
Malam hari, di kamarnya Linda.
Tik tok, tik tok.
Suara jarum jam weker, di atas meja, yang ada di dekat tempat tidur, tidak mendapatkan perhatian dari Linda.
Sedari tadi, Linda hanya duduk diam dan termenung sendiri, membayangkan bagaimana pertemuannya tadi, dengan seseorang yang sudah ada di dalam hatinya, meskipun hanya sebatas sebagai pengagum rahasia saja.
Seseorang itu adalah, kakak kelasnya Linda, dengan perbedaan dua tingkatan.
Jadi, sewaktu Linda duduk di kelas satu SMA, seseorang itu ada di kelas tiga. Dan berbeda letak bangunan serta kelasnya juga berbeda.
Linda tahu jika, seseorang tersebut adalah tetangga desanya juga.
Tapi karena seseorang itu juga pemalu, sama seperti Linda, akhirnya mereka berdua juga tidak pernah ada bicara, soal sesuatu yang mereka rasakan, di dalam hati.
Mereka, Linda dan orang itu hanya menyimpan semua rasa, yang mereka miliki. Tanpa pernah bisa mengungkapkan, satu sama lainnya.
Linda merasa bahwa, seseorang itu sebagai seseorang yang penting dan punya nama, di sekolahnya yang dulu, karena merupakan anggota rohis, atau organisasi sekolah untuk urusan rohani, atau keagamaan.
Sedangkan seseorang itu, beranggapan bahwa, Linda adalah cewek yang luar biasa, yang tidak mungkin bisa dia miliki.
Linda tersenyum sendiri, saat teringat dengan kejadian yang terjadi di dalam angkutan desa tadi siang.
"Eh, Dek Linda. Benar Dek Linda kan?" tanya seseorang itu, dengan menyebutkan nama Linda, dan bertanya juga, sebagai basa-basi, untuk menyapa Linda, yang Sekarang duduk tidak jauh dari tempat duduknya sendiri.
"Iya Kak. Saya Linda. Kakak... emhhh, anu kakak namanya..."
"Romi," sebut Romi, yang merasa jika, Linda kesulitan atau bisa juga lupa, dengan namanya.
"Hehehe... iya kak Romi. Apa kabarnya Kakak?" tanya Linda, di saat dia merasa malu, karena tidak bisa menyebutkan nama Romi, dan meski harus diingatkan terlebih dahulu oleh orang yang bersangkutan sendiri.
"Gak apa-apa Dek. Pasti banyak nama yang ada di dalam memory Dek Linda."
Romi memaklumi, jika Linda melupakan namanya. Dia mengira bahwa, Linda ada banyak teman laki-laki, karena dulunya, Linda memang sering dikerubungi para cowok-cowok di sekolah.
Meskipun sebenarnya, Linda juga merasa sangat risih, dengan apa yang dia alami selama di sekolah dulu.
*****
Pada masa sekolah, Linda memang banyak punya teman berjenis kelamin laki-laki, atau cowok.
__ADS_1
Teman-temannya yang laki-laki, memang banyak yang sering datang ke tempat duduknya, saat jam istirahat sekolah.
Ada yang sengaja datang dengan membawakan makanan, atau minuman.
Tapi ada juga yang secara terang-terangan, memintanya untuk menjadikannya pacar.
Hal yang selalu dihindari dan ditakuti oleh Linda.
Yaitu sebuah hubungan, yang lebihi dekat dari pada sekedar teman biasa.
Satu hal yang sebenarnya tidak bisa di artikan sendiri oleh Linda. Karena dari semua rasa takutnya, Linda juga merasa sangat senang dan puas, jika menjadi pusat perhatian orang-orang, yang ada di sekitarnya. Terutama jika dia adalah seorang laki-laki.
Di puji dan di sanjung oleh sesama cewek saja, Linda merasa sangat senang. Apalagi jika, yang memujinya itu adalah seorang laki-laki, yang banyak sekali dikejar-kejar oleh cewek-cewek di sekolahnya.
Tapi karena itu juga, teman-temannya Linda jadi merasa iri, dan mencibirnya sebagai cewek murahan.
Apalagi jika temannya itu tahu, apa yang biasanya di bawa oleh orang-orang yang datang ke tempat duduknya Linda.
Dan tentu saja, itu sangat menyenangkan bagi Linda, yang terbatas uang sakunya.
Padahal, Linda tidak pernah memesan, atau meminta pada mereka yang sering membawakan makanan atau minuman untuknya.
"Tidak apa-apa. Ini buat di makan barengan kok. Teman ngobrol aja, dari pada cuma ngomong doang."
Dan akhirnya, Linda benar-benar tidak lagi mempermasalahkan, apapun yang dikatakan oleh teman-temannya yang cewek.
Dia menganggap bahwa, mereka hanya merasa iri hati, dengan apa yang dia miliki.
Karena itu juga, Romi tidak berani untuk mendekati Linda. Apalagi, saat itu dia juga adalah anggota anak rohis di sekolah.
Dia harus menjaga image, sebagai anggota rohis yang taat.
Tapi setelah Romi lulus, dan Linda naik ke kelas dua, Romi baru tahu tentang kebenaran yang sesungguhnya, pada Linda.
Karena sebenarnya, Linda hanya menganggap dirinya orang biasa, dan bukan seorang idola di sekolah.
Linda hanya menganggap semua teman-teman cowoknya itu, adalah teman biasa.
Tapi karena sudah terlanjur lulus sekolah dan tidak ada kesempatan untuk bisa bertemu lagi dengan Linda, akhirnya Romi hanya menyimpan semua perasaannya sendiri dalam hati.
Romi pergi bekerja ke kota besar, dan mencoba untuk mencari keberuntungannya sendiri, untuk bisa merubah kehidupannya sendiri dan keluarganya.
__ADS_1
Beberapa hari yang lalu, Romi baru saja pulang dari kota. Dan hari ini, dia pergi ke sekolah adiknya, yang dulu pernah menjadi tempatnya untuk mencari ilmu juga.
Namun, keberuntungan Romi datang lagi, di saat angkutan desa yang dia naikki, berhenti dan menaikan seorang penumpang cewek.
Dan ternyata, cewek tersebut adalah Linda. Adik kelasnya, yang masih dia cintai hingga saat ini.
Linda juga tidak pernah menyangka jika, dia masih bisa bertemu dengan kakak kelasnya itu.
Linda hanya bisa menyimpan semua perasaannya sendiri, karena merasa jika dia tidak pantas untuk Romi.
"Kiri-kiri Pak!"
Romi dengan cepat meminta pada pak supir angkutan desa, untuk menghentikan mobil angkutannya. Karena sekolah sudah kelewat.
"Ayo Dek," ajak Romi, saat dia sudah turun dari mobil angkutan desa.
Linda pun mengangguk dan segera ikut turun dari mobil angkutan desa, kemudian menuggu Romi, yang membayar ongkos.
Romi, yang membayar juga untuk ongkos Linda.
"Terima kasih Kak," ucap Linda, karena sudah ikut dibayarkan juga ongkos angkutannya.
"Iya, sama-sama Dek."
Di saat mereka berdua berjalan beriringan menuju ke sekolah, Romi mengajaknya bicara.
"Besok ada acara Dek?" tanya Romi, karena dia ingin mengajak Linda, untuk bertemu dan berbicara dengannya.
"Linda kerja Kak."
"Oh, sudah kerja ya, di mana?" tanya Romi lagi.
"Itu, di gudang kayu, yang tidak jauh dari pasar kecamatan."
Romi mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda.
"Dek Linda ada telpon? Jika ada, besok-besok bisa kita berbicara melalui telpon," tanya Romi, yang bermaksud untuk meminta nomor telpon Linda.
**Pada saat itu, telpon masih merupakan barang mewah, karena belum begitu tenar dan canggih, sama seperti saat ini.
"Maaf Kak, Linda tidak punya."
__ADS_1
Linda menjawab dengan malu-malu, karena dia memang tidak memiliki handphone.