah cintanya yang ini.
Fadil harus mendapatkan penolakan dari keluarga gadis yang dia sukai, karena gadis itu sudah memiliki calon pilihan keluarganya.
Sedangkan Fadil. Dia hanya diam memikirkan nasibnya sekarang. Yang akan kembali gagal dalam masalah percintaan. Karena ini kali kedua dia akan mengikhlaskan orang dia cintai.
Ya, kalau gadis yang dia cintai tidak bisa dia gapai, mungkin Fadil, akan berusaha untuk mengikhlaskannya dengan orang lain.
Bukan maksud Fadil untuk menyerah, hanya saja melihat betapa besarnya keinginan keluarga Fina untuk memisahkan mereka, membuat Fadil yakin kalau keluarga Fina pasti tidak akan mau menerimanya, dan juga pernikahan ini, apalagi Fina sudah memiliki tunangan lain.
__ADS_1
" Ya Allah, apakah aku harus ikhlas untuk yang kedua kalinya, melepaskan orang yang aku cintai kepada orang lain." Lirih Fadil dalam hatinya, yang kini dalam posisi kebimbangan, antara bertahan atau melepaskan." Kenapa terulang lagi ya rabb, kenapa terulang lagi. Jika dulu aku yang melepaskan perempuan yang aku cintai, karena aku benar-benar ikhlas melepaskannya dengan pria lain. Tapi tidak dengan yang ini. Aku benar-benar tidak ikhlas ya Rabb, karena hati ini tidak mau tersakiti untuk yang kedua kalinya." Batin Fadil.
🌺🌺🌺🌺🌺
Tidak berselang lama, mobil yang dinaiki oleh Fadil dan Rido sudah sampai di rumah Fazar.
Kenapa tidak di rumah utama. Karena semua keluarga Fadil berada di rumah Fazar, makanya Rido sengaja membawa Fadil ke rumah Fazar. Rido juga memiliki tujuan lain dengan membawa Fadil kerumah Fazar bukan rumah utama.
Fadil yang sadar, kalau mobil mereka sudah berhenti, pertanda kalau mereka sudah sampai. Langsung membuka pintu mobil itu, tanpa melihat, dia berada di rumah mana.
Fadil melangkah meninggalkan Rido yang masih diam melongo menatap sahabatnya itu yng pergi begitu saja, tanpa protes sama sekali.
Karena biasanya Fadil akan protes, kalau Rido mengantarkannya ketempat yang salah, tapi berbeda dengan malam ini. Fadil langsung pergi begitu saja tanpa protes sama sekali. Jangankan protes, berbicara saja seperti tidak. Sungguh Fadil berubah menjadi orang yang pendiam, tidak mau banyak protes malam ini.
" Kenapa gue kayak nggak suka lihat Lo kayak gini Dil. Gue lihat lo kayak orang yang tidak memiliki niatan untuk hidup." Batin Rido yang begitu sangat sedih, sekaligus iba melihat sifat Fadil yang berubah, dalam waktu sangat singkat.
Karena tidak mau sendirian didalam mobil, Rido ikut keluar, untuk menyusul Fadil yang sudah duluan jalan. Rido juga masih berpikir, bagaimana reaksi keluarga Fadil nanti, saat melihat wajah Fadil yang lebam akibat pukulan dari Yusuf.
.
.
Fadil melewati ruangan keluarga, yang terdapat Fazri, Fazar, dan bunda Sisi disana yang sedang mengobrol bersama.
Sedangkan keluarga Haidar, dan juga ayah Jambri, sudah kembali dari tadi kerumahnya, saat Harum dan Wiyah sudah tidur. Mungkin gadis kecil itu masih kelelahan setelah perjalanan jauh tadi, dan pengaruh Harum baru saja keluar dari rumah sakit, makanya gadis kecil itu cepat sekali tertidur. Sama halnya seperti Wiyah, yang masih kelelahan setelah perjalanan jauh, dan juga pengaruh hormon kehamilan, yang selalu membuat dia ngantuk.
" Udah pulang Dil." Tanya bunda Sisi melihat kearah Fadil, saat menyadari kehadiran putranya itu." Bagaimana keluarga Fina. Mereka baik semuanya kan." Fadil hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari bunda nya itu." Dil kenapa diam." Bunda Sisi heran kenapa putra keduanya itu tidak menjawab pertanyaan. Bunda Sisi juga belum sadar dengan wajah Fadil, karena jarak mereka yang sedikit jauh.
__ADS_1
" Mungkin kak Fadil habis dapat kejutan dari keluarganya kak Fina bun, makanya kak Fadil hanya diam saja, sangking bahagianya." Sambung Fazri yang bermaksud ingin menggoda kakaknya itu.
Rido yang baru datang, bisa mendengar ucapan Fazri, hanya saja dia memilih diam karena ini bukan urusannya.
" Dil, kenapa diam." Ucap Fazar ikut membuka suaranya, karena Fadil tidak menjawab ucapan adiknya itu. Biasanya kedua adiknya itu akan selalu saja berdebat jika salah satu dari mereka sudah saling mengejek.
Sedangkan Fadil yang mendengar pertanyaan dari keluarganya, semakin tidak bisa menahan air matanya. Karena tidak kuat lagi menanggung beban sendirian, membuat tubuh tegap itu langsung luruh, terduduk di lantai, dengan air mata yang mengalir seperti air hujan diluar, yang terun begitu sangat derasnya.
Entah kenapa, malam ini dia berubah menjadi pria cengeng. Padahal dia bisa menahan air matanya, tapi tidak tau kenapa air mata itu memaksa keluar.
" Dil." Bunda Sisi, Fazar dan Fazri begitu sangat terkejut melihat tubuh tegap Fadil yang luruh kelantai.
Ketiganya langsung berdiri, dari duduknya lalu mendekati tubuh itu. Mereka bisa mendengar tangisan Fadil.
Bunda Sisi duduk di depan Fadil, lalu menengkup wajah tampan itu, yang masih menunduk.
" Astaghfirullah, Dil." Bunda Sisi terkejut saat melihat wajah tampan putra nya di penuhi oleh lukang lebam, sudut bibirnya juga pecah." Dil apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini." Tanya bunda Sisi, mengusap wajah putranya itu.
" Hiks...Hiks, Bun. Kenapa takdir begitu sangat jahat ke Fadil Bun, kenapa takdir selalu mempermainkan perasaan ini." Lirih Fadil yang masih dengan air matanya.
" Kenapa ngomong seperti tu Dil, kamu jangan menyalahkan takdir. Karena takdir memiliki jalan tersendiri untuk kamu. Kita harus mengikuti setiap alurnya dengan rasa syukur, bukan mengeluh, bahkan menyalakan takdir saat kita mendapatkan satu masalah yang tidak bisa kita hadapi." Nasehat bunda Sisi.
" Bun, apa yang harus aku sukuri, jika takdir kembali mempermainkanku seperti ini. Apakah aku harus bersyukur setelah hati ini kembali tersakiti untuk yang kedua kalinya." Tanya Fadil menatap bunda Sisi dengan tatapan penuh dengan kekecewaan." Aku manusia biasa Bun, yang memiliki rasa sakit, rasa sabar, dan rasa syukur yang memiliki batasannya. Jika aku tersakiti, pasti aku akan mengeluh. Apalagi ini untuk yang kedua kalinya aku merasakan ini."
Bunda Sisi dan Fazar membenarkan ucapan Fadil. Bagaimanapun mereka pernah berada di posisi Fadil, yang pernah menyalahkan takdir, saat mereka mendapatkan masalah yang mereka tidak bisa hadapi sendiri.
" Aku membenci takdir ini bunda, karena selalu saja mempermainkanku. Mempermainkan perasaan ini." Bunda Sisi langsung memeluk tubuh putranya itu, saat mendengar ucapan putranya itu.
__ADS_1
" Apa masalahmu sayang, kenapa kamu seperti ini." Tanya bunda Sisi, saat menyadari putranya yang begitu sangat berbeda dengan putranya yang dulu. Jika dulu putranya selalu diam dan menghadapi masalah itu sendiri, saat ada masalah yang datang kepadanya, maka berbeda dengan Fadil yang sekarang. Fadil sekarang, seperti banyak mengeluh, dan tidak bisa menghadapi masalahnya.
...----------------...